BERUNTUNGLAH BAGI ORANG YANG MAMPU SHALAT DENGAN KHUSYU’

Bagi umat muslim, kewajiban shalayt adalah mutlak dan tidak ada tawar menawar dalam pelaksanaannya.  Artinya sebagai seorang muslim  tentu  terkena kewajiban menjalankannya tanpa ada alasan yang dapat dijadikan alaasn untuk meninggalkannya.  Hal tersebut berbeda dengan kewajiban lainnya, seprti puasa, zakat dan haji. Puasa misalnya ada dispensasi untuk tidak menjalaninya pada bulan Ramadlan, seperti jika sedang sakit atau sedang mengadakan perjalanan jauh dan lainnya.

Demikian juga dengan kewajiban zakat yang tidak semua muslim diwajibkan, karena  zakat itu sangat tergantung dengan kemampuannya dalam bidang finansial yang dimiliki oleh seorang muslim.  Artinya jika sudah memenuhi  batas minimal, maka  muslim tersebut sudah berkewajiban zkat tetapi jika masih belum sampai ke batas  nisabnya, maka tidak ada kewajiban zakat.  Haji juyga demikian, karena hanya diwajibkan kepada mereka yang sudah mempunyai kemampuan saja, baik finansial maupun fisik dan juga keamanan  selama menjalani ibadah tersebut.

Jadi ibadah shalat memang istimewa dan pastinya  pahalanya juga  dapat dipastikan istimewa pula.  Bahkan secara  jelas nabi Muhammad saw pernah menyatakan bahwa  shalat itu merupakan hal yang pertama kali nanti akan dipertanggung jawabkan oleh setiap umat kepada Allah swt di akhirat.  Alasannya sangat jelas  bahwa jika shalat seseorang itu bagus maka sluruh amaliahnya dapat dipastikan akan bagus, dan sebaliknya jika shalatnya jelek, maka seluruh amalnya juga akan berimbas jelek.

Mungkin  ada beberapa pertanyaan yang  mungkin  muncul dari kita, kenapa demikian, padahal dalam kenyatannya orang yang shalatnya rajin, tetapi masih saja melakukan hal hal maksiat atau mel;akukan hal hal buruk yang tidak sesuai dengan apa yang secara teoritik tersbeut disebutkan.  Untuk jawaban terhadap pesoalan tersebut sesunggunya cukup mudah, yakni kalau amaliah seseorang belum bagus, maka sesungguhnya shalanya pasti belum bagus.  Shalat itu ukuran tentang amaliah seseorang.

Artinya  shalat bagus itu bukan diukur dari kerajinan seseorang dalam menjalankan shalat, karena itu hanya merupakan salah satu faktor semata.  Shalat yang bagus ialah shalat yang  maksimal  dapat merealisasikan fungsi dengan baik.  Kita tahu bahwa Tuhan  mengatakan bahwa shalat itu sesungguhnya dapat mencegah pelaksananya dari berbuat  perbuatan keji dan mungkar.  Nah, jika shalat yang dijalankan belum mampu menjauhkannya dari perbuatan  keji dan mungkar, itu berarti shalat yang dijalani belum bagus.

Di lain tempat Allah swt juga menyatakan dengan tegas bahwa  orang yang menjalankan shalat dengan khusyu’ m,aka dia itu orang yang beruntung.  Lalu pertanyaannya juga sama apa yang dimaksud dengan kghusyu’ tersebut, apakah hanya sekedar mengetahui bahwa yang sedang shalat itu dengan menundukkan kepalanya? Tentu bukan hanya itu, kaerena itu hanyalah  satu duiantara indikasi saja dan tidak menjamin pasti khusyu’

Sekali lagi  shalay khusyu’ itu merupakan tindakan yang pada saat menjalankan shalat dengan sepenuh jiwa dan hati serta pikiran hanya fokus kepada Tuhan. Tentu saja dengan sendirinya shalat khusyu’ akan  mendalami dan menghayati setiap bacaan yang dilafadhkan sendiri orang yang shalat.  Kita  seua tahu bahwa bacaan dalam shalat itu intinya ialah berdoa dan memohon kepada Allah untuk kebajikan diri.  Pada saat membaca  surat alfatihah misalnya, sesunggunya kita sedang berkomitmen untuk menjadi yang terbaik.

Coba lihat penggalan ayat “ iyyaka na’budu wa iayyakan nastain”, kalimat etrsebut kalau dicermati  akan mampu menjadikan diri kita sebagai orang yang  insyaf dan jika dan jalankan maka kita akan menjadi orang yang hebat, merendahkan  dan membutuhkan keberadaan Allah swt.  Dengan begitu segala kesomobongan pasti akan hilang dengan sendirinya.  Demikian juga akan hilang  syirik yang mungkin masih ada  yang tertinggal dalam diri kita.

Pernyatan hanya kepada Mu lah kami menyembah dan hanya kepada Mulah kami meminta petolongan.  Kalimat tersebut memang bukan hanya diungkapkan dalam lisan semata, melainkan merasuk dalam hati dan jiwa, sehingga akan emmunculkan kesadaran penuh  untuk mengabdi hanyankepada Tuhan dan  semua makhluk itu sifatnya lemah dan tidak sempurna, makanya yang berhak untuk kita mintai pertolongan hanyalah Allah semata.

Itu baru  penggalan ayat saja yang mesti kita baca dalam setiap rakaat, sehingga setidkanya kita akan mengulangnya sebanyak 17 kali dalam sehari semalam.  Bahkan bagi  orang yang sangat taat menjalankan shalat sunnah, pastinya akan lebih banyak lagi mengungkapkan kalimatb etrsebut sehingga akan semakin kuat dan terpeteri dalam hati kita.  Namun jika  semuanya hanya  berup[a ucapan lisan yang sama sekali tidak berbekas, maka smeuanya tidak ada dampaknya sama sekali dan kita juga tidak akan mampu emndapatkan keuntungan  dan hikmahnya.

Kita lihat juga  mislanya bacaan pada saat duduk diantara dua sujud, maka sungguh kita akan mendapatkan sebuah doa yang komplit dan  komprehensif.  Doa dan permohonan tersebut dikatakan komplit karena memuat permohonan untuk ampunan, limpahan kasih sayang, menambal kekurangan, mengangkat derajat atau maratabt, limpahan rizaqi yang berkah, limpahan hidayah, kesehatan yang sempurna, termasuk kesehatan  lahir dan mental atau batin, pemnghapusan segala salah dan dosa.  Nah, persoalannya  sama , yakni apakah pada saat kita berdoa  meresap dalam hati ataukah hanya dalam lisan saja.

Akibatnya tentu akan sangat jauh berbeda dan kita pastinya akan dapat merasakannya sendiri secara langsung.  Atinya  kalaupun kita sudah emnjalani shalat setiap hari, lalu  kita merasakan bahwa diri kita masih selalu saja dogoda  oleh setan dan kita terlena, maka sesungguhnya shalat kita belum sempurna.  Kita memang yakin bahwa untuk menjadikan shalat yang kita jalani menjadi sempurna  barangkali memang sulit, namun jika kita berunguh sungguh dalam mengusahaknnya, setidaknya kita akan tersadarkan oleh diri kta sendiri.

Tentu kita semua berharap bahwa  apa yang sudah kita ;akukan terkait dengan shalat adalah yang terbaik, walaupun kita yakin belum sempurna.  Karena itu kita juga harus mengikutinya dengan perbuatan baik sebagai akibat kesadaran kita tersebut.  Hati kita memang harus diperkuat sehingga godaan apapun yang menggiurkan, tidak akan mampu menggoyahkan iman kita untuk menyeleweng dari  ketentuan yang ada.  Itu juga sekaligus  menjadi konsekwensi kita meyakini bahwa dengan shalat apapun akan menjadi beres.

Apa yang disampaikan oleh Tuhan bahwa  mereka yang shalat dengan khusyu’ pasti beruntung tentu tidak salah dan tidak asal bunyi, melainkan teruji dengan penuh tanggung jawab.  Begitu juga dengan pernyataan Allah swt tentang bahwa shalat itu akan mampu menjauhkan pelakunya dari perbuiatan keji dan mungkar.  Jika kita masih menyaksikan banyak orang yang sudah menjalankan shalat, tetapi kelakuannya masih  sangat dekat dengan kekejian dan kemungkaran, maka itu  kesimpualnnya ialah shalatnya belum baik dan mungkin juga belum benar.

Untuk itu kita emmang harus membuktikannya dan merealisasikan smeua itu agar dapat dibaca oleh pihak lain bahwa  ajaran shalat itu emmang sangat luar biasa mampu mengubah yang terjelek menjadi yang terbaik.  Kita tidak perlu menyuarakannya  sedemikian rupa lantang, melainkan cukuplah kita membuktikannya lewat realisasi  dalam hidup kita dan  sekaligus juga menjadikan diri sebagai teladan dalam pelaksanaan shalat tersebut. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.