DIBUTUHKAN SEKOLAH KEJURUAN

Sebagaimana kita tahu bahwa salah satu kelemahan pendidikankita ialah ketidak jelasan  arah yang ingin dituju, meskipun sebagiannya sudah ada, tetapi belum banyak. Seharusnya  kebijakan kementerian memang yang menentukan, karena bagaimanapun kebijakan seperti itu sangat penting untuk kelansungan dan kejelasan arah.  Lebih lebih  dalam dunia perguruan tinggi, hanya sangat kecil yang berorientasi kepada kejuruan, yakni plititeknik yang selama ini suah  terarah, walaupun depmikian justru saat ini kecenderungannya juga malah lebih umum.

Kalau kita bandingkan dengan pendidikan di negera lain, secara kuantitatif, pastilah kita emmailiki jumlah sekolajh dan perguruan tinggi yang jeuh lebih banyak, namun kualitas dan arahnya yang belum jelas.  Sedangkan di negara lain meskipun secara kuantitatif  lebih sedikit, akan tetapi jauh lebih berkualitas, karena memang  arahnya sudah jelas, yakni menyediakan  tenaga siap pakai untuk perusahaan atau sektor lainnya.

Dengan begitu memang kebijakannya sangat jelas dan kemudian  juga dipadukan dengan dunia usaha dan industri atau dunia kerja  secara lebih khusus.  Dengan begitu selama proses pembelajaran akan banyak dilakukan  praktekum di perusahaan seacara langsung atau  sektor lainnya dan secara langsung  dikenalkan bahkan  dipraktekkan sektor yang menjadi konsentrasinya.  Dengan begitu sudah pasti lulusannya akan  mendapatakn ketrampilan tertentu yang siap pakai dan sebelaum mereka lulus dari sekolah atau perguruan tinggi tersebut, apstilah sudah mengantongi sertifikat.

Nah, ketika  kita menengok kondisi sekolah dan perguruan tinggi kita yang serba umum dan tidak jelas tersebut, maka kita kemudian menyaksikan betapa banyak pengangguran yang sudah sarjana atau sudah lulus sekolah.  Seharusnya kalau sistemnya  terpadu dan jelas arahnya  sebagaimana tersebut, kmaka semua lulusan pastinya akan terserap  didunia kerja dan usaha tersebut.  Kalau masih ada pengangguran, maka itu bukan lagi mereka yang sudah lulusm dari sekolah apalagi perguruan tinggi, tetapi memang mereka itu sama sekali tidak emmpunyai ketrampilan tertentu.

Pemerintah tentu akan mengusahakan secara terencana  kepada semua rkyatnya agar mereka mendapatkan  kesempatan untuk sekolah atau kuliah, sehingga masa depan mereka jelas dan demngan demikian pemerintah tidak akan menanggung masyarakatnya yang pengangguran.  Nah, jika itu kemudian menjadi perhatian kita dan diusahakan untuk memperjelas sekolah dan perguruan tinggi mengenai arahnya, tentu belum terlambat, dan barangkali saat ini kita sedang membutuhkan  pendidikan yang dipadukan dengan dunia usaha dan industri.

Politteknik perlu diperbanyak dan mungkin juga universitas  diberikan mandat tertentu untuk mengembangkan dan membuka program studi baru yang berorientasi kepada  penciptaan tenaga tramp[il siap pakai, dan tentu harus dijembatani dengan  upaya nyata mkendekatkan universitas dengan dunia usaha dan  industri.  Tanpa itu, atau dengan kata lain kalau hanya  himbauahn semata, maka  pasti tidak akan berjalan sebagaimana mestinya, dan kembali lagi dunia pendidikan kita menjadi tidak jelas.

Kita tentu sangat prihatin menyaksikan betapa banyak lulusan perguruan tinggi yang mengantri untuk memasuki dunia kerja.  Bekal mereka hanya semata mata ijazah yang sama sekali tidak berbunyi dan kalau kemudian dihadapkan dengan dunia kerja nyata, mereka juga tidak mampu melaksanakan dan menjawabnya.  Kondisi demikian tentu seharusnya sudah disikapi oleh pemerintah, khususnya  kementerian ketenaga kerjaan. Lalu sesegera mungkin untuk dilakukan koordinasi  dengan kementerian terkait, khususnya  perdagangan, perindustrian dan lainnya.

Menjamurnya dan boomingnya anak anak usaia sekolah dan  angkatan kerja yang saat ini tidak diimbangi dengan lowongan atau kesempatan kerja, tentu akan menjadi persoalan berat tersendiri yang harus dihadapi pemerintah.  Karena  itulah menurut saya  harus segera ada perubahan orientasi dalam penyelenggaraan sekolah dan juga perguruan tinggi.  Harus ada kebijakan yang berani dari pemerintah untuk menutup pemnbukaan dan pembatasa  jumlah sekola  umum, dan  sekaligus juga dibarengi dengan perintah untuk membuka sekolah atau pengal;ihan sekolah umum ke sekolah kejuruan.

Untuk menarik minat mereka, yakni para pengelola sekolah, tentu pemeetintah harus memberikan iming iming atau insentif kepada sekolah yang  mengubah ke arah kejuruan tersebut.  Anak anak yang sudah lulus sekolah saat ini dan berkeinginan untuk meneruskan ke jenjang perguruan tinggi ternyata tidak sebanding dengan  perhitungan.  Artinya masih terlalu banyak diantara mereka yang mandek sekolah dan kemudian menjadi beban tersendiri bagi para orang tua.  Sementara itu ketrampilan mereka sama sekali nol besar karena emmang selama prosws pembelajaran tidak pernah diperkenalkan dengan dunia usaha dan industri.

Jadilah mereka sebagai pemabah pengangguran terp[elajar.  Mari kita sadar itu dan segera  lakukan upayannyata, sehingga kondisi masyarakat kita akan menjadi stabil dan bahkan lebih baik lagi.  Jika semua lulusa sekolah mempunyai ketrampilan tertentu dan dunia kerja juga membutuhkan mereka, pastilah semuanya akan  berjalan dengan sangat  teratur dankesetabilan daya beli serta keamanan juga relatif akan stabil.  Memang  tidak selalu kondisi demikian dipengaruhi oleh ekoni=omi yang membaik, tetapi harus diakui  kalau ekonomi seret, pasti maslaah akan semakin banyak.

Kita sesungguhnya sudah dapat menyaksikan betapa  sekolah sekolah kejuruan telah berhasil  membawa lulusannya untuk berkiprah secara baik dalam perusahaan dan sekaligus juga dapat meningkatkan  kesejahteraan masyarakat.  Mereka yang mengambil jrurusan  oto motif ternyata disamping mereka dapat bekerja langsung di beberapa operusahaan otomotif, bengkel dan sejenisnya, juga mereka  dapat membuka  usaha baru dalam bidangnya.  Dengan demikian setidaknya  lulusan  SKM tidak akan emnambah beban pengangguran yang sudah terlalu banyak.

Mereka yang  mengambil bidang lainnya seeprti akuntansi,  tata boga dan leinnya juga  segera menemukan dunianya dan dapat berkontribusi bagi pengembangan dunia tersebut.  Intinya mereka tidak mau menjadi pengangguran, melainkan mereka akan berusha, kalau tidak bekerjasam dengan eprisahaan yang sudah ada, mereka juga dapat memilih melakukan usaha sendiri.  Kenyataan bahwa mereka harus mampu bertahan dalam hidup akan menjadi penyemangat mereka untuk me4lakukan usaha apapun sesuai dengan keahliannya.

Demikian pula seharusnya dunia perguruan tinggi sehingga pada saatnya harus terjadi keseimbangan antara  perguruan tinggi yang mengembangkan keilmuan dengan perguruan tinggi yang memang siap menyediakan tenaga kerja.  Sudah barang tentu kalau lulusan perguruan timnggi seharusnya  dapat lebih berkembang dan memperoleh keberhasilan yang lebih ketimbang yang hanya lulusan SMK.  Namun bukanberarti itu menjadi sebuah kemutlakan, karena banyak pulan  atas ketekunan dan keberaniannya, seseorang akan dapat lebih maju ketimbang lainnya, tidak memandang apakah dia itu lulusan perguruan tinggi ataukah hanya lulusan sekolah.

Sekarang  kembali lagi kepada kebijakan pemerintah dalam hal lembaga pendidikan negeri dan kepada para pengelola yayasan bagi lembaga pendidikan swasta.  Namun sangat disarankan agar  ada perubahan orientasi yang menjadi jelas, sehingga masa depan para lulusannya pun juga akan menjadi lebih jelas.  Kalauipun tidak ada mandatori untuk mengubah orientasi, namun kalau kemudian diberikan keluasan untuk memilih dengan berbagai pertimbangan serta dukumgan kemudahan, pastilah akan banyak yang melakukannya.

Kita melihat dengan kasat mata  persoalan tersebut, sehingga kemudian dpaat memastikanbahwa pada saat ini kita membutuhkan sekolha dan juga perguruan tinggi yang berorientasi kepada kejuruan tertentu. Tanpa  mengubah arahnya sebagaimana tersebut, yaknilah bahwa perguruan tinggi dan sekolah kita akan semakin menambah beban masyarakat, yakni dengan munculnya secara signifikan  para pengangguran terdidik.  Semoga kita tidak akan pernah menyaksikan  membludaknya pengangguran yang akghirnya hanya akan menimbulaknpersoalan demi persoalan saja. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.