KENAPA HARUS TAKUT MENYATAKAN YANG HAK

Harap dimaklumi bahwa  banyak orang yang  tidak mempunyai9 pendirian dalam hal apapun, dan biasanya hanya mengikuti arah angin mana yang dianggap menguntungkan.  Jiia ada sebuah kebenaran di depan matanya, namun arah kebijakan pemerintah yang berkuasa  bertentangan dengan arah tersebut, maka biasanya mereka lalu membelokkan arahnya seuai dengan keinginan penguasa tersebut.  Dalam arti lainnya disebut ingin mencari selamat saja, meskipun harus mengorbankan ideologi atau kepercayaan tertentu.

Rupanya kehidupan di dunia ini sudah sedemikian mengerikan, sebab orang sudah tidak lagi mengedepankan kebenaran sejati, melankan hanya menginginkan kebenaran sesuai dengan keinginan penguasa semata.  Beruntung jika penguasanya baik sehingga kebenrananya dibuat menjadi baik, tetapi jika suatu  saat ada kepentingan tertentu dan penguasa mengalihkan perhatiannya kepada yang lain, maka  tentu kebijakannya akan  mengikutinya juga.

Semboyan “qu alhaqqa walau kana murran” rupanya sudah terkubur jauh dan  baunya saja sudah tidak  tecium meskipun hanya samar samar.  Dengan begitu orang hanya akan mengatakan apapun yang   dapat membuat dirinya selamat dan menyenagkan penguasa sehingga justru akan mendapatkan keuntungan.  Orang sudah tidak lagi menjunjunga kebenaran sebagai sesuatu yang suci dan harus diperjuangkan, melainkan biar salah asalkan tidak mengalami masalah dengan penguasa.

Demikian juga dengan  arus yang bear biasanya juga membuat orang menjadi takuit untuk berbeda, karena  ketakutan etrsebut didasarkan atas kenyataan bahwa arus besar tersebut akan mampu mengalahkan siapapun, termasuk penguasa, terutama jika arus tersebut sudah sedemikian rupa besarnya dan akan menerjang apapun yang ada di hadapannya.  Padhal kebiasaannya ialah bahwa arus yang dmeikian justru tidak terkontrol lagi dan  sangat mudah melakukan hal hal yang tidak benar.

Seolah hukum itu ada dibawah kaki mereka, sehingga mereka akan dengan mudah  menetapkann ssatu sambil memaksakan kehendak untuk sesuatu yang ditetapkan tersebut. Kita masih ingat dengan gelombang rakyat yang begitu dahsyat dan mampu menumbangkan rezim yang  sudah lama berkuasa, dan kekuatan massa te4rsebut akhirnya tidak terkontrol sama sekali  dan pada khirnya  membabat smeua hal yang ada  di hadapannya.  Lalu kerusakan dan penjarahan ada di mana mana.

Seharusnya memang segala sesuatu itu  direncanakan dengan snagat matang dan kemudian baru dijalankan, sehingga tujuan awal akan tetap dapat dipertahankan serta  tidak ada  pihak manapun yang berusaha membelokkan arah yang telah ditetapkan.  Sebagai orang beriman kita memang tidak boleh larut dengan apapun  yang  dapat membelokkan arah kita menjadi buruk dan tidak sesuai dengan hati nurani yang sehat.

Seharusnya memng haruas ada pihak yang berani menyuarakan kebenaran dan keyakinan, meskipu harus berlawanan arus dengan mayoritas dan juga penguasa.  Sebab kebenaran itulah yang menjadi arah kita dan jika kita konsisten memegang teguh kebenaran etrsebut, maka kekuatan apapun akan dapat kita hadapi dengan baik dan bahkan tanpa harus berhadapan langsung dengannya.  Kita akan mampu mendpatkan solusi yang terbaik bagi penyuaraan kebanaran tersebut.

Terkait dengan pembicaraan mengenai cadar saja, saat ini  ada diantara kita yang pemikirannya hanya mengikuti arus, baik pemerintah maupun arus besar tanpa mau mendengarkan alasan pihak lainnya.  Saya sendiri menjadi sangat menyesalkan terjadinya pemikiran yang demikian, karena bukan saja didasarkan atas  kebenaran dan fungsi yang  akan menjadi pengantar kepada kebajikan, melainkan hanya mengikuti arus besar saja.  Ada semacam keinginan untuk dipuji atau disanjung dengan pendapat yang searah dengan pemerintah tertentu.

Jika memang tidak sepakat dengan  pihak lain, sebaiknya tidak usah menyerang pihak lain yang ebrbeda tersebut,dan carilah pembelaan yang menguntungkan diri dan  sanjungan lainnya, tapi bukan dengan menyudutkan pihak lain yang berbeda.  Semestinya  mereka mau mendengarkan penjelasan dan alasan mengapa berpendapat begitu sehingga pada saat menanggapinya juga tepat sasaran dan akan lebih mendekatkan kepada persoalan.

Sayangnya memang saat ini banyak yang ingin menangnya sendiri, sehingga membelokkan masalah yang sebenarnya hanya untuk mendapatkan penekanan bahwa pendapatnyalah yang benar.  Padahal dasar berpijaknya saja sudah tidak tepat dengan apa yang  dicounternya.  Dengan dmeikian persoalan akan semakin emnjauh dan tidak menyelesaikan persoalan.  Celakanya  kemudian banyak orang yang terkecoh dengan dasar berpijak mereka itu sehingga pendapat awal yang seharusnya dikritisi dan didudukkan pada  tempatnya, menjadi semakin dibulli sedemikian rupa.

Khusus bagi para kaum intelektual, ada pertanyaan yang menggelayut, yakni kenapa harus takut untuk menyatakan bahwa yang benar itu sebagai kebenaran yang pasti tidak akan dapat dibeli atau dibarter dengan apapun.  Janganlah suka untuk mencari dalil lain untuk membenarkan pendapat yang hanya ingin menyenangkan pihak lain semata.  Kenali selalu persoalan yang sebenarnya, lalu katakana apa adanya sebagai sebuah fakta dan kebenaran, tanpa harus melihat siapakah yang akan memberikan komentar atau siapa yang nanti akan mencela dan lainnya.

Jika kita selalu melihat  siapa yang akan memberikan komentar  menyanjung dan siapa yang  akan memberikan kredit kepada kita, pasti kita akan mudah untuk menggadaikan kebenaran untuk tujuan sesaat yang sangat pendek.  Sesungguhnya kita masing masing sudah mengenal watak satu dengan lainnya, dan hanya sebagian kecil saja yang berani untuk mengatakan kebenaran meskipun berhadapan dengan atasan atau penguasa sekalipun.  Dan jika itu yang dipertahankan, maka  kemualiaan kita akan tetap terjaga meskipun  angain sudah berganti arah.

Bagi ilmuwan, kebenaran itu adlah kebenaran yang tidak dapat berganti dengan yang lain hanya disebabkan oleh tujuan sesaat.  Kebenaran hanya akan dapat berubah jika ada kebenran lain yang lebih kuat dan ada argumentasi yang lebih kuat pula, karena memang itulah yang mestinya diakui sebagai kebenaran.  Bahkan kuita akan dianggap sebagai orang yang tidak berpengetahuan baik jika kitab tetap mempertahankan kebenaran awal tersebut, meskipun sudah ada kebenaran yang lebih valid.

Sesuatu yang benar dan haq tentu akan berharap untuk disampaikan apa adanya  tanpa harus dibarengi dengan tujuan tertentu yang dapat memalingkannyan kepada yang lain.  Karena itu sudah menjadi kewajiban bagi kaum intelektual untuk selalu mengingat hal tersebut dan mempertahankannya hingga ditemukan sesuatu yang mengcounternya dengan alaasn yang lebih kuat.  Sebagai kaum intelek kita memang tidak diperbolehkan untuk melacurkan ilmu dan kebenaran demi sesuatu yang hanya  menguntungkan pihak diri sendiri.

Hidup di dunia ini hanya sebentar dan diibaratkan  sebagaui hanya mampir minum  saja, sehingga  ibarat tersebut menyatakan bahwa ghidup di dunia itu hanya sebentar dan selelbihnya kita akan emmasuki hidup abadi di akhirat.  Nah, karena itu seharusnya kita  tetap tegar dalam mempertahankan bsebuah hal yang haq, meskipun mungkin kita akan mendapatkan kritikan tajam, karena ketidak mengertian pihak lain.

Untuk itu juga menjadi kewajiban kita untuk menjelaskan duduk eprsoalannya dan sekaligus juga memberikan pencerahan kepada masyarakat agar mereka menjadi mengerti hal yang sebenarnya. Dengan begitu diharapkan tidak akan terjadi lagi kritik tanpa alasan dan menyudutkan sedmikian rupa.  Insya Allah jika kita tulus dalam menyampaikannya, pasti hati mereka akan terbuka untuk mau menerima penjelasan  dan alasan kita.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.