ZIARAH KE MAGETAN

Biasanya ketika kita mendengar kata ziarah, maka konotasinya ialah mengunjungi makam, dan lebih khusus lagi ialah mendatangi makam orang terkenal atau wali, karena itulah yang menjadi  pengertian masyarakat kita saat ini.  Hal tersebut disebabkan pada saat ini telah marak wisata religi yang biasanya juga dimonopoli oleh kegiatan mengunjungi makam para wali.  Padahal secara umum kata ziarah tersebut  dapat dimaknai yang lebih umum, yakni mendatangi tempat tertentu dengan tujuan tertentu.

Sudah barang tentu ziarah ke makam para  wali juga termasuk dalam pengertian umum tersebut, akan tetapi termasuk di dalamnya pula ialah jika kita mengunjungi situs atau tempat tempat bersejarah, seprti tempat napak tilas para pejuang atau mendatangi tempat berwisata untuk sekedar menghjibur diri.  Jadi ziarah itu sendiri mempunyai makna yang luas, yakni mengunjungi tempat atau mengunjungi seseorang atau lainnya.  Bahkan mengunjungi kota suci bagi umat muslim, yakni Makkah dan Madinah juga  termasuk dalam pengertian ziarah.

Lalu ketika kita mengetahui ada tempat bersejarah yang terkait dengan perkembangan Islam misalnya, maka  saat kita  mengunjunginya, itu juga termasuk pengertian ziarah.  Sebagai contoh ketika kita mengunjungi masjid al-Aqsha di Palestina, atau mengunjungi negara Turkey lalu mampir ke  bekas kerajaan Islam dan juga masjid Biru, itu juga  bernama ziarah.  Bahkan ketika kita mengunjungi tempat yang sama sekali tidak berkaitan dengan perkembangan Islam pun juga dapat disebut sebagai ziarah, seperti ketika kita mengunjungi Pagoda di Thailand dan lainnya.

Kalau kita bertempat tinggal jauh dari orang tua atau dari tempat kelahiran kita, maka  suatu saat kita mengunjungi keluarga, orang tua dan para saudara di kampung tersebut, itu juga termasuk dalam pengertian ziarah.  Jadi kebiasaan dan hanya mengkhususkan pengertian ziarah hanya pada  makam saja itu berarti telah mereduksi makna ziarah yang sebenarnya.  Barangkali karena saat ini banyak umat muslim, mulai dari majlis dzikir di RT atau  majlis ta’lim di sebuah kampung lalu mengadakan ziarah ke makam para wali, itulah yang kemudian membentuk pengertian  di masyarakat bahwa ziarah ialah sebagaimana yang mereka pahami.

Nah, karena itu  menjadi tidak asing jika  kita  juga menyebut ziarah saatn kita mengunjungi tempat wisata atau tempat berbelanja yang merupakan sentra kerajinan masyarakat setempat. Kebetulan  pada saat saya sedang berdinas  melaksanakan tugas  dan bertempat di Karanganyar, tepatnya di Tawangmangu, kemudian ada kesempatan ziarah ke sentral kerajinann kulit di Magetan Jawa Timur.  Ziarah yang  saya maksudkan tentu  untuk mengunjungi dan sekaligus  ingin mengetahui  hasil hasil kerajinan kulit di sana dan  sekaligus jika memungkinkan untuk membeli sebagian hasil tersebut.

Alhamdu lillah pada kenyataannya saya dan kawan kawan  dapat mengunjungi  Magetan dan sekaligus juga menyaksikan hasil kerajinan masyarakat di sana.  Sungguh membanggakan sekali sebagai sesama warga bangsa yang mampu menghaqsilkan barang jadi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, bukan saja masyarakat Indonesia, melainkan juga masyarakat manca negara.  Barang barang kerajinan yang khusus  terbuat dari kulit lembu tersebut dapat berupa  sepatu atau sandal, sabuk, tas, dompet dan lainnya.

Soal harganya juga relatif terjangkau sehingga bagaimanapun kunjungan dan ziarah ke Magetan tersebut  akan menghasilkan kenangan tersendiri, khususnya  oleh oleh kerajinan yang cukjup membanggakan.  Barangkali dengan melihat secara ;lanysng kerajinan tersebut, kita  boleh menyarankan kepada masyarakat di tempat lain untuk juga mampu menciptakan  karya yang tidak kalah  dengan masyarakat Magetan atau mungkin di Cibaduyut Bandung.

Beberapa waktu yang lalu di kampus  kita Uin Walisongo telah dipraktekkan bagaimana menjadikan sampah yang biasa disia siakan atau bahkan dibakar, kemudian ternyata dapat diolah menjadi barang jadi kerajinan, seprti untuk tas, dompet, bunga dan bahkan pakaian yang sangat indah.  Nah,  jika kemudian hal tersebut dilanjutkan dan ada pihak pihak yang peduli dengan pengolahan sampah tersebut, dapat dipastikan  akan menghasilkan  nilai ekonomi yang tidak sedikit.

Inspirasi untuk selalu melakukan upaya  dan inovasi memang harus terus digelorakan, sebaba tanpa  usaha untuk terus mengembangkan dan berinovasi, maka kita akan mandeg dan jalan di tempat.  Tuhan tentu  tela memberikan  bekal orak, pikiran dan hati seerta kemauan kepada kita. Persoalannya ialah apakah kita  mampu  mengembangkan  potensi tersebut dan mewujudkannya dalam bentuk karya nyata.  Berdasarkan ilham  tentang  kerya kerajinan tersebut kita berharap akan muncul banyak anak Indonesia yang dapat menghasilkan karya nyatanya.

Barangkali kita perlu  mengajak ziarah kepada anak anak muda kita yang memang sedang mencari jati diri mereka, apoakah ingin  terus menganggur ataukah ingin berkarya.  Kalau tidak ada bimbingan dan juga contih, barangkali  inspirasi mereka tidak akan muncul ke permukaan dan akhirnya mereka akan jumud.  Namun jika  diberikan  pancingan pancingan,  baik melalui  kunjungan atau ziarah ke tempat tempat orang orang berkarya ataupun dengan memberikan pompaan semangat melalui  motivasi, insyaallah akan muncul juga keinginan mereka untuk berkarya.

Karena itu ziarah menjadi  penting dan bahkan mungkin merupakan hal yang niscaya untuk memunculkan  ghirah dan inspirasi bagi  mereka yang  mempunyai potensi untuk dikembangkan.  Kita harus yakin bahwa  pada dasarnya anak anak kita  mampu untuk berbuat yang terbaik, hanya saja perlu diberikan kesempatan dan kepercayaan, sehingga mereka mau mencoba dan terus mencoba.  Kita  tidak boleh memberikan harapan kepada mereka  tentang jabatan atau  menjadi PNS dan sejeinsnya, karena itu hanya akan membuat mereka semakin tidak mempunyai semangat.

Ziarah, dalam hal ini ke Magetan ternyata memang mempunytai arti yang  sangat penting, wabil khusus terkait dengan bagaimana kita  mendorong agar generasi muda kita tidak hanya  mengidolakan kerja kantoran  yang  peluangnya sangat tipis dan hanya  menghadsilkan generasi yang terus berangan angan tetapi tidak segera melakukan sesuatu, melainkan mereka tidak perlu menunda nunda  untuk menghasilkan  sesuatu.  Melakukan  kerja nayata seperti  dalam bentuk kerajinan seperti di Magetan adalah salah satu solusi penting untuk tetap memberikan  kepercayaan bagi generasi muda kita.

Wisata ziarah yang saya lakukan kali ini, yakni ke  Magetan Jawa Timur ternyata sungguh luar biasa membrikan  minat untuk bagaimana membangkitkan para remaja kita dalam berusaha nyata dan bukan terus menerus hanya berangan angan. Saya juga menganjurkan kepada  banyak orang untuk  sering melakukan ziarah ke berbagai tempat kerajinan, termasuk kerajinan ukir di Jepara atau kerajinan lainnya sebagaimana di Magetan ataupun di Cibaduyut atau di Surabaya di bekas lokalisasi  Gang Dolly yang saat ini sudah berubah menjadi sentra kerajinan masyarakat.

Jika niat sudah terpeteri dan semangat sudah menyuala, maka persoalan modal akan dapat dicarikan jalan keluarnya dengan mudah.  Kita sangat percaya bahwa  dunia perbankan kita akan support kepada kegiatan yang bermanfaat bagi generasi muda dan masyarakat secara umum.  Untuk itu sekali lagi mari kita galakkan ziarah, bukan saja  ziarah ke makam yang tentu juga ada manfaatnya dan juga akan membantu  perbaikan ekonomi masyarakat setempat, tetapi ziarah yang akan memunculkan ghirah untuk melakukan sesuatu untuk masa depan mereka. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.