KENAPA HARUS MENDENGARKAN SARAN?

Kerendah hatian orang akan ditandai dengan kemauan untuk mendengarkan apapun yang disarankan oleh sahabat atau siapapun, dan sbaliknya kesombongan biasanya ditandai dengan keangkuhan dan ketidak mauan untuk sekedar mendengarkan nasehat kawan.  Orang yang sombong  seolah merasa dirinyalah yang paling hebat dan benar, sehingga tidak pantaslah ada orang lain yang mencoba untuk menasehatinya.  Sementara orang yang rendah hati pasti akan menghargai apapun yang disampaikan, termasuk hal hal remeh yang sudah diketahuinya.

Menyenangkan hati orang lain dana jangan sampai membuat sakit hati atau rasa tidak nyaman pihak lain itulah yang menjadi prinsip utama mereka yang suka rendah hati.  Sifat dan sikap yang demikian tentunya  akan sangat bagus  bilamana ada keinginan untuk tetap menjalin hubungan baik sebagai sahabat.  Tetapi sebaliknya jika  tidak ada kepedulian terhadap niat baik kawan atau sahabat, lalu yang dilakukannya ialah sesuatu yang dapat menjadikan kecewa atau sakit hati sahabatnya tesebut, mnaka perkawanan tersebt tidak akan beru,ur panjang.

Bahkan kalau orang yang rendah hati pasti akan selalu mengalah dan mendahulukan kepentingan pihak lain, karena pada hakekatnya persoalan mengalah dan tidak itu hanya persoalan sikap dan bukan yang sesungguhnya.  Orang yang mengalah untuk mau mendengarkan nasehat itu bukan berarti kalah, karena mungkin saja nasehatnya justru jauh lebih bermanfaat, meskipun kawannya tersebut tidak mau mendengarnya, dan hanya ingin mau nasehatnyalah yang haruis didengar.

Ternyata masih banyak pihak lain yang mau mendengarkan nasehatnya tersebut dan lalu juga mau mengamalkannya. Jadi sikap rendah hati yang selalu ditampilkannya bukan   akan menghalanginya untuk maju dan tampil di depan, melainkan justru akan membawanya  kepada pencapaian prestasi yang gemilang pada  lain kesempatan.  Orang yang bersikap lemah lembut dan rendah hati pasti akan disukai oleh banyak orang dan akan mempunyai sahabat yang lebih banyak dan tulus.

Sementara orang yang bersifat sombong, sok menggurui dan ingin  berada di depan, biasanyanya malahan akan  dijauhi oleh sahabatnya.  Mungkin pada kesempatan etrsebut dia memang diberikan kesempatan untuk tampil sebagai yang  dianggap mampu, tetapi pada kesempatan lainnya, pasti  tidak ada lagi yang mau menganggapnya sebagai orang yang hebat.  Kesombongan yang ditampakkannya tentu akan membuat orang lain muak dan sama ekali tidak simpatik.

Orang hebat yang ada di dunia ini biasanya  bersikap rendah hati dan  selalu ingin mendengarkan saran dan bahkan kritik pihak lain, karena mereka pasti menganggap bahwa kritik dan saran itu pasti akan bermnafaat bagi mereka, bukan akan meruntuhkan atau merendahkan mereka.  Itulah mengapa mereka akan selalu memperbaiki diri dan mencapai tempat yang tertinggi dalam karier hidupnya.

Bahkan  biasanya pula mereka sering mendatangi orang orang hebat lainnya untuk meminta nasehat dan petunjuk lainnya agar mereka  dapat dan mampu menjadi orang yang bijak dan bermanfaat bagi pihak lain.  Kita sering melihat banyak orang sukses justru suka berkunjung ke beberapa  tokoh atau ulama tertentu hanya sekedar untuk meminta doa dan nasehat.  Mungkin kehadiran mereka hanya sekedar unggah ungguh juga bias  dan bukan untuk meminta nasehat betulan.

Akan tetapi mereka tetaplah akan mendengarkan secara seksama semua nasehat yang disamapiakn oleh para tokoh dan ulama tersebut.  Mungkin mereka juga sangat percaya bahwa para ulama tersebut sangat tahu apa yang bakal terjadi, sehingga  mereka meminta nasehat dan doa  untuk kesejahteraan dan kesuksesan mereka.  Jika kehidupan berjalan seperti itu niscaya kita akan menyaksikan betapa indahnya hidup bersma  dengan pada hamba Tuhan yang juga tulus dalm menjalni hidup.

Sayangnya  kondisi riil  yang kita saksikan sama ssekali jauh berbeda dengan  yang kita idealkan tersebut, sehingga apa yang kita saksikan setiap hari justru selalu membuat jengkel dan membuat sesak dada kita.  Bagaimana tidak, mereka selalu saja memburu harta dengan cara yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlalu. Bisa saja mereka menipu, merampok, dan juga mengkorup harta yang bukan miliknya, bahkan kemudian juga memubdzirkannya sedemikian rupa di tempat tempat kemaksiatan.

Jangankan mereka mau menerima dan mendengarkan nasehat baik dan bijak dari orang orang tua dan ulama, untuk sekedar mendengarkannya saja mereka akan lari dan kalau tidak lari, mereka justru akan menutup telinganya agar tidak mendengar sesuatu yang baik sebagai nasehat tersebut. Jika sedang  mendengarkan radio, kemudian  ada acara  ceramah agama, lalu dengan secepatnya dialihkan atau bahkan dimatikan.  Demikian juga pada saat sedang menyaksikantelevisi yangkemudian ada acara  rohani, maka secepat kilat akan dipindaik=h chenelnya dan atau dimatikannya.

Sungguh memang sangat ironis dan memperihatinkan.  Barangkali memang zaman akhir ini akan dipenuhi oleh kemaksiatan dan hal hal yang mengarah kepadanya.  Dengan demikian hal hal yang baik akan sulit bertahan dalam tampilan yang sebenarnya dan  mendapatkan perhatian dari masyarakat.  Tidak sedikit, saat ini masyarakat justru lebih menggandrungi keburukan ketimbanga kebajikan, meskipun keburukannya  tidak sampai kepada kemaksiatan.

Sebagai contohnya ialah masyarakat secara mayoritas akan lebih menyukai konser musik ketimbang pengajian.  Mereka juga akan lebuh nyamanmendengarkan musik untuk pengantar istirahat ataun tidur ketimbang mendengatrkan bacaan alquran atau bacaan shalawat untuk tujuan yang sama.  Bukan berarti mendengarkan musik itu tidak diperbolehkan atau  sekedar menyaksikan konsermusik itu haram, bukan demikian, tetapi sesekali mendengarkan musik itu juga diperlukan, tetapui mendengarkan  bacaan alquran dan shalawat juga sangat perlu.

Harus ada keseimbangan antara kebutuhan rohani dan jasmani.  Bukankah kita mengetahui bahwa agama kita mengajarkan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi dan antara kepentingan lahir dan juga batin.  Hanya saja kemudian yang terjadi ialah kalau sudah memfokuskan diri pada musik misalnya kemudian justru lupa terhadap yang lainnya.  Dengan dmeikian pada  saatnya semua yang  dilakukan hanyalah untuk memenuhi keinginan lahirnya semata dan melupakan keinginanbatinnya.

Hati ini sesungguhnya  akan mau menrima apapun yang kita arahkan.  Jika kita mengarahkannya untuk hal hal yang baik, maka hati kita juga akan mampu menerimanya dengan baik pula.  Dan sebaliknya jika kita mengarahkannya kepada hal hal yang buruk, maka  hati kita  juga akan terbiasa menerima hal buruk tersebut.  Untuk itu jika kita menyadari hal tersebut, kiranya tidak patut kita memberikan  asupan kepada diri kita hal hal buruk tersebut.  Asupilah dengan smeua yang baik agar hati kita menjadi terbiasa kepada hal hal yang baik.

Kecenderungan untuk  selalu berbuat kebaikan itu akan  tercipta dengan sendirinya jika kita selalu mengarahkan hati kita untuk hal hal yang baik tersebut.  Dengarkanlah nasehat yang baik dan bahkan cari dan mintalah nasehat tersebut dari orang orang bijak dan baik, karena dengan melakukan itu, hati kita akan cenderung  menginginkan sesuatu yang baik.  Kalau semua itu sudah terbiasa, maka rasanya sanagt ringan bagi kita untuk mengarahkan keseluruah hidup kita kepada hal hal yang baik etrsebut.  Semoga kita akan mampu mendengarkan nasehat baik tersebut dan bahkan kita akan memaksakan diri kita  agar dapat mendengarkan saran dan nasehat baik tersebut. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.