DIAM ITU HEBAT

Memang pengungkapan sebuah kalimat akan menghasilkan pemahaman yang berbeda bilamana dilakukan dalam situasi yang berbeda pula.  Pernyataan diam itu emas atau hebat, mungkin akan menjadi sebuah  impian, jika itu dikaitkan dengan berbagai ujaran kebencian dan tanggapan atas kritik yang ditujukan kepada  pihak tertentu.  Dengan bediam mungkin kondisinya akan semakin membaik dan mereda, karena pada saatnya orang akan lelah dengan sendirinya ketika harus terus menerus mengungkapkan sesuatu yang tidak bagus atau kemarahan.

Namun berdiam itu juga dapat mengakibatkan semakin rusaknya kondisi yang ada, seperti jika kita menyaksikan betapa ketidak adilan sudah sedemikian rupa meraja lela dan juga  kemaksiatan sudah begitu menyeruak ke masyarakat, bahkan ke rumah kita.  Lalu kalau kita tetap diam dan sama sekali tidak bereaksi, maka hal yang ada akan semakin menggila dan  pelakunya seolah mendapatkan angin untuk meneruskan tindakannya yang tidak benar tersebut, atau mungkin mereka akan mengira  bahswa apa yang dilakukan etrsebut sudah sesuai dengan keinginan masyarakat banyak.

Dalam kondisi yang kita mampu memprediksi bahwa ketika kita  menyatakan tentang sesuatu atau menanggap[i pernyataan yang ada justru akan semakin meledak dan sulit untuk dihentikan, maka  tindakan kita untuk berdiam adalah tindakan bijak dan mungkina akan segera menyelesaikan persoalan.  Sebagaimana Nabi  Muhammad saw sendiri juga pernah mengalami hianaan dan bulliyan oleh para orang kafir pada saat itu, dan Nabi justru tidak membalsanya, padahal kalau mau pasti Nabi juga mampu melakukannya.  Akan tetapi beliau lebih memilih diam karena diam itu hebat.

Beliau sangat paham bahwa jika cercaan mereka dijawab, maka bukannya akan meredam persoalan, melainkan malah akan semakin memperluas persoalan.  Mereka mencela dan menghina Nabi karena itu memang pancingan dan sekaligus juga mereka merasa diatas sehingga kalau ada  jawaban dari Nabi, maka mereka pasti akan semakinbrutal dan menggila dalam cercaan dan hinaan tersebut, dan ternyata benar setelah Nabi tidak bereaksi, mereka akhirnya juga lelah sendiri.

Namun kalau kondisinya  berbeda semisal ketika kita menyaksikan betapa masyarakat kita  sudah sedemikian lupa dengan etika bagaimana mengucapkan kalimat yang baik atau menulis sebuah berita yang benar  dan bagaimana etika  berkomunikasi melalui media sosial dan lainnya, tentu  sebagai warga yang baik kita harus berbicara dan menyatakan pendapat untuk mengingatkan mereka agar maun kembali kepada etika sebagai seorang muslim yang mempunyai etika dan aturan dalam semua aspek tersebut.

Jika kita berdiam saja atas berbagai kejadian maksiat tersebut, tentu kita akan menanggung dosa akibat kita tidak mengingatkan mereka yang tersesat.  Jadi dalam kopndisi demikian berbicara itu jauh lebih hebat ketimbang berdiam saja.  Berbicara kebenaran dan didasarkan kepada data dan fakta tentang kebenaran serta  ajaran  agama yang valid tentu merupakan sebuah  tuntutan dan bahkan kewajiban karena  kitalah yang memang harus mengingatkan mereka agar kembali menjadi baik dan taat atas segala aturan yang ada.

Dengan demikian  ada kalanya diam itu hebat dan bagus dan ada kalanya pula berdiam itu jelek dan tidak bertanggung jawab.  Karean itu ukurannya ialah kebijakan sikap yang kita tunjukkan. Sebab hanya dengan mempertimbangkan  kondisi dan situasi sajalah yang akan menjadikan kita  berada dalam jalan yang benar dan bukan  sebaliknya.  Boleh jadi apa yang kita sampaikan melalui pembiacaraan tersebut adalah benar menurut agama kita dan ketentuan atuarn yang berlaku, namun jika kita ungkapkan  pada  kondisi yang tidak tepat, juga akan menambah persoalan yang sudah ada.

Sebagai contohnya  pada saat terjadi perkelahian dan emosi yang sedang memuncak diantara dua sosok, tentu yang lebih baik ialah kita mengusahakan agar mereka tidak meneruskan perkelahiannya  dan menghimbau mereka untuk menyadari dan saling memaafkan tentang persoalan yang sedang  diperdebatkan antara keduanya.  Dan tentu hanya sebatas itu karena  sangat mungkin kalau kita salah dalam bertindak justru  malah akan merugiakn kita sendiri, semacam justru mereka akan memusuhi kita yang dianggap ikut campur dalam urusan mereka.

Kita tidak perlu mencerahami mereka yang sedang emosi dan dalam kondisi tidak sehak t akal tersebut, meskipun yang kita sampaikan misalnya ialah ayat alquran ataupun hadis nabi yang berkitan dengan begaimana  orang seharusnya bergaul dan berkiomunikasi diantara sesama.  Substansi apa yang kita sampaikan memang tidak salah dan bahkan dapat dikatakan sebagai kebenaran mutlak, akan tetapio kalau disampaikan  dalam kondisi yang tidak tepat, justru malah akan  menambah persoalan dan bahkan mungkin juga akan merugikan diri sendiri.

Itulah mengapa kita memang harus mampu melihat situasi dan kondisi yang tepat untuk berbicara dan juga untuk tidak berbicara, sebab pembicaraan kita tersebut terkadang dapat bermanfaat bagi mereka yang kita tuju, tetapi suatu ketika juga akan dapat menciptakan persoalan baru.  Jadi  kita memang harus melihat tentang pernyataan bahwa diam itu emas atau hebat, jika dikaitkan dengan kondisi tertentu yang memang akan jauh lebih bagus jika diam saja.

Demikian pula kita juga akan mengerti bahwa kita memang harus ngomong harus speak up, karena kondisinya menghendaki demikian.  Dengan dmeikian situasi dan kondisi memang  menentukan penilaian terhadap sesuatu.  Bahkan dalam kehidupan lainnya, semacam menyatakan tentang  kasih dan sayang juga diperlukan waktu dan situasi yang tepat, karena kan mampun mempengaruhi kehendak dan perasaan pihak tertentu.

Memberikan  dorongan pun membutuhkan waktu dan situasi yang tepat, semacam ketika kita  memberikan dorongan dan semangatkepada orang yang sedang sakit tentu kitan harus menyartakan  harapan yang positif untuk kesembuhan  yang sakit, bukan sebaliknya justru menceritakan kesedihan dan bahkan kematian orang yang mengalami sakit yang mirip dengan yang diderita orang tersebut.

Kebijakan tersebut juga sekaligus dapat disebut sebagai kecerdasan tersendiri karena  istilahnya orang Jawa ialah empan papan dan tidak asal njeplak saja.  Ujaran dan pernyataan yang kita keluarkan itu terkadang akan menjadi senjata yang sangat mematikan dan menusuk hingga ke ulu hati dan  rasa sakitnya terkadang malah sangat sulit utnuk disembuhkan.  Coba bilamana ada pernyataan yang meluncur dari mulut seseorang dan ternyata hal tersebut menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain, tentu pernyataan tersebut akan jauh lebih menyakitkan ketimbang sebuah sembilu.

Sebaliknya pernyatan yang tulus dan diungkapkan pada saat yang tepat juga akan mampu memberikan kesembuhan bagi yang sedang sakit atau mampu memberikan dan membangkitkan semangat yang tadinya sudah lesu.  Ternyata  pernyataan yang kita munculkan dari mulut kita  dapat berupa bisa yang emmatikan dan sekaligus juga dapat menjadi obat yang paling mujarab bagi sebuah penyakit akut yang mematikan sekalipun.

Karena itu  mari kita jaga mulut kita agar tidak mengeluarkan kalimat atau kata kata yang   dapat menjadi  bisa, tetapi justru akan mengeluarkan kalimat  yang seperti  obat atau madu yang menyembuhkan.  Semua itu akan dapat kita  lakukan jika kita emmang berniat dengan sungguh sungguh dan selalu mengingat posisi kita serta mampu memahami serta mengenai kondisi dan situais yang sedang kita hadapi.  Semoga kita memang mampu untuk mempraktekkannya. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.