MENGENAL PAPUA

Papua memang merupakan sebagian dari wilayah negara kita yang paling ujung Timur, dan meskipun merupakan salah satu wilayah nusantara, akan tetapi sungguh berbeda dengan wilayah lainnya, terutama dalam hal fasilitas trnasportasi atau infra strukturnya.  Karena itu tidak salah jika presiden Joko Widodo snagat menekankan permasalahan infra struktur tersebut, wabil kusus di Papua dan wilayah lainnya yang memang membutuhkan  fasilitas tersebut.  Jika kita hanya berkunjung ke Papua di wilayah perkotaan semata, mungkin kita hanya akan berkesimpulan sama dengan wilayah lainnya.

Akan tetapi jika kita sedikit saja mau mengunjungi wilayah yang jauh ke dalam, maka kita akan  menangkap sebuah kondisi yang memang membutuhkan penanganan  serius dari kita.  Apalagi kalau kita berbicara mengenai pengembangan ajaran agama, hususnya Islam, maka kita masih harus melakukan banyak hal.  Barangkali kalau diungkapkan di sini masih belum cukup lembarannya untuk mengajukan semua permasalahan.

Memang mayoritas masyarakat Papua, termasuk di Jayapura beragama kristen, dan masih banyak pula yang belum mengenal agama tertentu.  Nah, misi agama lain memang sudah lebih dahulu menyentuh mereka, sehingga mereka saat ini sudah meyakini  agama yang telah mereka kenal, dan kebiasaan mereka memelihara dan menghormati hewan babi sangat kuat, sehingga menurut cerita, ketika ada  orang menabrak babi hingga mati, maka akan dituntut dengan membayar ganti sesuai dengan banyaknya susu yang ada.

Artinya jika babi tersebut mempunyai susu 6 buah maka  gantinya ialah 6 dikalikan hukuman, dan jika ada 9 maka disesuaikan dengannya, dan begitu seterusnya. Menyaksikan kondisi yang demikian sesungguhnya kita terpanggil untuk melakukan sesuatu yang kiranya dapat menjadikan mereka tertarik, atau setidaknya dalam langkah pertama mereka menghormati dan mengerti kita.  Persoalannya ialah merka terkadang tidak mau mengerti kepada kita sebagai umat muslim, yang dianggapnya sebagai musuh dan orang jahat yang mengancam keberadaan mereka.

Pertama kali memang kita harus membenarkan mind set mereka tentang  Islam itu sendiri, walaupun mereka belum mau mengikutinya.  Sebab  jika kita memang berdakwah itu tidak boleh memaksakan kehendak, melainkan justru harus menujukkan perilaku kita yang sangat bagus, sehingga mereka dengan sendirinya akan menyadari dan akhirnya akan mempercayai.  Sikap kita yang  ringan tangan untuk membangtu kepada siapapun termasuk mereka yang berbeda keyakinan, tentu akan  membuka  mata mereka, bahkan gteryata Islam tidak sebagimana yang mereka persepsikan selama ini.

Kebaradaan perguruan tinggi Islam dan beberapa sekolah Islam juga  dibutuhkan untuk memperkuat pemahaman terhadap Islam dan sekaligus juga untuk memberikan  semacam  syiar kepada seluruh masyarakat.  Syukurlah saat ini di beberapa titik wilayah di Papua sudah ada lembaga pendidikan yang khusus berlabel Islam dan dapat dapat berkembang dengan cjukup bagus.  Hanya saja  jika dibandingkan dengan luasnya wilayah Papua tentu keberadaannya belum dianggap cukup, apalagi terhadap persoalan fasilitas, sementara ini belum menujukkan  keperpihakan.

Seharusnya kementerian agama, dalam hal ini direktoraat jenderal pendidikan Islam, memetakan wailayah Indonesia yang terjauh dalam kaitannya dengan pendidikan Islam.  Lalu disusun perencanaan yang  bagus, termasuk bagaimana membantu masyarakat dalam hal pemehaman terhadap keislaman.  Kita semua yakin apabila  ada peta yang jelas tentang wilayah tersebut, maka penganggarannya akan semakin  bagus dan sesuai dengan kebutuhan riil di masyarakat, termasuk  bagaimana sarana prasarana lembaga pendidikan yang hafrus disupport dengan  baik pula.

Pada saatnya kementerian juga  dapat merencanakan untuk melakukan pengabdian masyarakat melalui KKN  nusantara yang dibiayai secara khusus dan dikelola dengan bagus pula.  Selama ini KKN yang dibiayai oleh kementerian secara khusus belum pernah ada, padahal persoalan etrsebut sudah emnjadi sebuah keniscayaan, setelah mengetahui kondisi riil di beberapa daerah terjauh, terluar dan gtertinggal, khusunya di daerah perbatasan.

Sesungguhnya masih banyak  kegiatan yang dapat dilakukan dengan memenfaatkan keberadaan para penyuluh agama Islam dan juga para  mahasiswa yang tentu juga sangat dibutuhkan keberadaan mereka di daerah terjauh tersebut.  Hanya saja persoalan  anggaran yang  tentu akan sangat tidak terjangkau jika harus  dilakukan secara mandiri.  Namun jika dialokasikan dari dana kemengterian, kiranya  hanya  menyedot sanagt sedikit biaya  yang ada.  Oh semengtara ini kita tahu bahwa setiap tahunnya kementerian mengembalikan dana yang tidak terserap lebih dari 3 T.

Barangkali untuk setiap tahunnya tidak lebih satu milyard saja sudah cukup untuk  memberikan  stimlan mereka yang menjalankan  kuliah kerja nyata di daerah tertinggal tersebut.  Mungkin untuk pertama kali sesekali para pejabat di kementerian agama pusat, khususnya yang ada di direkorat pendidikan untuk  menengok saudara kita yang ada di pedalaman papua ataupun daerah lainnya.  Dengan menengok mereka,  pada saatnya para pejabat tersebut akan mempunyai pengalaman secara langsung tentang keberadaan masyarakat yang sangat tertinggal dan memerlukan sentuha  tangan kita tersebut.

Kita sangat yakin bahwa dengan melihat secara langsung tersebut, pasti akan ada  memori yang gtertinggal dalam ingatan mereka, bahwa ada kewajiban moral dan dakwah   dari mereka untuk saudara kita di daerah terpencil tersebut.  Nah, kessdaraan tersebut pada saatnya akan memunculkan ide yang baik, terkait dengan bagaimana  dapat menyumbangkan  sesuatu untuk membangu mereka.   Kalaupun tidak dapat menyumbang secara pribadi,  mereka juga dapat mengalokasikan sedikit anggaran untuk ditujukan bagi mereka.

Khusus bagi pengembangan pendidikan tinggi, saat ini sudah ada STAIN alfatah jayapura, yang sebentar lagi akan beralih status menjadi IAIN, tentu hal tersebut sangat membanggakan, bukan saja  masyaraat muslim di Jayapura, melainkan juga muslim di seluruh nusantara.  Namun tentu  alih status tersebut harus segera dibarengi dengan  penambahan fasilitas yang mencukujpi dan juga anggaran yang cukup pula, khususnya untuk meningkatkan kapasitas para dosen dan mahasiswanya.

Saya sendiri mendapatkan  informasi tentang keberadaan STAIN saat ini yang sehafrusnya mendapatkan afirmasi untuk memeprkuat keberadaannya, karena STAIN merupakan satu satunya pendidkan gtinggi Islam negeri yang  tentunya diharapkan akan mampu berbicara, bukan saja di level Papua, melainkan juga di level nasional.  Namjun kenyatannya berbagai fasilitas yang dibutuhkan untuk meningkat tersebut belum tersedia dan sarana untuk memajukan para dosn dan mahasiswanya juga masih snagat terbatas.

Bisa dibayangkan kalau misalnya  se buah STAIN yang sebentar lagi menjadi IAIN, seharusnya   sudah harus ada jurnal ilmiah paling tidak dua hingga tiga buah, namun saat ini meskipun sudah ada satu, akan tetapi pembiayaannya  hampir tidak ada, sehingga tidak bisa menerbitkan, apalagi kalau kemudian hafrus bersaing untuk mendapatkan status akreditasi.  Pada saat nanti sudah menjadi IAIN tidak boleh tidak harus ditingkatkan dan keberadaan jurnal tersebut harus menjadi fokus serta dkikelola dengan bagus sefrta didanai secara cukup.

Jika IAIN nangtinya dikelola dengan bagus dan fasilita s sarpras juga dipenuhi, maka  rasa bangga  bagi seluruh  umat muslim tentu akan  tumbuh dan pada saatnya  lambat laun IAIN jayapura juga akan mampu berprestasi lebih bagus.  Artinya  nangtinya harus ada target yang ditetapkan untuk dicapai, semisal akreditasi prodi yang minimal B dan juga institusi.  Demikian juga  nantinya juga harus ada target bahwa jurnal yang dikelola  haus mendapatkan status akreditasi dan begitu seterusnya.

Mudah mudahan keberadaan  Papua sebagai bagian dari nusantara akan benar benar menjadi kebanggan kita semua, baik  menyangkut pendidikannya, majupun aspek lainnya.  Kita tidak ingin bahwa  Indonesia itu hanya pulau Jawa, tetapi Indonesia iyu ialah  wilayah yang melintang dari Aceh hingga Papua. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.