DAGING IDUL ADLHA

Masih banyak diantara umat muslim yang mempunyai angan angan untuk menyimpan daging kurban untuk beberapa hari atau bahkan beberapa minggu ke depan, karena banyaknya daging yang diterima sehingga amat saying kalau kemudian harus diberikan kepada orang lain.  Alasannya ialah toh mereka juga sudah menerima daging yang sama.  Namun  melihat kondisi saat ini dimana di lingkungan kita amsih banyak orang membutuhkannya, alangkah naifnya jika kita berkeinginan untuk menyimpannya sendiri.

Pada saat zaman raulullah saw pernah terjadi dimana daging kurban itu sangat terbatas dibandingkan dengan umat yang  ingin mendapatkannya.  Pada saat demikian dahulu rasul pernah melarang menyimpan daging kurban melbihi tiga malam.  Itu disebabkan masih banyak orang miskin yang menginginkan gading itu.   Sebaiknya daging daging kurban itu diberikan kepada merka yang sangat membutuhkan, bukan disimpan untuk kepentingannya  sendiri.

Namun seiring dengan kesejahteraan yang didapatkan oleh kaum muslimin, lalu banyak umat yang berkurban, sehingga dagingnya cukup banyak.  Jika masih memberlakukan  perintah atau larangan Nabi sebagaimana dahulu, maka akan banyak daging yang busuk karena tidak dapat digunakan lagi setelah tiga hari.  Melaihat kenyataan tersebut lalu rasul menasakh atau  membatalkan larangan menyimpan daging kurban  lebih dari tiga hari, maksudnya agar daging kurban tersebut masih dapat dimamfaatklan oleh umat.

Nah, kalau saat ini kondisinya sebagaimana  zaman Nabi dahulu, yakni  kemiskinan  ada di mana mana dan mereka sangat menginginkan daging kuban tersebut, maka  seharusnya umat muslim tidak menyimpannya, melainkan diberikan kepada para kaum miskin tersebut.  Memang secara lahir  kita bangsa Indonesia  seharusnya  berlebih kurban yang dilakukan oleh umat muslim, mengingat  banyak diantara mereka yang selalu saja  pergi umrah, pergi haji pun juga harus mengantri hingga puluhan tahun dan secara kaat mata  kaum muslimin juga  sejahtera secara lahir.

Nah, kalau kemudian ternyata yang melakukan kurban hanya sedikit saja, maka itu tentu ada yang salah dengan mereka.  Apakah mereka sudah tidak lagi menganggap bahwa perintah  kurban itu langsung dari Tuhan, atau mengira hanya sebuah anjuran saja yang sama sekali tidak  ada resiko apapun jika tidak melaksanakannya, atau karena mereka sudh dibutakan dengan dunia dan lainnya.  Biasanya  umat muslim akan  merasa  eman kalau harus melakukan sesuatu yang manfaatnya secara langsung  bukan untuk dirinya, tetapi untuk pihak lain.

Kurban adalah sebuah ibadah yang secara kasat mata menguntungkan pihak lain,  yakni para kaum masakin dan fuqarak, padahal kalau mereka berpikir secara jernih tanpa di bayangi oleh harta, pastilah mereka akan mendapatakn kecerahan bahwa kurban itu sesungguhnya untuk dirinya dan bukan untuk pihak lain.  Ketulusan memang menjadi sayarat mutlak dalam berkurban, sehingga siap[apun yang belum mampu berbuat  tulus, pasti akan sangat berat menjalankan ibadah kurban, meskipun hartanya sudah sangat banyak.

Dalam kondisi seperti saat ini  seharusnya dan idealnya  kaum muslimin akan surplus daging kurban dan bahkan  akan mampu memberikannya kepada pijhak lain agar mereka tertarik untuk masuk dalam barisan umat muslim.  Zakat saja boleh diberikan ke[ada non muslim dengan harapan mereka akan tertarik masuk ke dalam islam, maka daging kurban pun  seharusnya juga boleh diberikan kepada non muslim, terutama jika untuk umat muslim sendiri sudah emncukupi.  Lebih lebih kalau ada keinginan atau niat agar mereka yang diberikan daging kurban akan tertarik masuk islam.

Kita sendiri sesungguhnya menjadi bingung dengan kopndisi umat muslim di negeri kita, sebab semakin merka kaya dan mempunyai pengetahuan yang lebih baik, tetapi dalam kenyataannya amaliyahnya justru  menurun drastic.  Tiodak saja umatnya yang memang masih awam, melainkan justru sudha emngjhinggapi para tokohnya yang diharapkan menjadi teladan.  Banyak diantara para tokoh yang  dengan mudahnya  menyampaikan  tausiyah untukl berkorban, namun dirinya sendiri malah tidak melakukannya.

Sudah barang tentu hal tersebut akan menjadi hambatan tersendiri bagi umat Islam untuk maju, karena para tokohnya tidak memberikan keteladanan, bahkan kalau mungkin malahan memanfaatkan momentum tersebut untuk keuntungannya sendiri secara material.  Sungguh sayang memang kalau citra islam yang sangat bagus dirusak oleh oknum yang sama sekali tidak sensitif terhadap nasib umat muslim  secara keseluruhan.

Namun kita masih emnjumpai sebagian kecil umat muslim yang meskip[un  secara kasat mata miskin, namun keinginannya untuk dapat ebrkurban sangat kuat, sehingga mereka mengumpulkan uang untuk beberapa tahun lamanya dan ekmudian setelah dianggap cukup untuk berkurban, mereka melaksanakannya.  Lantas pertanyaannya ialah apakah para tokoh yang tidak berkurban, padahal mereka sangat berlebih harta tidak merasakan malu?

Kenyataannya memang ada  orang yang keinginannya untuk berkurban begitu kuat namun  finasialnya tidak memungkinkan, tetapi karena niatnya sudah demikian kuatnya, maka Tuhan akhirnya memberikan jalan melalui tabungan yang setiap harinya dikumpulkannya.  Namun jika orang memang tidak ada niat sama sekali untuk berbuat kurban, maka meskipun  banyak harta yang mencukupi untuk sekedar berkurban, mereka pun p[asti tidak akan tergerak hatinya untuk berkurban.

Memang ada beberapa penafsiran terhadap firman Tuhan yang memerintahkan untuk berkurban.  Sebagian ulama berpendapat bahwa  memang Tuhan sudah emmberikan nikmat dan anugerah yang sangat banyak dan melimpah, karena itu kemudian Tuhan memerintahkan orang untuk shalat dan berkurban.  Dengan pemahaman ini  sesungguhnya terkandung maksud bahwa kalaupun manusia itu tidak akan berkurban, namun kenikmatan yang melimpah tersebut sudah digenggaman, sehingga tidak akan mempengaruhinya.

Namun sebagian mufassir mengatakan bahwa sesungguhnya maksud dari firman Tuha  tersbeut ialah bahwa Tuhan akan emmberikan nikmat yang melimpah ruah jika manusia mau menjalankan shalat dan berkurban, sehingga jika dia tidak emnjalankannya maka kenikmatan yang  melimpah tersebut tidak akan diperolehnya.  Sesungguhnya jika yang dimaksud dengan nikmat yang melimpah tersebut ialah nikmat yang kasat mata di dunia, maka  dengan mudah diketahui, tetapi jika yang dimaksudkan ialah nikmat di akhirat, maka hal tersebut sulit untuk diketahui dengan mata kepala.

Karena itu yang paling selamat ialah jika kita dasari diri kita dengan keimanan, sehingga kalaupun aiksudnya ialah kenikmatan akhirat, kita masih tetap dapat mempercayai dan mengharapkannya, dan jika  yang dimaksudkan ialah kenikmatan duniawi, kita pun juga akan tetap dapat  mempercayainya.  Bahkan jika yang dimaksudkan ialah kedua duanya, yakni duniawi dan ukhrawei, kita pun masih tetap  dalam posisi yang tepat.

Kembal;i kepada p[ersoalan menyimpan daging kurban, meskipun sampai saat ini posisi menyimpan daging kurban  diiperbolehkan hingga beberapa hari ke depan, namun jika dilingkungan tersebut masih banyak orang miskin yang sangat emmbuthkan daging tersebut, rasanya tidfak elok dan bahkan mungkin sangat tidak etis jika daging kurban  masih disimpan  lebih lama lagi.  Sensitifitas kita terhadap keberadaan orang miskin seolah telah hilang entah kemana.

Sebagai orang beriman seharusnya kita tidak selalu memikirkan diri sendiri, melainkan juga memikirkan kesejahteraan sesama. Dengan demikian  berbagi dengan mereka yang msikin akan menjadi prioritasnya untuk bercengkerama dengan kebajikan.  Kita snagat ebrharap kepada kaum muslimin  agar  selalu mengingat kehidupan akhirat yang pastinya lebih baik dan lebih kekal, ketimbang kegidupan dunia.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.