MENYAMBUT BULAN MAULID

Bagi umat muslim, khususnya di Indonesia, bulan maulid merupakan bulan yang sangat menyenangkan karena kita diingatkan kepada sebuah peristiwa agung yang pernah terjadi di dunia yakni kelahiran seorang anak manusia yang begitu heboh, Muhammad saw  yang di kemudian hari  menjadi Nabi dan Rasul dan mengubah dunia.  Bagi umat muslim sendiri kelahiran Nabi merupakan  kecerahan hidup setelah sebelumnya tentu berada dalam kegelapan Jahiliyyah.

Bagi kaum ahli sunnah bahkan dimana pun berada tentu juga  akan  menjadikan bulan ini sebagai bulan mulia, yakni dengan memperbanyak membacakan shalawat kepada baginda Nabi Muhammad saw, meskipun ada yang mengharamkan dan mengatakan itu perbuatan bid’ah.  Biarlah mereka mengatakan apapun tetapi banyak  argumentasi yang dapat dijadikan pegangan sehingga kemantapan umat muslim tersebut tidak akan pernah tergoyahkan.

Bahkan Allah swt sendiri secara tegas  menyatakan bahwa  Sesungguhnya Allah dan para  malaikat Nya  bershalawat kepada Nabi, karena itu wahai umat muslim hendaklah kalian  m,embacakan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw tersebut.  Perintah tersebut snagat jelas dan ditujukan kepada semua umat beriman agar  banyak membaca shalawat.  Bahkan  sebagaimana kita tahu saat ini setiap muslim pasti akan membacakan shalawat yakni pada saat menjalankan shalat.

Kalaupun misalnya tidak ada ayat tersebut kita masih mempunyai pegangan yang cukup kuat, sebab salah satu hadis Nabi riwayat imam Turmudzi menyatakan bahwa rasulullah saw, pernah  bersabda bahwa siapapun yang cinta kepada saya (Nabi) maka dia akan bersama  denganku  dalam surga.  Pernyataan tersebut mengadung arti yang sangat mudah dipahami yakni siapapun yang mencintai Nabi secara tulus dan benar maka   pasti akan ebrsama beliau masuk dalam surga.

Persoalan selanjutnya ialah tentang makna cinta tersebut, apakah cinta itu cukup hanya diucapkan dalam lisan? Ataukah harus dibuktikan dalam perbuatan keseharian?  Kalau keduanya dilakukan, yakni disamping diungkapkan  juga sekaligus dilakasnakan dalam bentuk perbuatan, maka itulah yang terbaik dan meyakinkan.  Lantas pertanyaan selanjutnya ialah perbuatan apa yang dapat dikategorikan sebagai bentuk cinta kepada Nabi?  Tentu banyak sekali  jika diuraikan karena masing masing orang tentu mempunyai ekspresi masing masing.

Salah satu bentuk cinta ialah menyukai apapun yang disukai yang dicintai dan sekaligus mau berkorban untuk yang dicintai.  Jika kita mengetahui bahwa nabi Muhammad saw sangat menyukai shalat tahajjud misalnya, maka sebagai umatnya yang mencintainya pasti kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menjalankannya.  Demikian pula Nabi akan senantiasa memberikan sesuatu yang dipunyainya  kepada mereka yang membutuhkan.  Lalu sebagai umatnya yang mencintai beliau, pasti kita harus mampu berbuat sebagaimana yang dilakukan olehnya.

Cinta akan memungkinkan orang yang mencintai akan mampu berkorban dan melakukan apapun dmei yang dicintainya.  Nah, kalau Rasul yang kita cintai itu  menyukai  berbagai amalan yang baik, lalu  bagaimana dengan kita yang mencintainya.  Sudah secara otomatis kita akan mampu melakukan perbuatan baik tersebut, walaupun mungkin sangat berat.  Itulah salah satu bentuk dan tanda cinta kita kepada nabi yang harus kita buktikan dalam kenyataan, dan bukan hanya sekedar pengakuan secara lisan.

Ekspresi cinta  juga dapat melahirkan sesuatu yang baik untuk disampaikan kepada yang dicintai, karena itu jika kemudian kita yang mencintai Nabi melakukan kegiatan atau memperingati hari kelahiran beliau tentu itu merupakan sebuah kebaikan yang merupakan salah satu ekspresi cinta tersebut.  Apalagi kalau kemudian kita selalu membacakan shalawat kepada beliau, pastinya  cinta kita akan semakin subur bersamaan dengan  sikpa dan perbuatan kita tersebut.

Kita sama sekali tidak heran ketika menyaksikan betapa antusiasnya masyarakat muslim di Indonesia yang   selalu membacakan shalawat pada malam malam bulan maulid, setidaknya mulai tanggal satu hingga tanggal 12, karena  menurut riwayat bahwa Nabi Muhammad saw dilahirkan pada  tanggal tersebut.  Peringatan Maulid Nabi memang dapat dirayakan dengan berbagai kegiatan, yang salah satunya ialah dengan membacakan shalawat atau membacakan  sejarah beliau dan kemudian juga dapat diisi dengan ceramah agama untuk memberikan peringatan bagi umat agar mencontoh diri Rasul.

Biasanya  masyarakat kita akan membaca buku yang telah ditulis oleh para ulama terdahulu mengenai sepak terjang baliau, ada sebagiannya yang membaca kitab Diba’, ada yang berzanji dan lainnya.  Bahkan  tidak jarang yang kemudian juga dibarengi dengan memukul rebana untuk mengiringi shalawat tersebut.  Barangkali di situlah kemudian muncul pendapat yang melarang  memepringati Maulid dan bahkan dianggap sebagai sebuah bid’ah, karena rasul tidak pernah melakukannya.

Seharusnya umat muslim tidak mudah untuk menuduhkan sesuatu kepada sesama muslim, karena  apa yang dilakukan tersebut sesungguhnya justru untuk menghormati dan merupakan  ungkapan cinta kep[ada nabinya.  Keyakinan umat sudah begitu kuat bahwa shalawatan dan maulidan itu merupakan sesuatu yang baik dan hormat kepada nabi.  Karena itu meskipun banyak bahkan ribuan orang yang mengatakan itu bid’ad dan dilarang, mereka sama sekali tidak akan terpengaruh.

Apalagi  mereka juga tahu bahwa para ulama  dan bahkan konon para wali juga melakukan hal yang sama. Lalu kekuartan apakah yang akan mampu menghentikan merkeka itu?  Pastinya tidak akan pernah berhasil dan justru semakin hari akan smakin banyak umat muslim yang melakukan hal tersebut.  Saat ini bahkan  bershalawat etrsebut sudah menjadi trend bagi amsyarakat secara umum, bahkan tidak hanya pada saat memperingati maulid saja.

Saat ini kita sudah berada  di awal bulan Maulid atau Rabiul awal dan sebentar lagi sudah masuk ke puncak bulan Maulid, yakni tanggal dua belas.  Sudah barang pasti persiapan masyarakat untuk memasukinya  telah dilakukan sedemikian rupa sehingga kita dapat merasakannya.  Betapa tidfak kalau setiap malam kita sudah emndengarkan pembacaan Diba’ dan bbarzanji di setiap masjid dan mushalla,  smeuanya itu dilakukan dalam  ranghkan untuk memperingati bulan Maulid dan kelahiran nabi Muhammad saw yang  puncaknya akan terjadi pada tanggal dua belas nanti.

Persiapan untuk memperingati  mauled Nabi etrsebut  memang tidak dianggap sebagai mengada ada, melainkan memang sudah terbiasa  setiap tahunnya, sehingga tidak akan merepotkan siapaun, walaupun setiap malamnya  selalu saja ada makanan dan minuman bagi mereka yang membaca shalawat  kepada nabi Muhammad saw.  Masyarakat secara  suka rela dan bahkan bergantian untuk menyajikan makanan dan minuman sesuai dengan kekuatan masing masing.

Nah, saat nanti mencpai puncaknya, kita pasti dapat membayangkan betapa masyarakat  antusias untuk  mendatangi tempat tempat  peringatan mauled nabi tersebut dan sekaligus juga membawa makanan dan minuman yang mungkin  dipersiapkan secara special.  Bahkan di sebagian  daerah ada yang  semacam mewajibkan bagi setiap keluiarga untuk membawa  ayam utuh, dalam bahasa kampungnya ialah ingkung untuk disantap secara bersama sama.

Memang sungguh mengasyikkan ketika kita masih mampu bergabung dan melakukan itu semua, karena saat itulah kita tidak akan diributkan oleh persoalan politik, mungkin juga ekonomi dan juga persoalan hutang.  Semuanya menyatu dalam kebahagiaan untuk menyambut peringatan mauled Nabi yang sangat dicintai oleh mereka.  Bahkan keasyikannya melabihi pada saat merayakan idul fitri.  Namun tidak semua daerah  melakukan hal yang sama, karena ada yang melakukannya dengan sangat sederhana dan cukup dengan hidangan  makanan ringan dan minuman.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.