PERSOALAN CADAR MUNCUL KEMBALI

Sesungguhnya masalah cadar sudah cukup lama mengemuka dan kemudian tenggelam lagi, dan di tahun politik ini  rupanya mudah saja dijadikan sebagai umapn untuk digoreng sebagai persoalan sesitif dan bahkan mungkin juga politis, tetapi memang bedanya sangat tipis untuk mengatakan bahwa hal tersbeut ditempeli oleh masalah politik atau masih debatebel.  Bagi yang memandangnya  seacar cermat dan sensitif, maka persoalan politik tersbeut akan dapat menyeret apapun ke dalam ruangnya, tetapi bagi yang cuek dengan politik, maka  hal ini hanya isu yang  menghangat kembali.

Sesungguhnya tidak ada pihak manapun yang melarang menggunakan cadar, tetapi jika dikaitkan dengan lingkup tertentu, maka itu biasa saja karena  sebuah lembaga yang mem[unyai lingkung tertentu dan kecil tentu berhak untuk mengatur segala sesuatunya agar dapat  nyaman dalam perjalananannya.  Namun hal tersbeut tentu akan sangat bwergantung kepada situasi dan kondisi masing masing.

Isyu tentang cadar tersebut kembali menghangat pada saat ada kampus yang melarang mahasiswainya memakai cadar sata mengikuti kuliah di kampus tersebut. Sudah barang tentu pelarangan tersebut didasarkan atas pertimbangan yang matang agar suasana kampus menjadi nyaman, atau mungkin juga ada pertimbangan agar tidak terjadi persoalan yang lebih parah, karena diketahui bahwa kelompok pemakai cadar tersebut ternyata berafiliasi kepada kelompok tertentu yang meresahkan, misalnya.

Saya sendiri dapat merasa bahwa para pmpinan perguruan tinggi yang melarang mahasiswanya memakai cadar pada saat kuliah, dapat mengerti dan tentu tidak menyalahkan siapapun, karena itulah kenyataan yang harus ditempuh.  Sementara tanggapa masyarakat umum dan orang orang tertentu nampaknya hanya berpegang kepada  persoalan hak azasi manusia semata.  Mereka berpendapat bahwa untuk mekaia caedar itu  hak azasi mereka dan tidak ada pihak manapun yang dapat melarangnya.

Tentu  kelau ini lasannya tentu  sangat berbeda alasan dengan mereka yang melarang, karena pada prinsipnya mereka itu sama skali tidak berpretensi melarang pemakaian  cadar, karena yang dilarang itu ialah jiia merka mengikuti kuliah di kampus tertentu, karena dianggap dapat menimbulkan ketidak nyamanan pihak lainnya misalnya.  Jadi kalau pelarangan tersebut tertentu di sebuah tempat tertentu, maka itu tidak bisa dikatakan sebagai p[elanggaran HAM.  Jika ada kampus yang melarang mahasiswinya  memakai jilbab misalnya, maka itu dapat dikategorikan sebagai palanggaran HAM , karena jilbab itu perintah alquran langsung dan itu syariat, sementara  kalau cadar itu hanya budaya sebagian kecil umat semata.

Bahkan kalau kita mengacu kepada para ulama besar dan mayoritas, bahwa wajah dan telapak tangan itu tidak harus ditutup, karena bukan merupakan aurat,  bahkan pada saat  melaksanakan ihram, baik untuk umrah maupun untuk haji, maka  perempuan dolarang untuk menutup wajahnya  Dengan peryimbanga tersebut maka wajah  seharusnya memang bukan termasuk aurat yang harus ditutup bahkan  harus dibiarkan terbuka saja, namun jika ada yang menghendaki untuk selalu ditutup itu tidak masalah, hanya saja kalau di tempatbtertentu dilarang untuk memakainya juga tidak akan melanggara HAM.

Kita juga tentunya tahu bahwa sebagian umat muslim ada yang enggan untuk memakai  celana dan hanya ingin memakai sarung saja, dan itu merupakan hak azasi mereka dan tidak ada  pihak manapun yang berhak untuk melarangnya, tetapi sekali lagi jika  ada pihak tertentu yang melarang memakai sarung dalam ruang tertentu, seperti di tempat kiuliah misalnya, maka itu bukan pelanggaran terhadap HAM.

Bahkan saya sendiri  mengalami pelarangan  memakai sandal untuk sekedar  sarapan pagi di restoran sebuah hotel di China.  Dan saya menganggap itu merupakan peraturan yang harus ditaati dan saya tidak menganggapnya sebagai pelanggaran HAM, meskipun untuk memakai sandal atau sepatu itu urusan masing masing orang.  Jadi  persoalan Ham itu jangan diartikan secara sempit yang akan mengakibatkan banyak persoalan  tersndung HAM.

Memang sekali lagi kita menyadari bahwa dengan menyebut secara khusus tentang cadar tersebut kiranya  dapat menimbulkan sensitifitas di masyarakat, sehingga kemudian akan banyak pihak yang mempermasalahkannya dan bahkan ada yang tersinggung dan memberikan somasi dan lainnya, padahal persoalannya sangat sederhana dan tidak ada yang perlu dirisaukan dengan pelarangan mengunakancadar pada saat kuliah tersebut.

Di beberapa kampus lainnya sesungguhnya juga sudah ada larangan tersebut, namun hal tersebut tidak diunggah secara fulgar sehingga tidak ada yang mempermasalahkannya, atau mungkin hanya dibungkus dengan  kalimat yang lebih sederhana dan tidak menyebut secara khusus mengenai cadar tersebut.  Memang  sangat layak dan biasa kalau sebuah perguruan tinggi membuat tata tertib bagi para mahasiswanya  dalam mengikuti perkuliahan, termasuk juga  tentang etika berbusana saat kuliah.

Biasanya  etikanya  dicontohnya berpakaian yang layak dengan diberikan contoh kongkritmnya sehingga  pakaian yang tidak mengikuti petunjuk tersebut tentu akan melanggar aturan  etika tersebut.  Mungkin tidak akan disebutkan secara specifik mengenai  pakaian rok mini yang pasti dilarang, atau pakaian  jean ketat  atau tip[is sehingga tembus pandang yang juga psti dilarang tetapi tidak perlu disebutkan secara khusus.  Termasuk juga memakai sarung, kaos oblong, sandal dan lainnya, juga termasuk cadar.

Sekali lagi masalahnya tidak disebutkan secara khusus tentang hal hal yang dilarang tersebut, sehingga tidak  ada reaksi yang berlebihan menanggapi persoaan tersebut.  Untuk kasus di beebrapa perguruan tinggi tertentu misalnya  awalnya memang ada yang memakai cadar, tetapi setelah ditunjukkan tentang etikan dan pakaian yang diperkenankan untuk dipakai di kelas, maka mereka yang tadinya bercadar lalu menanggalkan cadarnya pada saat kuliah, tanpa harus rame rame menggelarnya di depan publik.

Persoalan cadar yang saat ini meluas hingga menyita perhatian banyak pihak itu disebabkan  informsi yang kurang lalu digoreng dan dimuntahkan sedemikian rupa, seolah kampus melarang  pemakaian cadar secara  mutlak, lalu dibandingkan dengan negara barat yang tidak melarang pemakaian cadar.  Ini tentu  dapat dikatakan sebagai gagal paham terhadap aturan yang diberlakukan tesebut.

Sekali lagi persoalan cadar itu tidak ada yang melarangnya dipakai oleh siapapun, namun dalam tempatbtetentu yang memang diatur tata tertibnya, ada sebagian yang tidak memperbolehkannya dengan alasan tertentu.  Kalau hal ini dijelaskan dengan gambalng maka  sesungguhnya tidak masalah  karena hal tersebut tidak termasuk dalam pelanggaran HAM yang saat ini terus dimunculkan oleh pihak tertentu.

Menurut saya  persoalan ini segeralah diakhiri karena percuma  kita selalu mendiskusikannya kalau  dasarnya memang sudah berbeda.  Atau mungkin sengaaj memang digoreng terus untuk tujuan tertentu dalam arena politik.  Kalau sudah memasuki wilayah yang satu ini sebaiknya kita memang tidak  mendiskusikannya lebih lanjut, karena  pasti akan percuma dan tidak akan mendapatkan konklusi yang diharapkan.  Semua pasti akan terus berada dalam   pendapatnya masing masing dan  secara keilmuan memang tidak akan pernah selesai.

Untuk itu sekali lagi persoaln cadar ini  harus segera mendapatkan  kata akhir yang didasarkan atas pertimbangan akal sehat dan bukan emosi, apalagin kalau ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu.  Semoga kita  akan segera mendapatkan  pengertian yang sama sehingga  tidak akan menimbulkan  kerugian kepada smeua pihak.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.