MEMPERKOKOH ISLAM MODERAT

Fenomena muncul;nya  pemikiran Islam yang berhaluan keras dan seolah memaksakan kehendaknya, tanpa kompromi, akhirnya memunculkan keinginan kuat dari para ulama untuk menghadirkan pemahaman  Islam yang humanis, yang rahmatan lil alamin, sebagaimana watak asli Islam itu sendiri yang ingin damai dan  kebersamaan.  Sejarah islam pada masa nabi Muhammad saw sendiri sesungguhnya penuh dengan  kelembutan dan jauh dari kekasaran.

Perilaku nabi yang sempat ditunjukkan kepada banyak orang ialah  tindakan yang  lemah lembut dan kasih sayang, termasuk yang ditunjukkan kepada orang non muslim.  Coba kita ingat riwyat yang menyebutkan bahwa setiap hari Nabi selalu diludahi oleh orang yang sama sekali tidak suka kepada beliau, tetapi beliau tidak membalasnya, bahkan saat orang tersebut sakit dimana kawan kawannya tidak mempedulikannya, tetapi Nabi yang selalu diperlakukan tidak senonoh, justru yang mau menjenguknya dan mendoakan agar diberiakn kesembuhan.

Tentu masih banyak lagi contoh perilaku Nabi yang sangat lembut dan baik untuk semua orang, namun  semua itu hakekatnya ialah untuk menunjukkan bahwa  Islam yang asli itu santatb lembut  bagi siapapun, sehingga Islam itu seharusnya tidak menakutkan dan para penganutnya  juga harus mampu mempraktekkan kelembutan dan keramahan tersebut dalam kehidupan keseharian.

Para wali songo yang mengajarkan Islam di nusantara ini juga mengambil sikap yang relatif sama dengan  nabi Muhammad saw, yakni mereka sama sekali tidak emmbawa  sesuatu yang menakutkan dan memaksakan kehendak untuk dijalankan dan diikuti oleh semua orang, melainkan justru mereka akan memberikan bantuan dan pertyolongan kepada semua orang yang membutuhkan. Lalu sambil  memberitahukan bahwa semua kasih sayang dan  apa yang sudah diterima merka hakekatnya ialah pemberian dari Allah swt, Tuhan yang  berhak disembah.

Kemudian jika mereka sudah yakin dengan semua yang disampiakna tersbeut lalu mereka dituntun untuk membaca syahadat yang berarti mereka sudah masuk dalam agama yang damai yakni Islam.  Pada saat awal mereka masuk Islam para wali juga tidak langsung membebani mereka dengan ebrbagai hal yang pasti akan memberatkan, melainkan dengan cara sedikit demi sedikit  dan disesuaikan dengan kemampuan mereka.  Pada saatnya nanti mereka akan dengan  kerelaan juga akan mau mengamalkan kewajiban mereka sebagai pemeluk Islam.

Para wali juga tidak dengan serta merta memberantas segala kemaksiatan yang ada di masyarakat, dan bahkan mereka juga tidak langsung  memusnahkan  adat kebiasaan dan tradisi yang sudah mengakr di masyarakat.  Merwka bahkan kemudian  malah melestarikan tradisi yang ada tersebut, hanya saja kemudian tradisi tersebut dimasuki aspek ajaran islam, sehingga meskipun mereka tetap menjalani tradisi lama, namun isinya adalah pengamalan ajaran islam itu sendiri.

Itulah salah satu aspek yang menjadikan Islam  dengan mudah dipeluk oleh sebagian besar umat, baik di pedalaman maupun di pesisir, karena  mereka memang membutuhkan Islam yang   justru mampu emmbuat mereka semakin  semangat dan tetap menjalin kerjasama dengan sesama serta mau hidup berdampingan dengan siapapun.  Mereka pasti menyukai hidup bersama, meskipun dalam keragaman, baik tradisi, maupun kepercayaan, karena yang penting ialah menjaga keutuhan dan keselamatan bersama.

Nah, melaihat kenyataan tersebut,  sudah barang pasti kita yang mengetahui banyak tentang ajaran islam harus mampu mengamalkannya dengan begitu arif, yakni dengan tetap menjaga akidah tetapi juga harus tetap mampu untuk hidup berdampingan dengan semua orang.  Jika ada pandangan yang berbeda, baik dalam urusan dunia maupun dalam memahami teks agama, maka  sikap yang harus dikedepankan ialah saling menghormati dan tidak memaksakan kehendaknya, karena belum pasti pendapatnyalah yang paling benar.

Saat ini banyak kajian yang dilakukan oleh berbagai lembaga, baik formal maupun tidak formal, seperti perguruan tinggi, pondok pesantren dan lainnya yang semuanya  berusaha untuk memahami kondisi dan hubungannya dengan teks agama.  Dalam keadaan seperti saat ini sudah barang tentu akan muncul perbedaan cara pandang dan hasil pandangan itu sendiri.  Nah, jika kita  tidak mampu menghargai dan memahami pendapat dan pandangan pihak lain, maka kita pasti akan terkungkung dalam kondisi mengadili dan selamanya akan terus emnyalahkan pihak lain.

Untuk itu sikap toleransi dan mencoba untuk memahami pendapat pihak lain dengan segala argumentasinya adalah sikap bijak yang harus terus dikembangkan, agar kebersamaan dapat terus dijaga.  Banyaknya pandangan terhadap  situasi sosial kemasyarakatan tentu akan semakin memberikan pilihan yang terbaik bagi siapapun dalam menyikapi keadaan.  Semakin banyak pandangan, maka akan semakin banyak pilihan dan itu berarti ada kehidupan yang dinamis dan tidak statis.

Tentu dalam perspektif keilmuan, kita akan sangat berterima kasih dengan muncul;nya banyak pandangan tersebut, karena akan semakin mengkayakan khazanah keilmuan dan sekaligus dapat menjadi pilihan  dalam  mengamalkan sebuah ajaran.  Namun jika kita terpaku pada satu pendapat dan menyalahkan pendapat yang lainnya, dapat dipastikan kita akan berada dalam keadaan yang tidak mungkin mengembangkan  keilmuan dengan baik, karena selalu saja akan dipaksa untuk menyalahkan  pendapat lain selain yang dianggapnya benar.

Jika hal tersebut terus dipelihara, bukan tidak mungkin pada saatnya nanti akan terjadi perkelahian yang disebabkan perbedaan pandangan dan bahkan mengacu kepada sejarah kejadian yang serupa, pada saatnya juga akan terjadi pertumpahan darah dan saling bunuh hanya untuk mempertahankan pandangan yang diklaim sebagai sebuah kebenaran tunggal tersebut.  Dapat dipastikan jika itu yang terjadi, maka dunia tidak mungkin akan damai sebagaimana  isi kandungan  dan maksud islam itu sendiri.

Jadi sesungguhnya kebenaran itu bukan sesuatu yang mutlak dimiliki oleh satu golongan, karena kebenaran yang hakiki itu hanya mili Tuhan, sedangkan sebagai  makhluk Nya kita hanya mampu berusaha untuk menyimp[ulkan bahwa  ada kebenaran dalam  perspektif tertentu dengan mengacu kepada vberbagai aspek yang melatar belakanginya, tetapi kebenaran yang demikian tidak mutlak, karena sangat boleh jadi ada pandangan lain  dengan perspektif lain yang ternyata berbeda dengan pandangan kita tersebut.

Dengan melihat kenyataan tersebut seharusnya bagi orang yang berpikir rasional, akan mengakui bahwa tidak akan pernah terjadi kebenaran mutlak di dunia ini terkecuali yang sudah  disampikan secara tegas oleh nabi, khususnya terkait dengan keyakinan  tentang keberadaan Tuhan itu sendiri dan beberapa aspek lainnya yang juga terkait dengan keyakinan.  Namun selebihnya tentu dapat saja berbeda, meskipun sumbernya sama, karena perbedaan penafsiran semata.

Kajian yang ada di perguruan tinggi tentu harus mampu memberikan perspektif yang lain dan  memberikan ruang perbdaan juga kepada yang lain untuk ikut dalam memberikan kontribusi dalam pemikiran, sehingga dengan demikian  pemikiran dan pandangan terhadap sesuatu itu tidak tunggal, melainkan ada berbagai perspektif yang memungkinkan semua orang dapat mempertimbangkannya untuk diadopsi atau untuk dipertimbangkan dalam pengamalannya.

Demikian juga kajian yang ada di pesantren, karena  pesantren adalah warisan para wali yang tetap kokoh mempertahankan  ciri islam yang rahmatan lil alamin, dan bukan  pemikiran yang kaku dan memonopoli kebenaran.  Kalaupun pendapat para ulama tempo dulu yang dijadikan regernsi, akan tetapi pengaitan dengan kondisi zaman sekarang tentu bukan asal comot, melainkan juga sudah diberikan  penjelasan secukupnya, sehingga  smeuanya akan cocok dan sesuai dengan tuntutan zaman.

Jadi pada intinya kita masih snagat mengharapkan kepada kedua lembaga tersebut, yakni perguruan tinggi dan pesantren untuk tetap menjaga dan melestarikan  kajian keisalaman yang lebih moderat dan mementingkan kebersamaan dan  ekdamaian, ketimbanga memaksakan kehendaknya atau pemikirannya, yang berujung pada sengketa yang tiada berbatas, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.