TRADISI BERBAGI

Barangkali tidak ada seorangpun  di dunia ini yang tidak setuju dengan kebiasaan berbagai atau sedekah, karena  berbagi tersebut  akan memberikan kesejukan bagi kedua pihak, yakni yang memberi dan yang diberi.  Persoalannya ialah  apakah tradisi memberi dan berbagi tersebut  dapat dipraktekkan dengan ringan ataukah hanya masih dalam bats retorika semata.  Saat ini kita saksikan banyaknya penceramah atau ustadz dan juga kiyai yang selalu saja berbicara mengenai pentingnya berbagi, namun itu masih berada dalam angan angan, karena belum dipraktekkan dalm dunia nyata.

Dalil yang ditunjukkan juga  sangat banyak dan bervariasi, akan tetapi  masih hanya berhenti dalam dalil saja, dan kenyataannya belum mampu mewujud dalam  sikap dan perilaku kita.  Memang kita  terkadang merenung dan menyesali diri kenapa tradisi berbagi tersebut tidak kunjung terwujud di masyarakat kita, meskipun hanya sebatas  pemberian yang biasa dan kecil saja.  Seharusnya kita memang  menjadi pelopopr dan teladan dalam urusan yang demikian.

Bayangkan rasulullah saw sendiri sebagai Nabi dan rasul, beliau selalu mempraktekkan berbagi tersebut tanpa harus selalu menyatakannya dalam  pembicaraan.  Lalu apakah kita sudah berlaku demikian, atau sebaliknya kita masih dalam pembicaraan semata dan belum  menjadikannya dalam kenyataan?  Kebiasaan berbagi tersebut memang harus dimulai sejak dini, terutama  saat masih anak anak yang bisanya  mereka itu sangat eman untuk membagi sesuatu dengan yang lain.

Nah, orang tualah yang seharusnya berperan  maksimal untuk membiasakan anak anak kita selalu berbagai dan peduli dengan nasib orang lain yang menderita.  Sesekali  kita memang harus mengajak anak anak kit6a untuk melihat secara langsung mereka yang kekurangan, mereka yang hidupnya di kolong jembatan, mereka yang makannya dari sisa orang lain dan lainnya.  Lalu kita menarik harti anak kita untuk  dapat merasakan betapa  menderitanya mereka, sehingga anak kita tersebut  muncul sifat kasihnya dan keinginan untuk membantu mereka.

Kita harus mampu  menjabarkan kepada anak kita secara detail bahwa jika kita makan makanan yang enak, sementara di sebelah kita ada anak yang  susah makan dan sama sekali tidak mampu membeli makanan, lalu apakah kita tega untuk memakan makanan yang enak tersebut?  Dengan terus memberikan  pelajaran secara langsung kepada anak anak kita tersebut, pada akhirnya kita akan berharap bahwa anak anak kita akan terbiasa  untuk merasa kasihan kepada sesamanya dan pada saatnya mereka akan berbagai dengan mereka.

Kita justru harus bangga dengan anak anak kita yang selalu memberikan  makanan apapun yang dipunyainya  untuk temannya yang kebetulan kurang beruntung.  Kita juga jangan pernah mengusir anak tetangga yang tidak mampu untuk menginjakkan kaiinya di rumah kita dan berteman dengan anak kita, karena dengan anak tersebut kiranya  anak kita akan dapat tumbuh menjadi orang yang penyayang dan peka terhadap penderitaan pihak lain serta  memkpunyai sikap yang moderat.

Kita tentu menjadi sangat sedih jika ada keluarga mampu, lalu anaknya dibatasi utnuk tidak bergaul dengan anak anak orang miskin, dan hanya boleh bergaul dengan anak yang kaya saja.  Kita juga tidak tahu akan menadi seperti apa nantinya anak yang tidak pernah berbagi dengan orang lain atau yang tidak pernah menyaksikan secara langsung penderitaan orang lain.  Aanak tersebut pastinya akan tumbuh dengan rasa sombong dan tidak peduli dengan penderitaan p[ihak lain.

Lantas pertanyaan kita selanjutnya ialah bagaimana anak tersebut kalau sudah bersar dan menjadi pejabat di negri ini, apakah mereka mampu memikirkan rakyat yang miskin atau malah ingin melenyapkan smeua orang miskin.  Mungkin mereka akan cerdas dan pintar dalam berbagai disiplin ilmu, tetapi itu tidak cukup untuk menjadikan mereka sanggup mengurus negara atau jabatan yang diemban, karena  mereka memang tidak pernah merasakan penderitaan pihak lain yang sejak lahir memang ditakdirkan miskin.

Jika kita sendiri tidak terbiasa berbagai dengan pihak lain, sebaijknya sejak saat ini kita  memberikan kesempatan kepada anak anak kita uhtuk melakukannya, yakni dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bergaul dengan siapapun, utamanya yang miskin, sehingga anak kita tersebut akan mengetahui secara pasti tentang kondisi sebenarnya  mengenai mereka dan keluarganya.

Namun akan jauh lebih bagus jika kita juga  memberikan keteladanan  kepada anak anak kita  meskipun hanya sebentar dan sedikit.  Cobalah seskali kita makan diwarung makan yang rami dikunjungi oleh para pekerja keras kita, seperti kuli bangunan, tukang ojek, tukang becak dan kernet angkot dan sebagainya.  Lalu sesekali pula kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk makan secara gratis sebagai bentuk kita mentraktir mereka atau dalam bentuk lainnya.

Sesekali kita juga perlu untuk mengunjungi para tuna wisma yang hidupnya menumpang di kolong jebatan dan lainnya. Lalu kita juga bergaul dengan mereka  sehingga kita akan tahu bagai9mana makannya mereka, bagaimana pendidikan anak anak mereka dan bagaimana pergaulan mereka.  Dengan mengetahui mereka, kita akan dapat merasakan denyut nadi mereka dan dapat dipastikan  kita akan ternyuh dan  terbuka hati kita untuk begaimana caranya membantu mereka.

Setidaknya kalau kita tidak mampu membantu mereka, tetapi kita sudah ikut perihatin dengan kondisi mereka, bukan acuh taacuh dengan kondisi mereka.  Be4bagai atau dengan bahasa agamanya  sedekah itu memang sebuah perbuatan mulia yang mungkin tidak ada bandingannya, karena dengan sedekah tersebut orang lain dapat merasakan behagiaan dan kitapun pasti akan merasa puas karena sudah memapu memberikan kebahagiaan orang lain.  Ketulusan itulah kata kuncinya, karena kalau kita tulus dalam berbagai pasti kita akan mendapatkan kepuasan dalam hati kita.

Dalam kehidupan rumah tangga dan bertetangga kita juga  dapat merealisasikannya dengan selalu memberikan sesuatu yangnkita punya kepada tetangga sebelah, meskipun mereka tidak pernah membalas pemberian tersebut, karena kita memang tidak membutuhkan balasan tersebut.  Justru kalau kita mampu memberikannya secara tulus kepada merwka yang tidak pernah memberi kepada kita itulah kebaikan yang sesungguhnya.

Berbagai memang bukan hanya  dalam bentuk materi, karena bentuk lainnya seperti tenaga juga dapat diberikan kepada mereka yang membutuhkan, seperti jika ada seorang yang sudah untuk menyeberang jalan yang sangat ramai, lalu kita dengan ketulusan membantu menyebarangkan nya, pastilah itu sebuah bentuk pemberian yang sangat bagus.  Demikian juga memberikan informasi bagi mereka yang membutuhkannya  apakah untuk mencari alamat seseorang ataukah untuk mendapatkan sesuatu yang dapat diaksesnya dan lainnya, pasti itu sangat memuaskan mereka.

Namun memang  jika kita mampu berbagi dalam bentuk materi itu sangat bagus dan  lebih memberikan manfaat yang lebih besar kepada pihak lain.  Banyak kisah tentang berbagai yang kemudian ternyata  dibalas oleh Tuhan dengan balasan yang begitu besarnya sehingga seolah dia sampai tidak percaya bahwa pemberiannya yang tidak seberapa lalu dibalas oleh Tuhan dengan sesuatu yang luar biasa.

Hanya saja memang  kuncinya ialah ketulusan dalam berbagi tersebut, karena Tuhan pasti  Mengetahui niat kita apakah kita tulus ataukah tidak.  Jiak ketulusan tersebut nyata maka pasti Tuhan akan membalsanya dengan balasan yang tidak pernah kita terka, mungkinberupa penyel;amatan Tuhan kepada kita  dari mara bahwaya, baik diri kita sendiri maupun keluarga kita dan lainnya.  Percayalah dengan semua itu dan karena itu mari kita biasakan untuk selalu berbagi dengan ketulusan hati. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.