PENGALAMAN MENYAKSIKAN KAIRO

Rupanya Kota kairo dan mesir pada umumnya tidak mengalami perubahan, gerutama dalam hal budaya, bahkan pengalaman saya  sejak tahun hingga kini masih sama saja, bahkan bangunanya juga hamper tidk ada perubahan, apalagi kalua kemudian menyusuri wilayah sekitar makam imam Syafi’i.  Kekumuhan dan  kurangnya rasa memiliki terhadap lingkungan nampaknhya menjadi penyebab kekumuhan tersebut.  Bayangkan sampah menyeruak di mana mana tanpa ada usaha untuk memberikan rasa nyaman sedikitpun.

Apalagi kalua misalnya kita pergi ke piramide, sudah pasti bau khas kotoran kuda, unta dan berbagai kotoran lainnya  demikian menusuk hidung.  Bahkan kalua kita berjalan menyusuri jalan, dapat dipastikan juga akan mencium bau tidak sedap kencing manusia.  Konon memang  sejak zaman dahulu budaya masyarakat yang ada di kairo misalnya selalu saja membuang air kcil di sembarang tempat.  Orang seenaknya saja buang air seninya ditembok yang ada di sekitarnya.  Dengan demikian meskipun orang yang punyai rumah tidak tahu siapa yang mengencigi, tetapi itu sudah menjadi kebiasaan orang.

Jadi sisi kekurang nyamanan dalam kehidupan masyarakat Kairo memang tidak ada perubahan, sehingga mungkin itulah mengapa banyak orang pergi ke Kairo hanya untuk mengenang kekurang nyamanan tersebut.  Sesungguhnhya banyak situs yang sangat potensial untuk dikembangkan dan dijadikan sebagai obyek wisata yang  sangat luar biasa, namun ternyata tetap dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha untuk melakukan perubahan.  Lingkungan yang kumuh dan sebagian masyarakatnya yang masih suka meminta minta kepada para penziarah, tetap menjadi ciri khasnya.

Bahkan  pengendara di jalan raya juga demikian tidak mempunyai toleransi bagi pejalan kaki dan  seolah meang mereka itu tidak mengenal aturan.  Maish banyak juga diantara mereka yang masih berjalan dengan berlawanan arah. Sehingga semakin memadatkan jalanan.  Jadi pendeknya  selama sekina tahun ternyata  tidak ada peruubahan yang dapat dilhat di Kairo.  Lalu pertanyaannya ialah mengapa masih banyak turis yang datang ke Kairo? Dan pendapatan negara di Mesir terbesara dalah dari sisi turism dan bukan dari aspek lainnya?

Inilah yang belum dapat dijawab, padahal tempat tempat yang  menjadi gtujuan wisatanya juga masih gtetp tidak ada perubahan, termasuk tampilan dan lingkungannya.  Museum misalnya juga masih seperti pada puluhan tahun yang lalu, apalagi lingkungan piramide yang semakin tidak nyaman untuk dikunjungi, namun justru penziarahnya tetap banyak, demikian juga dengan benteng dan masjid Solahudiidn al Ayyubi sama sekali tidak ada peerbaikan, bahkan malah terkedan tidak terawatt.  Atau barangkali karena keaslian dan budaya masyarakatnya yang demikianlah yang menjadikannya menarik wisatawan untuk datang dan  merindukannya.  Entahlah sangat tidak masuk akal.

Lalu terkait dengan diri saya sendiri saya juga bertanya mengapa  msih juga ingin mengunjungi tempat tempat tersebut?  Tujuan saya ke Kairo dan beberap tempat lainnya di mesir  memang bukan untuk menjadi turis, melainkan menjalankan tugas dinas untuk  melakukan kerjasmaa dengan  beberapa universitas di Mesir.  Jadi  kunjungan saya ke tempat tempat tersebut hanyalah sekedar untuk melihat lihat saja, dan ternyata masih sama seperti dahulu sehingga tidak ada pengalaman baru bagi saya, terkecuali melihat budaya  masyarakat yang masih tetap sepeeti dahulu.

Kalau persoalan debu yang selalu beterbangan di udara sehingga membuat hidung terasa tidak nyaman, itu memang rsiko  sebuah neara yang berada di daerah gurun. Namuan jika  kemudian dikaitkan dengan  kekumjuhan yang terjai dan tampak di mana mana itulah yang membuat hati bertanya tanya  mengapa tidak ada upaya masyarakat mesir untuk berbenah memperbaiki lingkungan mereka hingga menjadi nyaman untuk dihuni dan  atau hanya untuk sekedar dipandang mata.  Mungkin  ada salah dalam penilaian saya tersebut, akan tetapi apa yang nampak di permukaan itulah yang dapat disaksikan oleh siapapun yang mengunjungi mesir.

Saya memang tidak berpretensi untuk menilai dan menampakkan keburukan yang ada, tetapi itulah yang dapat dilihat secara kasat mata oleh siapapun yang berkunjung ke mesir saat ini dan mungkin juga saat yang akan datang. Ketertiban dan kedisiplinan pun juga tidak nampak di sana, sehingga saya pribadi sangat mengkhawatirkan mahasiswa kita yang ada di mesir. Jangan jangan mereka nantinya mewarisi budaya yang tidak elok gtersebut dan membawanya ke negara kita.

Tanda kekhawatitan tersebut sudah mulai nampak pada saat kita me nyaksikan banyaknya mahasiwa yang tidak mampu menhelesaikan kuliahnya  tepat pada waktu, bahkan rata rata mereka menyelesaikan kuliah di S1 saja harus sampai 7 hingga sepuluh bahkan ada yang lebih dari itu.  Demikian juga untuk menyelesaikan S2 yang di negara lain dapat ditempuh hanya dengan  satu setengah tahun hingga  3 tahun, namun mereka rata rata yang menyelesaikan kuliah S2 nya harus memakan wktu sampai  enam tahun lebih.

Barangkali memang  pihak universitas harus memp;erbarui regulasi bagi para mahasiswanya, yakni terkait dengan waktu kuliah.  Saya juga tidak mengerti kenapa banyak diantara mereka yang kuliah di S1  setelah bebrapa tahun di meir dan sama sekali belum me helsaikan kuliahnya, lalu menikah dan  tinggal bersama di sana, sehingga semakin membuat budaya yang demikian tadi  terwarisi oleh kebanyakan mahasiswa kita.  Memang kalau kuliah di al Azhar mereka mendapatkan beasiswa hingga selesai kuliah, namun tentu akan lebih efektif kalau bea siswa tersebut dibatasi untuk berapa tahun saja, agar keseriusan mahasiwa menjadi terbentuk.

Sesungguhnya ada lagi budaya yang tidak hanya terjadi di mesir saja melainkan juga di berbagai temoat di berbagai negara, yakni tentang kenakalan petugas, termasuk polisi yang selalu saja memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan keuntungannya sendiri.  Biasanya  mereka itu mencari kesempatan untuk menyalahkan  para pengendara, tetapi bagi yang sudah paham tentu tidaka harus berlama lama dan langsung mengaish beberapa pound saja lalau langsung tidak terjadi apa apa, tetapi bagi mereka yang sama sekali tidak tahu justru akan lebih lama harus berialog dan bersitegang dengan polisi tersebut, dan ujungnya juga harus meberikan yang lebih banyak atas tuduhan kesalahan tersbut.

Nmun demikian buan berarti  semua yang ada  hanyalah  sekedar keburukan dan keuurangan saja melainkan saya juga melihat sisi kebaikan  diantara masyarakat mesir sendiri, khususnya yang terkait dengan kebiasaan mereka yang hanya bersuara keras tetapi tidak pernah memulai untuk berkelahi dalam arti fisik.  Itu konon ceritanya siapapun yang memulai melakukan kekerasan, pastilah dia yang akan disalahkan dan  dikalahkan di depan hukum.

Pada level masyarakat yang lebih terpeljar tentu juga  banyak hal positif yang dapat dijadikan sebagai teladan bagi siapapun, terutama dalam hal kedalaman dalam sisi keilmuan.  Biasanya meeka sangat  hafal dengan  berbagai pelajaran dan  rumus serta ayat ayat yang dibutuhkan, sehingga pada saat mereka gtampil untuk memberikan  presentasi misalnya, tentu mereka akan menguasai detail yang  disampikan, meskipun masih ada juga diantara mereka yang hanya menyampikan ayat dan hadis semata tanpa  analisa yang dibutuhkan untuk memahaminya lebih lanjut.

Masih ada lagi sifat kebanyakan mereka yang patut untuk diberikan apresiasi, yakni  komunikasi yang  mudah, terutama pada saat berjumpa dengan  kawan atau bahkan kepada mereka yang belum dikenal sekalipun mereka mudah memberikan salam  hangat  sebagai penanda keramahan mereka.  Jika kita kemudian menyahutinya dan mengajak komunikasi tentu mereka juga akan dengan senang hati melayaninya, tetapi jika kita  cuek saja, mereka pun juga tidak akan marah atau berdikap lainnya karena itu dianggap sebagai hal yang lumrah dijumpai.

Itulah pengalaman sekali lagi  berada di Kairo, semoga  apa yang saya sampaikan tersebut bukan yang sesungguhnya, melainkan hanya sekedar  kesan yang tidak sepnuhnya benar.  Dengan dmikian saya pun juga menyadari bahwa sangat mungkin apa yang saya lihat secara kasat mata tersebut salaj, tetapi secara jujur  syaa menyampaikannya dengan apa adanya, semoga  dapat ditindak lanjuti dengan  penjelasan oleh pihak lain  sehingga  tidak menjadi penilaian miring.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.