BEBAN UNTUK TERUS MEMPERTAHANKAN KEBAIKAN

Sebagaimana kita tahu bahwa kemarin UIN Walisongo telah mencanangkan zona integritas, dan itu berarti harus ada upaya yang serius dari semua pihak agar di UIN Walisongo tetap bersih dari segala macam bentuk penyeleweangan ataupun bentuk lain yang bertentangan dengan semangat bersih bersih.  Harapan seterusnya ialah bahwa UIN akanmenjadi garda untuk menjaga negeri ini bebas dari korupsi, yang tentu dimulai dari dalam sendiri.

Mungkin menjaga tersebutlah yang harus disadari bahwa itu sangat berat, karena godaan pastinya akan terus mengalir dan mengintai dan bahkan menarik narik kepada kita agar kita lalai dan  tercebur dalam ketidak benaran.  Untuk itu waspada  adalah kata kunci yangmemang harus ditumbuhkan serta dibiasakan dalam diri kita, sebab tanpa  waspada  dan hanya mempercayai begitu saja kepada semua orang tentu akan dapat membahayakan diri kita sendiri.

Artinya kita memang tidak boleh  berburuk sangka kepada siapapun, namun untuk menjaga segala kemungkinan kita memang harus waspada, dan sikap waspada itu tidak identic dengan  buruk sangka, karena waspada itu berarti berhati hati dan penuh perhitungan  dalam segala hal.  Kita tetap jharus berbaik sangka  dan berteman kepada siapapun, karena justru kita  diharapkan akan menggaet orang lain agar meniru sikap yang kita tunjukkan.

Jika hingga saat ini kita masih menyaksikan adanya  pihak yang belum dapat menyesuaikan diri dengan kebijakan baru tersebut, tentu mereka harus terus mengupayakan agar dapat  membiasakan diri tetap bersemangat, bukan atas dasar keinginan mendapatkan sesuatu di luar yang menjadi hak kita, melainkan  semata mata hanya ingin bahwa apapun yang kita terima  menjadi berkah dalam hidup kita dan memberikan ketenangan hidup bagi  kita dan keluarga.

Toh jika kita menerima dengan tulus apapun yang kita dapatkan, pastinya kita akan selalu diberikan kebaikan oleh Tuhan, apalagi kalau kita selalu mensyukuri apapun yang diberikan oleh Tuhan.  Pada saat ini  sebagaimana kita tahu bahwa UIN Walisongo sudah memberlakukan  remunerasi kepada seluruh pegawainya, dan itu berarti  bertambahnya kesejahteraan bagi mereka.  Namun demikian  kita masih menyaksikan  adanya sebagian diantara mereka yang terus mempertanyakan  berbagai hal tentang hak, padahal seharusnya yang dipertanyakan ialah tentang kewajiban.

Namun kita menyadari bahwa  tipe mereka yang demikian biasanya  memang suah diniatkan sehingga keinginanya  juga terus  mempertanyakan smeua hal, termasuk yang sesungguhnya sudah menguntungkan.  Kita akan doakan dan sekaligus berikan pencerhan agar mereka menyadari betapa ada pihak yang berusayha keras agar pendapatan meningkat, bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk keseluruhan lembaga.  Nah, ini terkadang yang tidak  diketahui atau memang sengaja tidak mau tahu, dan inginnya hanya menerima yang banyak saja.

Mental sperti itu selalu saja muncul dari beberapa orang yang kita  sendiri tidak memahami motivasinya, bahkan kita  terkadang merasa geli sendiri, karena mereka pada umumnya tidak mau tahu dari mana me4ndapatkan kesejahteraan tersebut, karena yang terpenting ialah bagaimana mereka mendapatkan yang banyak itu saja.  Itulah kemudian kita menjadi geli ketika mereka menyebuitkan dan  membicarakan tentang keadilan.

Sesungguhnya keadilan itu tidak bisa hanya dilihat dari sudut pandang  penemrimaan semata, karena  ada kalanya  keadilan itu dilihat dari jasa dan peran. Kita tentu akan menganggap  sesuatu itu adil meskipun tidak sama, seprti ketika seorang direktur dalam sebuah perusahaan menerima gajinya lebih banyak bahkan berlipat dibandingkan dengan seorang pembersih, meskipuhn pekerjaannya mungkin lebih berat pembersih, namun direktur iotulah yang  bertanggung jawab atas perusahaan sehingga dia harus digaji lebih besar ketimbang lainnya.

Menuntut agar seluruh gaji karyawan disamakan ialah tindakan yang tidak mencerminkan keadilan, walaupun kalau dilihat dari satu sisi, yakni penerimaan gaji, mungkin tidak adil.  Itulah yang barangkali perlu diberikan pencerahan  agar semuanya dapat dengan tulus menerima kondisi dan  au=turan yang telah dibuat.  Kita memang tidak ingin muncul rasa iri, dengki dan sejenisnya, hanya semata mata  disebabkan oleh tidak samanya penerimaan akhir.

Segala sesuatu itu pasti emmpunyai aturan dan argumentasinya sendiri, sehingga kalau kita ingin menilai sesuatu, sebaiknya kita menggunakan ukuran dan standar yang dipakai oleh yang kita nilai, bukan dengan membuat standar sendiri.  Jika kita menilai sesuatu dengan mata dan ukuran diri sendiri, sudah dapat dipastikan akan terjadi banyak kejanggalan, karena subyektifitas diri itu terkadang  tidak mau berpihak kepada yang lain, melainkan hanya untuk menguntungkan diri sendiri.

Justru kita menginginkan bahwa semua warga kampus Uin Walisongo akan  dapat secara jernih memandang bahwa semua keputusan yang telah dibuat oleh para pengambil keputusan itu telah melalui mekanisme yang benar, sehingga sudah dipertimbangkan berbagai macam hal, termasuk keadilan dan keseimbangannya.  Kalau dipandang ada perbedaan yang mencolok, tentu dapat dijelaskan dengan  argumentasi yang kuat, bukan semata mata  ada aji mumpung yang merugikan banyak pihak lain.

Demikian itulah yang menjadi pertimbangan kita untuk optimis bahwa zona integritas yang dincangkan kemarin itu memang  sudah emnjadi ruh dari warga UIN sendiri.  Kita pasti akan mempertahankannya dan bahkan mengisinya dengan semua aktifitas baik yang  memungkinkan kita lakukan.  Dengan terus menerus memberikan pencerahan kepada smeua warga kampus, dan juga dibarengi dengan keteladanan yang dilakukan oleh smeua pimpinan, kita sangat yakin bahwa  Uin wWalisongo akan mampu mengemban amanah  dan emmpertahankannya.

Biasanya memang mempertahankan itu jauh lebih suklit ketimbang meraih, karena setelah kita berhasil dalam sesuatu, maka godaan pastilah akan bermunculan, baik dari dalam diri maupun dari luar.  Godaan dari diri sendiri itulah yang  paling berat, karena jika kita diuji oleh Tuhan dengan kesulitan harta, lalu ada tawaran yang sangat menggiurkan, lalu siapa yang menjamin kita akan kuat emnghadapi cobaan tersebut? Salah salah terkadang malahan setelah tergoda yang pertama akan  terus menggerogoti  yang berikutnya dan begitu seterusnya.

Untuk itulah sebelum semuanya terjadi kita harus membentengi hal tersebut dengan pendekatan agamis dan orientasi ke akhirat.  Artinya jika kita terus menrus diingatkan tentang ajaran agama kita yang memang lurus dan lebih mengutamakan kepentingan  bersam dan pihak lain, ketimbanga diri sendiri, maka setidaknya kita akan terbentengi dengan pengetahuan tersebut, meskipun hal tersebut tidak seratus eprsen menjamin tidak akan tergoda oleh rayuan maut setan.

Lalu kalau kemudian diperkuat dengan orientasi akhirat yang terus meenrus dimasukkan ke dalam pikiran kita, tentu  lama kelamaan akan membuat sebuah benteng yang kuat untuk  ditterobos nafsu.  Klaua kita sudah  dipenuhi oleh pikiran tentang akhirat yang hanya ada dua pilihan, yakni  beruntung atau celaka, maka kita tidak bisa tidak pastinya harus memilih diantara salah satunya.  Damn pasti kita akan lebih memilih surga karena itulah tujuan akhir kita.  Dengan begitu kita akan emmbuat benteng yang cukup kuat dalam diri kita untuk tidak mudah digoda oleh rayuan duniawi yang pasti akan menyengsarakan.

Semoga kita akan senantiasa dijaga oleh Tuhan dan diberikan kekuatan untuk mempertahankan  integritas kita serta  pencanangan zona integritas  yang sudah kita canangkan bersama. Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.