MERAJUT PERSAHABATAN

Pertemanan yang ada saat ini belum pasti mencerminkan persahabatan sejati sebagaimana  kita maksudkan, sebab persahabatan itu hakekatnya merupakan  pertemanan yang  tidak terikat oleh duniawi atau oleh jabatan tertentu, melainkan  justru terikat oleh pedulian dan kesamaan dalam memandang sesuatu.  Ikatannya ialah batin dan keimanan yang kokoh, sehingga apapun yang terjadi di seputar persoalan duniawi tidak akan menghilangkan persahabatan tersebut.

Biasanya yang sering terjadi ialah perkawanan yang hanya didasarkan  oleh kepentingan sementara saja, semisal karena sedang mempunyai jabatan tertentu, kemudian banyak kawan yang mendekat, tetapi begitu jabatan hilang, apalagi kalau kemudian terpuruk, maka  sama sekali tidak ada yang mau mendekat.  Atau juga sering pertemnanan yang hanya didasarkan atas  persoalan dunia saja, semisal karena  sedang jaya, sukses dan kaya maka banyak kawan yang mau bergabung dan mendekat, tetapi begitu jatuh miskin atau  mungkin hanya sekedar kesuilitan dalam bidang keduniaan saja, sudah banyak lari menghindar.

Nah, persahabatan yang sejati bukanlah tipe yang demikian, melainkan justru  akan semakin mendekat bilamana  salah satunya sedang mengalami kesulitan.  Maksudnya ialah untuk memberikan semangat atau membantu meringan beban yang sedang ditanggungnya.  Biasnya kawan sejati tersebut malahan tidak akan mau mendekat pada saat kawannya tersebut sedang jaya dan kaya atau memperoleh jabatan, terkecuali kalau pada saat diundang saja, sebab ada kekhawatiran baginya bahwa kedatangannya bukanlah untuk bersahabat, melainkan  untuk kesenangan semata.

Nah, yang kita sedang butuhkan ialh bagaimana kita mampu emnciptakan dan mendapatkan kawan sejati tersebut, sehingga  istilahnya dapat dijadikan kawan hingga akhirat nanti.  Memang tidak mudah untuk mendapatkan kawan yang demikian karena membutuhkan pengornbanan dari semua pihak, baik dari sisi kita masupun dari sisi kawan kita tersebut.  Perkawanan sejati tersebut juga membutuhkan pengertian dan  kesadfaran untuk mau memberi dan meluangkan waktu  demi keperluan kebersamaan.

Bahkan kalau sudah tercipa kawan sejati tersebut hubungannya bahkan lebih erat ketimbang  saudara sendiri, karena  hamper seluruh apa yang dipunyai akan juga rela untuk diberikan kepada sahabat sekjatinya tersebut.  Dengan begitu jika  kawannya tersebut sedang mengalami kesulitan dalam bidang apapun, maka dengan ringan tangan kawannya akan emmberikan bantuan sesuai dengan kemampuan yang ada.  Kalaupun  kawannya tersebut sedang menderita sakit parah dan membutkan biaya yang tidak sedikit, kawan sejati akan mau dan tulus untuk membatu pengobatannya hingga tuntas.

Memang terkadang dirasakan tidak rasional, karena persahabatan yang demikian seolah dapat mengalahkan hubungan kekerabatan, bahkanterkadang juga akan mengalahkan kepentingan keluraganya sendiri.  Aad prinsip yang selalu dipegang terkait dengan persoalan duniawi, yakni jkalau hanya harta masih dapat dicari kapanpun, namun kalau perssoalan persahabatan itu akan sangat sulit dicari gantinya, termasuk kepentingan keluarga mungkin dapat ditunda, namun kalau kepentingan sahabat harus segara dilakukan, kenapa  harus ditunda?

Begitulah kalau sebuah persahabatan sudah terjadi dan  didasari oleh keyakinan dan  pengertian yang kuat.  Tentu kita sangatmerindukan  akan terjadinya persahabatan tersebut di kalangan kita, kalaupun sebelumnya tidak pernah kita alami, kita masih mungkin untuk menjalinnya dengan pengertian yang lebih makro dan ketulusan yang lebih kuat.  Pada saat kita sudah saling mengenal satu dengan lainnya, termasuk sifat dan kebiasaan masing masing, tentu akan lebih mudah untuk menciptakannya.

Jika kita memang  melakukannya demi Tuhan yang akan menentukan segalanya, pasti kita akan mampu untuk  menjalin persahabatan sejati tersebut.  Namun memang harus ada kesadaran yang utuh dari diri kita dan juga pengertian dari kawan rumah sehingga ketika ada sesuatu yang harus kita  berikan kepada sahabat tersebut mereka akan mampu mengerti dan memhaminya.  Persahabatan tersebut akan lebih bias  subur jika kita juga rajin mengunjunginya bersama dengan seluruh keluarga.

Saling kunjung diantara sahabat etrsebut tentu akan semakin menguatkan dan memberikan suasana yang hangat ketimbang dibiarkan berlalu terlalu lama tidak ada kontak dan hubungan sama sekali.  Biasanya kalau pada awalnya sudha terjadi  persahabatan  cukup kuat dan lalu dipisahkan oleh kondisi karena kepentingan masing masing, baru kemudian muncul kembali setelah dipertemukan dalam sebuah acara reuni misalnya, maka biasanya persahabatannya akan  dengan muncul kembali.

Jika kemudian ditindak lanjuti dengan pemantapan selanjutnya, maka persahabatan tersebut akan dapat semakin menjadi kuat dan menjelma sebagai  persahabatan sejati sebagaimana yang kita inginkan.  Kalaupun  masih tetap susah untuk menjelma menjadi persahabatan sejati tersebut sektidaknya akan menjadi eprsahabatan yang lebih kuat dan mengesan ketimbang sebelumnya.

Mungkin saat ini kita sangat sulit menciptakan persahabatan yang sejati sebagaimana tersebut,  hanya saja kalau sekedar untuk menjalin persahabatan yang lebih kuat dengan mendekatkan  seluruh keluarga kita dengan keluarganya, tentu tidak terlalu berat.  Kenangan masa lalu yang masih mampu diingat tentu akan semakin memberikan nuansa  lebih  jika hal tersebut terus dinyalakan.

Persabahatan memang luar biasa  bahkan dapat mengalahkan persaudaraan, karena dukungan keimanan dan pengertian yang luar biasa pula.  Karena itu  setiap kita orang orang beriman memang disarankan untuk selalu berkeingionan untuk menciptakan persabahatan, meskipu tidak sampai kepada  kondisi ideal seperti itu, tetapi sekedar untuk  memberikan nuansa kebersamaan dalam suka dan duka.

Bagi kita yang saat ini masih bersama sama , baik dalam pekrjaan maupun dalam  perniagaan dan lainnya, sebaiknya memang berusaha untuk menciptakan persahabatan tersebut, karena pada saat kita nanti sudah berada di alam akhirat, keberadaan sabat tersebut akan sangat berarti bagi diri kita, disamping tentu saja  kerabat kita sendiri.  Seorang sahabat akan mampu memberikan pertolongan kepada kita pada saat kita sudah dipanggil oleh Tuhan, setidaknya melalui doa yang selalu dipanjatkan setiap sehabis menjalankan shalat maktubah.

Jika kita mengacu kepada persahabatan yang dilakukan oleh rasulullah dengan para sahabatnya, tentu kita akan mendapatakn keteladanan yang luar biasa.  Betapa mereka dengan tulus  mampu  menjalankan apapun demi menyenangkan sahabatnya tersebut. Sahabat Abu bakar rela menemai rasul untuk berhijrah ke Madinah dengan taruhan nyawa dan tentu berbagai rintangan yang  berada di hadapannya, namun  beliau dengan ketulusan yang penuh mau melakukannya, karena persahabatan yang didasari oleh sebuah keimanan yang benar.

Demikian juga dengan  Umar  yang sanggup untuk melakukan apapun demi menyahuti  seruan sahabatnya, yakni nabi Muhammad saw.  Apapun rintangan yang ada di hadapannya akan diterjangnya dengan tanpa rasa takut sedikitpun.  Sahabat Usman bin Affan juga demikian, mampu mengorbankan sleuruh harta yang  dimiliki, bahkan yang terbaik dan paling menguntungkan, hanya untuk menolong umat muslim, karena persahabatannya dengan baginda Rasulullah saw.

Ali kecil pada saat Nabi akan berhijrah juga menujukkan  keberaniannya untuk tidur di tempatnya rasul, padahal resikonya ialah  dibunuh, namun dengan ketetapan yang kuat, beliau rela untuk melakuannya demi persahabatan dengan  rasul saw.  Begitulah persahabtaan yang sejati yang telah ditunjukan oleh para sahabat terhadap erasul dalam perjuangannya.  Lalu apakah kita tidak sanggup untuk sekedar meniru, meskipun tidak total terhadap persahabatan tersebut?.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.