SUDAH BAIKKAH KITA?

Pertanyaan ini sungguh menggelitik, terutama bagi mereka yang peduli terhadap  perubahan.  Namun bagi mereka yang tidak berp[ikir untuk menjadi lebih baik, mungkin saja dengan udah akan menjawab bahwa kita sudah baik ataupun sebaliknya kita belum baik. Beruntung kalau kita menjawabnya secara jujur bahwa kita memang belum baik, karena dengan begitu ada ghirah untuk berubah menjadi lebih baik dan meninggalkan keburukan yang saat ini disandang.

Namun jika kita berpikir bahwa dunia ini akan terus berputar dan  siapapun harus terus dinamis dan berubah, maka tidak ada kata lain dari pertanyaan tersebut ialah meskipun kita tidak terlalu jelek jelek amat, namun pasti masih belum baik dan belum sempurna. Untuk itu harus terus menerus dilakukan perbaikan dan  mawasa diri bahwa masih ada yang lebih baik dan kita harus terus mengusahakannya untuk menjadi lebih baik.

Kata baik itu memang akan sangat sulit dideg=finisikan, apalagi kalau susananya  normal, karena  jika sesuatu dianggap baik, lalu disandingkan dengan selainnya yang lebih baik, mungkin saja aka nada yang menyatakan bahwa yang baik tersbeut ternyata menjadi jelek.  Sebaliknya jika ada sesuatui yang  tidak baik, namun kemudian dihjejerkan dengan sesuatu yang lebih jelek, tentu akan muncul pihak yang mengatakan bahwa yang jelek pertama tersebut  sangat mungkin dikatakan sebagai bagu dan begitu seterusnya.

Dengan demikian kalau kita mau memberikan batasan terhadap  sebuah kebaikan, tentu harus dicari kriterianya, sehingga sesuatu yang baik itu akan tetap menjadi baik, meskipun disandingkan dengan sesuatu yang lebih baik.  Demikian pula yang jelek itu akan tetap menjadi jelek, meskipun dijejerkan dengan yang lebih parah.  Jadi jika kriterianya sudah ketemu dan sesuatu itu memenuhi kriteria tersebut, maka sesuatu tersebut akan dikatakan sebagai baik.

Jika diumpamakan bahwa baik itu ialah jujur, tulus dn taat kepada semua aturan, baik agama maupun  ketentuan negara, maka siapapun yang memenuhi kriteria tersebut  harus dikatakan sebagai orang baik, meskipun dia itu misalnya  tidak suka memberi.  Namun jika kriteria baik tersebut disempurnakan dengan menambah suka memberi atau bersedekah, suka menolong pihak lain dan lainnya, maka aiapapun yang memenuhi kriterianya akan dikatakan sebagai baik.

Kalaupun orang demikian dijejerkan dengan orang yang lebih baik lagi, dia tetap akan disebut sebagai orang baik, hanya saja masih ada yang lebih baik lagi, tetapi bukan kemudian berubah menjadi jelek.  Untuk itu sebaiknya kita memang  mengumpulkan variabel yang dapat menyumbang pada kriteria baik tersebut.  Mungkin untuk tahap pertama  kriterianya  cukup beberapa variabel saja,  setelah itu kita dapat meningkatkannya sendiri sesuai dengan kemampuan kita masing masing dan begitu seterusnya.

Karena itu jika kemudian muncul pertanyaan dalam diri kita sudahkah kita menjadi baik, maka jawabannya akan disesuaikan dengan kriteria yang sudah kita susun.  Pertama kali mungkin kita definisikan baik itu ialah jujur, taat aturan, dan tulus dalam berbuat, maka selama kita sudah mampu  menyesuaikan diri dengan sifat sifat etrsebut, maka kita sudah termasuk dalam kategori baik menurut kriteria kita sendiri.  Lalu dalam perjalanan selanjutnya mungkin kita sudah dapat melihat bahwa kebaikan itu pelu ditambah dengan suka memberi atau berbagi, maka tambahlah kriteria tersebut dengan suka berbagi.

Dengan penambahan tersebut mengharuskan kita untuk selalu ingat pihak lain dan selalu berbagi dengan mereka, sberapapun  harta yang kita punya, sebab jika kita pelit dan  tidak mau berderma kepada sesama, apalagi ketika kita menyaksikan betapa banyak orang menderita, maka kita belum baik, padahal kita ingin agar menjadi orang yang baik.  Dengan mempertanyakan diri kita sendiri tersebut, kiranya cukup ampuh untuk membangkitkan jiwa dermawan kita dan pada akhirnya kita akan menjadi orang  baik sesuai dengan kriteria kita sendiri.

Demikian juga dengan 4 variabel baik yang sudah kita tetapkan tersebut sangat mungkin pada perjalanan waktu akan menjadi kurang, karena kita secara langsung akan melihat bahwa dengan  itu ternyata belum cukup, karena dalam hubungan dengan masyarakat, ternyata masih diperlukan aspek lainnya yang harus dimasukkan ke dalam variable baik tersebut, semisal mampu berkomunikasi dengan baik kepada siapapun.

Kriteria tersebut duitambahkan karena setelah  menyaksikan betapa orang yang buruk dalam berkomunikasi meskipun jujur dan tulus, akan tetapi masih belum komplit sebagai seseorang yang disebut sebagai baik.  Cara berkomunikasi dengan sesama, dengan pakhluk Tyuhan yang lain, dengan mereka yang menganggap dirinya sebagai musuh dan lainnya santat diperlukan, sehingga  akan tercipta hubungan yang mesra diantara  semua, bukan hubungan yang beku dan kaku.

Hubungan yang mesra  tentu akan  mendatangkan banyak keuntungan dan terjauhkan dari buruk sangka yang mungkin dikembangkan oleh pihak lain.  Bahkan terkadang  cara berkomunikasi etrsebut akan menempati rangkin atas dalam upaya untuk mempertahankan pertemanan atau hubungan yang lebih luas lagi.  Bahkan  jika hubungan  antara dua pihak terus memburuk dan tidak mampu dijembatani oleh cara berkomunikasi yang baik, bisa bisa akan meletus peperangan dan perseteruan diantara mereka.

Itulah mengapa kita harus terus  menerus mengembangkan kriteria baik yang kita  tetapkan, dengan harapan bahwa apapun yang kita lakukan itu sudah ada unsur yang menuju kebaikan. Mungkin pada tahap berikutnya kita akan menemukan  aspek lainnya lagi yang  mampu menjadikan kita menjadi baik, baik dimata kita sendiri maupun di mata pihak lain.  Bagaimanapun kita tidak akan mampu mempertahankan kriteria kita sendiri, kita  akan terus  berhadapan dengan komunitas lainnya yang juga berharap dapat menjalin hubungan baik dengan kita dan begitu seterusnya.

Penetapan zona integritas di kampus Uin Walisongo dimaksudkan antara lain untuk mendorong kepada seluruh warga kampus ini  agar selalu berusaha untuk berubah menjadi lebih baik.  Kalaupun saat ini kita menilai diri kita sendiri sudah baik, bukan berarti kita kemudian diam saja, karena semua pihak terus bergerak, maka  sangat mungkin jika kita terdiam, maka kita akan menjadi pihak yang tertinggal.  Karena itu saya secara terus menerus mengajak kepada semua pihak untuk memperbaiki diri dengan  melakukan  berbagia aktifitas yang bermanfaat.

Dalam  prosesnya pasti kita akan menemukan sesuatu yang dapat diusulkan sebagai variabel kebaikan jika hal tersebut dapat dilakukan.  Kita semua tentu berharap bahwa  dengan status  kita sebagai  kampus  menuju zona yang bebas dari korupsi tentu kita harus  selalu  menujukkan diris ebagai pihak yang memang konsisten  mengusahakannya dengan disertai dengan tindakan nyata.  Semua godaan yang terkait dengan ketidak jujuran, ketidak taatan  kepada aturan main dan lainnya harus dapat kita singkirkan dan buang jauh jauh.

Dengan menjadikan diri kita sebagai teladan dalam hal kejujuran, ketaatan, dan tulus dalam menjalankan tugas atau dalam semua perbuatan yang kita lakukan,  dan juga ditambah dengan komunikasi yang baik dengan pihak lain, insyaallah kita akan  mendapatkan apa yang kita inginkan.  Bukan untuk gagah gagahan, melainkan semata mata karena kita bekerja itu untuk beribadah dan mendapatka keberkahan dalam menjalani hidup di dunia.

Semoga kita emmang  dapat menjadi orang baik, menjadi institusi yang baik dan  menjadi warga yang baik.  Itu semua  sudah pasti akan  menjadikan diri kita tenang, damai dan memeproleh kecikupan dan keberkahan hidup.  Ityulah kiranya yang kita cari, dan bukan harta semata.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.