MENIKMATI AKREDITASI

Memang kurang tepat jika kata tersebut dipahami secara lahir, terkecuali setelah hasilnya keluar dan mendapatkan penilaian yang maksimal. Akan tetapi kalau perkataan tersebut dipahami secara lebih mendalam sesungguhnya sejak persiapan, pada saat  didatangi oleh asesor hingga mendapatkan nilai akhir dapat dinikmati.  Bagaimana ceritanya?  Tentu itu sangat tergantung pada penyikapan kita sendiri dalam menghadapi  akreditasi dan dalam cara kita mempersiapkannya.

Jika kita sudah tahu tentang bagaimana seharusnya kita menghadapi akreditasi secara on line saat ini.  Sesungguhnya untuk keperluan akreditasi itu kita tidak lagi berpayah payah harus lembur hingga beberapa minggu untuk menyiapkan borangnya, bahkan mungkin harus menyulap beberapa dokumen yang diperlukan.  Barangkali  pada saat yang lalu ketika masih manual, hal tersebut masih dapat dilakukan, akan tetapi setelah berlaku sapto, maka segalanya harus dijalankan sebagaimana mestinya.

Artinya smeua yang kita lakukan dalam proses perjalanan pembelajaran dan pengadministrasian harus didokumentasikan secara on line, sehingga tidak ada  satu aktifitas pun yang tertinggal tidak terdokumentasikan, baik yang ada di universitas, fakultas dan juga program studi.  Jika selama ioni kita suka tidak  “open” atau kurang peduli terhadap segala pross apapun yang dijalani, maka  sudah saatnyalah kita memperdulikan untuk mencatats emua aktifitas yang kita jalani, termasuk  rapat apapun.

Jika semua aktifitas sudah tidak ada yang tertinggal untuk didokumentasikan secara online, maka pada saat kita menghadapi akreditasi, maka  semuanya sudah tertata dan siap untuk divisitasi oleh asesor.  Tidak ada lagi dokumen yang perlu diperbaharui, melainkan karena smeuanya sudah terdokumentasikan dengan baik dan tidak akan hilang.  Mungkin hanya sedikit menrasikan saja untuk merangkai data sehingga berbunyi dan mudah untuk dpahami, dan slebihnya  tidak perlu persiapan khusus dan lembur yang hanya akan menghabiskan energi.

Sesungguhnya  akreditasi itu untuk mengukur sejauhmana pengelolaan prodi atau institusi oleh pengelolanya.  Nah, karena itu jika sistemnya masioh seperti yang dulu, yakni persiapan yang semuanya mendadak dan mungkin juga dibuat buat, maka hasilnya sesungguhnya tidak emncerminkan pengelolaan yang sesungguhnya, melainkan hanya sebuah sulap yang kalau kemudian beruntung ya akan mendapatkan nilai bagus, dan jika tidak beruntung ya tidak akan mendapatkan nilai baik.

Nah, dengan penilaian secara on line seperti saat ini memang diharapkan agar  para asesor mengetahui secara psti  bagaimana para pengelola memenej  prodi atau lembaga yang diajukan untuk dinilai. Jika  saat ini dan yang akan datang memang  tidak sempat untuk mendokumentasikan dengan baik semua yang dilakukan, maka akan dengan mudah untuk diketahui apakah ada barang sulapan yang barus dibuat ataukah memang institusi tersebut sudah memberlakukan  ketentuan dan regulasi yang disusun.

Saya  sendiri tidak tahu persis apakah sudah  disistemkan bahwa data yang dimasukkan secara on line tersebut dapat dilacak atau diketahui kapan dibuat dan di upload, sehingga akan dapat diketahui  apakah sebuah lembaga tersebut memang sudah siap dan berjalan dengan bagus sejak beberapa tahun belakangan ataukah naru saja disiapkan beberapa hari sebelumnya.  Jika hal tersebut sudah dapat dijalankan, maka akan semakin bagus, karena  mereka yang mendapatkan nilai bagus memang telah dengan nyata menjalankan organisasinya dengan bagus pula.

Saat ini kita juga  sudah sangat mendukung apa yang dijalankan oleh BAN PT karena  semua keperluan asesor, mulai tiket, akomodasi, konsumsi dan keperluan lainnya sudah disediakan oleh BAN PT sehingga perguruan atinggi atau program studi yang diases tidak  perlu menyediakan  sesuatu sebagaimana tersebut.  Bahkan BAN PT biasanya menyertakan staf untuk mendampingi  asesor dengan maksud agar  selama  melaksanakan tugas  mereka dapat langsung diberikan hak haknya serta  perguruan tinggi tidak dipekenankan untuk memberikan sesuatu kepada asesor.

Ketentuan tersebut sungguh sangat bagus  seiring dengan  keinginan smeua pihak untuk melaksanakan tugas dengan jujur dan menjauhkan diori dari praktek yang tidak baik.  Sesunggunya para asesror sendiri juga menjaid sangat nyaman, karena pada waktu yang lalu selalu saja lembaga akan menyediakan sesuatu yang sesungguhnya sudah ditangung oleh BAN PT dan bahkan terkadang juga diberikan oleh oleh pada saat pulang.

Asesor  terkadang juga menjadi  risih dengan segala macam permberian tersebut, akan menolak juga tidak enak, diterima juga tidak sesuai dengan hati nurani, sehingga  saat BAN PT tegas melarang hal tersebut, mereka menjadi nyaman dan dapat menjalankan tugas dengan baik.  Karena itulah  kita memang harus lebih tahu diri dan menjalankan roda lemgbaga dengan baik sehingga pada saat asesor datang pun kita akan merasakan hal yang sama pada saat hari hari biasa.

Pada saat ini standar yang diberlakukan oleh BAN PT dalam akreditasi masih berjumlah tujuh, namun  rencananya pada tahun  2018 nanti akan diberlakukan standar yang sembilan, meskipun mungkin tambahan dua standart tersebut hanay pengembangan dari standar yang sudah ada, tetapi tentu mempunyai bobot yang lain.  Artinya akan ada penekanan tersendiri terhadap pengemvbangan tersebut.  Sebagai contohnya ialah tentang riset dan publikasi ilmiah yangmendapatkan penekanan tersendiri dan juga dengan pengabdian masyarakat.

Karena itu  seharusnya semua lembaga pendidikan yang  akan melaksanakan akreditasi, entah kanapn waktunya, mengetahui hal tersebut, sehingga jauh jauh hari telah mempersiapkan diri memenuhi  standar tersebut.  Mungkin kalau dari sisi administrasi sudah cukup bagus, akan tetapi kalau para dosennya yang merupakan komponen  utama dalam sebuah pendidikan tinggi tidak  aktif dalam mempersiapkan kemajuan institusinya, seperti harus banyak menghasilkan karya ilmiah dan lainnya, maka nilai akreditasi juga tidak akan maksimal.

Standar  dalam akreditasi tersebut sesungguyhnya merupakan hal pokok yang memang harus dijalankan oleh sebuah institusi pendidikan tinggi, sebab kalau dilupakan atau bahkan sama sekali tidak dilakukan, maka ada seuatu yang hilang, dan oleh karenanya tentu  nilai dari institusi tersebut tidak ataun kurang bagus.  Jadi maksud akreitasi tersebut ialah untuk meningkatkan kualitas dari pergruan tinggi itu sendiri, termasuk program studinya.

Masyarakat pun saat ini sudah paham dengan hal tersebut, sehingga bagi perguruan tinggi yang tidak konsen terhadap persoalan akreditasi, pada saatnya pasti akan ditinggalkan oleh masyarakat.  Disamping itu para pengguna, saat ini juga sudah memperhatikan  persoalan akreditasi tersebut.  Bahkan ada yang  tidak akan mau menggunakan al;umni dari perguruan tinggi atau  program studi yang nilainya tidak maksimal alias A.

Itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi untuk serius mengelola institusi, karena kalau masyarakat  mengetahui bahwa hanya prodi dan institusi A saja yang akan diterima oleh  instansi tertentu, maka mereka tentu tidak akan mau memasuki perguruan tinggi dan program studi yang belum mendapatkan nilai A tersebut.

Beruntung pada saat ini  masih diberlakukan bahwa asalkan mendpatakan nilai akreditasi sajalah yang dapat meluluskan alumninya, sehingga  perguruan tinggi dan prodi masih dapat bernafas dengan leluasa, namun kita tidak akan tahu bagaimana ke depannya, jangan jangan nanti sudah diterapkan standar nilai akreditasi bagi lulusan yang akan menjadi pegawai negeri dan lainnya.  Untuk itu kita harus meniasatinya, yakni dengan mengelola lembaga dengan sangat baik.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.