PENTINGNYA SERTIFIKASI PEMBIMBING HAJI

Mungkin diantara kita sering menyaksikan bahwa banyak jamaah haji, termasuk dari Indonesia yang tidak sempurna menjalankannya, disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang manasik haji.  Ada beberapa larangan bagi jamaah haji yang sedang memakai kain ihram misalnya, namun kebanyakan diantara mereka  sama sekali tidak mengetahuinya, sehingga dengan mudahnya mereka melanggar larangan tersebut.  Mungkin para pembimbing sudah memperingatkannya atau sama sekali tidak menyinggung hal tersebut.

Persoalan inilah yang merupakan salah satu hal krusial yang harus diketahui oleh para pembimbing agar para jamaahnya menjai sempurna dalam menjalani rukun dan kewajiban haji. Kepedulian para pembimbing haji untuk memberitahukan hal hal krusial kepada jamaahnya menjadi sangat urgen, karena mereka pada dasarnya sudah membayar mahal ongkos naik haji tersebut, dan juga para pembimbing sudah dipercaya dan diberikan imbalan untuk bimbingannya tersebut.  Nah, kalau kemudian  teledor dalam pembibingannya tersebut tentu ada hal yang harus dipertanggung jawabkannya, tidak saja di dunia, malainkan juga di akhirat.

Persoalan teknis yang bakal dan potensial untuk dilanggar oleh jamaah haji itu sangat banyak, karena itu para pembimbing harus mengetahui serba rinci mengenai hal hal teknis tersebut agar mampu memberitahukan kepada jamaah mengenai hal hal penting yang harus mereka jaga dan lakukan. Akan sangat disayangkan jika para pembimbing sama sekali tidak mengingatkan hal hal penting tersebut dan mereka akhirnya benar benar melanggarnya atau tidak melakukan hal yang seharusnya dijalankan.

Jangan sampai para pembimbing hanya mengurusi dirinya sendiri atau bahkan ingin mendapatkan keuntungan  untuk dirinya dengan mengabaikan para jamaah bimbingannya.  Karena kalau hal ini terjadi maka dosanya  sangat besar dan  kerugian juga akan diderita oleh para jamaah tersebut. Jika ada pembimbing yang hanya mengurusi persoalan denda atau dam saja, sementara persoalan bimbingannya sendiri terbaikan, maka sesungguhnya tidak pantaslah pembimbing tersebut untuk dipercaya sebagai pembimbing.

Karena itu kita sangat mendukung upaya pemerintah untuk menertibkan para pembimbing haji tersebut, yang salah satunya melalui sertifikasi pembimbing haji.  Dengan keprofesionalan tersebut diharapkan tingkat kualitas pembimbingan akan jauh lebih baik dan para jamaah akan merasakan  kenyamanan karena terus dibimbing dan diarahkan dalam menjalankan ibadah haji tersebut.  Serifikasi pembimbing haji memang tidak menjamin seratus persen  bahwa pembimbing akan menjalankan tugasnya dengan baik, namun setidaknya ada kepercayaan  untuk menjadikan mereka sebagai pembimbing.

Untuk itu proses pensertifikatan pembimbing haji juga harus dilaksanakan dengan penuh  kesungguhan dan benar benar  memenuhi proses  yang dibutuhkan untuk mengantarkan para calon pembimbing haji tersebut mumpuni dan  mampu secara teknis dan juga operasional untuk membimbing para jamaah.  Pengalaman juga pasti dibutuhkan, sehingga calon peserta sertifikasi tersebut harus sudah pernah menjalankan ibadah haji sheingga sedikit banyak telah mempunyai pengalaman.

Disamping itu pemerintah sendiri, dalam hal ini  direktorat penyelenggaraan haji dan umrah agar lebih peka terhadap terjadinya berbagai mafia yang merugikan jamaah haji, salah satunya ialah mafia dam dan juga badal haji yang setiap tahunnya semakin marak dan memakan korban lebih banyak.  Mungkin untuk persoalan dam, pemerintah dapat mengkoordinasikannya lewat pembayaran BPIH dengan catatan jika nantinya tidak digunakan, haruslah dikembalikan kepada jamaah lagi.

Hal ini untuk memotong  tali antara para jamaah dengan para mafia yang selalu saja bergentayangan ke penginapan para jamaah untuk mempengaruhi mereka agar mengamahkan damnya kepada mereka, dengan janji harga yang lebih murah.  Kta yakin bahwa sesungguhnya persoalan mafia tersebut sudah diketahui oleh smeua pihak, karena memang dilakukan dengan terang terangan, hanya saja  sampai saat ini masih dalam bentuk himbauan semata, dan belum berupa tindakan nayata untuk mencegahnya.

Persoalan diseputar perhajian itu terlalu banyak dan  sampai saat ini belum ada usaha untuk menyelesaikannya.  Kalaupun ada usaha itu hanya beru sampai pada  pengumpulan pendapat melalui seminar dan sejsnisnya dan tindakan nayata untuk  melakukan ebrbagai hal dalam mengurangi persoalan tersebut belum dilakukan.  Karena itu  sudah saatnya memang pemerintah berlaku tegas bahwa para pembimbing haji itu harus bersertifikat agar  semuanya menjadi nyaman, termasuk para jamaah yang memang harus diberikan  fasilitas untuk bimbingan tersebut.

Persoalan setelah  para jamaah di tanah suci, baik pada saat sebelum wukuf maupun pada saat puncak wukuf juga sudah seharusnya diberikan informasi yang lebih detail sehingga para jamaah akan lebih mengetahui seluk beluk perhajian dan mereka akan semakin mantap dalam menjalaninya.  Pada saat ini  banyak muqimin yang selalu meburu para jamaah untuk diberikan berbagai iming iming yang ujungnya ialah menguntungkan para muqimin tersebut, semacam membayar dam atau denda, atau juga  membadalkan orang tua atau family lainnya.

Mereka pada umumnya  memberikan harga yang sangat murah dibandingkan dengan harga normal yang berlaku.  Lantas pertanyaannya ialah mengapa mereka mampu memberikan harga yang lebih murah ketimbang harga normal? Jawabannya ada beberapa kemungkinan, salah stunya ialah dengan kong kalikong dengan penjual hewan, karena nantinya  setelah dipotong dagingnya akan dikuasai oleh mereka yang menjual tersebut.

Namun ada motif lainnya yang justru banyak dilakukan oleh mereka, yakni dengan membeli beberapa ekor kambing dan beberapa tersebut dipotong dengan dilihat oleh para jamaah, namun sebelum semua dipotong kemudian  mereka memberikan pertimbangan bahwa mereka  kalau  terus di situ maka tidak akan mendapatkan jamaah dhuhur di masjidil Haram atau alas an lain yang membuat jamaah  lalu mempertimbangkan untuk meninggalkan tempat penyembelihan tersebut, dan mereka kemudian tidak melanjutkan penyembelihan.

Kesimpulannya ialah  dari sekian banyak jamaah haji yang sudah membayar dam, hanya dibelikan beberapa ekor kambing saja sebagai samplenya dan selebihnya uang tersebut mereka palak untuk keuntungan mereka sendiri.  Nah, dengan dmeikian para jamaah tentu akan dirugikan karena  damnya tidak dipotong, dan para pemalak tersebut tentu akan  untung bear, dan karenanya mereka berani memberikan harga yang sangat miring dari harga pasaran.

Demikian juga dengan masalah haji badal yang  biasanya mereka akan menerima  berapapun haji yang dititpkan tersebut, padahal kita tahu hanya satu orang  boleh membadalkan satu orang, sehingga biasnya kalau benar pastilah harganya mahal, namun mereka berani memberikan harga yang cukup murah, karena  mwereka hanya akan emmberikan sertifikat semata dan kalau mau juga mengubah nama menjadi nama Arab.

Praktek yang demikian sesungguhnya sudah ebrjalan cukup lama dan  diketahui oleh banyak orang, namun kenyataannya  praktek mereka masih terus berjalan tanpa mengalami kendala apapun.  Seharusnya pemerintah mengupayakan agar para jamaah kita tidak menjadi sasaran pemalak tersebut, sehingga perlu diberikan informasi yang cukup kepada mereka agar kalau mereka memang akan berbadal haji untuk orang tua atau familinya maka akan mendapatkan badal yang amanah dan benar benar dijalankan sampai akhir.

Semoga ke depannya  masyarakat kita akan emnyadari tentang praktek yang haram tersebut dan akhirnya mereka akan mampu memilih yang benar dan tidak dijadikan sebagai obyek penghasilan musiman mereka yang sengaja  untuk mencari keuntungan dari jamaah kita yang rata rata memang awam.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.