MAUIDLAH KEMATIAN

Banyak bentuk mauidlah yang  dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi kita , termasuk untuk mengubah arah hidup kita menjadi lebih baik.  Berbagai ceramah agama dari berbagai ustadz dan ulama, merupakan mauidlah yang banyak bertebaran di hampir setiap tempat, namn terkadang  mauidlah tersebut hanya lewat begitu saja tanpa  mampu menempel di hati para pendengarnya.  Memang ada beberapa penyebab mauidlah tersebut tidak mampu menjadikan para pendengarnya terkesan dan masuk dalam hatinya, melainkan hanya lewat begitu saja tanpa bekas.

Salah satu openyebab yang demikian ialah karena mauidlah tersebut diungkapkan bukan  dengan hati yang tulus, melainkan dengan mengandalkan retorika semata.  Mungkin snagat bagus pengungkapannya, tetapi sekali lagi tidak akan mampu menggugah hati para pendengarnya untuk mendapatkan pelajaran darinya.  Sebaliknya ada  mauidlah dengan penyampaian yang sederhana tanpa basa basi dan tanpa banyolan, tetapi justru malah mengena dan membuat para pendengarnya menjadi terkesan mendalam.

Sesungguhnya bagi mustamaiin itu tidak berbeda antara siapapun yang menyampaikan mauidlah etrsebut, karena jika  mereka menghendaki untuk mendapatkan pelajaran dari sebuah mauidlah, maka mereka pasti akan mendengarkannya denagn seksama dan bahkan dengan seluruh hatinya.  Dengan begitu apapun yang diungkapkan oleh ustadz atau ulama,  akan mampu diserap dan  dimasukkan ke dalam hati dan akhirnya akan  mampu menggugah hatinya untuk menjalani yang terbaik.

Namun  mauidlah  melalui ungkapan para ulama tersebut bukanlah satu satunya yang mamp[u menggugah hasrat para pendengarnya, melainkan masih banyak bentuk mauidlah yang  justru lebih dahsyat efeknya jika memang dikehendaki.  Salah satunya ialah mauidlah yang ditunjukkan melalui praktek pengamalan terhadap ajaran islam yang langsung menyentuh kehiodupan nyata, khususnya para fuqra dan masakin, sweperti pemberian yang tulus untuk membantu mereka yang memang membutuhkan, namun bukan dengan cara mengundang mereka, melainkan justru dengan mendatangi mereka.

Kenyataan dan pemandangan yang demikian terkadang malahan mampu membangkitkan ghirah dan semangat  orang orang yang menyaksikannya untuk meniru dan menjalankan kehidupan yang santun dan berbagi tersebut.  Banyak kejadian seperti itu yang justru melahirkan  kenangan yang sangat menyentuh hati nurani yang terdfalam dan akhirnya  menjadikan dirinya sebagai pihak yang  berkomitmen untuk menjdaikan dirinya seperti yang disaksikannya tersebut.

Demikian juga dengan perbuatan  untuk tidak  marah pada saat dihujat ataupun disakiti, diserca dan difitnah, melainkan  malah dengan tulus memaafkan mereka yang dianggap salah karena telah melakukan perbuatan tidak terpuji tersebut.  Bahkan  kenyataan tersebut terkladang malah  lebih ampuh terutama terhadap mereka yang memulai perbuatan  keji tersebut, hingga akhirnya menyadari bahwa aapa yang dilakukannya tersebut merupakan hal yang salah dan akhirnya menyesali dan berubah menjadi  baik.

Satu hal lagi yang sesungguhnya merupakan mauidlah yang sangat baik jika kita mampu memertiknya, yakni kematian.  Jika kita menyaksikan kematian seseorang, lalu kita mamp[u merenungkan bahwa semua makhluk yang hidup pada hari ini, pada saatnya juga akan mati seperti yang disaksikannya tersebut, lalu kalau demikian dirinya juga akan mengalami hal yang sama, entah kapan. Mungkin dalam waktu dekat atau mungkin dalam waktu lama, semuanya  masih merupakan misteri dan hanya Allah sajalah yang Mengetahuinya.

Nah, dalam pemikiran yang demikian tentu akan muncul kondisi di dalam hatinya bahwa jika nanti kematiannya  dalam waktu yang dekat, sementara  persiapan dirinya menghadapi kematian, yakni amalan yang baik belum seberapa, maka  akan muncul ghirah besar untuk sesegera mungkin melakukan kebajikan agar kalau sewaktu waktu  kematian tersebut mendatangi dirnya, dia sudah siap karena merasakan bahwa pesiapannya untuk akhirta sudah relatif cukup.

Jadi kematian tersebut seharusnya disikapi dengan bijak, yakni  dengan membuat  eval;uasi terhadap diri sendiri mengenai  kapankah Tuhan akan memanggilnya dan mempertanggung jawabkan seluruh amailiahnya saat masih di dunia.  Dengan pemikiran dan perenungan yang demikian tentu orang pasti akan tergugah untuk  berbuat kebajikan, karena semua  harta yang ada di unia ini sesungguhnya tidak ada artinya, karena tidak akan dibawa mati, dan hanya  amal baiknya sajalah yang pasti akan menyertainya.

Karena itu nabi Muhammad saw pernah menganjurkan kita untuk sering sering menziarahi kubur, karena dengan ziarah kubur tersebut akan mampu mengingatkan kita kepada kematian, dan itu berarti menjadi mauidlah yang baik untuk kita.  Anjuran untuk berziarah tersebut tidak khusus kepada makam para orang salih atau para wali, melainkan semua kubur, karena yang terpenting ialah bagaimana kita mampu diingatkan  oleh kematian yang pasti akan menimpa kepada kita.

Tentu akan jauh lebih bagus jika ziarah tersebut dilakukan kepada makam para wali sehingga akan menambah mauidlah yang  ada, yakni dengan meneladani para wali yang diziarahi tersebut.  Ingat kepada kematian itu merupakan kenikmatan tersendiri, karena dengan begiru kita  mampu  merespon diri kita yang mungkin dirasakan kurang dalam hal beribadah atau dalam beramal dan lainnya, sekaligus  jika kita mampu mengenantg para tokoh yang kita ziarahi saat hiudpnya, maka kita juga akan tertarik untuk meneladaninya.

Saat ini banyak orang menjauh dari berita kematian, padahal pada saatnya  kematian tersebut pasti akan mendatanginya.  Nah, jika kita  pagi pagi sudah menjauhn dari kematian, dan kita terlupakan dengan hiruk pikuknya duniawi, jangan jangan kita justru akan  mendapatk giliran lebih cepat kedatangan kematian tersebut, sementara persiapan kita sama sekali belum cukup.  Dengan begitu maka  percuma saja kita mengukir sejarah di dunia ini kalau itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan alam akhirat.

Penyakit kebanyakan orang yang pernah disinyalir oleh Rasulullah ialah hubud dun ya, yakni  cinta dunia dan  tidak suka dengan akhirat.  Ini merup[akan penyakit yang akut yang harus segera diobati, terutama hati dan piirannya, karena bila hal etrsebut terus dibiarkan, akan semakin menyebar dan seluruh  kehidupannya akan selalu disetir oleh kepentingan duniawi, sampai sampai harus lalai terhadap urusan akhirat.

Para ulama dahulu, terutama mereka yang lebih dekat kepada Allah swt, melaui kegiatan sufinya, tentu akan mempersoalkan perbuatan yang hanya bermuara kepada duniawi semtaa, karena hal tersebut pasti  akan merugikan dan tidak pernah akan membuat puas hatinya.

Dunia  itu kalau dijkejar, pasti akan semakin lari kencang dan kita akan  tercecwer dalam usaha untuk mengejarnya, namun jika kita tidak memperhatikannya secara serius, melainkan hanya biasa biasa saja, sangat mungkin malahan dunia tersebut akan mendekat kepada kita.  Karena itu para ulama tersebut  terus menganjurkan kepada umat agar selalu  mengingat akhirat dengan melakukan berbagai amalan yang  dapat mengantarkan mereka kepada akhirat tersebut.  Namun bukan berarti merka kemudian menganjurkan  umat untuk meninggalkan kehidupan dunia, melainkan tidak terlalu  memburunya.

Keseimbangan hidup antara duniawi dan akhirat tentu akan jauh lebih nyaman dan menghadirkan kepuasan hati, jika kita menyadari dan kemudian juga mempraktekkannya. Untuk itu kita meang harus mencari mauidlah dimanapun  berada, melaui berbagai kejadian yang dapat kita jadikan pelajaran untuk membuat diri kita lebih baik dan keinginan untuk berbuat yang terbaik bagi diri kita dan juga pihak lain.  Semoga kita mampu menjalani hidup ini dengan penuh semangat dan terus menerus mencari mauidlah hasanah melalui ebrbagai kejadian yang kita saksikan dan alami sendiri. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.