BAGAIMANA MENGHADAPI NATAL?

Sudah menjadi tradisi  bagi umat muslim dalam setiap menghadapi peringatan natal yang dilakukan oleh umat nasrani, selalu saja muncul pertentangan dan bukan sekedar perbedaan tentang bagaimana huikumnya mengucapkan selamat natal.  Dan selama itu pula  perbedaan tersebut tidak pernah selesai, karena sebelum perbedaan tersebut menadpatkan penyelesaian yang baik, ternyata peringata natal sudah lewat, dan kemudian peerdebatan tersebut menjadi hilang, dan baru muncul kembali setelah menjelang natal kembali.

Dilohat dari keseriusannya tentu menjadi kurang menukik karena  hal tersebut ramai dibicarakan pada saat menjelang natal saja, selebihnya tidak lagi dianggap penting.  Karena itu akan jauh lebih bagus kalua umat muslim tidak usah membagasnya lagi, cukuplah  diserahkan kepada masing masing orang, toh ucapan tersebut tidak ada implikasinya yang membahayakan iman seseorang.  Pernyataan selamat natal itu tidak ada unsur mengakui keyakinan  umat nasrani, apalagi terkait dengan pengakuan  bahwa nabi Isa atau Yesus itu  sebagai Tuhan dan anak Tuhan.

Untuk urusan iman merka biarlah menjadi urusan mereka, karena  dalam konteks  kehidupan di dunia ini, kita mesti dapat berkomunikasi dan Bersama dengan siapapun juga, termasuk emreka yang menganut kepercayaan nasrani.  Jika mereka kemudian mendapatkan anugerah Tuhan, semacam lulus sekolah, mendapatkan promosi jabatan, atau diangkat menjadi pejabat dan lainnya, boleh dong kita sebagai seorang muslim mengucapkan selamat kepada mereka.

Hubunag baik  memang harus dijaga dalam kehidupan dunia sehingga kebersamaan dan kelestarian hubungan tersebut akan tetap terjaga.  Nah, mengucapkan selamat tersebut juga sebagai wahana untuk menjaga kebersamaan, asalkan memang tidak sampai menyentuh hal hal yang terkait dengan persoalan keimanan.  Tentu akan lain halnya jika kita mengikuti  kebaktian dalam gereja mereka, semacam misa dan lainnya, maka itu sudah masuk dalam wilayah keyakinan.

Namun jika kita emmang tidak ada  alasannya, seperti memang tidak ada kaan yang merayakan natal dan  tidak ada perlunya, sebaiknya kita tidak usah latah mengucapkannya untukl umum, karena  dapat menimbukan salah tafsir dan salah paham.  Sekali lagi  mengucapkan selamat natal bagi kita yang memang mempunyainhubungan yang baik kepada kawan yang kebetulan merayakan natal, maka itu sekedar untuk menghargai pertemanan dan  bukan untuk  mengikuti ibadah mereka, tidak lah mengapa.

Bagi mereka yang melarang dan mengharamkan mengucapkan hari natal ya dipersilahkan untuk menjaganya tetapi tidak perlu kemudian menyalahkan dan mengkafirkan mereka yang mengucapkannya dengan niat untuk menjaga kebersamaan pertemanan dan lainnya.  Karena  dengan tuduhan yang keji semacam itu justru akan menimbulkan ketidak nyamanan bagi umat Islam sendiri, padahal kita juga tahu bahwa masih banyak umat muslim yang mengetahui hokum dan tidak mengharamkan ucapan selamat natal tersebut.

Memang ada yang mengaitkan dengan persoalan keimanan, karena  menurut sejarahnya bahwa kelahiran nabi Isa atau Yesus itu bukan pada tanggal 25 desember.  Dan peringatan 25 desenber tersebut hanya sebagai kelahiran diwa matahari.  Karena itu memberingati natal ialah memperingati  dewa  matahari.  Pendapat demikian juga tidak dilarang asalkan emmang  dapat mempertanggung jawabkannya.  Namun perlu diingat bahwa  orang orang nasrani sesungguhnya sendiri tidak  meyakini bahwa natal itu untuk mempeingati dewa matahari, emlainkan  untuk memperingati  lahirnya nabi Isa atau yang disebut mereka sebagai Yesus.

Kalaupun yang diperingatai oleh umat nasrani tersebut ialah tentang dea matahari itu bukan urusan kita, karena mereka memperingati hari besar agamanya, dan kemudian kita hanya sekedrar mengucapkan selamat atas peringatan etrsebut, lalu apa salahnya.  Apalagi kiota mempunyai niat untuk menjaga perkawanan saja dan tidak sampai kepada keyakinan tentang siapa yang diperingatai tersebut. Tentu sama  saja dengan ketika kita mengucapkan selamat hari nyepi bagi umat Hindu pada saat mereka memperingatinya.

Mari kita  sedikit lebih membuka  hati kita dan juga pikiran kita sehingga tidak mudah menuduh dan  menyempitkan diri dalam berkomunikasi atau berkawan.  Mungkin kalua saat ini kita berada di daerah yang mayoritasnya memang muslim, kita tidak akan mendapatkank kesulitan, tetapi jika kita berada di daerah minoruitas muslim, barang kali kita akan menemukan kesulitan jika kita tidak membika diri dalam pergaulan.  Sekali lagi kita memang harus memberikan batas yang tegas dari hal hal yang terkait dengan keyakinan yang memang tidak dapat ditawar.

Jika kita harus menyelewengkan akidah tentu itu merupakan perbuatan yang melanpaui batas dan tentu semua ulama akan sepakat tentang keharamannya, semeccam mengikuti kegiatan ibadah mereka, atau mengakui tentang keyakinan mereka, atau setidaknya ikut dalam pelaksanaan rangkaian ibadah merka dan lainnya.  Namun kalua hanya sekedar ikut mengucapkan selamat atas perayaan mereka, dan bukan pengakuan atas ibadah mereka dan keyakinan mereka tentu  tidak ada kesepakan ulama untuk melarangnya.

Kalua ada pendapat satu dua yang melarang segala bentuk ucapan selamat tentang perayaan agama lain, maka itu sangat wajar, tetapi tentu tidak semua ulama akan sama pendapatnya, karena  itu hanya wilayah muamalah dan  hubungan  kebersamaan dalam kehidupan  duniawi.  Bahkan mungkin  kalua kita tidak mengucapkan selamat kepada mereka, hubungan perkawanan akan dapat retak atau  mungkin akan semakin menjauhkan  keharmonisan dalam ekhidupan bermasyarakat, maka justru mengucapkan selamat tersebut menjadi lebih bagus.

Untuk menjaga  netralitas kita dan menjaga hubungan kita dengan sesaa muslim, tyerutama  merka yang menghramkannya dan juga menjaga hubungan dengan kawn  yang beragama nasrani, maka kita harus mengambil sikap, yakni jika kita tidak ada tujuan dan kepentingan  dalam mengcapkan selamat natal sebaiknya memang kita tidak perlu mengucapkannya, namun bagi kita yang mempunyai hubungan perkawanan dan keakraban dengan mereka yang nasrani, sebaiknya dalam emngucapkan natal tidak berlebihan, seperti  disertai dengan memakai pakaian sinter klas dan lainnya, melainkan cukuplah hanya sekedar ucapan selamat  dengan niat untuk menjaga perkawanan dalam kehidupan duniawi saja.

Kita juga harus menjaga  diri agar tidak saling serang dan saling mengkafirkan, karena itu  sikap tolerans juga harus dikedepankan untuk menjaga keutuhan kita dan ekkuatan umat muslim.  Kita tahu bahwa kertakan dan saling curiga apalagi saling mengkafirkan dan menuduh sesat, hanya akan menelorkan perpecahan dan kelemahan kita saja.  Perbedaan pendapat tentu merupakan sebuah hal yang wajar dan  bahkan niscaya, karena itu  kita memang harus dapat meredamnya dengan sikap tolerans tersebut.

Jika kita emmang tidak sepakat dengan pendapat ulama lain, maka sebaiknya cukuplah disimpan di dalam hati saja, dan tidak perlu diumbar dan dinyatakan dalam  wilayah umum.  Kita boleh mempertahankan pendapat sejauh kita mayakini dan dapat memberikan argumentasinya.  Kita juga harus mau menerima kenyataan bahwa ada perbedaan  dan kita telah menentukan sikap.  Akan tetapi jika kita kemudian dapat melihat tentang kebenaran  pendapat lainnya,  kita tidak perlu merasa malu dan rasa lainnya untuk segera pindah kepada pendapat yang baru tersebut.

Kita harus mampu menujukkan bahwa umat muslim itu solid, khususnya di hadapan  umat lainnya, karena ini merupakan hal yang penting dan menentukan nasib kita selanjutnya.  Jangan sampai hanya karena   ada peringata natal, lalu kita rebut sendiri dan bahkan pecah dan saling menyikut dan mengkafirkan.  Mari jaga kebersamaan kita dan perkuat jalinan hubungan kita untuk tujuan yang baik.  Semoga kita akan mampu untuk bersikap dengan bijak dalam menghadapi setiap perbedaan yang muncul.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.