DIBALIK KESULITAN PASTI ADA KEMUDAHAN

Hidup di dunia  pasti  banyak persoalan yang muncul, baik disebabkan oleh persoalan yang dating dari luar diri manusia  sendiri maupun yang muncul dari dalam dirinya sendiri.  Hal tersebut disebabkan karena memang  dunia itu penuh dengan persoalan, namun persoalan persoalan etrsebut sesungguhnya tidak terlalu harus dipertimbangkan jika kita memang sudah  mengenalnya dan mengetahui sebelumnya. Artinay semua masalah terbeut sesungguhnya  dapat diprediksi, terutama persoalan yang timbul dari dalam diri sendiri.

Sementara itu persoalan yang datang dari luar diri, juga dapat diantisipasi jika kita memang selalu dalam rel yang benar sesuai dengan aturan main yang ada.  Pada dasarnya persoalan itu muncul disebabkan oleh terbenturnya  kondisi yang ideal dengan  realitas yang terjadi.  Nah, kalau kita  mampu untuk mengetahui dan bahkan swring menjalankan  aturan main yang benar, maka  persoalan tentu akan  menjadi sedikit dan bahkan mungkin akan hilang sama sekali.

Mungkin banyak orang kemudian tidak mempercayainya, karena dalam kenyataannya masih banyak masalah yang dialami oleh orang, meskipun dalam kehdupannya orang tersebut taat beribadah.  Sebagai contohnya ialah persoalan ekonomi yang terus menggerusnya padahal dia selalu rajin menalankan kewajiban agamanya dan juga taat terhadap aturan main yang ada.  Lalu pertanyaannya ialah  dimana letak kesalahannya?

Jawabannya terkadang sama sekali tidak terduga, karena banyak sekali orang yang  meyakini bahwa dirinya telah menjalankan smeua perintah agama dengan baik dan mengikuti aturan main di dunia ini, namun masih saja  ada kesulitan demi keulitanyang melandanya, semisal ekonomi.  Padahal sesungguhnya  anggapan tersebut keliru, sebab jika seseorang itu telah dengan tulus enjalankan  perintah Tuhannya, pastinya  dia tidak akan pernah mengeluhkan apapun  dari pemberian atau keputusan Tuhan, karena ketulusan tersebut memang menghendaki adanya pengorbanan yang tanpa mengahrapkan sesuatu balasan.

Memang Tuahn seringkali menguji kepada para hamba  ya yang setengah setengah dalam menjalankan kewajibannya, dan kemudian  hatinya sudah merasa puas dengan hanya menjalankan shalat dan sejenisnya, padahal Tuhan juga meginginkan bahwa  [ara hamba Nya yang tulus dalam mengabdikan irinya akan senangtiasa merasakan kerelaan hidup, apapun yang diberikan oleh Tuhannya.  Dengan dmeikian persoalan ekonomi tidak akan menjadi masalah bagi dirinya, seberapapun  Tuhan memberikannya.

Jika ada seorang hamba yang mash mempertanyakan persoalan ekonomi kepada Tuhan, semisal kurang banyak, tidak cukup dan  apalagi kalau kemudian membandingaknnya dengan tetangganya yang berlebih dalam persoalan ekonomi, maka sesungguhnya ketulusannya masih dipertanyakan, bahkan mungkin Tuhan akan lebih lama lagi mengujinya dengan sedikit dikurangkan ekonominya dan  mungkin juga  kesehatannya akan sedikit dikurangi dan lainnya.

Jadi sedikit dan banyaknya pemberian Tuhan itu tidak akan mempeengaruhi ketaatannya  dan bahkan  kalau keulusan sudah  menancap dalam diri seseorng, maka apapaun yang ada akan dinikmatinya dengan penuh kesyukuran, sehingga  kecukupan akan selalu berada dalam pihaknya. Mungkin secara lahir ekonominya  kekurangan, namun dia yang menjalaninya sudah merasakan kecukupan dan selalu syukurlah yang menjadi ungkapannya.

Tentu akan lain lagi ceritanya jika ketulusan tersebut belum ada dalam dirinya, mungkin hanya  dalam lisannya semata, pasti dia akan selalu mengeluh dengan cobaan  dan kekurangan yang diberikan oleh Tuhan.  Mungkian bahkan secara lahir sudah relatif cukup dan  juga mungkin berlebih, tetapi hatinya selalu masih kurang dengan pemberian Tuhan.  Itulah perbedaan yang mencolom diantara mereka yang  menjadi hamba Tuhan melalui sikap dan hati mereka masing masing.

Ternyata banyak persoalan yang melanda manusia jika dirinya tidak mau menerima apapun yang terjadi, salah satunya persoalan ekonomi, kesehatan, dan lainnya.  Bahkan persoalan hubungan suami isteripun bisa retak gara gara pesoalan lainnya yang kemudian karena tidak ada kerelaan dalam menyikapi hidup, akhirnya hubunganyapun  akan terancam retak.  Pada saat pertama kali menjalin asmara dan baru manikah begitu terasa keaish dan sayangnya, tetapi lama kelamaan setelah bertambahnya waktu, justru bukan malah bertambah kasihnya, melainkan malah  mempersoalkan kondisi yang sudah berubah.

Kalau orang tulus dalam menjalin hubungan suami istri, seharusnya lama kelamaan  akan bertambah kasih dan sayangnya serta tumbuh pengertian yang lebih, meskipun kondisinya sudah berubah.  Justru karena kasih dan sayang tersebut, seharusnya  tidak akan terjadi perpecahan saat menemukan banyak perubahan dalam  hidup.  Sedbaliknya apapun rintangan dan perubahan yang terjadi seharusnya malah diingat komitemen awal dalam menjalin hubungan sehingga akan semakin bertambah kasoh dan sayangnya, bukan  semata karena nafsu, melainkan justru karena hati dan komitmen yang sudah ditancapkan.

Jadi kesimpulannya  ialah apapun yang terjadi  terserah kepada sikap kita, kalau sikap kita baik dan selalu optimis dengan karunia Tuhan dan ketetapan Tuhan, pastilah kita akan segera menemukan ketengangan dalam hidup, sebaliknya jika kita selalu merasa kurang dan  bahkan menayakan keadilan Tuhan, maka kita akan semakin jauh dari ketenangan, dan bahkan sangat dekat dengan ketidak tenangan hati dan pikiran.

Jadi kalau ada persoalan  yang datangnay dari luar diri kita  dan itu biasanya tidak terduga, maka sikpa kita harus tetap mempercayai bahwa smeunaya itu atas kehendak Tuhan dan pasti Tuhan akan emmberikan yang terbaik bagi kita.  Nah, sikap optimis tersebutlah yang akan membantu kita dalam menghadapinya dan  hati kita pasti akan lega dan rela menerima semuanya, karena  apapun yang terjadi akan selalu kita syukuri, karena itu yang terbaik untuk diri kita.

Jika memang persoalannya tersebut cukup berat, kita yakin bahwa Tuhan pasti akan memberikan jalan keluar yang bagus untuk masalah tersebut.  Bukankah Tuhan  sudah brjanji bahwa  sesungguhnya  dalam kesulitan itu pasti ada jalan keluar dan kemudahan.  Tentu jika penuikapan kita tepat, namun jika sikap kita tidak tepat, maka justru akan semakin bertmabah masalah, karena   kita sendiri dan bukan karena masalah tersbeut yang ditambah.

Banyak  orang bijak yang kalau dilihat secara lahir selalu saja dalam masalah besar, namun karena mereka mensikaponya dengan baik dan bijak, maka Tuhan kemudian memberikan jalan keluar dan  kemudahan dalam  menempuh hidup setelahnya.  Tidak mungkin Tuhan akan memberikan beban yang melebihi kemampuan kita sebagai makhluk Nya, karena itu sehsruanya kita tahu dan selalu bersikap bijak dan menerima apapun keputusan Tuhan.  Hanya saja masih banyak diantara kita yang  tergesa gesa menuduh Tuhan sebagai pihak yang memberikan kesulitn dan sama sekali tidak mau mawas diri.

Pernyataan Tuhan bahwa  sesungguhnhya   setiap kesuliatn itu ada jalan keluar atau kemudahan,  bukanlah hanya sekedar untuk  pernyataan yang tidak berarti, melainkan  seharusnya kita percaya sedemikian rupa sehingga sikap kita akan selalu  besumber dari sana.  Dengan dmeikian  setiap kali kita mersaakan ada persoalan hidup, baik itu terkait dengan ekonomi, kesehatan, anak, hubungan keluarga dan lainnya, maka  evaluasi diri meupakan tahap awal yang harus dilakukan, lalu pasrahkan semuanya kepada Tuhan dengan mencoba untuk menerima apapun yang ada dengan ketulusan yang murni.  Insya Allah kesulitan yang ada  akan  terbuka jalan keluarnya.

Semoga kita  akan selalu terinspirasi dengan  ini sehingga kita tidak akan pernah merasakan ada persoalan berat yang melanda diri kita.  Semua hal yang dianggap sebagai masalah, sesungguhnya hanya  merupakan rimatika hidup semata yang harus disikpai dengan baik sehingga  pada akhirnya akan memunculkan kebaikan pula.  Kita percaya kepada Tuhan bahwa  apa yang diberikan kepada kita itulah yang terbaik bagi kita.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.