HARUS TETAP KUAT

Setiap manusia itu merupakan pemimpin, meskipun hanya dalam level yang terkecil, bahkan hanya bagi dirinya sendiri, karena pada dasarnya setiap perbuatan manuia itu harus dipertanggung jawabkan, baik kepada diri sendiri, kepada mereka yang memberikan amanah kepadanya ataupun  pastinya  kepada Tuhan yang Maha Kuasa.  Karena itulah sangat wajar bilamana nabi Muhammad saw  mengatakan bahwa setiap kalian ialah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan tersebut.

Nah, berbicara mengenai kepemimpinan, pasti di sana ada pihak yang dipimpin, apalagi kalua dalam skala besar, maka pihak yang dipimpina pastilah akan jauh lebih besar dan banyak. Dalam kondisi idealnya memang harus ada komunikasi diantara pemimpin dengan yang dipimpina dan selalu  melakukan koordinasi dan musyawarah untuk melakukan berbagai hal yang strategis.  Karena  kepemimpinan yang seimbang itu ialah jika ada keberhasilan maka itu merupakan keberhasilan bersama dan demikian jug ajika mengalami kegagalan, maka harus ditanggung bersama.

Kalaupun dalam sebuah perusahaan besar sekalipun, jika dikelola dengan menejemen seperti itu, dapat dipastikan akan selalu terjadi  keharmonisan diantara seluruh karyawan dan pimpinan.  Para pekerja diajak  musayawarah mengenai bagaimana mengembangkan  usaha, demikian juga semua pejabat di lingkungan tersebut.  Maksudnya bukan  menjadikan karyawan slevel dengan para pimpinan, namun setidaknya setiap ada langkah strategis yang dilakukan oleh perusahaan, maka sebaiknya diinformasikan kepada seluruh karyawan, sehingga mereka akan mengetahuinya.

Bahkan akan jauh lebih bagus jika semua karyaan juga diberi tahukan bahwa perusahaan tersebut dikelola dengan  kebersamaan, sehingga jika ada keuntungan yang besar, para karyawan pun pastinya akan mendapatkan tambahan penghasilan atau bonus gaji, namun jika perusahaan sedang mengalami kesulitan, diharapkan para karyawan juga ikut perihatain dan bahkan  mungkin ikuit menyumbang untuk kebajikan dan perkembangan perusahaan.

Jika  menemen terbuka dan transparan kepada semua karyawan, dapat dipastikan mereka akan merasakan kenyamanan dan mereka akan sangggup untuk melakukan apapun, demi kemajuan perusahaan.  Itu smeua karena jika perusahaan  berkembang dan maju serta menghasilkan keuntungan yang besar, mereka pulalah yang juga akan menikmatinya.  Namun jika menemennya tertutup dan hanya diketahui oleh para pimpinan semata,  maka  para karyawan tidak akan mau berbuat demikian.

Artinya  jika perusahaan mendapatkan keuntungan besar, toh yang mengetahui dan menikmati hanya para pimpinan dan pemilik semata.  Sedangkan para karyawan masih akan  mendapatkan gaji yang sama. Karena itu  jika perushaan sedang mengalami kesulitan, karyawan tentu tidak mau tahu, karena yang terpenting mereka bekerja dan  menunut hak untuk digaji.  Jadi hubungannya jhanya sebatas  pekerjaan dan sama sekali tidak terjalin hubungan kekeluargaan.

Mayoritas perusahaan dan organisasi yang ada saat ini dimenej dengan  menganut kepemimpinan yang sudah lumrah, dan tidak menganut kepemimpinan yang kekeluargaan, sehingga pada saatnya akan terjadi tuntutan oleh para karyawan atau oleh anggota  demi menuntut kesejahteraan.  Tentu itu merupakan  sesuatu yang sangat wajar, karena mereka bekerja juga menginginkan mendapatkan peningkatan kesejahteraan.  Dalam kondisi seperti itulah pemimpin dituntut untuk mempunyai jiwa yang kuat sehingga tidak mudah jatuh dan atau  emosional dan melakukan  hal yang tidak semestinya.

Namun sekali lagi kekuatan itu  bukanlah terletak pada badan yang kekar atau otot yang begitu kuat, melainkan ada pada cara bagaimana kita  mengelola sesuatu.  Kalaupun badan kita kerempeng dan tampak kurus, lalu mungkin kesehatan kita juga sedang tidak baik, namun kita masih dapat kuat jika cara kita mengelola sesuatu itu sangat baik dan didukung oleh seluruh komponen yang ada.  Bersatunya kekuatan dan hati justru akan jauh lebih dahsyat ketimbang kekuatan badan atau otot yang kita miliki.

Sebagai gambarang saja jika kita mengelola perusahaan dan kita menyewa para satpam yang sangat kuat, namun jika cara kita mengelola perusahaan dengan tidak baik, maka  kita pasti akan menjadi lemah, karena kalau seluruh karyawan sudah bersatu untuk menuntut sesuatu, semisal kenaikan upah, lalu kekuatan yang seperti apa yang mampu membendungnya?  Berapapun satpam dan bahkan kalaupun kemudian mendatangkan pihak keamanan polisi, maka  tetap tidak akan mampu menahan mereka yang sedang berunjuk rasa.

Tentu akan lain jika pengelolaannya dilakukan dengan  sistem kekeluargaan, dimana semua karyawan dianggap sebagai satu keluarga sendiri, sehingga  suka dan duka akan dinikmati bersama.  Artinya jika perusahaan mendapatkan keuntungan besar, maka mereka juga akan mendapatkan tambahan gaji atau tunjungan ataupun bonus.  Namun jika perusahaan sedang sulit, beritahukan kepada mereka agar mereka lebih  bersemangat untuk melakukan pekerjaan dan  mereka tentu juga akan mengerti dan pada saat demikian mereka bukannya  berunjuk rasa untuk menuntut kenaikan gaji, melainkan pasti mereka akan tahu diri dan bahkan mungkin juga akan ikut menyokongnya.

Itulah kekuatan yang dimaksudkan di sini, yakni sebuah kondisi dimana seluruh  pihak ikut bersama  sama dalam merasakan denyut nadinya perusahaan.  Bahkan jika ada  bahaya yang sedang mengancam perusahaan, pastinya para karyawan akan bersama sama membelanya sedemikian rupa, karena perusahaan tersebut sudah seperti miliknya sendiri.  Itu disebabkan kalau perusahaan  kolep, maka dia juga akan ikut terkena dampaknya.

Namun memang benar terkadang kekuatan itu juga  dapat berada di kekuatan hati dan pikiran yang tetap tenang dan berabar pada saat mengalami masalah.  Orang yang kuat itu mestinya tidak akan  mudah terpengaruih oleh apapun, termasuk oleh kerugian yang dialami, melainkan akan tetap tabah dan tenang, sehingga masih akan mampu berpikir dengan jernih.  Kekuatan hati  dan pikiran itulah yang dibtuhkan oleh setiap orang, utamanya yang menjadi pemimpin.  Bagaimana mungkin seorang pemimpin  lalu mudah menyerah atau  mudah emosi  pada saat menghadapi sedikit persoalan.

Dapat dipastikan bahwa jika seorang pemimpijn  menyerah dan tidak mampu berpikir pada saat masalah datang, maka semuanya akan terpengaruh buruk dan  pastinya semua akan menjadi  berantakan.  Padahal masalah tersebut jika dihadapi dengan tenang dan bersabar, akan segera berlalu.  Seorang pemimpin memang dituntut untuk mempunyai hati yang seluas  samudera dan pikiran yang brilian.  Itu semua  dimaksudkan agar kepemimpinan yang sedang dimanahkan kepadanya akan dapat berjalan dengan stabil dan  mampu bertahan hingga sasmpai kepada pulau tujuan.

Tidak ubahnya  sebagai seorng kepala rumah tangga, yang meskipun kepemimpinannya berskop kecil, namun tidak kalah pentingnya untuk mengelola dengan bijak dan baik.  Tidak jarang  bahtera rumah tangga terkadang disapu badai yang begitu dahsyat sehingga akan mampu memporak porandakan seluruh isinya.  Padahal kita tahu  bahwa isi rumah tangga itu hanya teerdiri atas suami, isteri, anak dan mungkin  aissten rumah tangga.  Akan tetapi mengelola  beberap pihak saja terkadang  tidak akan baik jika memang caranya tidak benar.

Meskipun dalam lingkup kecil tersebut, namun tetap diperlukan kekuatan yang hebat untuk menangggulangi segala kemungkinan yang bakal terjadi.  Jika keluarga tersebut dimenej dengan baik sehingga seluruh anak anaknya menjadi baik dan mengetahui hal serta kewajiban masing masing, pastinya itu merupakan sebuah kekuatan tersendiri dan  keluarga tersebut pastinya akan mampu menghadapi badai yang sewaktu waktu datang.

Sebaliknya jika keluarga tersebut dimenej dengan tidak baik, sehingga  anak anaknya  menjadi tidak tahu aturan dan bahkan malahan bergaul dengan anak anak yang tidak jelas, maka  itulah kerapuhan yang sangat mudah tergoncang jika ada sedikit angin yang menyapunya.  Kekuatan itu memang menjadi mutlak harus dimiliki oleh kita agar apapun yang menjadi tanggung jawab kita, akan  dapat kita jalankan dengan baik, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.