MEMBETULKAN ARAH KIBLAT

Salah satu kajian  dalam ilmu falak ialah  bagaimana membetulkan arah kiblat saat menjalankan ibadah shalat, karena  salah satu syarat menjalankan shalat ialah menghadap kiblat. Bahkan ada pendapat yang sangat ektrim bahwa jika  kiblatnya tidak tepat, maka shalatnya tidak sah.  Namun sesungguhnya persoalan menghadap kiblat etrsebut merupakan persoalan yang tidak eksak, artinya  hanya sekedar arah yang diyakini sebagai ke ka’bah dan bukan harus tepat tanpa geseh sedikitpun.

Kita menyadari bahwa jarak antara Negara kita Indonesia dengan  makkah sangat jauh dan kalau kita  sedikit saja  tidak tepat mengarah ke ka’bah, tentunya  akan dimaafkan, karena tidak smeua orang mampu mengarahkan kibalatnya dengan tepat, walaupun saat ini sudah ada sarana yang mudah didapatkan untuk mengarahkan shalat ke kiblat yang dianggap paling tepat.  Bahkan ada  hari tertentu yang  diprediksikan bahwa  mata hari tepat berada di atas ka’bah sehingga semua orang dapat mengarahkannya ke bayangan matahari tersebut.

Hari itulah yang biasa disebut sebagai  hari Rashd al-qiblat.  Namun jika  kita masih saja tidka mampu untuk  mengarahkannya, disebabkan oleh berbagai pertimbangan, seperti takut mengubah arah kiblat yang sudaha turun temurun, apalagi kalau yang mengarahkan terdahulu ialah wali atau  ulama besar dan lainnya, tentunya tidak menjadi masalah, meskipun  kalau sudah ditemukan alat untuk membetulkan arah kibnlat tersebut yang lebih akurat, sepatutnya diikuti.

Mengapa kita tidak harus menepatkan arah kiblat tersebut secara pasti, karena Allah swt sendiri dalam memerintahkan untuk menghadap ke kiblat hanya dengan bahasa arah atau syathrah, sehingga kalaupun misalnya sedikit tidak tepat tetapi secara umum sudah tepat, maka itu dianggap sah shalatnya.  Bahkan bagi mereka yang sama sekali tidak mengetahui arah, ketika shalat menghadap kemanapun tetap diperkenankan.

Ibaratnya kalau  letak Negara Indonesia secara umum adalah di sebelah Timur ka’bah agar serong  ke knana sedikit, maka jika kta hanya mentetahui arah mata angina Timur Barat dan lainnya, maka kita juga  dapat menjalankan shalat dengan mantap ketika kita menghadap ke barat dan sedikit serong ke kanan.  Jadi  kita tidak perlu menyalahkan, apalagi kemudian menganggap bahwa shalat yang dijalankan dengan tidak tepat menghadap ke kiblat itu tidak saha dan lainnya.

Namun bagi mereka yang  tahu bagaimana caranya  mengukur dan menetpkan arah kiblat dengan benar, maka  harus diupayakan untuk mengikuti petunjuk tersebut. Tetapi sekali lagi tidak boleh memaksakan kehendak, karena bagaimanapun  masih ada beberapa kelompok orang yang meyakini kiblat aslinya.  Dengan pendekatan yang humanis dan juga penjelasan yang mencerahkan, sangat mungkin semua orang akan tertarik untuk mebetulkan arah kiblatnya, khususnya  mushalla dan masjid yang ada.

Kita tidak usah heran dengan kondisi arah kiblat beberapa amsjid dan mushalla yang kita temukan, karena memang pada saat mendirikannya, masih  banyak yang belum mengetahui secara pasti tentang arah kiblat tersebut, sehingga mereka hanya berpedoman kepada keyakinan bahwa arah kiblat itu  kea rah Barat dan sedikit menyerong ke kanan. Dan itu smeua sudah sangat bagus, karena mereka mempunyai pedoman, meskipun belum akurat dan  jika  mereka menyadari dan ingin membetulkan arah kiblatnya, maka kitalah yang  harus membantunya dengan suka rela.

Program studi ilmu falak yang dimiliki oleh UIN tentunya  berkewjiban secara moral untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat, termasuk kaitannya dengan  arah kiblat tersebut, meskipun bukan satu satunya yang  dianggap sangat penting, karena masih banyak persoalan keummatan yang segera dibenahi.  Persoalan arah kiblat dalam shalat meskipun penting, namun jika sementaar ini tidak ada perubahan juga tidak terlalu membahayakan.

Hal yang terkait dengan  falak yang berhubungan langsung dengan masyarakat diantaranya ialah tentang penentuan awal bulan Qamariyah.  Mungkin  masyarakat muslim tidak terlalu peduli dengan persoalan tersbeut, karena mereka akan lebih aman jika mengikuti apa yang diputuskan oleh pemerintah, apalagi kalau itu bukan awaal bulan Ramadlan ataupun Syawwal, pastinya mereka tidak akan emmpedulikannya.  Mungkin hanya  bulan Dzul Hijjah saja  setelah Ramadlan dan Syawwal yang sedikit menjadi perhatian mereka.

Hal itu disebabkab  di sana ada idul qurban yang biasanya juga  dicari ketepatannya.  Namun kalaupun berbeda antara kelompok masyarakat, tetaplah a da  jalan keluarnya bagi mereka, yakni  saling mempercayai aiapa yang diikuti.  Bagi yang mempercayai pemerintah, maka akan mengikuti penetapan pemerintah dan jiika mengikuti selainnya, juga akan menjalankan sesuai dengan ketetapannya tersebut.  Hanya saja  seprtinya sebagai umat Islam kok tidak bias bersatu padu, padahal  untuk hal yang sifatnya ijtihadiyyah seeprti itu.

Karena itu menjadi  kewajiban para ahli falak untuk  mencari solusi yang terbaik bagi umat agar dalam menentukan awal bulan Qamariyyah dapat ditentukan secara bersama dengan menggunakan  kriteria yang sama.  Selama ini sebagaimana kita tahu ialah bahwa kriteria yang digunakan  tidak sama, dan itu diperparah dengan keinginan untuk berbeda yang sangat tinggi,  jadi ego masing masing pimpinan yang sangat dominan.  Namun jika mereka lebih mementingkan kepentingan umat, tentunya   akan mudah untuk disatukan.

Salah satu  jhal penting dalam kajian ilmu falak ialah menentukan waktu waktu shalat, yang untuk saat ini masyarakat sepertinya sama sekali tidak emmpedulikannya.  Bahkan  ada diantara mereka yang tidak memedomani salah satu pendapat, melainkan hanya  sekedar kira kira tanpa ilmu yang justru akan menyesatkan umat.  Bayangkan saja pada saat mendung pada sore hari, terkadang kita sudah emndengar adzn dari salah satu masjid atau mushalla, padahal maghrib yang sesungguhnya  masih sekitar 5 menitna lagi.

Sudah barang tentu waktu maghrib tersebut bukan pada saat bulan suci Ramadlan, karena bagaimanapun umat muslim akan sangat berhati hati dan  memperhatikan betul  waktu berbuka puasa, walaupun terkadang kemudian untuk waktu Isya’nya juga tidak mengikuti waktu yang tepat.  Waktu subuh juga banyak  ditentukan oleh peraasaan  orang yang adzan, karena seringkali kita juga mendengar adzan subuh  sebelum waktunya.

Berbagai persoalan tersebut sesungguhnya menjadi tanggung jawab para ulama dan pemimpin umat, karena bagaimanapun jika para ulama tidak tampil membenarkan apa yang terlihat salah, maka selamanya akan terjadi terus menerus dan itu  akan menyesatkan umat.  Sebagai contoh jika ada orang yang akan segara bepergian di pagi hari, lalu sudaha mendengar suara adzan. Padahal sesungguhnya belum masuk waktu,  dan kemudian orang tersebut segera shalat lalu berangkat pergi, maka shalat yang  belum pada waktunya itu  tidak sah, karena salah satu syarat sahnya shalat itu  adalah masuk waktu.

Lebih khusus lagi pada saat ada ahli yang memang menekuni bidang ilmu falak tersebut, persoalan tersebut  menjadi tanggung jawab dan kewajiban mereka untuk memberikan pencerahan dengan cara yang baik, sehingga mereka akan menyadari dan mengikuti apa yang dianggap benar  sesuai dengan ilmu falak.  Kita akan menunggu kiprah para ahli ilmu falak ini untuk membenahi hal hal yang dirasakan tidak benar di masyarakat.

Pendeknya semua  aspek yang terkait dengan kajian ilmu falak seharusnya  menjadi konsen para ahli dan khususnya tentang pembetulan arah kiblat, seharusnya tidak lagi menjadi pertentangan dan meaalah bagi masyarakat, karena saat ini sudah ada berbagai cara yang mudah untuk diterapklan oleh mereka, namun jika mereka belum mengetahuinya, maka menjadi tugas  para ahli falaklah yang harus membantu mereka.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.