KREATIF

Secara riil kita semua memahami betapa pentingnya penampian, karena kita sendiri juga sering tergiur dengan penampilan ketimbang isinya.  Lebih lebih jika itu merupakan produk makanan ataupun minuman, karena biasanya orang akan melihat penampuilan ketimbang isinya.  Jika kita memasarkan sebuah produk makanan dengan cara yang bagus  dan kemasana yang bagus pula, maka  untuk pertama kalinya orang pasti akan lebih memilih dan melirik pada produk yang baik.

Namun jika kemudian setelah merasakan isinya ternyata kurang enak, narulah orang tersebut akan mengatakan komentar yang kurang bagus, dan mungkin pada waktu yang akan datang tidak akan membelinya kembali.  Untuk itu disamping penampilan yang bagus, isinya juga  harus diupayakan bagus dan enak.  Namun jika kita hanya mementingkan isinya saja, snagat mungkin  makanan yang kita jual tidak akan dilirik orang.  Karena itu yang terbaik ialah bagaimana kita membuat sebuah produk yang bagus dan sekaligus dapat ditampilakn dengan bagus pula.

Sebagai contoh jika kita membuat makanan dari singkong, lalu digoreng sebagai kripik dengan bumbu yang baik dan rasanya sangat lezat, tetapi penjualannya hanya  dengan dimasukkan ke dalam plastik begitu saja, pastilah tidak akan menarik orang untuk mencicipi dan membelinya.  Namun kalau kemudian disajikan dala plastik yang diberikan merk dan rapi, pastinya orang akan tertarik untuk membelinya, apalagi kalau kemudian ternyata rasanya sangat lezat, maka mereka akan membelinya kembali.

Memang akan lain jika  tujuan penyajian tersebut untuk menusia dengan kalau untuk Tuhan.  Artinya jika kita menjalankan kewajiban shalat mislanya, maka penampilan kita tidak harus dengan memakai jas, dasi dan necis, karena Tuhan itu tidak sama dengan manusia.  Hal yanbg diperntingkan oleh Tuhan ialah bagaimana kita dapat menjalankan kewajiban dengan memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan, semisal memakai pakaian yang bersih, menutup aurat, dan disesuaikan dengan  kemampuan masing masing orang.

Artinya jika orang tersebut memiliki  pakaian yang bagus, sebaiknya memang memakainya dan jika memang tidak mempunyai pakaian yang bagus, cukuplah dibersihkan dan rapi.  Lain dengan penampilan yang diperuntukkan bagi manusia, tentu  harus disesuaikan pula dengan kondisinya.  Jika kita memenuhi undangan dari kawan  untuk sebuah selamatan, mka biasanya  semua hadirin akan memakai pakaian yang biasa saja, namun jika diundang dalam pesta perkawinan mislanya, maka kita juga harus menyesuaikan diri.

Kita snagat paham bahwa penampilan terkadang  menduduki peringkat pertama ketimbang lainnya, terutama jika kita  memenuhi  sebuah undangan  dimana kita sama sekli tidak kenal dengan para penerima tamunya.  Nah, kalau demikian jikia  kita memakai pakaian seadanya saja, sangat mungkin kita akan dibiarkan begitu saja tanpa harus dipersilahkan.  Sebaliknya jika kita emmakaia pakaian yang bagus  dan sedikit mentereng, sudah pasti para penerima tamu akan mempersilahkan  dengan baik dan sopan.

Itulah kenyataan dalam keseharian kita yang tidak bisa kita ingkari. Bahkan pernah  pada suatu ketika  ada seorang kiyai yang diundang untuk sebuah ceramah dan beliau datang sendiri memenuhi undangan tesebut dengan memakai pakaian seadanya, lalu setelah smapai di tempat, para tamu undangan bukannya mempersilahkan untuk duduk di depan atau mungkin ke transit terlebih dahulu, melainkan malahan mempersilakannya  untuk duduk di kursi d bagian belakang.

Tentu saja pihak panitia yang mengundanag sangat panik setelah ditungu sekian lama  sanga kiyai tersebut beluim muncul.  Lalu panitia  memberanikan diri untuk menelponnya, dan  kemudian dijawab bahwa pak kiyai tersebut sudah rawuh sejak satu jama yang lalu dan duduk bareng dengan para hadirin di bagian belakang.  Alangkah kagetnya panitai tersebut, lalu  dengan meminta maaf keada pak kiyai dan emmpersilahkannya untuk duduk di barisan depan.

Tentu masih banyak kejadian lainnya yang pada intinya bahwa terkadang persoala npenampilan itu menjadi sangat penting, bahkan dapat mengalahkan substansi. Pernah terjadi pula pada saat kunjungan  KKN mahasiswa dimana rektor dapat hadir bersama dengan bupati, emskipun datangnya tidak berbarengan.  Nah,pada saat datang tersebut rektoir hanya memakai pakaian hem lengan panjang dan protokoler yang memandunya memakaia baju safari.  Nah, apa yang terjadi saat mereka sampai ditempat?

Ternyata para hadirian, khususnya masyarakat perdesaan tersebut sama menyalami petugas protokolernya dengan menciumi tanganhya, sementara  rektornya  hanya diajak salaman biasa saja.  Bahkan dalam kerumunan untuk berslamanan  tersebut yang dikerubut hanya n protokolernya .  Ini tentu menjadi sebuah pelajaran dan pengalaman bagi siapapun, meskipun rektor tersebut sesungguhnya tidak meminta untuk disalami dengan  dicium tangannya, tetapi apa yang terjadi tentu sangat menggelikan.

Sementara itu terkait dengan kampus secara umum, biasanya masyarakat  juga akan melihat dari sisi penampilannya terlebih dahulu sebelum menentukan pilihannya untuk  bergabung menjadi mahasiswa.  Artinya jika padasaat  masyarakat ingin mencari tempat kuliah yang baik, untuk perama kali yang dipertimbangkan ialah kampusnya, apakah meyakinkan ataukah tidak, meskipun hanya dari sisi lahir fisiknya semata.  Kalau dari sisi fisik suidah tidak meyakinkannya maka mereka pasti akan mundur sebelum bergabung.

Sebaliknya jika tanpilan kampusnya sangat meyakinkan dengan gedung gedung yang representatif, kondisi lingkungan yang mendukung, tentu mereka  akan tertarik bergabung dengan kaqmpus tersebut.  Jangankan untuk memilih kampus,  hanya sekedar untuk memilih taksi yang akan  ditumpangi saja  terkadang orang akan memilih taksi yang tamp[ilannya bagus dan relatif baru dan bersih.  Bukan untuk apa apa, karena  penumpang yang membayar tentu membutuhkan kenyamanan.  Jika takisinya kurang meyakinkan boleh jadi AC nyan tidak dingin atau mungkin malah mogok di jalan dan sebagainya.

Jika kita sedang bepergian ke luar kota misalnya, maka ketika kita akan makan terkadang yang kita cari ialah warung makan atau restoran yang tampilannya meyakinkan, bukan warung yang  tampak jorok dan tidak meyakinkan. Barulah kemudian melihat aspek rasanya, dan biasanya  kita akan melihat sejauh mana  masyarakat berkunjun ke restoran tersebut.  Biasnya kita juga akan lebih memilih warung atau restoran yang justru dipenuhi oelh pengunjung, karena kemungkinan besarnya ialah rasanya eanak.

Bagaimanapun juga  penampilan itu   akan mengesankan isinya, meskipun tidak  mesti demikian.  Artinya kebanyakan  isi yang baik itu akan dikemas dengan kemasan yang baik pula, dan demikian juga isi yang kurang baik biasanya ditampilakn dengan biasa biasa saja sehingga orang pastinya  akan melirio pada penampilannya terlebih dahulu sebelum  akan lebih tahu  mengenai isinya.  Untuk itu sekali lagi jika kita emmpunyai sesuatunyang bauik, maka sebaiknya ditampilkan dengan  baik pula.

Hanya saja  penampilan yang bauik itu tidak harus  berharga mahal, melainkan cukup dengan panataan dan pengelolaannya yang bagus.  Tentu akan lebih bagus lagi jika didukung oleh dana yang cukup untuk penampilan tersebut.  Ada kalanya  harga mahal tetapi kalau tidak itata  dan dikelola dengan bagus, jadinya juga tidak bagus dan tidak menarik untuk dikunjungi atau untuk dibeli, dan sebaliknya terkadang dengan bahan yang ada  dan dapat ditata dengan baik, akan terlihat jauh lebih bagus dan menarik untuk dikunjungi ataupun dibeli.

Mudah mudahan kita menyadari hal tersebut dan kemudian berusaha  dengan sekuta tenaga untuk  mempu menampilan sesuatu  dengan sangat baik dan  akan menarik siapapun untuk mendekat.  Dengan begityu semua  yangn kita usahakan akan mendapatkan respon positif dari masyarakat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.