SIAPA SESUNGGUHNYA MUSUH KITA?

Dalam menjalani hidup di dunia ini  kita akan menjadi sangat nyaman jika tidak mempunyai musuh, bahkan dalam pergaulan keseharian, para orang tua kita mengatakan bahwa musuh satu itu sudah terlalu banyak dan seribu sahabat masih terasa kurang.  Itu menandakan bahwa hidup itu memang harus saling membantu, saling mengasihi, dan bukannya saling hantam atau permusuhan.  Jadi intinya bahwa seharusnya  manusia itu tidak mampunyai musuh, namun dalam kenyataannya manusia tidak mungkin tidak bermusuhan.

Siapapun yang menganut sebuah agama tretentu, dapat dipastikan dia akan emmpunyai musuh, bukan  mereka yang berbeda agama, melainkan setan dan iblis yang akan senantiasa mengganggu manusia agar mau mengikuti keinginannya.  Jadi manusia yang saleh dalam perpektif agama Islam itu mempunyai musuh utama, yakni setan Iblis dan sebangsanya, dan juga musuh besar dalam dirinya sendiri, yakni hawa nafsu.

Kita tentu dapat mengerti mengapa iblis dan juga nafsui dijadikan sebagai musuh utama manusia, jawabannya ialah ya karena keduanya akan terus menerus berusaha untuk menggoda dan mengarahkan kepada manusia agar menjauh dari tuhannya dan  selalu melanggar aturan yang telah dibuat oleh Tuhannya.  Dengan demikian jika keduanya tidak dijadijkan sebagai musuh utamanya, maka akan dengan mudah keduanya  melakukan niatnya dan manusia akan  terjebur dalam kemaksiatan.

Sementara itu dalam kaitannya dengan kehidupan dengan sesama umat manusia atau bahkan dengan semua makhluk Tuhan, mansuai seharusnya  memosisikan diri sebagai pihak yang bersahabat.  Artinya jangan sampai menjadikan sesama makhluk Tuhan sebagai musuh, karena  jika  manusia menjadikan  makhluk lainnya sebagai musuh, dapat dipastikan akan mengalami kesulitan dalam  suatu kesempatan.  Kalaupun manusia disakiti ataupun dimusuhi, sebaiknya tetap  memandang bahwa  mereka sedang khilaf dan  tetap diperlakukan dengan baik.

Keteladanan yang sudah ditunjukkan oleh Nabi kita Muhammad saw dalam kehidupan keseharuiannya harus kita kaji dan jadikan sebagai hal yang paling utama untuk kita lakukan.  Dalam kisahnya yang demikian panjang, beliau selalu saja memperlakukan siapapun dengan sangat baik, termausk mereka yang memosisikan diri mereka sebagai musuh beliau.  Namun dengan keteladanan tersebut pada akhirnya banyak  diantara musuh beliau yang kemudian menyadari betapa akhlak beliau begitu hebatnya sehingga mereka dengan tulus mengikutinya.

Lalu kenapa kita tidak bisa meneladani beliau yang  katanya kita mencintai beliau?  Hubbun nabiy itu memerlukan perjuangan dan juga pengorbanan.  Artinya jika kita mencintai beliau dengan tulus, maka kita harus berani untuk meninggalkan apapun yang tidak beliau sukai dan sebaliknya kita juga harus rela menjalankan apapun yang belaiu sukai dan bahkan anjurkan.  Omong kosong jika menyatakan cinta beliau tetapi kelakuan keseharuannya justru bertentangan dengan sikap dan perilaku beliau.

Nabi Muhammad saw tidak pernah menganggap  siapapuns ebagai musuh, karena beliau  hanya ingin menebarkan kasih sayang dan kedamaian di muka bumi.  Untuk itu kita dapat membaca sejarah beliau bahwa banyak orang yang memusuhinya tetapi beliau selalu mendoakannya dan selalu berbuat baik kepada mereka.  Bakan ada yang sangat keterlaluan dalam menghina belioau, yakni beliau selalu diludahi setiap harinya, lalu orang tersebut jatuh sakit, dimana  kawan kawannya tidak emnjenguk, tetapio justru Nabi lah orang pertama yang menjenguknya dan mendoakan agar diberiikan kesembuhan.

Betapa tidak trenyuh dia dan  kemudian dengan sukarela dia mengikrarkan dua kalimat syahadah pertanda dia mengakui  kerasulan beliau.  Cerita  hampir sama dengan itu sungguh sangat banyak didapati dan itu  karena Rasul selalu berbuat baik kepada siapapun yang berhubungan dengan beliau.  Sungguh sangat hebat dan terpuji akhlak yang telah beliau tunjukkan kepada siapapun, bukan hanya kepada para sahabat, me,ainkan juga kepada siapapun, termasuk kepada mereka yang selalu memusuhinya.

Musuh memang sebuah  faktor yang akan menyita banyak perhatian dan pikiran, sehingga jika seseorang mempunyai banyak musuh, maka kehidupannya tidak akan pernah tenang dan bahkan untuk sekedar tidurpun juga  susah.  Jika  ada musuh, maka  dia akan selalu mengintai kepada kita dan jika kita terlena sedikit saja, maka musuh tersebut akan beraksi dan merugikan diri kita, baik secara fisik maupun  non fisik, seperti misalnya dalam hal bisnis, pekerjaan dan lainnya.

Mereka yang memosisikan  sebagai musuh kepada siapapun, pastinya dia akan selalu bwerkinginan untuk mencelakakan mushnya tersebut atau setidaknya berharap agar musuhnya tersebut mendapatkan kesulitan.  Akan lain halnya jika yang dikembangkan ialah persahabatan, pastinya akan muncul doa atau pengharapan agar smeua sahabatnya diberikan kemudahan dan kesehatan serta kesuksesan dalam menjalani hidup.  Nah, sangat berbeda dan karena itu siapapun yang bersahabat, pastinya akan merasa nyaman dan aman.

Tetapi jika kita memosisikan diri sebagai musuh setan dan iblis, itu artinya kita harus selalu waspada   agar tidak kena tipu muslihat musuh kita tersebut dan  akan dijauhkan dari godaan yang pasti akan selalu diusahakan.  Demikian juga dengan nafsu yang ada dalam diri kita, dapat dipastikan akan selalu mengajak berbuat jahat dan dhalim, dan karena itu tidak sesuai dengan aturan agama dan nurani kita maka kita harus menjauhinya dan  sikap yang paling baik dan memungkinkan untuk itu ya menjadikannya sebagai musuh.

Namun jika musuh kita itu  setan dan nafsu, sesungguhnya kita tidak akan terganggu oleh sikap kita yang inginberbuat jahat kepada mereka, melainkan justru hanya  berharap kita tidak akan didekati dan digoda oleh mereka.  Dengan sikap permusuhan tersebut bukannya kita ingin berbuat sesuatu, melainkan kita ingin bertahan agar tidak terkena tipu daya mereka dan tidak dijadikan sebagai sahabat mereka.  Mereka adalah musuh Allah  swt dan juga musuh Rasulullah saw, sehingga bagi kita selaku umatnya tentu kita harus mengambil sikap yang sama agar kita tetap selamat.

Dengan demikian  sesungguhnya secara riil  mengarubngi hidup di dunia ini kita seharusnya tidak berharap mempunyai musuh dalam situasi begaimanapun, terkecuali dalam hal yang berhubungan dengan sikap kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, kita memang harus memosisikan diri sebagai musuh setan dan hawa nafsu kita maisng masing.  Tujuannya bukan untuk mendapatkan musuh yang  akan selalu menjadikan kita berhadapan dengannya, melainkan agar kita lebih waspada  dengan dua makhluk Tuhan tersebut, yang tujuan akhirnya ialah kita  selamat dunia dan akhirat.

Dua makhluk tersebut memang bersifat merusak dan pasti akan merugikan kita dan justru kalau kita tidak memosisikannya sebagai musuh malahan kita akan terkena bujukannya dan  pasti kita akan rugi.  Sementara itu terhadap makhluk lainnya selain mereka berdua, kita  seyogyanya memang bersahabat dan bekerja sama  serta saling menolong, bukan saling memusuhi serta merugikan.  Meskipun makhluk Tuhan tersebut tidak sejalan dalam hal keimanan, tetapi hidup rukun dan saling menolong dalam kehidupan duniawi itu merupakan sebuah keharusan.

Apalagi kalau sesama umat manusia  dan sama dalam hal keyakinan, sudah barang pasti kita harus saling membantu dan mengasihi agar tercipta sebuah kondisi yang menyenangkan, damai dan indah.  Kita sesma umat muslim adalah saudara yang itu berarti kita harus saling mendukung dan membantu kesulitan masing masing.  Jika senang akan dinikmati bersama dan jika sedang susah juga  akan ditanggung bersama.  Semoga kita dapat mewujudkannya dalam kenyataan kita saat ini, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.