MENJADI SOSOK YANG FENOMENAL DAN KOMPLIT

Sesungguhnya tidak mudah untuk menjadi sosok yang dijadikan sebagai anutan dan cerminan oleh masyarakat, karena  sudah barang pasti masyarakat akan senantiasa memantaunya sehingga apapun  perbuatan, sekecil apapun biasanya akan terus diikuti.  Dengan begitu jiika membua5t kesalahan sedikit saja, maka masyarakat kemudian akan  menyebarkannya sedemikian rupa sehingga seolah olah tokoh tersebut mendapatkan bully yang demikian dahsyat, tanpa  mempertimbangkan perasaan dan norma lainnya.

Memang menjadi publik figur itu sangat berat, meskipun menjadi publik figur tersebut  tidak dikehendakinya, tetapi kalau masyarakat dan didukung oleh media sudah menghendakinya, pastilah semuanya akan berlangsung tanpa dapat dicegah.  Hanya mereka yang dapat mempertahankan  keberadaannya secara konsistenlah yang akan tetap eksis dalam situasi apapun dan dalam kondisi yang bagiamanapun.

Kalau ditelusuri memang untuk menjadi tokoh fenomenal dan komplit itu sangat susah dan idealnya  akan ditempati oleh manusia suci yang menjauhkan diri dari gemerlapnya dunia, sepetri para wali atau kalau puncaknya ya para Nabi, karena mereka sudah teruji dengan kiprahnya dan sekalifgus konsistensinya dalam menjalani hidup sebagaimana kita kenal dari awal hingga akhir tanpa mengalami penurunan dan tanpa cacat.

Barangkali kalau saat ini akan sulit mencari sosok yang demikian terkecuali hanya ada dalam cerita fiktif yang sengaja dibentuk untuk  dijadikan sebagai model yang diinginkan.  Namun sesungguhnya sosok tersebut akan tidak pernah muncul dalam dunia nyata.  Berbagai sifat terpuji dan nyentriknya  dapat dibaca dalam cerita kehidupannya, namun jika kita ingin menyaksikannya secara langsung maka kita tidak akan pernah menjumpainya.

Tokoh fenomenal tersebut memang sering kita bayangkan dan sering pula kita khayalkan, karena dengan menghayal tersebut kita akan mampu menjadikannya ebagai sosok yang pintar, lihai dealam berkomunikasi dengan siapapun dari kalangan apapun, dan sekaligus juga akan mampu memenangkan setiap pedebatan tentang apapun.  Dengan mudahnya sosok tersebut akan mengimbangi bahkan  mengalahkan argumentasi seorang ahli sekalipun, apalagi kalau berhadapan dengan politikus, pastinya dia akan berada di atas angin dalam mementahkan smeua alasan yang disampaikan oleh politikus tersebut.

Dikatakan fenomenal, karena sosok tersebut akan dengan mudah dijumpai di berbagai tempat, karena terkadang  sosok tersebut berada diantara para pejabat teras negeri ini, terkadang berada di tengah tengah para politikus, terkadang berada dikalangan para akademisi dan terkadang pula berada di tengah tengah para  orang miskin yang hidupnya sangat sengsara.  Namun sosok tersebut akan senantiasa dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan bergul dengan bebas bersama mereka.

Sekali waktu justru kita menjumpainya  berada diantara para ulama yang sedang mengadakan khalaqah penting untuk sebuah  agenda nasional, padahal kapasitas sosok kita tersebut tidak dikenal sebagai seorang ulama, melainkan hanya sosok yang fenomenal tersebut saja.  Pada saat para ulama mengadakan konferensi mengenai thariqat yang itu lebih khusus bagi mereka yang mendalaminya dan tidak banyak yang terlibat di dalamnya, namun sosok kita tersebut ternyata  merupakan salah satu nara sumber yang diundang untuk memberikan pandangannya.

Sungguh kita yang awam akan dibuat tidak mengerti dengan keberadaan sosok kita tersebut, karena  lintas profesi dan semuanya dalam bingkai kemampuannya untuk berdialog dan membicarakan tentang persoalan yang khas tersebut.  Mungkin kalau kita ingin mewujudkannya dalam sebuah kenyataan, pastilah kita  akan kecewa, karena pasti tidak akan mungkin menjumpainya.  Namun pengembaraan khayal kita akan tetap terus mengusahakannya agar  bisa terus hadir dalam setiap perhelatan tentang apapun.

Sokok tersebut juga merupakan pribadi yang komplit, karena dalam penampilannya juga pasti sesuai dengan maqam yang diikutinya, terkadang dia harus memakai jas berdasi, namun sesekali waktu dia harus sarungan dan memakai surban, akan tetapi sekali waktu dia juga akan memakai pakaian kebanyakan orang dan bahkan sesekali hanya memakai  kaos saja.  Itulah kekomplitannya dalam penampilan, belum lagi dalam hal lainnya semisal kepintarannya dalam berkomunikasi dengan para pihak yang ada dalam jangkauannya.

Jika  tokoh fiktif yang kita bangun melalui imajinasi kita tersebut ingin kita  wujudkan dalam dunia nyata, tentu tetap  bisa, hanya saja memerlukan duiklungan yang luar biasa dari kita semua.  Membentuk pribadi yang fenomenal dan komplit memang susalit tetapi bukan berarti tidak bisa.  Hanya saja diperlukan kondisi yang mendukungnya dan sekaligus juga tuntutan kita yang tidak sekomplit tokoh fiktif tersebut, melaionkan sekedar mumpuni dalam berbagai kondisi serta mampu menguasai  panggung pada saat  dilakukan diskusi atau semacamnya.

Kecerdasan tentu merupakan modal dasar utamanya, lalu didukung oleh mental serta keilmuan dalam bidang keagamaan yang cukup, sehingga akan dapat dikembangkan melalui berbagai event yang diikutinya  dan juga penguasannya terhadap berbagai bahasa.  Dengan modal tersebut kiranya  sosok kita tersebut akan dapat diandalkan dalam setiap event yang diselenggarakan oleh berbagai profesi di lingkungan kita.  Lingkungan juga harus mendukung hal tersebut, karena  ekberhasilan seseorang itu terkadang  malah ditentukan oleh lingkunagnnya sendiri.

Sudah barang pasti hal yang maha penting untuk mendukung sosok kita tersebut ialah  akhlak dan budi perkertinya yang sudah menjadi kebiasan, karena  akhlak itu merupakan kunci dari segala kesuksesan. Banyak orang yang secara  harfiyah persyaratan mumpuni untuk menjadi tokoh, namun karena akhlaknya yang brengsek, maka masyarakat kemudian tidak lagi mau mengakuinya sebagai seorang tokoh, dan akhirnya malah tenggelam seperti dimakan bumi.

Betapa banyak juga sebuah masyarakat yang tenggelam tidak muncul ketenaranya  atau keunggulannya, hanya disebabakan karena tidak memelihara akhlaknya sendiri.  Itulah mengapa Nabi Muhammad saw sangat menekankan persoalan akhlak ini dan bahkan beliau juga menyatakan bahwa  tujuan diutusnya beliau juga hanya untuk memperbaiki akhlak agar menjadi baik.

Dengan demikian sesungguhnya  memunculkan sosok yang fenomenal dan komplit sebagaimana angan angan kita itu  dapat dilakukan, hanya saja mungkin  terasa berat karena  saat ini banyak halangan yang  sewaktu waktui akan  dapat menggagalkan perwujudan tersebut.  Kalau hanya mencari sosok yang jenius dan  cerdas, mungkin saat ini dapat ditemukan banyak orang, kalaupun ekmduain dikombinasikan dengan penguasan akhlak yang bagus, juga mudah ditemui. Namun kalau kemudian harus juga mendapatkan kekomplitan lainnya, mungkin itu yang menjadi persoalan.

Kalau begitu kondisinya akan jauh lebih bagus jika kita masing masing memerankan diri sebagai soaok yang menuju kearah tersebut walaupun dengan  banyak keurangan.  Jika niat sudah ditancapkan dan  usaha sudah dikerahkan, maka smeuanya harus diusahakan untuk mendukung  keinginan tersebut, tentu sesuai dengan bats kemampuan kita masing masing.  Kefenomenalan kita  dapat kita pelajari uuntuk menjadi pihak yang banyak memberikan kontribusi dalam berbagai bidang, dan kekomplitannya dapat ditambal dengan kepedulian kita terhadap kondisi yang tidak ideal, terutama dalam bidang ekopnomi.

Kita tentu tidak akan mampu melakukannya sendiri, karena itu kita harus mengajak pihak lain yang juga peduli untukbersama sama mengentaskan kaum miskin untuk berdaya melalui ebrbagai usaha yang mungkin dilakukan, seperti melalui dana zakat yang kita programkan  secara cermat dan bekerjasam dengan BAZ atau LAZ yang ada.  Dengan usaha tersebut kita sudah tercatat sebagai pihak yang berupaya untuk menjadi pihak yang baik dan berusaha untuk menjadikan yang lain lebih baik pula. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.