PENDIDIKAN DI PESANTREN

Mungkin saat ini masyarakat sudha lebih membukaa maa bahwa pesantren saat ini tidak lagi identic dengan pesantren aman dahulu, setidaknya terkait dengan ketertinggalannya dalam berbagai aspek, termasuk kesan jorok dan tidak sehtanya. Namun demikian  mereka pada umumnya belum terlalu mempercayai pesantren sebagai alternative atau bahan sebagai tujuan utama mengirimkan anak anaknya untuk  mendapatkan ilmu pengetahuan  dalam upaya menyongsong masa depan mereka.

Sikap mayoritas masyarakat tersebut tidak dapat disalahkan begitu saja, karena memang belum seluruh pesantren mampu menhyaikan pendidikan yang menjanjikan tersebut.  Kalau sudah cukup banyak yang sudah menyesuaikan diri dengan kemajuan, itupun  belum  dapat menyakinkan mereka.  Karena itu para pengelola pesantren masih harus berjuang dan mensosialisasikan lebih masif kepada masyaakat tentang prestasi prestasi yan telah digapainya.  Dengan menunjukkan prestasi tersebut dengan sendirinya merupakan sosialisasi yang efektig]f untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap pesantren.

Kita memang tidak bisa dan tidak boleh memaksakana kehendak kepada masyarakat untuk megakui prestasi pesantren atau memaksakan diri agar masyarakat  mau berpaling kepada pesantren, karena masyarakat tentu mempunyai persepsi masing masing yang didasarkan ekpada pengetahuan mereka sendiri.  Untuk itu yang harus dilakukan oleh para pengelola pesantren ialah dengan tetap memberikan pelayanan yang maksimal serta keikhlasan  agar masyarakat dengan sendirinya  menengok dan mempercayai pesantren.

Tentu bagi mereka yang sudah mengaku keberadaan pesangren akan  berpikir bahwa  sesungguhnya untuk mempersiapkan generasi mendatang yang tangguh dan cerdas sefrta berakhlak mjulia, diperlukan pendidikan ala pesantren.  Yakni sebuah pendidikan yang menhyaukan aspek teori dan sekaligus praktek yang selalu dijalankan secara rutin setiap hari.  Bagaiamana mungkin jika  hanya mengandalkan sekolah non pesantren yang tentu hanya terbatas  waktunya, akan mampu memberikan pembelajaran atau pendidika yang  akan menjadi karakter anak didik?

Sudah barang tentu pendidikan yang  membiasakan kepada anak didiknya untuk menjalankan pelajaran yang disampaikan sajalah yang akan memberikan jaminan bahwa  pelajaran tersebut akan diresapi dan dipraktekkan secara nyata, maka tidak ada jalan lain terkeculi dengan praktek yang terus menerus dan diawasi secara ketat.  Bahkan  dalam proses tersebut juga diperlukan pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar agau gtidak emnjalankan kewajiban.  Jadi pendidikan ala pesantrenlah yang memang memberikan jaminan untuk pendidikan karakter tersebut.

Tentu masih banyak lagi pendidikan yang dapat dipetik dari pendidikan ala pesantren tersebut.  Salah satunhya ialah bagaimana seorang santri akan taat dan  patuh secara loyal kepada kiyai, sehingga mereka gtidak akan berani berkhianat atau sekedar tidak menjalankan perintah kiyai etrsebut.  Lebih jauh lagi para santri terebut juga sekalgus akan me nghargai dan menghormati kepada para guru dan saat mereka pulang juga pasgi akan menghargai orang guanya  dan saudara saudaranya.

Saat ini kita snagta prihatin dengan ;perilaku anak anak muda yang sama sekali tidak emmpunyai akhlak kepada orang gtuanya sendiri.  Sebaai contoh anak gidak lagi mampu menghafgai ofang guanya, tidak me nghormati manakala sedaang berbicara, tidak dapat menghargai pada saat orang tua sedang duduk dan mengajak bicara kepada anak anaknya dan lainnya.  Anak anak zaman now rupanya  telah terkooptasi oleh  imbas kebebasan tetapi tidak mengenal tata krama dan batasan.

Dengan ringan mereka membantah dengan suara keras kepada perintah orang tuanya sendiri, sebagaimana mereka pada saat berbicara dengan kawannya sendiri.  Merka terkadang juga tidak mau mengerti keberadaan orang tua yang sudah dengan susah payah mebesarkan, membiayai, mendidik dan lainnya  sehingga anak tersebut menjadi besar dan  mendapatkan fasilitas tertentu.  Lain dengan para santri yang tentu mereka pasti akan memahami betapa orang tua itu  sangat susah payajh mendidik dan membesarkan mereka dan karena itu menjadi wajib hukumnya menghormati dan memperlakukan dengan sangat baik kepada mereka.

Haram hukumnya  menhyia nhiakan mereka,  apalagi kalau sampai membuat hatgi mereka tidak nyaman dan sakit, bahkan berdosa besar bagi siapapun yang durhaka kepada orang tuanya.  Para santri juga meyakini bahwa siapapun yang membuat orang gtuanya sampai sakit, maka hidupnya tidak akan nyaman dan sukses, apalagi nanti di akhirat.  Dengan demikian kita akan dengan udah membedakan produk pesnatren dan lainnya yang snagat jauh berbeda.

Kita mmang tidak menafikan adanya pendidikan non pesantren yang juga mengajarkan tentang akhlak, namun dapat dipastikan kalau dilakukan tidak dengan cara pesantren tengtu idak akan maksimal.  Akhlak sebagaimana yang kita hafrapkan tersebut memang harus secara terus menerus dipraktekkan dan tidka cukup hanya dibicafakan dan diajarkan di kelas semata.  Ini tentu tidak ber;retensi untuk mendikreditkan  pendidikan lainnhya, namun semata ata hanya inginmemperjelas dan meyakinkan kepada siapapun bahwa pendidikan ala pesantrn tersebut menjanjikan sesuatu yang kita impikan.

Kesederanaan juga selalu diaarkan serta dipraktekkan di pesantren, bahkan kalau ada sanri dari kalangan orang kaya yang kemudia menampakkan kekayaannhya, pastilah akan mendapatkan teguran dai ustadz agau kiyai, sebab hal tersebut termasuk riya yang dilarang oleh agama.  Disamping kitu hidup dengan  menampakkan kekayaan akan menhyebab timbulnya kesombongan yang mirip dengan perilaku setan.  Jadi sejak dini  para santri sudah diajak untuk memraktekkan hiduo sederhana  dan tidak  boros serta sombong.

Pesantren juga secara langsung maupun tifak langsung selalu mengajarkan untuk hidup dalam kebersamaan, bukan untuk hidup secara individual.  Dengan hidup secara kebersamaan sekaligus juga menanamkan  kepada seiap satri untuk selalu peduli kepada sesamanya.  Jika mempu hyai kelebihan dan  ada kawannya yang kekurangan, pastilah hati akan tergerak untuk secara tulus membantu yang sedang membutuhkan tersebut.  Jadi hidup di peangtren memang lengkap dengan  pendidikan luhur yang dibutuhkan oleh setiap orang untuk nantinya dapat hidup dengan sangat bagus di masyarakat.

Hidup di masyarakat memang dianjurkan untuk salaing ebrgaul dengan cara yanh baik, yakni saling membangu dan tidak saling menjegal.  Itu disebabkan semua orang pada saatnya  dipastikam akan membutuhkan banguan pihak lain, baik   saat sedang menrima musibah maujpun lainnya.  Dengan begitu kalau hal tersebut tidk dibiasakan sejak kecil, amka akan menjadi persoalan tersendiri saat nangi langsug terjun di masyarakat.

Kita  pasti menyaksikan betapa ada orang yang  kesulitan untuk bergaul dengan masyarakatnya, tu sangat mungkin bahwa  pada saat kecl;nya  tidak biasa bergaul dengan sesama dan mungkin juga pada saat kecil selalu dimanjakan oleh orang gtuanya sefta tdak  dibiasakan untuk saling megenal dan membangtu kepada sesamanya.  Tentu kita tidak rela jika anak anak kita nanginhya  kesulotan dalam menjalan hdup di masyarakat, hanya karena kesaahan kita dalam emndidik mereka pada saat masih kecil dan em butuhkan bimbinagn dari kita.

Sesungguhnya kita dapat mendidiknya sendiri di rumah jika memang kita mampu melakukannya dan ada akesempaan untuk itu, namun bilamana kita tidak sempat dan tidak mempunai wakgtu untuk secara khusus mendidik mereka, alangkah   bagusnya jika  kita menitipkan  pendidikan anak kita ke pesantrn agtau ke sekolah yang mempraktekan pendidikan ala pesantren.  Dengan begitu kota sudah berusaha untuk menddik mereka dengan pendidikan yang baik dan berharap pada saatnya nangi anak anak kita akan menjadi generasi yang handal dan dapat kita banggakan. Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.