SIKAP KITA PADA SAAT PERAYAAN NATAL

Sebagai orang muslim yang hidup di Indonesia dan berdampingan dengan berbagai pemeluk agama yang berbeda beda, tentu kita harus mempunyai sikap yang kuat agar kita tetap eksis dalam kondisi apapun.  Sementara ini  sikap umatt muslim dalam hal perayaan natal berbeda, sebagiannya mengharamkan kita untuk terlibat dalam perayaan natal tersebut, termasuk di dalamnya  ikut menjaga  gereja yang digunakan ibadah oleh kaum nasrani, apalagi kalua harus ikut melakukan misa dan  sejenisnya.

Namun sebagian lainnya memberikan batasan, asalkan bukan terlibat langsung ikut beribadah mereka, maka  kita diperbolehkan untuk ikut memeriahkan atau mengikuti  perayaan natal.  Karena yang terpenting ialah bagaimana kita  dapat menjaga keimanan kita dan tidak lebur dengan pelaksanaan ajaran agama mereka, khususnya mengikuti  peribadatan mereka.  Perbedaan sikap tersebut sudah lama muncul dan selalu akan mengemukan jika sudah mendekati natal, dan  terus berebda  tanpa ada penyelesaian yang maksimal.

Kita  tentu sangat mengetahaui bahwa pada saat natal tersebut sebagian umat muslim, terutama banser dari kalangan NU jusru sering membangtu untuk mengamankan kondisi di seputar gereja, karena  biasanya selalu diganggu oleh pihak pihak yang tidak bertanggung jawab.  Bantuan tersebut sifatnya hanya  sebagai  sikap toleransi dan  sama sama menjaga ketertiban sefta keamanan, sehingga mereka sama sekali tidak terlibat dalam pelaksanaan misa dan sejenisnya, melainkan semata mata hanya  ikut mengamankan  suasana.

Dalam perayaan natal kali ini memang sudah ada pimpinan cabang NU yang memberikan warning kepada  anak anak muda banser untuk tidak lagi terlibat dalam pengamanan gereja pada saat malam natal, karena  perbuatan tersebut dianggap haram, tentu dengan berbagai alaasan yang boleh jadi juga sudah diketahui oleh anak anak banser, hanya berbeda dalam pemaknaannya saja.  Lantas bagaimana sebaiknya sikap kita  dalam menghadapi natal tersebut?

Menurut saya jika kondisi keamanan di sekitar kita sudah sangat aman dan gtidak ada tanda tanda kerusuhan atau ancaman yang menyebabkan huru hara, maka cukuplah apparat keamanan saja yang melaksanakan  pengamanan, semengtara kita sebagaiw arga  cukuplah berjaga jaga  di lingkungan kita masing masing. Kita tahu bahwa di negera kita ini  ada cukup apparat keamanan dari pihak kepolisian yang siap menjaga keamanan dan ketertiban selama 24 jam, sehingga kita pasrahkan saja persoalan keamanan tersebut kepada apparat.

Dengan begitu apabila kita pada malam tersebut akan keluar, baik untuk menyaksikan berbagai keramaian ataupun  sekedar untuk mencari makan dan lainnya, kita akan merasakan keamanan dan saudara kita umat nasrani yang menjalankan ibadahnya juga merasakan aman dan tidak terganggu oleh siapapun.  Dengan begitu suasana di lingkungan kita akan etrus terjaga dana man tanpa ada kekhawatiran terjadi huru hara yang akan menyebabkan  banyak orang ketakutan.

Namun jika kemudian terjadi kerusuhan, terlepas dari siapapun yang menciptakannya, tentu apparat keamanan  akan mengendalikannya.  Jika  apparat keamnanan  tidak cukjup mampu untuk menangani kerusuhan tersebut, maka  sebagai masyarakat kita tentu akan berusajha untuk ikut menenangkan  kerusuhan tersebut.  Termasuk di dalamnya ialah banser yang tentu lebih bagus mampu untuk menangani kerusuhan tersebut. Dalam kondisi demikian gtentu tidak ada siapapun yang berhak untuk melarang  kitta dan banser untuk iktu dalam melerai kerusuhan yang terjadi, dan bahkan  wajib hukumnya untuk ikut serta.

Demikian juga dengan sikap kita dalam hal mengucapkan selamat kepada mereka yang beragama nasrani,  diantara  umat muslim saling berbeda menyikapinya, sebagiannya mengharamkan dan sebagiannya membolehkan.  Tentu kita tidak hanya berbicara mengenai boleh dan tidaknya, melainkan kita harus mengetahui duduk persoalannya, karena  sebagaimana kaidah ushul fiqh bahwa  dalam persoalan tertentu kita boleh melakukan sesuatu dan dalam kondisi lainnya kita tidak diperbolehkan.

Karena itu dalam meyikap ucapan selamat kepada mereka yang sedang merayakan natal, tentu juga harus dilihat kepentingannya.  Artinya jika kita tidak mempunai kepentingan apapun dalam hal natal tersebut, sebaiknya memang tidak usaha mengucapkannya, karena  tentu akan semakin membuat mereka yang mengharamkan menjadi sewot.  Namun jika diantara kita mempunhyai kondisi tertentu, sudah barang tentu diperbolehkan hanya sekedar untuk menjaga pertemanan yang sudah begitu akrab, sehingga tidak akan terjadi kesalah pahaman.

Maksudnya jika seseorang mempunyai kawan yang sudah demikian akrab dan bahkan  ungkin seperti saudara sendiri, padahal mereka itu beragama nasrani dan saat natal mereka merayakannya, maka  dalam kondisi demikian kalua hanya sekedar mengucapkan selamat kepada mereka tentu juga tidak ada salahnya, toh niaatnya  sekedar untuk menghargai dan  sikpa toleran kepada kawan sendiri, bahkan kalau misalnya tidak mengucapkan selamat,  malah akan terjadi ketidak nayamanan diantara  mereka.

Dengan begitu sesungguhnya semua tindakan kita akan ditentukan oleh niat kita, sebagaimana yang  sduah pernah disampaikan sendiri oleh Rasulullah saw, bahwa segala perbuatan itu sangat tergangung kepada niatnya.  Tentu termasuk juga dalam hal menyikapi perayaan natal yang dirayakan oleh kaum nasrani.  Kita ini berada dan idup di negara Pancasila yang sejak awal sudah kita sadari bahwa kita  berbangsa dan bernegara serta hidup bersama dengan  banyak perbedaan, baik suku, ras, keyakinan,   etnis dan juga agama.

Untuk itu sejak awal kita juga diingatkan untuk tetap memelihara kebersamaan, toleransi  dan sejenisnya agar kita dapat hidup berdampingan dan membangun bersama sama.  Dalam hal yang terkait dengan keduniaan, seperti membangun lingkungan, menjaga kebersihan lingkungan, menjaga keamanan lingkungan dan sejenisnya, kita memang harus secara bersama sama, tanpa memandang agama, kepercayaan, etnis, suku dan lainnya, karena kita semua bangsa Indonesia, bahkan kalua ada orang asing yang juga tinggal di lingkungan kita, seharusnya  ikut serta dalam menjaga keamanan dan  kedamaian tersebut.

Tentu tidak ada bedanya dalam menyikapi upcara  atau peringatan keagamaan lainnya, seperti  Hindu, Budha dan lainnya.  Sesekali waktu ketika kita mempunyai hubungan pertemanan yang sangat bagus dengan orang yang beragam Hindu, misalnya, maka saat mereka merayakan  nyepi, tentu tidak da salahnya kita mengucapkan selamat kepadanya, hanya sekedar untuk menjaga toleransi dan pertemanan  saja, bukan ikut dalam ibadah atau kepercayaan mereka.

Jika sikap tersebut dapat dijalankan dengan sangat baik oleh seluruh elemen bangsa tentu se muanya akan menjadi sangat baik.  Yang terpenting bagi kita dan juga penganut agama lainnya ialah bagaimana kita dapat menjaga iman kita tidak tercemari oleh apapun, karena iman tersebut merupakan modal yang harus kita pelihara dan pertahankan dalam kondisi apapun.  Jika kita diminta untuk mengikuti  prosesi ibadah  mereka, tentu kita harus berani menolaknya dengan cara yang baik pula.  Kita sangat yakin mereka pun  pada saatnya akan mengerti sikap kta tersebut.

Untuk itu mari kita jaga kebersamaan yang selama ini sudah terjaga dengan bagus, dan jangan sampai kita justru merusaknya  dalam  waktu yang  sekejap saja.  Toleransi memang hafrus kita pelihara, namun kita memang harus tahu batsannya, yakni tidak melampaui keyakinan yang kita pegang, karena itulah hak yang paling asasi bagi kita, namun kalua hanya sekedar persoalan pertemanan di dunia dan persoalan lahir saja, kita dapat menyikapinya denganarif tanpa hafrus merendahkan  siapapun.  Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.