SEMANGAT SUMPAH PEMUDA

Kita tahu bahwa jauh sebelum kita merdeka, kita sudah solid dalam kebersamaan, khususnya yang digalang oleh para pemudanya, hingga pada oktober 1928 mereka bersepakat untuk  bersumpah menyatukan langkah bangsa agar cepat merdceka, yang kemudian dikenal dengan sumpah pemuda.  Persatuan dan kebrsamaan itulah yang akan mampu meraih kemerdekaan karena dengan kebersmaaan tanpa  mempersoalkan, agama, etnis, suku dan lainnya, maka keebrsamaan akan awet dan mampu mendobrak apapun yang menjadi penghalang.

Sumpah  untuk  berbangsa yang satu, untuk bertanah air yang satu dan untuk berbahasa yang  satu, yakni Indonesia, sungguh luar biasa, karena mampu emnggelorakan semangat anak anak bangsa untuk lepas dari penjajahan dan berusah merebut Negara dari cengkeramana bangsa lain.  Memang tidak mudah untuk  menancapkan semangat etrsebut didada seluruh  rakyat, karena  terlalu lamanya  cengkeraman penjajah etrsebut, namun dengan semangat dan ketekunan yang luar biasa, akhirnya mereka mampu mendapatkannya.

JKita dapat emmbayangkan betapa sulitnya pada saat itu untuk berkomunikasi dengan sesame anak bangsa yang berada di pulau yang tersebar yanfg sangat luas sekali, akan tetapi semanagat pantang menyerah dan  keinginan untuk satu tujuan, ternyata mamp[u mendobrak apapun p[enghalang yang ada di depan mereka.  Persoalan jauhnya jarak dan sulitnya transportasi serta belum  dikenalnya  teknologi informasi serta  alat komunikasi telepon, ternyata tidak menjadi penghalang untuk selalu  bertemu untuk tujuan yang sama.

Pertanyaannya ialah pada saat kita suah merdeka, dan semua alat komunikasi  tersedia, transportasi juga mudah, sehartusnya  untuk menciptakan kebersamaan dan  koordinasi akan lebih mudah dan  tujuan  untuk bangsa ini akan segera terwujud.  Namun justru kita menyakisikan sebaliknya, bahwa kemudahan kemudahan tersebut bukannya  semakin memperlancar komunikasi dan koordinasi untuk kebersamaan, melainkan malahan menghambat.  Itu disebabkan kurangnya  simpati mereka kepada bangsa dan Negara dan bahkan malahan lebih cenderung  kepada pribadnya atau kelompoknya saja.

Mungkin ini merupakan rentetan panjang yang sangat sulit diurai, termasuk di dalamnya ialah tentang pendidikan yang  dilaksanakan  saat ini.  Saat kita emmbicarakan pendidikan pada zaman ini rasanya memang pantas kalau kita tidak akan mendapatkan  lulusan yang hebat, bukan saja dalam arti otaknya dan kepandaianya, melainkan juga akhlak dan kepeduliannya kepada bangsa dan negeranya.  Bagimana mungkin kita akan memperoleh  lulusan yang ideal tersebut, ketika dalam proses pendidikan di sekolah pun mereka tidak mampu  menamp[ilkan sosok yang  dibanggakan.

Dukungan orang tua juga  sesungguhnya sangat penting untuk kesuksesan anak, namun kita melihat saat ini justru banyak orang tua yang sama sekali tidak berpikir bagaimana anaknya  mendapatkan pendidikan yang baik.  Mungkin mereka sudah memilihkan sekolah yang  favorit, namun peran merka untuk mendukung  hamper tidak ditemukan.  Mengapa mereka tidak emmpercayakan sepenuhnya pendidikan di sekolah kepada para guru, dan masih ikut campur dalam pendidikan tersebut?

Bukankah pendidikan itu memerlukan proses yang di dalamnya juga ada pembiasaan, pembelajaran, praktik, pemberian sanksi dan lainnya yang semua itu dimaksudkan untuk menanamkan karakter yang kuat pada diri anak.  Nah, di sinilah kesalahan kebanyaka orang tua yang kemudian tidak rela jika anaknya diberikan sanksi, sehingga anak akan semakin manja dan tidak mungkin akan menghargai guru atau orang lain, apalagi kepada mereka yang dianggap tidak level atau mereka yang lebih miskin.  Ini sesungguhnya merupakan persoalan serius yang terkadang dilupakan.

Belum lagi persoalan perilaku bangsa ini yang seharusnya selalu ditekankan untuk hal hal positif dan bermanfaat.  Idealnya para pimpinan nasional dan para wakiol rakyaty yang memberikan contoh keteladanan kepada seluruh anak bangsa agar mereka  berbuat yang terbaik dan  menjauhi hal hal buruk dan menyesatkan.  Namun sebagaimana kita lihat sendiri justru mereka para pimpinan dan  pejabat negaralah yang bersifat buruk perilaku serta mencontohkan hal yang sama sekali tidak baik.  Jadi sekali lagi ini merupakan persoalan kompleks yang sulit untuk diurai.

Persoalan saat ini ialah bagaimana kita mampu menciptakan kondisi yang ideal dan menjadikan anak anak bangsa ke depannya semakin baik, semakin dapat merasakan denyut nadi  warga bangsanya dan sekaligus ada keinginan kuat untuk mengabdikan diri secara tulus ekpada bansga dan Negara.  Lalu bagaimana caranya?  Tentu masing masing kita harus membuat formula sesuai dengan kopndisi masing masing.  Kita sangat yakin bahwa pendidikan yang  ada di lingkungan pesantren akan lebih mampu menciptakan  hal tersebut karena lingkungannya cukup mendukung.

Namun demikian pendidikan di luar pesantren bukan berarti tidak mampu, sebab semuanya tergantung kepada keseriusan para pendidik dan juga pengelola sekolah untuk  meningkatkan kualitas pendidikannya, bukan semata meraih prestasi dalam belajar, melainkan juga dalam hal penanaman akhlak mulia dan perilaku baik.  Jika ada kemauan, pastinya banyak jalan yang dapat dilakukan.  Karena itu memang harus ada kemauan keras untuk memperbaiki pendidikan kita  agar anak anak dapat secara langsung melihat dan memikirkan bagaimana bangsa ini dimajukan.

Dalam  memperingati hari sumpah pemuda kali ini, kita memang harus menekankan betapa pentingnya  memberikan pendidikan kepada para pemuda kita agar mampu meraih prestasi yang tinggi dalam bidang yang ditejkuni dan sekaligus juga mampu memerankan diri sebagai warga bangsa yang baik dan bermartabat, serta  pandai membawa diri  sebagai bangsa Indonesai yang harus  tetap berusaha untuk menyejahterakan rakyat, memberikan teladan kebajikan dan juga  taat dalam agamanya.

Perseteruan yang saat ini ditunjukkan oleh para pemimpina kita harus dihapuskan dari kenangan  mereka dan  harus terus dipupuk dalam kebrsamaan dan keindonesiaan.  Politik identitas harus segera dibuang jauh jauh  serta keinginan untuk menyatukan seluruh bangsa  agar cepat mencapai kesejahteraan harus terus digelorakan. Jika para pemuda kita  mampu menyatukan arah dan  tujuan untuk Indonesia saja, maka semua akan etrasa ringan, namun jika masing masing masih mempertahankan  posisi dan  identitas mereka, maka akan sulit untuk melangkah seterusnya.

Mari tinggalkan segala macam pertentangan dan permusuhan hanya  karena sebuah tujuan politik yang sementara saja, ayo kita bahu membahu membangun negeir kita untuk mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Kalau kita emmang benar benar sebagai warga bangsa yang baik dan mencintai negerinya, tentumkita akan mampu melakukan apapun untuk tujuan tersebut dan  meminggirkan sementara keegoan dan kepentiangan pribadi dan golongan.

Kita memang harus mampu mewarisi semangat sumpah pemuda yang sudah ditorehkan oleh para pemuda pendahulu kita, jangan sampai kita dicap sebagai generasi tidak tahu malu, karena sudah diberikan warisan kemerdekaan Negara Indonesia, lalu kita menyia nyiakannya.  Sudah  emnjadi kewajiban bagi kita untuk terus merawat Negara ini yang memang sarat dengan  perbedaan dari berbagai aspek, namun karena mereka mampu menyatukan dnegan sumpah pemuda, maka kini kita harus memapu menyatukan mereka untuk meraih cita cita mulia yakni menyejahterakan warga bangsa secara keseluruhan.

Semoga kita memanag mampu merawat keberagaman yang ada di sekitra kita, serta menujukkan kebersamaan dalam meraih cita cita luhur bangsa yang saat ini masih tertunda.  Dengan kebrsamaan, tentu apapun yang kita inginkan akan dapat diperoleh, namun jika perbedaan yang kita tonjolkan, maka  ciat cita yang ringan seklipun pasti tidak akan pernah kita capai.  Itulah semboyan kita untuk meneguhkan kembali niat kita mengabdi kepada bangsa dan Negara.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.