PENULISAN SEJARAH

Kita sangat paham bahwa tidak semua tulisan mengenai sejarah, dalam bidang apapun mesti benr sesuai dengan fakta.  Barangkali memang sebagiannya ada yang sesuai dengan fakta, tetapi sebagian yang lainnya  tidak sesuai, karena sejarah itu ditulis dengan mengikuti keinginan penulisnya.  Apalagi sejarah yang ditulis oleh sebuah rezim untuk tujuan tertentu, dapat dipastikan  ada unsur yang tidak jujur dan bahkan munghkin sangat bertentangan dengan fakta yang sesungguhnya.

Bahkan meskipun sejarah yang ditulis opleh seorang sejarahwan dan mandiri saja terkadang juga masih ada aspek yang tidak sesuai, karena penulisnya hanya menghubungkan saja antara kejadian satu dengan lainnya, sehingga ada kemungkinan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.  Namun kalau sejarah seperti itu biasanya akan lebih bagus ketimbang sejarah yang sengaja ditulis oleh rezim penguasa yang membuat tim dengan arahan tertentu.

Memang ada kesulitan tersendiri manakala kita menulis sejarah tentang  hal hal yang sudah sangat lama berlangsung dan informasi mengenai hal tersebut sangat minim.  Karena itu aspek penafsiran dari penuilis sejarah itu sendiri sangat dominan dan terkadang malahan menghiasi keseluruhan  alur sejarah tersebut.  Namun bagi penulis sejarah yang jujur, dapat dipastikan bahwa meeka akan jujur dalam menuangkan   tulisannya, dengan menyatakan bahwa untukl aspek tertentu tersbeut dia memang  tidak mempunyai data yang memadahi dan lebih banyak didasarkan atas asumsi semata.

Jangankan  tulisan mengenai sejarah biasa, untuk menulis sejarah orang orang khusus yang sudah sangat dikenal saja, terkadang juga  dibarengi dengan aspek penafsiran dari penulisnya sendiri.  Kita mengetahui bahwa sejarah Nabi Muhammad saw saja yang kemudian dikenal dengan sirah nabawiyah tidak seluruhnya berdasarkan riwayat yang shahih, karena sebagiannya merupakan penafsiran penulisnya sendiri untuk menghubungkan riiwayat satu dengan lainnya sehingga menjadi sebuah cerita yang utuh dan dapat dipahami dengan mudah.

Namun tentu bukan  dengan maksud untuk mengelabuhi para pembacanya, karena memang tidak ada  informasi yang komplit tentang hal tersebut.  Sementara sejarahnya itu sendiri harus utuh dan emnggambarkan sebuah alur cerita yang dapat dipahami.  Tentu akan lain halnya dengan  sejarah yang ditulis untuk  membela atau untuk mengadili  seseorang yang ditulis oleh penguasa, karena dalam hal; sejarah yang ditulis oleh penguasa tersebut banyak fakta yang sengaja dihilangkan atau bahkan mungkin diputar balikkan untuk  mendukung jalannya cerita sebagaimana yang diharapkan.

Persoalan  ada beda versi itu merupakan hal biasa karena mungkin data yang didapatkan smaa sama tidak jelas atau kurang jelas, sehingga timbul penafsiran yang berbeda.  Namun sebagai penulis yang mendasarkan dirinkepada peneliotian, tentu harus mampu untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah.  Tetapi jika kemudian sulit untuk menemukan yang otentik, maka  cukuplah keduanya ditulis dengan penejelaan yang seimbang, sehingga pada saatnya nanti jika dapat ditemukan data yang lebih akurat akan dapat ditentukan mana yang lebih akurat.

Kita juga tahu bahwa hampir semua penulisan sejarah tentang tokoh tokoh atau tentang sebuah kondisi tertentu yang sudah terjadi  beberapa abad lamanya, pasti di sana  ada perbedaan mendasar yang terkadang sulit untuk disatukan. Kalau perbedaan tersebut mnenyangkut  asal usul seseorang  tentu akan semakin sulit, seperti misalnya seorang tokoh yang menjadi sentral  pembicaraan sejarah, semacam Wali, lalu diperdebatkan  menganai  keturunan siapakah dia, tentu akan  sulit menentukan.  Sebagai contoh ialah tentang sunan Muria, dalam penulisan sejarahnya  ada dua versi yang  sulit disatukan.  Demikian juga dengan Sultan fatah dan masih banyak lagi lainnya.

Celakanya kita saat ini dapat menemukan beberapa tulisan mengenai  sejarah hidup beberapa sunan yang tergabung dalam wali songo, namun  sejarah yang ditulis rupanya hanya berdasarkan  fiksi dan versi penulisnya saja  sehingga banyak perbedaan yang  sangat suklit untuk dipercaya.  Bahkan kita juga mengetahui sejarah tersebut lebih banyak mengandumng aspek yamng tidak masuk akal atau semacam tahayyul atau cerita  yang dibuiat buat yang kemudian dihubungkan dengan para tokoh tersebut.

Cerita cerita sperti itulah yang sat ini memenuhi cerita para wali sehingga masyarakat yang saat ini suah membacanya, tentu akan menyerapnya begitu saja.  Tentu ini merupakan bahaya dan tantangan bagi ikita kaum intelektual yang harus memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang sejarah yang sesungguhnya.  Untuk itu tidak ada jalan lain bagi kiota terkecuali harus melakukan penlitian yang  serius mengenai sejarah  para wali tersebut berserta peninggalan, khususnya  budaya yang dikembangkannya.

Memang  sudah ada beberapa penelitian yang dilakukan untuk  memperjelas keberadaan para wali etrsebut, namun masih terlalu umum sehingga masih  belum dapat menjnawab secara akurat tentang peran merka dan tinggalannya  dalam kaitannya dengan perkembangan Islam di Jawa, dan sekaligus  bagaimana dakwah yang dilakukan.  Jika ini  sudah ditemukan dengan data yang akurat, diharapkan akan menjadi  salah satu model  yang perlu diteladani, khususnya terkait dengan maraknya  model dakwah saat ini yang cukup meresahkan umat.

Sudah barang tentu bukan hanya penulisan sejarah  para wali yang menyebarkan  agama Islam di Jawa saja melainkan juga sejarah  para tokoh di nusantara yang  gaungnya sudah dikenal oleh masyarakat.  Tujuan penulisan ulang terhadap sejarah para tokoh nusantara tersebut tentu untuk memberikan gambaran yang sesungguhnya kepada masyarakat, sehingga mereka tidak lagi disuguhi oleh gambaran yang  aneh aneh mengenai para tokoh tersebut.  Cerita cerita yang tidak masuk akal tersebut seolah menjadi trend bagi para tokoh  besar pada zaman dahulu.

Mungkin memang ada beberapa kejadian yang tidak wajar  bagi sebagian tokoh tersebut, karena mereka itu sebagai wali yang mendapatkan karomah dari Tuhan, namun tentu bukan itu yang perlu ditonjolkan, melainkan bagaimana merka  mampu mengajak dan mempengaruhi umat untuk  mengikuti ajakannya serta  mampu menciptakan kondisi yang sangat tenteram di wilayahnya.  Tentu ada cara  yang  mereka pakai dan itu harus digali dan ditemukan sehingga akan dapat dijadikan sebagai teladan bagi masyarakat saat ini.

Namun jika yang ditonjolkan ialah tentang cerita kehebatan mereka  dalam mistik yang tidak masuk akal, maka itu hanya tinggal cerita saja, karena tidak dapat dijadikan sebagai teladan bagi  umat masa kini.  Bagaimana mungkin umat saat ini mampu mengubah batu menjadi emas atau mengubah kacang hijau menjadi tentara yang siap untuk berperang melawan musuh dan lainnya.  Pendeknya  kita  melihat bahwa sudah saatnya kita meluruskan sejarah, khususnya bagi para tokoh sentral masa lalu agar masyarakat kita menjadi rasional dan dapat meneladaninya, dan bukan hanya mengkultuskannya.

Saya kemgajak kepada semua pihak yang mempunyai kepedulian terhadap sejarah untuk melakukan penulisan kembali sejarah para tokoh yang mungkin dapat dimulai  dengan menulis tokoh para wali di Jawa dengan melakuna penelitian yang serius.  Mungkin  jika harus mencari data sampai ke luar negeri, kenapa tidak.  Konon ceritanya  Belanda saat menjajah kita tersebut juga mendokumentasikan semua kejadian yang ada di nusantara.  Bahkan mungkin juga data mengenai  hal hal yang terjadi sebelum mereka datang ke nusantara.

Sudah barang tentu kita tidak akan menuntut untuk mendapatkan data yang  akurat sebagaimana  mestinya, karena kita sangat yakin bahwa untuk menuju ke sana akan sulit dicapai.  Karena itu setidaknya harus ada data  data  yang  dapat dirangkai menjadi satui cerita yang rasional  dan dapat dipahami oleh  akal sehat.  Semoga niat baik tersebut akan dapat diwujudkan oleh kita semua, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.