KIBIR

Mungkin bagi sebagian orang, kata kata ini belum terlalu populer di telinga, karena memang jarang dipergunakan, terkecuali di kalangan tertentu, seprti  kalangan santri di pesantren .  Kata tersebut sesungguhnya  berasal dari bahasa Arab yang artinya ialah sombong atau takabur.  Kibuir merupakan sifat yang berbahaya, karena akan mampu memusnahkan diri orang yang memeliharanya.  Biasanya akan dijauhi dan tidak disukai oleh masyarakat banyak.  Biasanya pula sifat tersebut mudah hinggap pada orang orang sukses, baik secara ekonomi maupun karier.

Kenapa  kibir tersebut akan dapat membawa  pemiliknya kepada kemusnahan? Ya karena  dengan sifat tersebut sesungguhnya hampir seluruh orang tidak akan menyukainya, dan kalaupun  ada orang yang tampak menghormatinya, maka itu hanyalah kulitnya saja, karena pengaruh kekayaan  ataupun jabatan dan sejenisnya.  Selebihnya mereka  sesungguhnya sangat benci dan muak dengan segala macam tingkah dan kelakuannya.

Mungkin kita masih ingat tentang cerita Karun pada zaman Firaun dahulu, dimana dia itu sebagai  orang yang sangat kaya sehingga kunci yang dimilkinya sangat luar biasa banyaknya, bahkan kalau diibaratkan  orang tidak akan kuat memikulnya.  Kesombongannya sudah melebihi batas kewajaran, sehingga kemudian semua orang berharap Karun tersebut dimusnahkan oleh Tuhan pemelihara jagat. Benarlah kemudian Tuhan memusnahkannya dan bahkan tenggelam dan ditelan bumi, beserta dengan sluruh harta yang dibanggakannya.

Sifat sombong juga akan  dapat memusnahkan seluruh amal baik seseorang, sebagaimana sifat riya’.  Sifat sombong itu pada  asalnya ialah hanya milik Allah swt, karena  Allah lah yang Maha Segalanya, sehingga sangat pantas kalau bersifat sombong.  Namun bagi makhluk Nya,  akan sangat tidak layak menyandang sifat tersebut, dan yang pertama kali  mempraktekkan kesombongan tersebut ialah iblis, pada saat diminta oleh Tuhan untuk  tunduk dan menghormat kepada Adam, dengan alasan bahwa dirinya lebih  baik, karena  Adam diciptakan dari tanah, semenara dia diciptakan dari api.

Jika  saat ini  ada asebagian orang yang mewarisi sifat sombong tersebut, tentu dia merasa bahwa dirinya  lebih tinggi derajatnya atau kekayaannya dibanding dengan yang lain.  Padahal semua yang ada dan dimilikinya itu hanyalah pemberian atau  sekedar pinjaman yang diberikan oleh Tuhan. Ketampanan atau kecantikan wajah, kekuatan tubuh, tentang  warna kulit dan lainnya, smeuanya tidak ada yang perlu disombongkan, karena semuanya atas kehendak Tuhan, bukan kita yang  menentukan dan  meminta.

Justru yang harus dikembangkan dalam diri seseorang ialah sikap sykur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan, dan bukannya sombong.  Toh kalau Tuhan menghendaki untuk meminta kembali semua hal yang  dipinjamkan tersebut, akan sangat mudah bagi Nya untuk melakukannya, dan pastinya akan banyak cara pula untuk mengantarkannya.  Jadi sekali lagi sifat sombong tersebut merupakan sikap orang orang yang tidak tahu diri karena  merasa seolah  apa yang dicapainya itu merupakan  prestasinya sendiri.

Bahkan kalaupun misalnya  dia memperoleh prestasi dalam bidang tertentu, maka itu sangat bergantung juga pada   bantuan banyak pihak, sehingga seharusnya tidak pantas untuk menyombongkan diri.  Pendeknya jika kita mau berpikir cerdas, maka  tidak ada ruang sedikitpun dalam diri kita untuk berlaku sombong, karena akal pikiran waras kita pasti akan membeimbing kita untuk menyadari kenyataan bahwa  tidak ada sedikitpun dalam diri kita yang patut disombongkan.

Bahkan  jika kita   berprestasi dan mendapatkan  sesuatu yang luar biasa, kita pasti akan semakin  bersyukur kepada Tuhan, karena semua muaranya adalah Tuhan, bukan yang lain, apalagi diri kita sendiri.  Lihatlah para Nabi Allah yang begitu hebatnya mendapatkan mukjizat, tetapi satu pun diantara mereka tidak ada yang berlaku sombong.  Bahkan mereka malahan selalu   berlalu sopan dan menghormati  pihak lain.  Lalu kenapa  ada manusia yang  seoalh dirinyalah yang paling hebat, dan melupkan dirinya sendiri?.

Kibir tersebut tentu merupakan sebuah penyakit kronis yang kalau tidak  diusahakan untuk diobati, pastinya akan semakin gawat dan menggerogoti keimanan seseorang.  Jika orang itu beriman  secara benar dan sungguh sungguh, pasti dia akan selalu memosoisikan dirinya sebagai seorang hamba di hadapan Tuhan, dan karena Tuhan selalu menyaksikan dan tahu apapun yang kita kerjakan, maka  tidak ada lagi tempat untuk menyembunyikan diri dari penglihatan Tuhan tersebut.

Nah, karena tidak ada rang untuk menyendiri dari Tuhan, pastinya kita akan merasa bahwa seluruh gerak kita akan selalu dimonitor oleh Tuhan.  Kalau demikian maka  pasti  tidak akan tersirat sedikitpun untuk  meniadakan Tuhan, dan karena itu pasti tidak akan tersisa ruang untuk menyombongkan diri.  Hanya Tuhanlah yang pantas untuk sombong, bukan makhluk Nya.  Jika  diantara makhluk Nya ada yang  smbong, maka itu  meniru kelakuan iblis dna mungkin saja  dapat dimasukkan ke dalam golongan mereka.

Karena itu salah satu cara untuk menyelamatkan diri kta dai sifat sombong tersebut ialah selalu mengingat posisi kita di mata Tuhan.  Mungkin sesekali waktu kita merasa berhasil untuk menjalani sesuatu, sementara  ada kawan lain yang selalu gagal menjalaninya.  Dalam kondisi demikian  mungkin akan  muncul rasa bangga diri dan  sedikit  melecehkan pihak lain tersebut.  Nah, kalau sudah sapai pada  pendirian tersebut, sebaiknya kita cepat cepat untuk beristighfar agar tidak  berlanjut, sebab  muaranya  akan sampai kepada sifat sombong.

Kalaupun kita mampu berpreatasi dan sukses dalam sesuatu hal, maka itu sesungguhnya  atas kehendak Tuhan yang meloloskan keinginan kita untuk mencapai sesuatu.  Memang kita berusaha keras untuk mencapainya, tetapi usaha kita itu pasti akan sia sia kalau Tuhan tidak menghendakinya.  Pikiran seprti itulah yang akan menyelamatkan diri kita dari sombong tersebut, dan terus berada dalam posisi yang  benar dan  mudah untuk  bersyukur.

Sifat  kibir tersebut  sesungguhnya  hampir sama dengan sfat riya’ yang terkadang anpa kita sadari telah merasuki  diri kita, karena  sebagai manusia kita terkadang suka diperlakukan istimewa, suka dipuji dan  segala macam sanjungan.  Nah, semua pujian dan sanjungan tersebut sesungguhnya merupakan aal bencana bagi kita,  karena dengan  itu kita biasanya akan selalu mengingatnya dan bahkan malah melupakan posisi kita sebagai hamba Tuhan yang sngat fakir dan bergantgung kepada Nya.

Karena itu sebaiknya kita selalu menghindarkan diri dari pujian dan sanjungan atau dengan kata lain kita tidak perlu memperhatikan apapun yang dikatakan orang tentang diri kita.  Biarlah  mereka   berlaku dan mengatakan  tentang sesuatu  kepada kita, namun kita akan tetap fokus diri untuk terus megabdikan diri kepada Tuhan.  Justru yang harus kita pikirkan ialah bagaimana kita mampu ters berada dalam koridor  kebenarand an kesalehan diri, dan bukan bagaimana kita dapat dianggap hebat oleh orang lain.  Biarkanlah manusia memandang  biaa saja kepada kita, tetapi Tuhan akan menganggap diri kita  sebaga makhluk yang selalu patuh.

Mari kita jaga diri kita dari kibir agar  kita memperoleh kesuksesan yang sejati, yakni sukses dalam negarungi hidup dan sukses  nanti diakhirat.  Kita harus yakin bahwa kalau kita  mampu memelihara diri dari sifat sifat buruk seperti kibir tersebut, maka kita akan  mudah untuk mengendalikan diri kita dalam hal apapun karena  ada  magnet yang selalu menghubungkan diri kita dengan Tuhan. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.