YANG BESAR MEMBANTU YANG KECIL

Jika falsafah orang tua dahulu diperhatikan, tentu kehidupan harmonis yang diinginkan akan relatif mudah diwujudkan.  Kita mengetahui bahwa ajaran orang dahulu sungguh sangat bijak untuk menempuh hidup di dunia ini.  Salah satunya ialah agar siapapun yang mampu membantu mereka yang tidak mampu, yang kuat membantu yang lemah, yang besar membantu yang kecil dan begitu seterusnya, bukan sebaliknya yang sudah besar lalu m engeksploitasi yangkecil atau  yang kuat menginjak injak yang lemah dan seterusnya.

Kalaupun ajaran tersebut tidak sempat terekam dalam ajaran sebuah agama pun sesungguhnya tetaplah penting untuk dijalankan, apalagi kalau akarnya dapat dirunut kepada ajaran  agama, pastilah harus dijalankan dengan penuh ketaatan.  Di dalam ajaran Islam sendiri  memang  selaras dengan falsafah orang tua tersebut, atau barangkali mereka juga mengambilnya dari ajaran islam itu sendiri.  Namun yang terpenting ialah bagaimana kita mampu dan terus  berusaha untuk mengamalkan falsafah hidup yang sangat mulia tersebut.

Secara nalar saja sudah dapat diketahui bahwa jika falsafah tersebut dijalankan secara konsisten, pastilah akan tercipta sebuah kondisi yang kondusif, karena  jika terdapat kesenjangan, maka akan segra dapat dipulihkan dengan sendirinya,  dan tidak sampai akan terus menganga.  Bagaimana tidak kalau ada sebagian diantara masyarakat yang miskin, lalu yang kaya  dengan senang hati membantunya sehingga  akan mampu melakukan perubahan dalam dirinya dan pada akhirnya akan berdaya dan menjadi  tidak miskin lagi.

Jika ada sebuah lembaga yang  sudah besar lalu diketahui bahwa di sampingnya masih ada lembaga sejenis yang masih kecil, lalu diusahakan untuk membantunya sehingga  dengan kekuatan yang dimiliki akan mampu mengupayakan untuk tumbuh dengan baik.  Jkondisi yang demikian tentu akan menjadikan sebuah hubungan dan relasi yang sangat bagus, sehingga pada saatnya juga akan tercipta keharmonisan  dan tidak ada  satupun yang kemudian  layu dan akhirnya mati.

Namun kenyataannya saat ini kita justru menyaksikan betapa  adisnya kehidupan di lingkungan kita, karena kompetisi yang terjadi ialah saling sikut dan kalau bisa  dengan mematikan saingannya, dan bukan malah membantunya agar dapat bangkit.  Kalau ada sesama lembaga yang  sejenis, lalu terjadi persaingan yang, bukannya  lalu mengupayakan kerjasama  dengan bagus, dan mengupayakan  pengembangan secara berama sama, tetapi malahan selalu terjadi semacam perang dingin, dan  akhirnya yang terjadi ialah persaingan tidak sehat.

Kita sejatinya sama sekali tidak paham dengan praktik yang dijalankan oleh umat saat ini, padahal kelau kita mengaca kepada  teladan nabi Muhammad saw tentu tidak akan ada kecocokan sama sekali, karena beliau akan selalu memperhatikan nasib banyak pihak, terutama  bagi yang kecil harus ditolong hingga tidak sampai mati, bahkan akan dibantu hingga menjadi berdaya dan mampu  bertahan dan bahkan berkembang dengan baik.

Falsafah yang kuat membantu yang lemah dan yang  besdar membantu yang kecil adalah merupakan sebuah keinginan yang  sesunggunya dapat diwujudkan jika semua orang atau pihak  sama sama mempunyai pandangan dan tujuan yang baik. Untuk apa  kita maju sendiri sementara yang lainnya menjadi mati, dan untuk apa kalau yang miskin kita biarkan terus semakin miskin sementara kita  akan semakin kaya.  Lalu di mana letak kepuasan kita, selain nafsu saja yang akan merasakan puas, tetapi pastinya  hanya sementara saja, dan bukan sejatinya.

Bagi kita  pengelola lembaga pendidikan misalnya, tentu tidak boleh melakukan upaya yang akan mematikan lembaga yang lain. Kalaupun kita belum mampu untuk membantunya secara nyata,  selayaknya kita akan membiarkan dan bersaing dengan sehat, bahkan akan emmberikan peluang kepada pihak lain tersebut untuk dapat maju dan berkembang secra bersama sama.  Sebagai contohnya ialah kalau perguruan tinggi keagamaan di Jawa Tengah ini cukup banyak yang sebagiannya negeri dan sebagian besarnya swasta, maka semua harus mampu bekerjasama  dengan bagus.

Uin Walisongo sebagai universitas Islam yang terbesar di Jawa Tengah, tentu tidak boleh dan tidak akan berusaha mematikan perguruan tinggi yang ada dengan cara cara yang bisa saja dilakukan, melainkan justru akan  ikut membantu mengembangkan dengan cara memberikan ide ide bagus dan secara langsung membina dan memberiikan bimbingan untuk  maju dan berkembang  serta dapat bersaing dengan yang lain secara fair.

Perguruan tinggi swasta kleagamaan islam di wilayah ini  sebanyak 45 buah, dan kesmeuanya memerlukan  bnimbingan secara langsung, m,eskipun dianataranya sudah  ada yang  cukup maju, namun kalau ditilik dari peminat masyarakat untuk bergabung dengan mereka  tampak masih kurang.  Denagn demikian  Uin Walissongo selalu saja mengingatkan kepada m,ereka untuk berkonsentrasi mengelola instuitusi dengan baik sambil selalu melakukan sosialsasi.

Kita meyakinkan kepada mereka bahwa jika sebuah perguruan tinggi dikelola dengan sangat bagus, kemudian juga diupayakan kelengkapan fasilitasnya, maka lambat laun masyarakat pasti akan memberikan apresiasi dan sekaligus ada keinginan untuk bergabung.  Itulah setidaknya yang harus diberikan, dan bukannya malah berusaha untuk mematikannya.  Demikian pula dengan perguruan tinggi sejenis lainnya yang mungkin sama sama negeri, termasuk yang berada di wilayah lain di nusantara ini.

Jika ada perguruan tinggi sejenis yang kebetulan melakukan studi banding ke kampus UIN Walisongo untuk mendapatkan pencerahan mengenai berbagai hal, tentu dengan senang hati  kami akan memberikannya dan bimbingan pun akan siap diberikan, termasuk jika harus diteruskan di kampusnya sendiri.  Begitulah yang seharusnya dilakukan karena hidup ini bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk kebersamaan.

Kepuasan pastinya akan tercipta jika dengan bimbingan tersebut kemudian  kampus dapat maju secara bersama dan bahkan mungkin akan leibih maju dan meyakinkan.  Namun secara moral tentunya yang sudah besar juga harus tetap mempertahankan reputasinuya, sehingga akan menjadi teladan bagi  yang masih kecil.  Intinya dalam kondisi apapun kita harus terus berusaha untuk memajukan diri sendiri dan juga membantu yang lain agar dapat berdaya dan mampu bersaing dengan fair untuk meraih kemanfaatan yang lebih banyak.

Kita tentu akan dapat membayangkan betapa  indahnya hidup ini jika semua pihak mempunyai perasaan yang sama, yakni  membantu  yang lebih kecil tanpa harus merendahkannya.  Namun kalau diri sudah kerasukan  nafsu yang ambisius, maka akan sangat sulit  memberikan bantuan apalagi kalau harus memberikan pertolongan untuk menjadikan pihak lain sejajar dengan kita, justru yang ada adalah keinginan untuk membinasakan saingan tersebut.  Mari jadikanlah diri kita ebagai pihak yang ingin mendapatkan ridla  Tuhan dan  mendapatkan  kepuasa disebabkan mampu memberikan bantuan atau pertolongan kepada yang membutuhkan.

Jika kita emmang belum mampu untuk melakukan yang demikian, sebaiknya  memang harus terus berlatih,meskipun hanya untukl hal hal yang kecil, karena kebiasaan pasti akan mampu mengalahkan ambisi yang datangnya dari nafsu dan setan.  Bimbingan iman dan keinginan untuk berbuat secara tulus serta keinginan untuk mendapatkan keridlaan Tuhanlah yang akan mampu menepikan nafsu dan mengedepankan hati nurani.  Semoga kita merealisasikannya.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.