DERITA RAKYAT ROHINGYA

Tragedi kemanusiaan di dunia ini rasanya tidak pernah habis, karena setiap kali  bahkan setiap hari selalu muncul di belahan bumi.  Kalau dahulu kita disuguhi kekejaman orang orang Israel atas anak anak Palestina, kemudian juga di bebrapa negara Afirika, lalu Timur Tengah, sekarang ini di Myanmar, khususnya  di negara bagian Rakhin.  Kita tahu bahwa di  tempat itulah  sebagian besar muslim yang memang merupakan minoritas di sana mengalami penderitaan yang sangat mengenaskan. Bagi kita yang peduli terhadap harkat kemanusiaan, tentu akan sedih dan menitikkan air mata sebagai tanda kita tidak rela ada pembantaian manusia oleh manusia lainnya.

Isyu kemanusiaa tersebut ternyata tidak berlangsung sebagiamana mestinya, karena dunia ternyata  meresponnya  dan  ada kepentingan dari beberapa negara lain yang justru lebih besar, sehingga tragedi tersebut terus berklangsung, sebab sebagiannya ingin hal tersbut dihentikan sesegra mungkin, namun sebagian lainnya justru emnginginkan konflik tersebut terus beralngsung.  Tentu mereka tidak lagi memandang dari sisi ekmanusiaan, melainkan  mereka jut=stru menginginkan keuntungan untuk mereka sendiri.

Kita juga tahu bahwa di wilayah tersebut ternyata ada sumber minyak yang cukup besar, dan itulah satu satunya kepentingan yang diperebutkan diantara negara negara yang saling berebut tersebut.  Walaupun kemudian ada sisi lain yang  dimunculkan, yakni sentimen agama, namun sesungguhnya itu tidak menentukan.  Hanya beberapa pihak yang juga mempunyai kepentingan sajalah yang kemudian membesar besarkan sentimen agama tersebut.

Sudah barang tentu ada maksud tertentu agar masyarakat terprovokasi dan ekmudian melakukan tindakan secara langsung.  Memang kebetulan masyarakat rohiongya itu mayorits muslim dan mereka  merupakan rakyat sipil yang minoritas, sehingga hak hak mereka terkadang tidak diberikan.  Jadilah kemudian merka menjadi pihak yang lemah dan selalu emnjadi sasaran dan obyek konflik yang terjadi.  Itu kita dapat mengerti, tetapi kalau kemudian diberikan suguhangambar gambar yang sangat luar biaa sebagaimana yang  kita saksikan di media sosial, maka itu sudah banyak bantahan.

Yangbterpenting ialah bagaimana masyarakat kita, yakni khususnya umat muslim di Indonesia jangan mudah terprovokasi oleh berita berita provokatidf tyang ada dan tidak mudah terpancing oleh hasutan yang sengaja dihembuskan.  Kita sangat kahwatir kalau yang ditonjolkan ialah permusihan dan pembantaian rakyat muslim oleh kaum budha di Myanmar, maka  akan berakibat fatal bagi rakyat Indonesia yang sudah tenang.

Kita harus mendapatkan berita yang valid dan akurat, sehingga kita akan dapat mensikapinya dengan penuh bijaksana.  Jika pemerintah Indonesia  sudah melakukan upaya nyata dengan mengutus  menteri luar negweri ke Myanmar tentu itu sudah merupakan jalan keluar bagi bangsa ini untuk ikut  menciptakan perdamaian di dunia, tentu melalui diplomasi dan usaha usaha konkrit yang dilakukan, semacam memberikan bantuan langsung kepada rakyat Rohingya dan pengawaan yang ketat oleh badan dunia yang dipercaya.

Isyu isyu yang terus dihembuskan oleh pihak pihak tertentu yang justru memanas manasi rakyat, tentu tidak elok bagi kita yang  hidup  berdmpingan dengan banyak pihak. Kita harus menghormati pihak lain selam pihak lain tersebut juga  dapat emnghormati kita selalku negara yang berdaulat.  Memang ada kalanya  ketika sebuah negara melakukan pelanggaran terhadap kemanusiaa berat mislanya, lalu negara lain ikut campur khusus dalam pembelaannya terhadap harkat kemanusiaannya, namun  sebaiknya juga harus melalui  usaha diplomatik dahulu.

Siapa tahu dengan usaha yang dilakukan dengan cara bai baik tersebut justru akan menghasilkan yang lebih baik,  Karena itu khusus terhadap persoalan rohingya, kita harus mampu menahan diri sambil menunggu hasil utusan presiden yang membawa misi perdamaian di sana.  kIta jangan mudah iadu domba  yang justru akan menyebabkan konflik di kalangan kita sendiri.  Coba bayangkan jika isyu yang diogoreng atas nama agama lalu ada yang  terpengaruih lalu memusihi saudara kita yang Budha , pastinya akan menjadi semakin runyam.

Rupanya semua  persoalan konflik yang dibalut dengan agama, sesungguhnya  substansinya bukanlah tentang agama, melainkan mengenai persoalan lain,  mungkin peroalan ekonomi, persoalan sosial, politik  dan kepentingan negara lain.  Tidak di Irak, di Syuriah, di Yaman, di Afrika dan di belahan dunia lainnya, semuanya  meskipun dibungkus dengan agama, tetapi kepentingan lainnya justru lebih menonjol.  Penyebutan  persoalan agama tersebut semata hanya ingin mendapatkan simpati dari masyarakat lainnya.

Bahkan yang kita sama sama tahu  semacam persoalan Palestina yang dihancurkan oleh Israil pun juga sesungguhnya bukan semata persoalan agama, melainkan kepentingan lainnyalah yang lebih dominan.  Kembali kepada persoalan Rohingya, kita menjadi sangat terpukul dengan pemberitaan yang begitu heboh, dengan sekian banyak  pembantaian, pemerkosaan, pembakaran rumah, kampung dan juga manusia.  Namun sebagiannya sudah dijawab oleh pihak tertentu bahwa hal tersebut sesungguhnya dirakyasa, sehingga  seolah terlalu serem.

Namun kita juga yakin bahwa ketika sedang berperang atau konflik telah pecah, maka manusia tidak lagi bertindak rasional, bahkan mereka  bertindak membabi buta serta tidka kenal peri kemanusiaan.  Jadilah pembantaian itu  mungkin benar adanya, meskipun  mungkin juga benar itu rekayasa gambar yang disenagaja disuguhkan untuk memprovokasi umat.  Rakyat rohingya memang sedang menderita, karena merka dikepung dari segala penjuru, dan jika mereka akan melarikan diri, jalan satu satunya ialah melewati laut.

Mereka sendrii sesungguhnya tidak emmpunyai bekal dan ketrampilan untuk  mengungsi dengan melewati lautan, sehingga beberapa diantara mereka yang nekat pun akhirnya harus  mati ditelan air.  Kelapran itu sudah pasti terjadi, karena dimanapun jika terjadi konflik  dan sudah pecah perang, pastuinya  akan terjadi malapetaka kelaparan dan kekurangan suplai makanan, minuman dan obat obatan.

Sebagai bangsa yang beradab kita  memang harus bersuara dan menyrukan kepada semua pihak yang terlibat untuk segera mengakhir  semua konflik tersebut, demi kemanusiaa, bukan atas nama agama apapun.  Mungkin bagi kita yang muslim kita solidaritas sesama muslim yang sedang mendapatkan musibah, setidaknya melalui doa agar mereka segera  mendapatkan pertolongan dan mengakhiri semua derita yang selama ini mereka pikul sendiri.  Kita juga menyerukan kepada negara lain yang kepentingannya ada di sana, untuk  tidak memperpanjang lagi konflik yang terjadi.

PBB mungkin perlu membenahi  dirinya sendiri, yakni agar tidak lagi ada hak veto bagi negara negara tertentu, yang hanya akan  menyengsarakan umat manusia sendiri.  Itu disebabkan bahwa anggota tetap PBB tidak semuanya  mempunyai keinginan yang sama untuk menciptakan kedamaian  di dunia, bahkan malahan saat ini kita tajhu sebagian diantara mereka  malah menginginkan dunia selalu bermasalah, karena dengan demikian mereka akan mendapatkan keuntungan besar.

Pada akhirnya kita hanya dapat menghimbau kepada seluruh umat manusi di dunia untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar menurunkan kerunia Nya sehingga semua rakyat yang seang berkonflik dan berperang diberikan pencerahan dan segera mengakhiri semuanya.  Khusus bagui umat muslim kita juga menghimbau agar melakukan  qunuit Nazilah untuk musibah yang bertubi tubi menimpa rakyat Rohingya.  Semoga dunia ini selanjutnya akn damai dan penuh dengan keberkahan. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.