MENJELANG PERGANTIAN TAHUN BARU

Sebentar lagi masyarakat pasti akana merayakan pergantian tahun, meskipun pasti juga ada yang tidak akan merayakannya, baik karena alasan keuangan maupun alasan agama.  Kita pasti paham bahwa seputar memeringati tahun baru merupakan khilafiyah pendapat, sebagiannya ada yang melarang dan sebaagian lainnya memperbolehkan,  Namun yang terpenting sesungguhnya bukan boleh dan tidaknya, melainkan apa alasannya ikut memperingati dan merayakan tahun baru tersebut.

Kalau dari sudut pandang ilmu fiqh, maka sesungguhnya segala sesuatu itu tergantung pada alasannya, sehingga sesuatu tersebut pada akhirnya bisa boleh, haram,  sangat dianjurkan, dianjurkan untuk ditinggalkan, bahkan harus dijalankan atau sebaliknya harus ditinggalkan.  Namun kalua kita pendekatannya hanya  boleh dan tidak, maka selamanya kita tidak akan mengetahui secara pasti kenapa kita diwajibkan dan kenapa kita dilarang.  Mungkin kalua persoalan alasan siapapun dapat mengambil dari mana saja, akan tetapi apaah alasan etrsebut tepat ataukah tidak terkait dengan persoalan tersebut, itu masih juga menjadi perdebatan.

Dengan demikian persoalan memperingatai pergantian tahun gtersebut pastinya juga mendapatkan  penilaian yang berbeda dari banyak orang.  Namun tidak usah khawatir dan bingung, karena  dalam tulisan ini pasti akan diberikan pandangan, sehigga kita akan dapat meilih ya dengan rasa mantap tanpa ragu.  Persoalan ada sebagian umat yang memvonis haram dalam segala situaasi dan juga alasan itu  menjadi hak penuh mereka, teta;I seharusnya tidak ada pemaksaan penerimaan pendapat, karena kebebasan berpendapat itu dihargai, asalkan memang mepunai dalil yang dapat diertanggung jawabkan.

Sepertinya  sampai kapan pun persoalam ini akan terus  mencuat, khususnya menjelang  pergangtian tahun baru, karena merupakan persoalan khilafiyah.  Namun bagi yang berpandangan luas dan mau menerima  pandangan pihak lain, tentu tidak akan khawatir menentukan sikapnya.  Bagi mereka yang  akan merayakan pergangtian tahun baru  dipersilahkan saja  melakukannya, yang terpenting ialah jangan sampai dalam perayaan tersebut terselit kemaksiatan atau hal hal yang dilarang, baik oleh agama maupun oleh negara.

Jika hanya sekedar bersenang senang, makan makan, melihat pertunjukan kembang api, atau konser yang sopan atau sekedar berjalan jalan, maka tentunya tidak ada  aturan yang melarangnya, baik pada saat malam pergantian tahun baru majupun pada malam malam lainnya, karena semua itu merupakan hak asasi setiap orang.  Namun jika  sudah mengarah kepada kemaksiatan atau pelanggaran norma dan ketentuan yang sudah diatur, maka di situlah munculnya larangan tersebut.

Demikian jug ajika  niatnya pada saat malam pergantian tahun beru tersebut ialah untuk melakukan kemaksiatan atau untuk hal hal yang tidak jelas, maka sebaiknya tidak usah keluar, apalagi kalua sudah sanat jelas ingin menjalankan kemaksiatan, pastinya harus dilarang, baik pada saat malam tahun  afru ataupun malam lainnya.  Segala macam bentuk kemaksiatan itu mesti harus dilarang dan dihilangkan dari seluruh bumi Indonesia.  Namun hal ini rupanya masih sangat sulit untuk diwujudkan, dan biasanya  malam tahun baru juga diramaikan dengan minum minuman keras dan mabuk mabukan.

Nah, kalau kita sudah tahu rencana seperti itu, pastinya harus dilarang dan harus diawasi sedmeikian rupa agar rencana jahat atau maksiat tersebut dapat digagalkan.  Disamping itu  ada lagi kebiasaan yang sesungguhnya  sangat ebrbahaya, yakni meniup terompet yang dijual di berbagai tempat.  Lalu dimana bahayanya?  Memang pada swktu yang  lalu kita tidak akan pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang membahayakan, karena kalua hanya meniup terompet itu merupakan sesuatu yang lumrah, dan mungkin juga tidak akan mengganggu siapapun.

Namun setelah ada penelotian yang  seksama, ternyata  semua teropmet yang dijual itu dibuat oleh tukang terompet, dan pastinya sebelum dijual terompet etrsebut pasgtinya akan dicoba ditiup, apakah berbunyai ataukah tidak. Nah, di situlah letak bahayanya, karena terompet tersebut  akan mengandung bakteri yang mungkin disebarkan oleh peniup terompet tersebut.  Jika peniup terompet yang  mencoba tersebut mempunyai virus HIV, maka melalui terompet yang sama sekali tifak difuga tersebut, virus HIV akan dapat menular, dan begitu seterusnya.

Tentu juga penyakit lainnya yang dapat ditularkan melalui mulut atau air liur seseorang, karena itu penelitai  tersebut sekalgus juga memberikan peringatan kepada kita semua agar kalaupun emmbunhyikan teropet, sebaiknya membuat sendiri, sehingga kebesihannya  akan terjamin, atau kalua tidak ya harus memastikan bahwa  terompet yang akan ditiup tersebut benar benar bersih  sehingga tidak ada poensi penyakit yang akan menular.

Jadi semakin jelas bagi kita sesungguhnya harus bagaimana kita menyikapi malam pergangtian tahun  b tersebut.  Apakah kita hanya akan berdiam diri di rumah ataukah kita akan bersama sama  dengan kawan kawan keluar dan berjalan jalan, makan berdma dan juga me nnonton bersama.  Jika pilihannya ingin menetap di rumah dengan memperbanyak baca kitab suci atau berdzikir, maka itu sangat bagus, cpersoalannya patinya tidak akan banyak yang menjalaninya, teruama mereka yang masih remaja.

Namun jika pilihannya  akan keluar sekedarnya saja, seperti ingin jalan dan makan setelah itu pulang dan menonton televise, maka itu  juga baik, karena yang terpenting pada malam tersebut tidak melakukan kemaksiatan.  Tetapi  kalua ada sebagian diantara kita yang merencanakan untuk melakukan  aksi kemaksiatan melalui minum minuman keras misalnya, maka sebaiknya sejak sekarang harus dibatalkan.  Sebagai warga bangsa yang baik dan sekaligus sebegai seoranag muslim yang taat, tidak selayaknya kita melakukan hal tersebut dengan alasan apapun, apalagi hanya karena alasan merayakan pergantian tahun, pastilah itu merupakan perbuatan yang keblinger.

Maih ada waktu untuk berpikir ulang dalam  memperingati pergangtian tahun tersebut.  Mari pokirkan tentang manfaat dan madlaratnya.  Gunakanlah selalu akan sehat kita insya Allah kita akan selalu diselamatkan oleh Tuhan dan selalu dijaga untuk tidak terjerumus kedalam jurang kemaksiatan.  Meryakan tahun baru  hanya merupakan tradisi semata, sehingga  tidak perlu dibesar bearkan perbedaannya, khususnya terkait dengan hukumnya boleh ataukah tidak.

Janganlah mudah menghubungkan antara tradisi yang sudah  cukup lama dijalankan oleh masyarakat kita dengan ajaran sebuah agama. Agama nasrani pun sesesungguhnya tidak mengklaim bahwa perayaan tahun baru adalah acara keagamaan mereka, dan kita sudha menganggap bahwa  perayaan pergantian tahun  aru ialah sebuah gtradisi yang biasa saja, sehingga siapapun boleh merayakannhya, asalkan dengan cara yang baik dan tidak melanggar hokum atau aturan agama yang ada.

Karena sebuah tradisi, maka kita dapat melakukannya dengan berbagai cara yang kita anggap baik dan bermanfaat. Boleh jadi kkita akan merayakannya dengan berkumpul di masjid atau mushalla untuk melaksanakan tahlilan dan selanjutnya diberikan tausiah mengenai apa yang seharusnya dilakukan di dalam tahun baru mendatang.  Jadi muhasabah dapat dilakukan secara bersama  dengan  mencoba memutar ulang  rekan jejak kkita, lalu yang jlek kita coba untuk  gangi dengan yang baik, dan yang sudah baik kta pertahankan atau malah kita  usahakan untuk lebih baik lagi.

Jadi kalua yang merayakan tahu baru dengan bentuk tersebut, pastinya tidak ada satupun orang yang melarang agtau bahkan mengharamkannya.  Itulah tradisi yang dapat diwujudkan  atau ekspresikan dengan ebrbagai cara yang terbaik  dan menyenangkan bagi kita.  Kalua demikian maka seharusnya perbedaan sikap mengenai merayakan tahun baru tersebut segera dihilangkan dan kita tidak perlu capek capek mendiskusikannya, bahkan berdebat  karenanya. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.