MA’HAD MAHASISWA

Sesungguhnya ma’had mahasiswa itu  bukan lagi merupakan hal yang aneh, karena saat ini hampir seluruh perguruan tinggi islam menginginkannya, setidaknya  meskipun masih dalam mimpi.  Itu disebabkan  para pengelola perguruan tinggi tersebut  mengetahui secara lebih baik bahwa  mahasiswa itu akan jauh lebih baik dan berkualitas, jika ditempatkan di ma’had yang memang khusus diperuntukkan bagi mahasiswa.  Harapannya mereka akan  dapat belajar secara terfokus dan sekaligus juga  akan mudah membniasakan diri melakukan atau mempraktekkan amalan baik yang diketahuinya.

Pembiasaan akhlak baik dan amalan bai tersbeut  dalam bahaa saat ini biasa disebut sebagai pendidikan karakter.  Memang jika membiasakan hal hal baik tersebut dilakukan di luar ma’had, seprti di rumah sendiri atau di kos kosan, tentu akan sangat berat, bahkan mungkin akan mudah tergerus dan akhirnya tidak berhasil.  Namun jika hal tersebut dilakukan di ma’had yang memang  kegiatan setiap saatnya ya memang melakukan hal hal baik tersebut seperti shalat berjamaah dalam stiap shalat maktubah, laliu juga dibiasakan untuk menjalani shalat malam, berdzikir, baca kitab suci dan kajian kitab lainnya.

Kta pun dengan mudah akan dapat membenarkan kondisi tersebut, misalnya saja saat kita menjalani shalat maktubah, jika sedang sendirian dan dilakukan di rumah, maka  akan terasa sangat berat untuk sekaligus menjalankan shalat rawatib atau shalat sunnah yang mengirinya, sebelum atau sesudahnya.  Namun akan berbeda kondisinya jika kita sedang menjalankannya di masjid bersama dengan banyak orang.  Di masjid kita akan dengan mudah melakukan shalat sunnah tersebut, enath itu didorong oleh suasana masjid ataupun  mungkin karena yang lainnya.

Sejujurnya pada saat ini para mahasiswa, tidak terkecuali mereka yang studi di kampus kampus Islam, masih banyak yang belum mampu membaca kitab suci dengan baik, apalagi kalau harus membaca kitab gundul, sehingga akan sangat sulit bagi mereka untuk membaca buku buku referensi yang berbahasa asing.  Nah, kondisi tersebut mengharuskan kepada kita untuk memberikan sarana kepada mereka untuk dapat menyesuaikan diri dengan kawan kawannya yang sudah mempunyai basis yang cukup kuat dalam hal pemahaman keagamaan.

Kita juga tidak bisa menutup mata dengan menurunnya  para mahasiswa dalam berbagai hal, termasuk penguasaan keilmuan  dasar keislaman,  bahasa dan  mungkin malahan dalam bidang moral.  Karena itu perguruan tinggi yang seharusnya tinggal mengembangkan kemampuan mereka, harus memulai dari awal sekali  dalam hal pemberian modal dasar keaagamaan bagi mereka.  Bahkan kalau kita lihat kenyataannya hampir semua mahasiswa belum mampu membaca  atau menguasa referensi yang berbahasa asing.

Ini sesungguhnya sangat memperihatinkan karena  di perguruan tinggi masih harus mengajarkan sesuatu yang dasar, termasuk tulis baca alquran.  Apalagi kita juga tahu bahwa pada saat ini input mahasiswa kita, khususnya di UIN  bukan saja dari lulusan madrasah aliyah, melainkan banyak diantara mereka yang lulusan SMA dan juga SMK.  Kalau dari MA sekalipun  masih ada yang belum baik membaca kitab sucinya, apalagi kalau harus membaca referensi dalam bahasa asing tersebut.

Dalam kondisi seeprti itu tentu para pengelola p[erguruan tinggi akan dipusingkan dengan bagaimana cara untuk mampu memberikan yang terbaik bagi para mahasiswanya.  Kalau kita memulainya dari awal termasuk memberikan pelajaran  tentang tulis baca alquran, tentu akan banyak hal yang  harus ditinggalkan, karena  harus memberikan dasar kep[ada mereka dalam hal  baca tulis alquran.  Namun jika  mereka kita tinggalkan dan  terus beranjak untuk [engembangan keilmuan,  sangat mungkin kita nanti akan menyaksikan  ada alumni  dari sebuah UIN yang  tidak mampu baca tulis alquran dengan baik.

Untuk itulah ma’had menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan bahkan merupakan solusi yang  dapat diharapkan.  Meskipun ada beberapa syarat agar ma’had dapat berfungsi, salah satunya ialah adanya kiyai, namun sesungguhnya  itu menjadi mudah jika  bangunan yang diperuntukkan  bagi ma’had sudah ada.  Persoalan kurikulum dan  kelengkapan lainnya  akan dapat dilakukan  secara bertahap, karena fungsi utama ma’had memang sebagai wahana untuk menggodok mahasiswa santri dalam membekali haidupnya.

Dahulu kita memang  sangat asing dengan istilah ma’had mahasiswa, karena  ma’had  yang biasa diterjemahkan dengan pondok pesantren tersebut  merupakan tempat santri dalam kesehariannya, baik dalam kipraahnya sebagai murid  di sebuah madrasah maupun sebagai santri  dalam menempuh tirakat untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.  Dengan begitu sesungguhnya  pesantren atau ma’had itu jauh dari kehidupan mahasiswa, karena biasanya mahasiswa kehidupannya berbeda dengan santri itu sendiri.  Kalaupun pada masa yang lalu mahasiswa yang masih di pesantren dan menjadi santri, itu hanya  beberapa saja dengan alasan tertentu.

Namun saat ini justru keberadaan ma’had justru  menjadi salah satu solusi mengatasi berbagai masalah mendasar sebagaimana disebutkan di atas.  Jadilah saat ini kita dapat menyaksikan  ada pesantren yang memang didesain untuk menampung para mahasiswa, baik yang didirikan di dalam kampus maupun  yang berada di luar kampus.  Fungsi keduanya sama yakni ingin memberikan pembelajaran dan pendidikan kepada para mahasiwa yang nyantri agar mereka mempunyai kepribadain yang tangguh, mempunyai karakter yang kuat untuk menempuh dan menjalani kehidupan duniawi yang begitu kompetetif.

Kenyataannya kita dapat melihat bahwa para mahasiswa yang tinggal di ma’had akan jauh lebih  pandai ketimbang mereka yang  di luar  ma’had.  Itu disebabkan di dalam ma;had m,ereka  dilatih dalam hal bahasa juga kitab kuning dan bagaimana  menghadapi masalah. Disamping itu sudah barang tentu akhlak mereka yang di ma’had dapat dipastikan akan lebih bagus ketimbang yang berada di luar.  Dalam hal pengamalan  ajaran agama, mereka yang di dalam juga  akan lebih bagus dibanding yang berada di luar, karena  situasi dan kondisi di ma’had lah yang menyebabkannya.

Tentun kita tidak lagi membayangkan bagaimana kondisi riil di pesantren mahasiswa tersebut yang jorok, kotor dan  banyak yang berpenyakit kulit atau gudikan.  Saam  sekali pemandangan tersebut tidak terlihat di ma’had karena persoalan kebersihan sudah menjadi tuntutan dan sebutan santri gudik tersebuit juga sudah memicu persoalan, sehingga  saat ini  di hampir seluruh pesantren, apalagi pesantren mahasiswa sudah tidak lagi identik dnegan gudik tersebut.  Tentu hal tersebut merupakan salah satu kebanggan kita karena sudah mampu mengubah imej buruk pada pesantren yang selama ini terus melekat di pesantren.

Sekali lagi ma’had memang  menjadi sebuah keniscayaan, bagi perguruan tinggi Islam apalagi yang membuka program studi kajian keislaman di dalamnya.  Bagi perguruan tinggi yang belummampu merealisasikan ma’had tersebut tentu dapat bekerja sama dengan pesntren yang ada, meskipun tentu tidak akan maksimal, karena desainnya harus mengikuti kiyai yang mempunyai pesantren tersebut.  Namun  secara umum tentu akan  lebih baik ketimbang sama sekali dibiarkan tidak berada di pesantren, karena pasti ketertinggalannya dalam bidang ilmu agama tersebut  akan tidak terkejar.

Semoga kita  mampu  mewujudkan mimpi indah tersebut, yakni mengantarkan para mahasiswa untuk mampu menguasai ilmu yang memang dikaji di dalam perguruan tinggi dengan maksimal.  Persoalan ma’had secara formal memang tidak emnjadi sayarat bagi sberdirinya sebuah perguruan tinggi Islam, akan tetapi secara riil jika menginginkan lulusannya  berkualitas, pastilah ma’had menjadi salah satu syaratnya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.