JAUHKAN PRASANGKA BURUK

Pada tahun politik seperti saat ini rupanya  semakin banyak orang tidak mempercayai satu dengan lainnya, padahal ada orang yang sama sekali tidak terkait dengan persoalan politik misalnya.  Terkadang kita menjadi heran dengan tingkah laku beberapa orang yang tidak mau mempercayai sedikitpun kepada pihak lain, padahal itu saudaranya sendiri, jika  dia itu bukan separtai atau lain partai dan lainnya.  Bahkan yang lebih tragis ialah jika  yang berlainan partai gtersebut ialah orang tuanya sendiri.  Nah, kalua hubungan poltik sudah sedemikian parah, maka politik tidak akan menjadi  penyebab terwujudnya kesejahteraan, elainkan justru malah akan menjadi penyebab keretakan.

Betaapa kita  akan menyaksikan sebuah darma yang luar biasa tidak bisa diterima akal sehat, jika ada suami istri berbeda partai poliik  dan  kita membayangkan bagaimana hubungan mereka, juga terkait dengan anak anak mereka, terutama  pada saat tahun politik dan pada saat pencalonan tokoh yang didukung oleh masing masing.  Lalu bagaimana mungkin hubungan keluarga yang demikian dapat harmonis dana langgeng sesuai dengan tujuan pernikahan itu sendiri?

Sesungguhnya  jika masing masing tidak terlalu fanatik dalam membela partai politiknya dan mampu menjalin hubungan yang tetap baik dengan semua orang, khususnya terhadap keluarganya sendiri, msih akan tetap nyambung dan  hubungan baik akan tetap terjaga.  Namun kebanyakan diantaranya justru politik menjadi penyebab retaknya rumah tangga dan bahkan banyak yang kemudian berantakan, terutama jika  mereka masing masing berada dalam partai politik yang berbeda.

Bahkan kita juga menyaksikan betapa ada orang yang  sudah selesai persoalan politik dan berlalu sekian tahun pun masih saja tetap memelihara sifat yang tidak nyaman dengan pihak lain yang kebetulan menjadi pemenang.  Artinya  mereka itu selalu saja curiga dan menilai buruk apapun yang dijalankan atau dijadikan sebagai kebijakan, karena memang pikirannya dipenuhi oleh ketidak senangan, dan bukan melihat realitas dengan pikiran yang sehat.  Bahkan kalaupun sebuah kebijakan tersebut menguntungkan kepada dirinya, tetap saja akan diberikan komentar negative dan dicarikan alasan untuk menyalahkan.

Bahkan hal gtersebut tidak saja  terkait dengan pemilihan kepala negara atau gubernur dan sejenisnya, namun juga  gtelah merembet kepada semua bentuk pemilihan yang melibatkan banyak masyarakat, seperti  pemilihan kepala desa atau pemilihan pemimpin di sebuah lembaga yang memang melibatkan anggota.  Kalau yang bersikap demikian ialah orang orang yang tidak berpendidikan dan mereka sama sekali tidak dianggap sebagai tokoh, mungkin kkita masih dapat memakluminya, tetapi jika hal tersebut jusru dilakukan oleh mereka yang  dianggap sebagai tokoh, pastinya kita dibuat tidak dapat mengerti.

Bagi mereka yang tidak cocok dengan preiden misalnya, pastinya mereka akan mencari alasan untuk Selalu mengkritik semua  program yang dijalankan, meskipun sesungguhnya program tersbeut sangat bagus untuk masa depan bangsa, demikian pula  mereka pastinya akan  selalu memprovokasi kepada masyarakat yang dianggap dapat dipengaruhi untuk dapat menerima kritiknya dan menjadikannya sebagai pihak yang idak sepakat dengan program pemerintah yang sedang dijalankan.  Mungkin paling tidak kesan gtersebut akan menem bus hatinya sehingga pada pemilihan berikutnay tidak lagi simpati kepada presiden.

Demikian juga dengan kebijakan gubernur atau pun wali kota dan bupati yang  pastinya juga akan dicari kelemhannya dan kemudian dikritikkan agar pemimpin tersbeut tidak lagi mendapatkan kepercayaan dari rakyatnya.  Apalagi jika hal getrsebut sudah mendekati pemilihan lagi dan kebetulan incumbent akan  nyalon lagi.  Kita pasti sedih dengan kondisi demikian karena akan menyulitkan untuk maju, karena  untuk sebuah kemajuna  dibutuhkan kebersamaan baik dalam kerja maupun dalam menuju goal yang diinginkan.

Secra  riil  semua sikap tersebut sesungguhnya merupakan salah satu penyakit yang sulit untuk disembuhkan  terkecuali kalau ada kesadaran dalam dirinya untuk menerima apapun yang ada di hadapannya.  Kepasrahan tersebut  yang memng diajarkan oleh agama adalah bentuk kepsrahan  secara total bahwa apapun yang terjai di dunia ini adlah merupakan  takdir Tuhan yang mesti terjadi dan harus diterima.  Pikiran kita akan dapat menerima semua yang ada jika memang akal kita tersebut sudah kita setting dengan kepercayaan yang penuh kepada Tuhan.

Sebaliknya  jika pikiran kita tersebut justru dipenuhi dengan rasa curiga dan ketidak percayaan kepada  pihak tertentu tersebut, maka  apapun kebaikan yang diperbuat, pasti akan terlihat tidak baik baginya, apalagi kalau perbuatan tersbeut memang jelas jelas tidak bagus.  Kalau pikiran sudah dipenuhi oleh prasangka buruk  maka apapun yang dikerjakan, bahkan untuk memajukan dan mensejahterakan sekalipun tetaplah dilihat sebagai sebuah keburukan, atau bahkan sengaja dianggap buruk sehingga penilian tersebut  dimaksudkan  agar smeua orang juga terpengaruh demikian.

Rupanya pikiran seperti itu salah, karena masih banyak diantara manusia yang berlaku jujur dan menilai  dengan pikiran sehatnya.  Dengan dmeikian pengaruh yaang selalu disampaikan dengan  menjelek jelekan tersbeut justru akan berbalik kepada dirinya, karena  tidak pernah memberikan penilaian yang jujur terhadap pihak lain.  Ternyata banyak kejadian yang dianggap oleh sebagaian manusia itu akan mengungtungkan dirinya, tetapi dalam kenyataannya justru akan merugikan dirinya, terkecuali kalau memang perbuatannya tersebut memang benar benar bagus untuk banyak orang.

Berburuk sangka  kepada orang lain memang merupakan kerugian sendiri, karena  hal tersebut sesungguhnya sama dengan menjelekkan diri sendiri, namun masih banyak orang yang belum menyadarinya, termasuk mereka yang dari kalangan intelektual.  Saya terkadang menjadi bertanya tanya mengapa mereka dapat berbuat dan bersikap demikian? Bukankah mereka  mengetahui bahwa siapapun yang berbuat baik, pasti akan mendapatkan balasan kebaikan, dan sebaliknhya siapapun yang ebrbuat  keburukan, pastinya juga akan mendapatkan balasan keburukan pula.

Seharusnya para tokoh yang menjadi panutan tersebut  lebih memberikan keteladanan dan bimbingan kepada ujmat agar mereka  lebih berperilaku baik dan menghargai semua orang, karena perilaku yang demikianlah yang memang diajarkan oleh agama kita, bukan malah menunjukkan kebenciana dana ketidak senangan dengan pihak lain.  Untuk itulah kita berharap ada kesadaran berpikir dari semua orang dalam semua pikirnnya untuk kebaikan dan kemajuan bersama  dan sekaligus juga memberikan pendidikan yang baik bagi masyarakat secara umum.

Prasangka buruk itu hanya akan  menhyakitkan diri sendiri karena  nafsu sudaha menguasai diri, karena itu secepatnyalah untuk menyadari hal tersebut dan kemujdian bertindaklaah secara netral tanpa  melibatkan diri kepada sebuah dukung mendukung, terkecuali memnang   menjeburkan diri dalam dunia atersebut.  Namun demikian juga hafrus tetap menjaga muruah dan akhlak dengan tidak lagi menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu.  Kita haus ingat bahwa saat ini kita hidup di dunia, dan  pada saatnya nanti Tuhan akan membalas dengan balasan yang disesuaikan dengan perbuatan kita saat di dunia ini.

Bahkan yang sangat menyedihkan ialah jika  prasangka tersebut juga dihiduplan dalam dunia yang bukan ;politik praktis, semacam dalam berorganisasi yang intinya berkhidmah untuk umat, atau  dalam dunia perguruan tinggi misalnya, sehingga semua akan menjadi lancar tanpa gangguan dari dalam sendiri.  Tujuan akan semakin mudah dan dekat untuk dicapai jika seluruh kekuatan yang ada  secara bersama sama difungsikan untuk meraihnya.  Semoga kedepan kita akan  menyaksikan  kesadaran dari mereka yang saat ini masih dikuasai perasaan tidak puas dan kemudin melakukan usaha yang tidak rasional tersebut.  Dengan demikian  sedikit demi sedikit kita akan mampu bangkit dan  upaya kesejahteraan masyarakat akan tampak dan dapat dinikmati bersama. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.