BERBEDA KAIRO DENGAN ALEKSANDRIA

Kesan jorok dan kumuh memang tidak dapat dihilangkan dari Kairo, namun begitu kita menginjakkan kaki di Aleksandria atau dahulu lebih dikenal dengan nama Iskandariyah, karena di sana  lebih rapi, lebih bersih dan kelihatan indah, apalagi kalau berada di pantainya.  Demikian juga masjid yang ada juga bersih tanpa debu yang menempel di karpetnya. Tempat bersejarah, yani makam para  sufi yang ada di dalamnya juga terawat sangat apik sehingga bagi siapapun yang menziarahinya, akan merasa tenang dan nyaman.

Sebagaimana kita tahu bahwa di Aleksandria tersebut terdapat sebuah perpustakaan yang luar biasa besar dan bahkan mungkin terbesar di dunia, karena  disamping koleksinya yang tidak terbatas, juga koleksi dalam bidang  manuskrip begitu luar biasa banyak dan tertata serta terawat dengan sangat bagus.  Menejemennya sudah modern sehingga  akan memudahkan kepada siapapun yang akan melakukan penelitian terhadap manuskrip tertentu.

Meskipun  perpustakaan tersebut berada di dekat kampus  aleksandria university, namun sesungguhnya merupakan dua hal yang berbeda, karena tidak ada hubungan khusus antara keduanya.  Mungkin banyak orang mengira bahwa perpustakaan tersebut milik aleksandria university, namun  anggapan tersebut pasti salah.  Perpustakaan tersebut berdiri dengan  sendirinya dan  kalaupun ada hubungannya dengan unoversitas, maka itu hubungan pemanfaatan  isi perpustakaan  olej para dosen dan mahasiswa dan bukan karena  ada menejemen yang bersama.

Bagi siapapun yang berkepentingan dengan perpustakaan tentu akan merasakan kenyamanan gtersendiri  ketika sudah berada di dalamnya, bahkan hanya sekdar melihat saja secara menyeluruh, pastinya akan dibutuhkan  beberapa hari untuk melakukannya secara  tapis atau menyeluruh. Karena itulah  kemudian UN Walisongo sudah sepakat untuk melakukan kerjasama dalam bidang  pengkajian naskah kuno, baik yang ada di berbagai negara maupun yang khusus di mmesir maaupun di indonesia.

Pengalaman saya ke aleksandria memang sangat dalam, karena di kota tersebut rasanya seperti berada di sebuah tempat yang sangat menyenangkan, apalagi kalau kemudian  kita mau berziarah ke makam al Bushiri yang  juga berdekatan dengan makam Abul Abba s al Mursi yang  makamnya hanya berseberangan jalan, dan masing masing berada di dalam masjid yang cukup bersih dan menyenangkan.  Disamping makam  al Mursi juga ada makam anak anak beliau syeih amuhammad dan syeih Ahmad.  Lalu tidak jauh dari makam tersebut juga ada makam Yaqut Ma’rasy dan juga  Muhmmad  Makinuddin  al Ismi yang merupakan para mursyid yang juga thariqatnya maih banyak dianut oleh masyarakat indonesia, khususnya yang  mengikuti  thariqah asysyadzili.

Pada saat kita makan di restoran pun juga tampak bersih dan masakannya juga  cocok dengan lidah kita yang  bukan penduduk asli, menu makanan  yang  terdiri dari sea food memang sangat menyenangkan bilamana disantap pada saat kita sedang capek karena berliling di perpustakaan atau melakukan kunjungan ke beberapa tempat.  Pengalaman kami yang brkunjung ke  aleksandria universitay dan pepustakaan  memerlukan waktu yang sangat panjang, sehingga   makan siang baru kami lakukan  sore ahri menjelang maghrib.

Namun  nampaknya  tidak terasa  lapar, karena pada saat tersebut kami sedang berkunjung ke universitas aleksandria dan ditemui langsung oleh rektor dan para staffnya yang sangat ramah, tidak mengesankan seperti orang mesir.  Kesepakatan untuk melakukan kerjasama juga sudah didapatkan dan pada saatnya nangti kita akan melakukan berbagai kegiatan kerjasama, termauk di dalamnya  seminar internasional dan juga  riset kolaboratif.  Karena itu  semua pihak memang harus menyadarinya dan mempersiapkan diri untuk  menindak lanjutinya dengan berbagai kegiatan yang bermnafaat bagi kedua belah pihak.

Kerjasama  dengan pihak pihak di aleksandria memang sangat menguntungkan karena kita memang membutuhkannya, terutama dalam hal kekayaan khazanah manuskripnya yang begitu hebat, sehingga bagi para peminat dalam hal manuskrip, akan dapat fasilitas yang cukup memdahi dengan mengunjungi aleksandria tersbut.  Kita sudah membukakakn jalan unuk hal tersebut, dan selanjutnya tentu tergangung kepada  siapapun yang  akan memanfaatkannya.

Kalaupun masih ada  budaya yang tidak baik yang dijalankan oleh sebagian masyarakat aleksandria, maka itu dapat dipahami karena masih berada di bumi mesir, namun kadarnya tentu sudah berbeda jauh dengan di ibu kotanya sendiri, yakni kairo. Lingkungan di daerah aleksandria sendiri juga nampak hijau dengan beberapa tanaman dan pepohonan, terutama pohon kurma, dan tentu berbeda dengan kairo yang tampak gersang dan penuh dengan debu bertebaran.  Karena itu tidak heran jika orang lebih memilih hidup di aleksandria ketimbang dna kairo.

Ada beberapa mahasiswa yang tinggal di aleksandria, padahal dia masih belum menhyelesikan Snya di al Azhar, karena sudaha tidak ada kewajiban, terkecuali hanya saat tertengtu untuk bertemu dengan dosennya, dan dia  jauh lebih nyaman untuk menulis disertasinya di aleksandria, munbgkin karena fasilitas perpustakaannya yang cukup luas dan  menyediakan referency yang cukup dan juga karena  kehidupan masyarakatnya yang relatif lebih tertib.  Karena kita juga tahu bahwa untuk menulis secara serius memang dibutuhkan suasana yang mendukung.

Kalau pada zaman dahulu memang ada  al Azhar yang di aleksandria, namun saat ini sudah seluruh ya dipindahkan ke kairo sehingga kalau ada mahasiswa yang kuliah di al Azhar, tentunya harus di Kairo, terkecuali bagi mereka yang   sudah tinggal menyelsaikan tugas akhirnya.  Kita juga tahu  kalau di Kairo suasana untuk mempercepat penyelesaian studi juga tidak atau kurang kondusif dengan bukti sangat banyak mahasiswa Indonesia yang tidak dapat menyelsaikan kuliahnya tepat waktu, bahkan banyak diantara mereka yang  justru sudah melewati angka sepuluh tahun.

Saya memang bukan sedang melakukan perbandingan antara kota kairo dengan aleksandria, namun sekdar untuk berbagi pengalaman terbaru saat saya mengunjunginya.  Sesungguhnya pada tahun 2009 yang lalu juga sudah terasa demikian, namun saat ini ternyata masih sama, bahkan  untuk beberapa infra struktur malah lebih buruk lagi.  Mungkin akibat dari perpecahan dan bahkan perbutan kekuasaan beberapa waktu yang lalu sehingga persoalan indfra struktur menjaid terbengkalai.  Jalan jalan  di kairo sungguh menyedihkan, terutama di beberapa yang hingga saat ini tidk tersentuh oleh tangan pemerintah.

Saya berharap bahwa dengan  pengalaman saya tersebut, semua orang akan dapat memanfaatkannya untuk mempertimbangkannya, baik untuk berkunjung ke mesir maupun untuk tidaka berkunjung, karena semuanya  terserah kepda masing masing orang, namun dengan gambaran yang tidak terlalu detail tersebut kiranya sudah dapat dijadikan sebgai referensi sementara sebelum mendpatkan refensi lainnya yang meungkin berbeda. Namun saya sangat yakin jika referencsi  dibuat oleh mereka yang tidak ada kepentingn apapun terhadap mesir dan kairo, tengtu tidk akan jauh berbeda dnegan informasi ini.

Bgaimanapun kodisinya, mesi r tetaplah merupakan negara yang menarik untuk dikunjungi, karena banyak peninggalan zman kuno yang masih ada di sana, meskipun kurang terawat atau memang sengaja dibiarkan begitu saja untuk menmpakkan kesliannya meskipun tampak sangat kumuh dan terkesan tidak mampu merawat atau tidak mampu  memenej dengan bagus untuk memberikan penghargaan kepada para pengunjung yang datang dari berbagai negara di dunia.

Mudah mudahan ke depannya pemerintah semakin stabil dalam mengelola negara sehingga  mempedulikan aspek wisata dan lingkungan yang harus mendukungnya.  Demikian juga  pemeringtah dapat mendisiplinkan para warganya sehingga mereka menjaga kebersihan dan juga tidak memenfaatkan para wisatawan untuk kepentingan mereka sendiri dengan melakukan berbagai hal yang justru dapat merugikan negara dan nama baik negara itu sendiri.  Harapan tersebut tentu  murni sebagai sebuah himbuan karena amat sayang kalau berbgai  peningalan zaman kuno tersebut sampai tidak terawt dan akhirnya tidak lagi diminati oleh masyarakat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.