PEREMPUAN PEREMPUAN YANG TERLUPAKAN

Rabu kemarin   UIN Walisongo bekerjasama dengan  Direktorat pendidikan tinggi Islam kementerian Agama menggelar seminar dengan topik Reinventing gerakan sosial intelektual ulama perempuan nusantara.  Seminar tersebut tentu sangat menarik karena menemukan kembali peran peran strategis perempuan  di nusantara  dalam membangunkan anak bangsa, bahkan jauh sebelum Indonesia meredeka.

Mungkin kita secara mayoritas kurang memperhatikan pesoalan peran perempuan tersebut, karena terkalahkan oleh para ulama dan pejuang laki laki yang mendominasi peran peran tersebut.  Padahal kita sangat yakin bahwa tanpa peran perempuan pastil;ah tidak akan muncul tokoh tokoh besar yang pernah dilahirkan oleh Indonesia.  Mungkin kita hanya mengenal ibu Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Din, dan sedikit sekali nama perempuan yang masuk dalam sejarah dan dipelajari oleh murid murid di sekolah bahkan hingga perguruan tinggi.

Kesadaran untuk mengangkat dan menemukan kembali peran perempuan nusantara tentu sangat bagus, namun bukan hanya berhenti di seminar semata, melainkan harus ada keinginan dan kebijakan untuk menemukan mereka melalui penelitian ilmiah sehingga pada saatnya dapat dipertanggung jawabkan serta dibukukan.  Kita memang miskin dengan informasi mengenai peran ulama perempuan di nusantara, bahkan juga di dunia Islam, karena memang kita menganut paternasitik, sehingga peran laki lakilah yang ditonjolkan.

Dalam dunia periwayatan hadis  saya juga menemukan betapa minimnya peran perempuan dalam meriwayatkan hadis Nabi Muhammad saw.  Mungkin hanya di kalangan sahabat saja kita mengetahuinya, padahal kita yakin bahwa pastilah banyak perempuan yang ikut menyebarkan hadis Nabi tersebut, namun karena perhatian para penulis yang menganut aliran paternalistik tersebut, pada akhirnya hanya peran laki lakilah yang selalu ditulis.

Namun  kalau kemudian kita serius untuk menemukan perempuan dalam periwayatan hadis ternyata kita dapat menemukannya, meskipun informasinya memang sangat sedikit, tetapi bukan berarti tidak ada.  Jika kemudian kita juga ikut ikutan dalam memosisikan perempuan dalam peran domestik saja, pastilah perempuan perempuan tersebut akan semakin tenggelam dan tidak pernah muncul ke permukaan.  Untuk itu memang dibutuhkan keikutserataan tangan kita untuk menggali dan membuat kebijakan menemukan kembali peran peempuan tersebut.

Kita tahu bahwa nusantara itu begitu luas, bentangannya dari Aceh di ujung barat sampai ke Meraoke di belahan Timur, dan  dapat dipastikan bahwa  banyak perempuan yang sangat berperan dalam membangkitkan semangat umat untuk mengembangkan diri baik melalui pencapaian ilmu pengetahuan,  atatupun  peran mereka di masyarakat dalam bidang soaial dan lainnya.  Namun keyakinan tersebut memanag harus kita buktikan melalui penemuan informasi yang valid mengenai siapa dan dimana mereka itu berada.

Kalau pada zaman dahulu sebelum abad ke 19 salah seorang perempuan yang sudah sangat kita kenal, yakni R A Kartini  sudah memiliki pemikiran yang begitu hebat, meskipun harus tunduk dengan tradisi saat itu, makanya  kita menjadi sangat yakin bahwa masih banyak perempuan lainnya yang juga mempunyai pikiran cemerlang seperti Kartini.  Kartini dikenal melalui tulisan tulisannya yang ditujukan kepada para sahabatnya yang berada di Belanda dan kump[ulan tulisan tersebut kemudian diberi judul Habis gelap terbitlah terang.

Kartini saat ini  memberontak, meskip[un hanya melalui tulisan, karena tradisi yang tidak emmungkinkan  beliai memberontah melalui kegiatan fisik, akan tetapi semangatnya begitu menyala untuk mengentaskan kaumnya dari ketertindasan dan  keterpurukan serta kebodohan.  Seolah perempuan saat itu tidak ada harganya dan hanya menerima nasib untuk menjadi pihak yang harus berperan domestik semata.

Dalam pandangan Islam, dan tentu Kartini juga tahu, karena beliau juga mengaji kepada guru ngaji yang mumpuni seperti K Sholeh Darat  sehingga beliau tahu  sesungguhnya secara substantif kaum perempuan juga mempunyai hak yang sama dengan kaum laki laki dalam mencari ilmu pengetahuan, dalam beribadah, dan dalam peran dakwah  serta lainnya.  Berbekal dengan pengetahuannya tersebut kartini selalu saja  mengutarakan keinginannya melalui surat surat yang rajin beliau tulis untuk ditujukan kepada para sahabatnya.

Nah,  Kartini  hanya mewakili  suara batin para perempuan di negeri ini untuk menyatakan p[endapat dan menggugah semua orang  untuk dapat mengubah pandangan mereka tentang perempuan.  Hampir di setiap daerah dapat dipastikan  ada perempuan hebat yang berperan mencerdaskan anak anak di sekitarnya, hanya saja sekali lagi  amat disayangkan p[eran peran mereka tidak dicatat sehingga kita tidak mengetahuinya.

Namun kita juga yakin bahwa catatan  di lokal atau daerah asal perempuan tersebut pasti  masih dan kita  akan dapat menggalinya, namun sangat mungkin juga  hanya  sepintas saja dan tidak komplit.  Mungkin kita juga dapat menggalinya di perpustakaan Belanda yang tentu akan lebih komplit informasinya, karena semua koran pada zaman itu tersuimpan dengan rapi di sana.  Karena itu dibutuhkan kepedulian kita untuk menemukan kembali khazanah tokoh perempuan yang sangat berpengaruh di lingkungan mereka masing masing.

Untuk menuju ke sana sudah barang tentu dibutuhkan keberpihakan kita dan  pihak yang mempunyai otoritas untuk mendukung secara nyata pencarian tersebut melalui penelitian ilmiah dan mungkin juga berseri, agar dapat disuguhkan  laporan yang  menggambarkan secara nyata keadaan tokoh perempuan tersebut pada zamannya.  Penelitian tersebut akan menjadi kenyataan jika ada keseriusan para penelitinya dan sekaligus penyndang dananya.

Dalam hal ini kementerian agama dapat menentukan tema tentang tokoh peremmpuan di nusantara yang santat berpengaruh pada zamannya dan itu diwajibkan bagi setiap PTKIN.  Tentu disamping kementerian agama, dalam hal ini diktis dapat pula melakukan penganggaran kompetetif yang diperuntukkan bagi semua dosen yang berminat untuk meneliti peran tokoh perempuan  di nusantara dengan kemungkinan melakukannya di Belanda  dan di Indonesia.

Kita juga dapat mencari kebenaran tentang para tokoh perempuan yang diakui sebagai berpengaruh di dfaerahnya, walaupun banyak yang kenganggapnya hanya sebagai tokoh fiktif dan bahkan hanya dianggap sebagai mitos semata.  Beberapa tokoh penting di jawa misalnya juga diyakini telah berhasil mengubah zamannya, seprti certia tentang Ratu Kalinyamat di Jepara atau  yang lainnya.  Demikian juga kita  dapat menggali dan menemukan informasi tentang isteri para tokoh dan pejuang sepeerti ibu Nyai Wahid Hasyim yang tentu  mempunyai peran yang sentral bagi pengembangan anak anaknya. Di Kudus mungkin perlu juga ditelusuri jejak nyai Asnawi yang kita yakin pasti mempunyai peran penting dalam Pendidikan anak anak di sekitar tempat tinggalnya.

Kesadaran untuk menemukan kembali peran para ulama perempuan di nesantara tentu harus dipandang sebagai sebuah kemajuan dan keberanian untuk mendudukkan persoalan pada saat ini, khususnya yang menyangkut perempuan.  Selama ini kita telah berdosa karena  meninggalkan dan tidak menganggap penting peran perempuan dalam kehidupan kita, padahal peran mereka sangat sentral, bahkan di dalam Isl;am sendiri dikatakan bahwa surge itu terletak di bawah kaki seorang ibu.

Sekali kita berniat dan membahas isu tentang peran ulama perempuan, maka kita tidak boleh berhenti dan  kembali lagi kepada tyradisi lama.  Untuk itu kita memang harus terus bersaha dengan berbagai cara yang memungkinkan untuk menemukan itu sembari kita terus membenahi system yang ada di kita agar ke depannya  perempuan akan lebih mendapatkan perhatian dalam sepak terjang mereka, baik di alam peran domestuiknya maupun peran publiknya. semoga

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.