MENGHADAPI TAHUN POLITIK, BAGAIMANA SIKAP KITA?

Sebagaimana kita tahu bahwa tahun 2018 ini merupakan tahun politik, karena  bangsa Indonesia akan mempunyai agenda politik besar, yakni pemilu kada serentak di beberapa propinsi dan kabupaten/ kota.  Disamping itu juga sudah pemanasan untuk pemilu presiden dan wakil presiden pada tahun berikutnya.  Jadi kalau disebut sebagai tahun politik memang tidak salah.  Meskipun persoalan politik itu di luar dunia akademik, namun pasti  akan merembes juga ke kampus, meskipun tidak secara langsung.

Gebyar dan hiruk pikuk perpolitikan tersebut sudha barang pasti akan menyita perhatian kita sebagai  bagian dari masyarakat yang tentu juga  ingin  mempunyai pemimpin yang lebih baik dan memberikan harapan lebih baik bagi kesejahteraan secara haiki bagi masyarakat secara luas.  Karena itu tidak ada salahnya jika dunia pendidikan juga nantinya diharapkan akan mendapatkan sawab dari keberadaan pimpinan  daerah yang dip[ilih tersebut.  Untuk itu para  akademisi sebaiknya juga menyuarakan persoala ini meskipun tidak secara langsung mendukung salah satu figur yang ada.

Sebagai abdi negara yang seharusnya bersikpa netral, kita memang harus bersikpa arif dalam memberikan pencerhan kep[ada masyarakat dalam kaitannya dengan memilih pemimpin.  Jangan sampai kita justru terseret  keranah politik praktis, tetapi sejauh ungkin kita harus memberikan pendidikan politimk kepada masyarakat tentang pentingnya memilih pemimpin dan  sama sekali tidak mengarahkan merka untuk memilih salah satu kandidat.  Cukuplah memberikan kriteria  yang  nantinya akan dapat dijadikan senjata bagi mereka untuk menentukan pemimpinanya.

Sudah barang tentu kita semua berharap nantinya yang akan menjadi pemimpin mengerti dan mengetahui kehendak rakyatnya sehingga  rakyat akan dapat  mengharapkan sesuatu yang lebih baik ketimbang sebelumnya.  Harapan rakyat secara umum sesungguhnya cukup simpel dan mudah, yakni keadilan yang merata, kesejahteraan yang semakin meningkat dan keamanan dalam  menjalani hidup serta  suasana kondusif yang selalu mengiringi setiap langkah kita menapaki dunia.

Jika keamanan terjamin dan  kedamaian selalu terjaga serta keadilan ditegakkan  dengan benar serta konsisten, pastinya masyarakat akan merasakan kebahagiaan.  Apalagi kalau kemudian tingkat kesejahteraan dengan penyempurnaan berbagai fasiliotas umum memadahi, pasti mereka akan merasakan ketenangan dan pasti mereka akan mersakan kebahagiaan yang sejati.  Sayangnya  memang  semua harapan tersbeut belum dapat dipenuhi, setelah masih menyisakan banyaknya persoalan keadilan yang tidak kunjung datang.

Harapan untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan masyarakat lainnya dalam hal hukum juga masih jauh api dari panggang, karena masih ditemukannya  banyak masalah yang timpang dan  kekuatan uang yang masih terus mendominasi kekuasaan.  Untuk itu kita emmerlukan pemimpin yang tegas dan  sigap dalam memerangi setiap ketidak adilan dan juga mau mendengarkan denyut nadi masyarakatnya, terutama amsyarakat kaum miskin dan pinggiran yang selama ini terus diabaikan dan tidak pernah didengar suaranya, terkecuali hanya pada saat pilkada saja.

Karena itu tugas kita sebagai akademisi ialah menyadarkan dan mencerdaskan masyarakat agar mereka melek dalam berbagai aspek yang seharusnya menjadi hak mereka.  Artinya jangan sampai masyarakat kita menjadi apatis dengan segala macam pilkada dan sejenisnya dan hanya berpartisipasi pasif saja dengan memberikan suaranya kepada mereka yang mau memberikan imbalan.  Karena jika berpikiran seperti itu maka mereka telah melakukan tindakan yang merugikan mereka sendiri untuk jangka waktu yang snagat lama.

Mereka harus diingatkan bahwa  masa depan sesungguhnya berada dalam genggamannya, terutama dalammenentukan pemimpinnya. Jika salah memilih maka selama lima tahun ek depannya  mereka akan dirugikan dan tidak akan mendapatkan perubahan apa apa.  Sebaliknya jika  tepat dalam emmilih pemimpin, maka  masa depannya akan ada hartapan lebih baik dan  tentu juga  adanya perbaikan dan perubahan menuju kesempurnaan.

Kita juga tentunya yakin bahwa untuk membalikkan keadaan  dengan bim salabim tentu tidak akan mampu dilakukan, akan tetapi jika ada kemauan yang besar untuk mengubah diri emnajdi baik, tentu banyak jalan yang dapat dilakukan.  Masyarakat kita sesungguhnya sangat mudah untuk diajak kerja dengan baik, asalkan ada kepercayaan yang diberikan oleh para pemimpin dalam pelaksanaan tugas tersebut. Namun jika mereka sudah dikecewakan dengan keingkaran janji, maka jangan berharap mereka akan mendukung program yang direncanakan.

Bagi kita yang memang tidak ada kepentingan apapun dengan perpolitikan, sebaiknya memang fokus dalam pekrjaan saja dan tidak usah ikut ikutan dalam meramaikan  politik praktis, karena justru nantinya akan  mendapatkan kerugian tersendiri.  Kita memang harus bersikap netral dam pilkada tersebut, namun kalau  keinginan untuk menentuikan pemimpin  tersendiri dari pilihan yang ada tentunya rtidak salah.  Untuk itu kita juga harus mampu menyaring dan mengetahui rekam jejak masing masing calon sehingga pilhan kita nantinya ebnar benar akan sesuai dengan harapan.

Bagi kita sebagai akademisi dan ASN Kemernterian Agama tentu menjadi  sebuah kewajuiban untuk bersikap netral sebagaimana  ASN lainnya dan juga polri dan TNI, karena saat ini kementerian  pendayaguaan aparatur negara dan reformasi birokrasi juga sudah mengeluarkan edaran yang mengharuskan smeua ASN Polri dan Tni untuk bersikap netral dalam perhelatan pilkada dan pilpres .  Sikap yang harus ditempuh tersebut memang snagat tepat karena  ASN merupakan abdinnegara yang  mengabdi untuk keseluruhan, terlepas nanti siapapun yang memimpin.

Kita tentu tidak ingin mengulangi kesalahan pada masa Orse baru yang  seluruh kekuatan ASN POlri dan Tni dikerahkan untuk melestarikan kekuatan rezim yang sedang berkuasa.  Akhirnya ASN dan lainnya tersbut yang seharusnya mengabdi untuk negara dan seluruh rakyat, terkotak dan hanya emmbela kepentingan penguasa semata semakin runyam karena ASN POlRI dan TNI digaji dari uang negara yang hakekatnya ialah uang rakyat.  Untuk itu sikap yang kita ambil saat ini sudah tepat, akan tetapi bukannya kemudian kita menjadi apatis terhadap persoalan masyarakat kita.

Bagi  para tokoh yang mempunyai  wibawa dan kharisma sebaiknya juga tidak usah menceburkan diri  pada politik praktis, karena itu pasti akan emmbawa kecemburuan bagi pihak lainnya.  Justru akan jauh lebih bagus jika  berperan memberikan pencerahan yang netral untuk masyarakat agar mereka peduli terhadap pemilihan pemimpin.  Jangan sampai mereka acuh tacuh dan  sama sekali tidak peduli dengan segala macam pilkada, yang akibat lebih jauhnya partisipasi mereka  dalam pilkada sangat rendah.

Kita sebaiknya memang memberikan pendidikan politik kepada masyarakat tentang pentingnya memilih pemimpin yang amanah yang akan memberikan kenyamanan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.  Karena itu pada saat memilih nanti mereka harus cermat dalam menentukan pilihannya.  Kalau belum jelas siapa calon calon yang ada sebaiknya meminta penjelasan kepada mereka yang dianggap tahu, namun bukan hanya kepada mereka yang justru menjadi pendukung salah satu calon, karena pasti akan subyektif dalam pemberian informasinya.

Namun pada saat nanti sudah memasuki masa kampanye, maka  paling baik bagi kita ialah  berjalan normal saja tidak ikut ikutna  dalam kampanye dan atau memberikan pencerahan kepada masyarakat, karena pasti nanti akan terjadi salah paham yang menyebabkan kesulitan tersendiri bagi kita.  Fokus kepada pekerjaan adalah cara yang terbaik sehingga tidak lagi ada kesempatan untuk terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung demngan kepentingan para kandidat calon kepala daerah.

Kita hanya berdoa semoga proses pilkada tersebut akan berjalan dengan baik dan m,enghasilkan pimpinan yang  baik pula sehingga harapan masyarakat untuk hidup lebih aman, nyaman, damai, berkeadilan dan sejahtera, akan benar benar  dapat diwujudkan meskipun belum sempurna. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.