MEMBEBASKAN PIKIRAN

Pikiran setiap orang itu berbeda dalam memikirkan segala sesuatu, termasuk dalam hal mengembangkan pemikran yang sedikit berbeda dengan  pikiran  meinstreem.  Memang ada pikiran yang selalu saja berjalan  normal dan linier, artinya tidak aneh aneh dan selalu mebgikuti alur yang umun, namun biasanya pikiran yang demikian tidak akan mendapatkan respon ositif atau dibiarkan begitu saja oleh lainnya.  Namun sesungguhnya tidak mengapa asalkan pikiran tersebut  ditawarkan kepada khalayak melalui tulisan.

Kita harus yakin bahwa pada suatu ketika  pasti akan ada pihak lain yang membacanya dan sekaligu bisa jadi memerlukannya atau mengambilnya sebagai bagian dari referensinya.  Memang akan lain dengan pemikiran yang  nyeleneh atau yang progresif dan tidak  pada umumnya, karena pikiran yang demikian pastinya akan segera mendapatkan respon dari masyarakat, baik respeon  baik dalam arti memberikan apresiasi ataukah respon jeek dengan memberikan kritik yang tidak mengenakkan, atau memojokkan.

Dalam msalah ini yang terpenting ialah kesiapan mental kita untuk menerima respon masyarakat tersebut.  Bahkan boleh jadi respon jelek dari masyarakat justru akan semakin mengkohkan kita sebagai pihak yang kondisten dalam mengembangkan pikiran jika kita memang  meakininya sebagai sebuah kebenaran.  Artinya bisa  saja masyarakat memang belum terbiasa dengan pemikiran yang kritis dan maju, sehigga mereka masih kaget dengan pikiran kita tersebut.

Justru kalau kita tidak pernah membebaskan pikiran  untuk mengarungi dunia keilmuan, mala  bisa bisa pikiran kita akan mandeg agtau jumud tidak mapu lagi melahirkan  pikiran jernih dan mencrahkan.  Coba kalau kita hanya  menulis sesuatu yang biasa biasa saja tanpa ada pemahafruan dalam mengkontriksi sebuah kenyataan, pastilah masyarakat tidak akan meberikan apresiasi kepada  kita.  Memamng benar kita tidak menginginkan  bahwa kegiatan menulis kia hanya ingin mendapatkan apresiasi masyarakat semata, melainkan jusgru  ingin mendapatkan sebuah kepuasa karena gtelah mampu memberikan pencerahana masyarakat.

Namun sekali lagi memang dalam kenyataannya jika kita  berpikir  linier dan monoton dengan tidak ada kritik atau pembaharuan, pastilah akan terasa biasa biasa saja.  Namjn dmeikian jika kta mau melakukannya itu sudah lebih bagus ketimbang sama sekali tidka berbuat atau tidak melakukan penulisan.  Biarlah kita sementara  hanya menulis sesuai dengan  pikiran datar saja, tetapi konsisten karena dengan selalu menorehkan tulisan, pada saatnya apsti akan menemjukan sebuah kondisi yang memaksa kita harus melakukan kebebasan dalam pikiran yang kita tuliskan tersebut.

Nah, jika sudha menemukan  mood yang cocok dengan  keinginan bebas kita dalam menuangkan tulisan dan gagasan  ke dalam tulisan, maka saat itulah kita akan tercerahkan dan berani untuk mengembangkan pikitan kita menjadi bebas tanpa kendali yang biasanya justru akan  memberatkan kita untuk terus berkarya dalam menulis.  Memang  arti kebebasan yang dimaksud di sini bukan bebas dalam arti tanpa kendali apapun, melainkan  kendali masih ada yang berupa keyakinan kita dan  ke eradaan kita sebagai umat muslim.

Akan tetapi kita tetap bebas untuk memikirkan sesuatu yang  kita anggap akan memberikan manfaat bagi umat manusia itu sendiri.  Jika pikiran kita  luas dan  lebih menekankan kepada kemaslahatan umat,  maka  di situ akan terkuak banyak jalan  menapakinya dan  di situlah kita akan mampu  mengembangkan pengembaraan pikiran kita untuk menemukan berbagai cara  untuk menuju kepada sebuah keinginan yang tentu baik dan bermanfaat bagi banhyak umat.

Terkadang  kalau kita tidak terbiasa untuk menulis sesuatu yang lain dari kebiasaan, kita akan terkungkung oleh pengetahuan sempit kita sendiri.  Akan melakukan apapun pasti akan selalu dibatasi dengan apakah yang saya lakukan ini  boleh agtau tidak boleh, halal ataukah haram.  Nah, kalau pokiran kita sudah dibatasi oleh  pola pikir fiqh seeprti itu  pasti akan sulit untuk membebaskan pikiran kita dan pasti pula kita tidak akan pernah menemukan sesuatu yang baru.

Itulah maka maksud  saya ialah bagaimana kita mebiasakan diri untuk menulis  apapun, bahkan yang pertama kali ialah bagaimana kita tidak usah memikirkan tentang apakah tulisan kita layak untul dikonsumsi publik aaukah tidak. Biarlah masyarakat sendiri yang akan memberikan penilaian itu, karena yang terpenting bagi kita ialah niat dan tindakan nyata, dan sambil terus mengembangkan gtulisan tersebut kita memperbaiki isi dan mungkin juga rangkaian kata dan kalimatnhya.

Namun jika yang muncul dalam pikiran kita ialah ketakutan atau kekhawatiran  kritik orang agtau kita akan tercebur dalam kedosaan dan lainnya, maka selamanya kita tidak akan mampu untuk maju apalagi membebaskan pikiran kita dari semua hal yang membelenggu kemajuan dan keberanian tersebut.  Barangkali kita memang hafus mengembangkan   sebuah stantemen bahwa untuk kep;erluan  keduniaan kita tidak usah takut untuk melakukan dosa  jika kita melakukan eksperimen atau mencoba sesuatu yang baru yang sama sekali belim pernah dilakukan orang lain.

Namun kalau dalam persoalan akdah, tentu kita hafus mengikuti  pikiran dan pendapat yang sudah baku.  Dengan sika tersebut tentu kkita tidak akan  melakukan pergeseran  akidah, tetapi jusgtru kita akan selalu melakukan inovasi dalam bidang kemajuan keduniaan.  Biang  keduniawian itu lapangannya jauh lebih luas, karena menyangkut berbagai aspek yang dibutuhkan oleh umat manusia.  Lihat saja misalnya dalam bidang ekonomi, hukum, sosial, politik, budaya dan  seni serta bidang lainnya.

Persoalan ekonomi saat ini yang  justru akan  dapat menyengsarakan umat manusia  dan juga munkin dapat menjadikan seseorang  kaya raya, tentu boleh kita cermati dengan pikiran yang sehat, bahwa sesungguhnya  sistem ekonomi tersebut harus mampu menjadikan masyarakat secara umum mampu berkompetisi dengan wajar dan  meraih kesejahgteraannya tanpa harus menyengsarakan pihak lainnya.  Dengan prinsip tersebut kita  tentu dapat menawarkan berbagai alternatif yang memungkinkan sistem tersbeut akan dapat dijalankan dengan baik.

Dalam bidang hukum misalnya kita masih menyaksikan betapa tidak adilnya pelaksanaan hukum di negeri ini, karena  dengan sistem yang demikian akan banyak mafia hukum dan mereka yang menguasai ekonomilah yang akan selalu diuntungkan dalam persoalan hukum.  Nah, dengan kondisi seperti itu tentu harus dimunculkan pikiran yang segar terkait dengan bagaimana kita menjadikan hukum itu adil untuk smeua pihak, dan tidak menyisakan sedikitpun persoalan yang  dapat membuat orang lain putus asa untuk mendapagkan keadilan.

Bidang sosial tentunya juga demikian, yakni  kalau sementara ini banyak kesenjangan soaial terjadi dan kepedulian masyarakat terhadap persoalan sosial tersebut kurang, maka  kita boleh mengemukan]kan pikiran tentang bagaimana cara  persoalan sosial etrsebut menjadi perhatian utama masyarakat sehingga tidak akan lagi kita temukan  orang yang menderita kelaparan di tengah tengah kampus elite dan persoalan sosial lainnya yang memerlukan penyelesaian dengan   bijak.

Demikian juga dengan persoalan politik yang pasgi kita saat ini menyaksikan betapa politik kita  bukannya  akan menjadikan  masyarakat sejahtera, melainkan  sebaliknya akan mengantarkan mereka kepada kesengsaraan dan kehancuran.  Persoalan politik uang,  dan sejenisnya telah memporak porandakan pondasi sistem politik kita sehingga sangat mendesak untuk dicarikan solusinya yang jernih, dan itu dapat kita tawarkan kepada semua  politisi yang saat ini sedang menikmati kekuasan atau  sebaliknya mereka yang saat ni sedang berpuasa untuk menunggu kesempatan.

Tidak ubahnay  ialah dalam bidang budaya dan juga seni yang saat ini  tampak dispelekan dan tidak terperhatikan.  Kita dapat mengusulkan pikiran yang jernih untuk me jadikan persoalan budaya ini  men jadi fokus para elite kita sehingga  persoalan ini akan mendapatkan perhaian yang lebih.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.