AKUPUN MENYESAL

Pada saat kita masih ditunggui oleh kedua orang tua dan masioh menjalani belajar, baik di rumah maupun di pesantren, biasanya kita melupakan sesuatu yang bernilai tinggi, yakni selalu berdoa dan berbaksi sepenuh hati kepada orang tua.  Kita biasanya  mengandalkan kepada orang tua yang memang berkewajiban membiayai kita hingga kita merampungkan  studi.  Kita tidak pernah berpikir bahwa mereka  mencari rizki itu sangat berat dan emmbutuhkan perjuangan yang maha berat, tetapii kita hany bias menuntut bahw aitu sudah menjadi kewajiban mereka.

Akibatnya kita tidak pernah  memberikan dorongan yang berupa senyum pemberi semangat kepada mereka, dan sekalipun tidak menampakkan rasa kecea kepada mereka.  Seharusnya kita  dapat memberikan semangat kepada mereka melalui preatasi yang kita tunjukkan, lalu juga dengan selalu mendoakan mereka untuk keselamatan, kesejahteraan  dan kesehatan mereka.  Mendoakan agar Tuhan selalu memberikan kemudahan dalam pencaria rizki dan  keberkahannya.

Kini setelah kita besar dan  mereka semua sudah tidak ada di dunia ini lagi, bahkan saat kita sudah menjadi orang tua bagi anak anak kita, kita menjadi ingat dan tentu sanbat menyesali kenapa dahulu kita tidak berbuat yang terbaik bagi mereka?  Namun penyesalahn saja memang tidak ada artinya, karena yang terpenting bagi kita saat ini ialah terus menerus mendoakan kepada mereka agar semua jasa dan kebaikannya, termasuk yang diperuntukkan bagi kita akan dibalas oleh Allah  dengan balasan yang berlipat ganda.

Sekaligus juga memberikan doa agar semua kesalahan dan dosa mereka diampuni oleh Tuhan.  Tentu kita juga  terus menerus meminta maaf kepada Tuhan, karena kekeliruan kita yang dahulu tidak  mampu berbuat yang terbaik bagi orang tua yang sudah sedemikian hebat berusah untuk mengantarkan kita kepada kondisi seperti saat ini.  Kita mestinya juga  harus terus mengingatkan kepada anak anak kita agar mereka dapat merasakan betapa orang tua telah berusaha dengan maksimal untuk memberikan yang terbaik bagi mereka.

Artinya kita harus memberikan pendidikan kepada anak agar mereka tidak lupa diri namun mereka harus mampu untuk merasakan betapa orang tua mereka  telah mengupayakan  kesejahtyeraan bagi mereka.  Karena itu mereka juga perlu membantu kepada orang tua, meskipun hanya dengan memberikan doa  kepada mereka dan prestasi yang baik dalam studi mereka.  Orang tua tentu akan bangga dengan prestasi anak anaknya dan bahkan kecapaian yang dirasakanpun akan sirna demi mengetahui prestasi anaknya yang gemilang.

Jangan sampai mereka nantinya juga akan menyesali keberadaan mereka  pada saat masih ditunggui oleh orang tua, diberikan banyak fasilitas, namun mereka masih saja mengeluh dan bahkan membandingkan dengan teman lainnya yang lebih kaya.  Tentu itu semua harus menjadi pelajaran berharga  bagi  anak anak, sejak dini.  Kita tidak ingin mereka menyadari hal tersebut setelah mereka  tua dan menjadi orang tua bagi anak anaknya.

Penyesalan biasanya memang  akan muncul setelah semuanya berlalu, dan tidak pernah ada penyesalan sebelum terjadi, karena kalau ada penyesalan sebelum terjadinya sesuatu itu bukan lagi penyesalan, melainkan  sekedar mengetahui sesuatu lalu mungkin memperbaikinya sehingga pada saat hal tersebut terjadi pada dirinya, dia sudah memperbaiki.  Lain halnya dengan penyesalan, karena  itu pasti sudah terjadi dank arena pada saat kejadian tersebut  dia tidak berbuat sebegaimana mestinya, kemudian dia menyesalinya.

Penyesalan tersebut bias saja  terjadi setelah kita meninggal dunia, sebagaimana kisah yang disampaikan sendiri oleh kitab suci kita, bahwa nanti di akhirat banyak sekali manusia yang menyesal, karena pada saat di dunia ini mengabaikan perintah Tuhan dan bahkan  menentangnya.  Padahal sesungguhnya mereka sangat tahu bahwa kekuasaan Tuhanlah yang menentukan segalanya, dan dia juga tahu bahwa Tuhan telah memberikan peringatan agar mengikuti jalan yang benar sebagaimana ditunjukkan oleh para utusan Nya, namun ternyata dia masih juga asyik dengan kesenangannya sendiri.

Penyesalan setelah di akhirat memang tidak lagi ada gantinya, karena di akhirat merupakan  saat pembalasan atas semua amalan yang dilakukan di dunia.  Sementara kalau penyesalan di dunia, meskipun sudah  hilang kesemapatan, tetapi masih ada  waktu lagi, setidaknya untuk memperbaiki diri, walaupun tidak  seacra langsung berkaitan dengan peristiwa yang lalu.  Sebagai contohnya ialah jika kita menyesal tidak memberikan pengabdian yang baik kepada orang tua, hingga mereka meninggalkan dunia, maka masih ada waktu menyadari hal tersebut dan emmperbaiki diri dengan  terus menerus memohonkan doa untuk mereka.

Kalaupun nilainya tidak sama, tetapi dengan niat yang baik dan kesadaran yang tinggi  dan menyesali apapun yang telah berlalu itu  akan berdampak baik, dan itulah yang biasa disebut  sebagai pertaubatan.  Itu disebabkan kita masih berada di dunia, yang merupakan tempat untuk berinvestasi dan menjalani hidup untuk kepentingan akhirat.  Jadi beruntung sekali bagi mereka yang  mampu menyadari atas kekeliruan atau atas  perilaku kurang baik yang sudah dilakukan, lalu berusah dengan sekuat tenaga untuk memperbaikinya.

Hanya penyesalan di akhiratlah yang akan  terus merugi karena sudah tidak ada lagi kesempatan utnuk memperbaiki diri.  Untuk itu  mari kita  putar kembali perjalanan hidup kita, siapa tahu kita  pernah melakukan perbuatan yang menyakitkan pihak lain atau merugikan pihak lain, dan kita belum sempat untuk meminta dimaafkan oleh mereka.  Kalau mereka masih dapat ditemui di dunia maka itu akan jauh lebih baik, karena kita akan dapat memkinta maafnya, namun jika mereka sudah dipanggil oleh Tuhan, maka  walaupun sudah tidak ada kesempatan untuk emminta maaf secara langsung, kita masih dapat berusaha menjalani hidup dengan baik, mendoakan baik kepada  seluruh umat dan terus memohon ampunan kepada Allah swt.

Pada kenyataannya  sangat banyak manusia yang  menyadari tentang hidup ini setelah mereka cukup umur dan matang dalam pengalaman serta pemikiran.  Dengan begitu maka  banyak pula  orang yang menyatakan aku menyesal, kenapa dahulu saya tidak melakukan hal terbaik  dalam memnghadapi hari tua.  Bisa jadi pada saat  masih ditunggui orang tua, lalu  denagn seenaknya  menggunakan waktu dan berfoya foya tanpa arah yang jelas dan tanggung jawab untuk dirinya sendiri.

Atau mungkin pada saat masih muda tidak ingat bahwa kesehatan itu sangat penting, sehingga tidak pernah berolah raga dan akhirnya terkena penyakit yang cukup berbahaya.  Kalaupun kemudian menyadari tentang pentingnya kesehatan, namun sudah kadung terkena sebuah penyakit, maka penyesalan tersebut juga masih ada gunanya, karena bagaimanapun  kondisi tersebut masih dapat diperbaiaki, walupun tidak sempurna.  Atas dasar kenyataan tersebut kirtanya sangat penting bagi kita untuk memberikan penjelasan yang dapat diterima oleh anak anak kta tentang berbagai hal yang akan berhubungan langsung dengan kondisi mereka saat sudah tua nanti.

Bukan hanya tentang pendidikan akhlak, pendidikan terhadap ilmu pengetahuan dan teklnologi, melainkan juga tentang kesehatan mereka dan cara hidup dan bergaul yang terbaik.  Kita harus mampu menjelaskan kepada mereka bahwa pada saat tua nanti akan banyak persoalan yang sulit dihadapi, dank arena itu dibutuhkan persiapan sejak  muda.  Dengan begitu kita berharap mereka akan  lebih menyadari kepetningannya di saat tua nanti.

Mudah mudahan kita akan dapat mengantarkan mereka lebih baik lagi ketimbang  kondisi kita.  Kita emmang  menyesali atas semua hal yang kurang baik yang pernah kita jalanio,  namun bukan berarti kita juga akan membiarkan anak anak kita mengalami hal yang sama.  Karena itu pendidikan menjadi  salah satu yang terpenting, baik pendidikan formal maupun pendidikan tuidak formal yang kita jalankan di rumah dengan pembiasaan pembiasaan yang terbaik.  Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.