WASPADA DI BULAN SEPTEMBER

Mungkin diantara kita masih teringat peristiwa di akhir bulan September ini beberapa tahun yang lalu, tepatnya lima puluh dua tahun yang lalu, saat ada sebagian  pihak yang mengkhianati bangsanya sendiri dengan melakukan kudeta militer.  Meskipun gagal dan akhirnya mereka dapat ditumpas, namun  duka tersebut rasanya  sulit untuk dilupakan, termasuk generasi yang tidak  menyaksikan langsung.  Peristiwa tersebut begitu memilukan, betapa tyidak para jenderal kita yang sangat  baik harus mengalami nasib yang tragis, karena dibantai oleh mereka dengan tanpa rasa belas kasihan.

Saat ini ketika kita diperlihatkan oleh kebiadaban para tentara Miyanmar yang membantai  rakyat Rohingya, kita langsung teringat kepada peristiwa bulan September tersebut.  Kita  tentu tidak ingin ada peristiwa biadab sepei itu dimanapun di dunia ini.  Kebiadaban tersebut  tidak terbayangkan dapat dilakukan oleh jenis makhluk yang bernama manusia, karena mereka mempunyai akal yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan, namun dalam kenyataannya masih saja terjadi.

Karena itu kewajiban bagi kita untuk melakukan uapay upaya strategis  agar dapat menghentikan kebiadaban tersebut.  Apapun alasannya, apakah itu  ekonomi, politik, atau bahkan agama sekalipun, tentu tidak layak untuk diperkenankan.  Itu cara yang lebih keji ketimbang yang dilakukan oleh binatang sekalipun.  Bagi kita yang waras tentu p[antas untuk mengumpat dan  geram, namun  apakah kita hanya akan  marah saja, tanpa melakukaj upaya nyata untuk menghentikannya?

Beruntung Negara kita langsung tanggap dan presiden mengutus menteri l;uar negerinya untuk melakukan  upaya diplomasi dengan Myanmar dan juga Negara lain agar tragedy kemanusiaa yang sangat biadab tersebut dihentikan, dan kemudian dilakukan pemulihan dalam berbagai aspek, termasuk pemberian  bantuan  makanan, pakaian, dan juga tempat tinggal serta pengobatan.  Saat ini sudah banyak Negara yang bersedai untuk membantu  persoalan tersebut, tinggal Myanmar sendiri apakah ingin mengakhiri persoalan tersebut ataukah tetap saja ingin  membuat sensasi dunia yang  lebih bejat lagi.

Tentu semua tahu bahwa perbuatan dlalim  seperti itu pada akhirnya tidak akan emmberikan kepuasan kepada para pelakunya. Mungkin dalam waktu sebentar mereka akan merasakan kepuaan, tetapi pada jangka lama mereka pasti akan merasa bersalah dana dikejar oleh dosanya sendiri.  Karena itu tindakan apapun yang  tidak manusiawi dengan berbagai dalih yang dianggap benar sekalipun, tetap saja akan mendapatkan kecaman dari mereka yang berhati  nurani.  Itulah mengapa perbuatan  yang dilakukan oleh sebagian militer Myanmar terhadap rakyat sipil Rohingya tersebut  mampu menggugah ingatan kita jauh ke belakang yanki peristiwa pembantaian PKI kepada para  jenderal dan kiyai kita.

Apalagi krtia  ada usulan  dari berbagai elemen yang menginginkan bahwa  pemerintah harus meminta maaf kepada keluarga para PKI tersebut.  Apakah ini tidak terbalik, mengapa pemerintah yang harus meminta maaf, kenapa dahulu mereka membantai para jenderal yang tidak bersalah, lalu mereka juga membantai banyak rakyat perdesaan dan para kiyai yang sama sekali tidak  tahu tentang politik?.  Memang setelah ada kesadaran dari rakyat dan para aparatur Negara, mereka para PKI tersebut dapat dimusnahkan dengan berbagai cara yang juga mungkin keji dan biadab.

Namun  sangat naif jiika kemudian ada tuntutan agar pemerintah meminta maaf kepada keluarga PKI, seharusnyalah mereka sendiri yang meminta maaf atas kelakuan para orang tua mereka yang telah mencoba untuk mengkudeta Negara kita Indonesia.  Apalagi saat ini juga sudah muncul banyak suara yang  menginginkan agar  PKI  dapat diijinkan tumbuh lagi di negeri ini dengan alasan HAM dan persamaan.  Tentu tuntutan tersebut sangat tidak rasional.  Kita sudah sepakat bahwa PKI tidak akan pernah diijinkan lagi untuk hidup di negri Pncasila ini.

Kita harus kuat dan rasional dengabn  segara argumentasi yang mereka sampaikan, jangan sampai kita justru terpengaruh  dan kemudian mengijinkan mereka untuk hidfup kembali.  Mengingat sepak terjangnya yang demikian, dan ideologinya yang bertentangan dengan Pncasila, tentu tidak ada ruiang  sedikitpun bagi PKI untuk hidup kembali di negeri kita.  Cukup sekali saja kita dikhianati oleh mereka, karena ideology yang memang berseberangan dengan Pnacasila tersebutlah yang emmbuat PKI  tidak cocok untuk hidup di bumi pertiwi.

Rupanya  sebagaian diantar  para penerus PKI tersebut saat ini sudah mengusahakan berbagai cara agar mereka dapat tampil kembali dengan baju aslinya.  Sangat mungkin bahwa  saat ini mereka sudah ada yang memerankan diri sebagai pihak yang  kuat, dan menduduki posisi startegis, meskipun masih dengan memakai baju lain.  Mungkin kita harus lebih waspada  dengan geraklan mereka yang  sembunyi sembunyi dan  akan mengintai kelalaian kita sehingga pada saatnya mereka akan melancarkan serangan kembali sebagaimana pada  tahun 1965 tersebut.

Kalau hanya waspada tentu kita diperbolehkan, bahkan mungkin malahan merupakan sebuah keharusan, karena yang tidak diperbolehkan ialah berburuk sangka kepada pihak lain yang sama sekali tidak sebagaimana perkiraan kita.  Kalau kita menuduh seseorang telah melakukan  uapaya jelek dan  tuduhan tersebut sama sekali hanya didasarkan kepada fiileing dan bukan data dan fakta, maka itu namanya bwerburuk sangka dan bahkan  dapat menjadi fitnah.

Namun kalau kecurigaan tersebut masih disimpan di dalam hati sambil terus mengintai dan melakukan pengawasan terhadap gerak gerik pihak lain, tentu hal seperti itu kalau tidak semata mata, dapat dipastikan  tidak emngganggu pihak lain tersebut dan itulah yang dinamakan kewaspadaan.  Maksudnya ialah agar kita tidsk terkecoh dan akhirnya tertipun dan akan  merugikan diri kita sendiri.  Karena itu kita memang harus mengembangkan sikap waspada  tetapi harus dihindari sifat buruk sangka dan menfitnah.

Mungkin ada banyak perintiwa di bulan September ini, namun  saat ini kita memang sedang focus untuk mengenang peristiwa mengerikan  tahun 1965 yang lalu tersebut, sehubungan dengan kejadian  sangat sadis yang dapat kita peroleh dari informasi di Myanmar atas etnis Rohingya.  Kita hanya berjaga jaga saja agar kejadian tersebut sama sekali tidak pernah kembali menimpa kita lagi atau menimpa  kawan kita dimanapun berada. Apalagi kemudian kalau kita kaitkan dengan adanya usaha dari beberapa pihak untuk menghidupkan kembali PKI di negara kita.

Kita tentu akan terus mendukung  siapapun yang menolaik kedatangan PKI, apakah itu rakyat biasa ataukah itu TNI dan lainnya.  Kita sangat  paham dengan  kebiasaan mereka yang selalu emnghalalkan cara untuk menembus keinginan  mereka.  Mengapa mereka sampai hati membanati para pahlawan kita, para jenderal yang ber perangai baik serta ebrjasa kepada Negara. Lalu dimana hati nurani merka?  Nah, mengingat semua itu kita sudah bersepakat untuk menolak kehadirannya kembali di Negara ini apapun alasannya.

Mari kita kuatkan barisan  agar dapat menolak  sedikitpun ide untuk mengembalikan PKI ke Negara kita tercinta ini.  Kita akan melakukan perlawanan  apapun bentuknya jika  PKI  masuk lagi di negeri kita.  Tentu kita sangat yakin bahwa  pemerintah bersama dengan sluruh TNI Polri dan sleuruh masyarakat akan  bersama sama untuk membendung dan menghalau PKI agar keluar dari bumu pertiwi ini.   Untuk itulah kita memang harus terus waspada dan  tanggap terhadap segala kemungkinan yang mengarah kepada hidupnya PKI di tanah air kita ini lagi.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.