BERTINDAK BIJAK

Akhir akhir ini kita diributkan dengan berbagai persoalan, baik yang menyangkut pilkada maupun  persoalan kemahasiswaan dan juga cadar.  Semuanya seolah menjadi  makhluk yang sangat  genit untuk dijadikan sebagai bahan diskusi karena semuanya sangat menarik untuk diperbincangkan, bahkan termasuk mereka yang tidak tahu persoalannya sama sekali pun ikut nimbrung dan menambah suasana menjadi lebih memanas.  Tentu hal tersebut menjadi sangat wajar jika kita kemudian mengaitkannya dngan tahun poltik saat ini.

Hampir di semua media juga menampilkan hal yang relatif sama karena itulah yang saat ini sangat disukai oleh masyarakat, termasuk mereka yang sesungguhnya sudah jemu dengan segala persoalan tersbut.  Bahkan ramainya persoalan tersebut diperbincangkan sampai ada yang keblabasen  membulli orang yang belum diketahui  kesalahannya, tetapi sudah divonnis sebagai pelaku kesalahan fatal.

Apakah  begitu cara yang terbaik yang seharusnya dilakukan oleh seorang yang beriman? Bukankah  selalu saja kita diingatkan untuk bertabayyun terlebih dahulu tentang berbagai hal sebelum kita mengetahui persoalan yang sesungguhnya, danbukan hanya informasi smata atyau hanya berdasarkan penafsiran pihak ketiga semata.  Lalu kenapa banyak oarnag menamakan dirinya sebagai muslim, namun perbuatannya sungguh berbeda dengan apa yang sudah diajarkan oleh Nabi kita sendiri?

Persoalan tabayyun adalah  sesuatu yang harus dilakukan karena dengan tabayyun tersebut kita akan mengetahui persoalan dengan gambalng dan dari sumber aslinya, sehingga perbuatan kita atau reaksi kita terhadap persoalan etrsebut tepat sasaran, meskipun mungkin juga masih tidak tepat secara substansinya.  Salah tafsir itulah kebanyakan  kekeliruan yang dialami oleh banyak orang, karena tidak bertabayyun dan hanya  bereaksi atas sebuah informasi yang multi tafsir.

Sebagai orang terpelajar tentunya kita wajib bertabayyun sebelum melakukan tindakan apapun terhadap sebuah informasi, karena kebijakan seseorang itu terletak kepada kemampuan seseorang tersebut dalam menyikapi masalah. Nah, masalah yang benar itu ialah yang didapatkan langsung dari sumber aslinya  dan bisanya harus didapatkan melalui tabayyun.  Jika kita hanya mendasrakan keada penafsiran kita sendiri atau penafsiran pihak lain, boleh jadi hal tersebut justru salah pada penafsirannya, sehingga tindakan kita bukan  atas  kebenaran informasi melainkan hanya didasarkan atas infomasi yang belum jelas.

Namun sayangnya saat ini banyak sekali  diantara kita yang  tergesa gesa menyikapi infornsi yang belum di cros cekh dan akibatnya banyak yang melakukan kesalahan secara mendasar.  Hebatnya lagi sudah salah dalam menilai dan menyikapi, tetapi tidak mau mengakui kesalahannya dan tetap melanjtkan  sikapnya yang tidak tepat etrsebut. Akibatnya persoalan akan semakin meruncing dan tidak mendapatkan titik penyelesaian yang memadahi.

Dalam persoalan pilkada, saat ini sudah banyak informasi beredar  dan memberikan keuntungan  kepada salahs atu pihak serta menyudutkan pihak lainnya.  Tentu hal etrsebut tidak kondusif untuk terlaksananya sebuah pilkada yang  bersih dan bertanggung jawab.  Kampanye hitm dengan membulli  salah satu calon yang dianggap akan menjadi rival terberatnya tentu merupakan tindakan yang  sama sekali tidk bermoral, bahkan kalaupun tuduhannya tersebut ada  sisi kebenarannya.

Kenapa kita tidak membiasakan diri untuk mengangkat  program program yang ditawarkan oleh masimng masing  kandidat, sehingga  kita akan mampu menialainya dari sisi program dan selebihnya tentu dengan melihat trek record yang telah pernah dijalani oleh mereka, tanpa kita mengomentari secara  lisan atau tulisan.  Biarlah masyarakat yang  akan menilainya sendiri tentang para kandidat tersebut.

Jika kita menyarankan kepada masyarakat, maka cukup memberikan kriteria secara umum saja tanpa harus menyebut nama tertentu, semisal pilihlah calon yang terbaik dan menguntungkan masyarakat, tidak korupsi dan tidak meninggalkan masyarakat.  Lihatlah program kerjanya  apakah  menguntungkan masuyarakat ataukah justru sebaliknya merugikan merka,   jangan pilih mereka yang suka mempermaikan  kepentingan masyarakat, yang  korupsi dan tidak memikirkan nasib masyarakat, dan lainnya.

Masalah yang terbesar dalam pilkada  tersebut ialah bagaimana  kemudian muncul politik identitas dan  hal tersebut kemudian mengaburkan makna yang sesunguhnya. Sebagai contoh ialah dalam pilgub Jawa tengah dimana para wakilnya adalah representatif dari kaum nahdliyin, sehingga seharusnya  politik identitas primordial tersebut tidak akan lagi muncul, namun kenyataannya hingga saat ini masih banyak yangmenarik nariknya ke arah sana meskipun tentu dengan menutupi yang lainnya.

Menurut saya hal tersebut harus segera dihilangkan dan  semua harus mengacu kepada program yang ditawarkan.  Kecerdasan para pemilih harus ditumbuhkan melalui pencerhan para tokoh agar mereka  cerdas dalam menentukan  pemimpinnya yang akan emmbawa kesejahteraan dalam lima tahun ke depan.  Tentu pemilihan tersebut harus didasarkan atas pencermatan  atas program yang ditawarkan dan  kemungkinan untuk diwujudkan dengan jalan yang jelas pula.

Sementara itu tentang dunia kemahasiswaan juga masih banyak diantara masyarakat yang masih membahas berbagai problem di seputar mahasiswa yang  berpeilaku tidak baik, dan lainnya, padahal mahasiswa yang baik dan  menjadi harapan masa depan bangs ajuga cukup banyak.  Hanya saja karena banyaknya penganguran pasca merka lulus menjadi salah satu senjata mereka untuk menyerang kondisi mahaisswa kita.

Sementara itu terkait  hal yang saat ini masih heboh dibicarakan banyak orang, yakni tentang pelarangan memakai cadar dalam kuliah, seharusnya kita mampu bersikap adil dalam memahaminya. Maisng masing kampus tentu mepunyai pertimbangan tersendiri untuk menerapkan aturan etrsebut, yang intinya ialah untuk menertibkan mahasiwa agar menjadi  baik.  Peroalan cadar itu hanya persoalan biasa dan itu juga hanya persoalan budaya pakaian semata yang tidak ada jhungannya dengan ajaran sebuah agama tertentu.

Mungkin saja ada yang menarik nariknya ke dalam sebuah ajaran agama, tetapi mayoritas ulama meyakini bahwa cadar itu bukan syariat, melainkan hanya budaya swebagian umat muslimah saja.  Nah, karena itu hanya sebuah budaya, maka jika  dipandang  ada  aspek yang merugikan, maka pihak kampus dibenarkan untuk mengaturnya sedemikian rupa sehingga kekhawatiran tersebut akan dapat dihilangkan.

Sebagiannya ada yang beralsan bahwa  merka yang pakai cadar etrsebut berfiliasi terhadap sebuah aliran keras sehingga merkatidak mampu  membaur dengan mahasiswa lainnya.  Aad banyak mahasiswa yang tidak nyaman jika  ada yang memakai cadar,  atau untuk meyakinkan bahwa  mahasiswa yang sesungguhnya ialah yang bersnagkutan, dan bukan yang lain, apalagi kalau waktu ujian, akan sulit dikenali siapa sesungguhnya yang mengerjakan ujian tersebut.

Tentu masih banyak lagi pertimbangan lainnya yang semuanya sudah dihitung secara matang oleh pihak kampus.  Nah, semua itu menurut saya bukanlah pelanggaran terhadap HAM yang selama ini dijadikan alaasn untuk menetang aturan tersebut.  Kita menjadi curiga jangan jangan hal etrsebut bukan masalah cadarnya  saja, melainkan justru ada tujuan lain dibalik semua.  Kalau hanya persoalan cadar itu sudah terlalu lama muncul; dan sudah reda, namun tiba tiba menjadi marak kembali sedemikian rupa bahkan hingga menyita banyak perhatian orang.

Namun sebaiknya kita memang tidak mencurigai siapapun, melainkan cukuplah kita mawas diri dengan melakukan evaluasi  seberapa jauhklah persoalan tersebut harus didukung atau dicampur tangani.  Jika kita sudah memahami persoaannya dan alasan serta argumentasi masing masing, barulah kita kajisn ecara ilmiah dan kemudian kita berpendapat.  Dengan dmeikian insya Allah akan tercipta kondisi yang semakin bagus dan tidak melukai pihak manapun. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.