MASIH DALAM SUASANA IDUL QURBAN

Ternyata  hingga saat ini masih banyak diantara masyarakat yang  mnymblih hwan kurban,karna waktunya yang masih mmungkinkan.  Ada alasan trsndiri knapa  tidak skalian dipotong pada  Jumat kmarin, itu  disbabkan pada hari jukmat, harinya sangat pndk dan masyarakat pun harus mnunaikan ibadah shalat jumat.  Nah, dngan alasan trsbut kmudian mrkia lbih mmilih mmotong hwan kurbannya pada Sabtu dimana  masyarakat sudah relatif snggang shingga akan dapat fokus kepada pemotongan  dan skaloigus juga pndistribusiannya.

Bahkan  masih ada pula yang  memotongnya pada hari minggu dengan alasan yang kurang lebih sma, yakni  masyarakat yang diharapkan akan melaksanakan pemotongan dan sekaligus juga pendistribusiannya ada waktu longgar.  Jadilah hari Minggu ini njustru masih cukup banyak pemotongan hewan kurba tersebut, dan bahkan pada  kantor kantor yang menyelenggarakan penyembelihan hewan kurban akan  dilaksanakan pada hari terakhirm, yakni Senin besuk.

Semuanya tidak emnjadi masalah karena  Islam memang memberikan kesempatan untuk berkurban pada  hari raya Idul Adlha dan  hari hari tasyriq yakni tiga hari setelahnya.  Hanya saja biasanya ketika  hari raya tidak jatuh bertepatan  dengan hari jumat, kebanyakan masyarakat akan  memotongnya pada saat itu juga, mengingat biasanya  hari setelahnya juga tidak akan libur.  Kebanyakan masyarakat bekerja dan mereka akan sulit jika harus menunda pelaksanaan pemotongan tersebut.

Hal yang penting  terkait dengan  idul kurban tersebut ialah bagaimana  saat daging kurban tersebut melimpah dan  tidak akan habis untuk dimakan pada hari hari itu, apakah boleh disimpan untuk hari kemudian sehingga  daging tersebut masih dapat dimanfaatkan?  Dahulu memang Nabi Muhammad saw pernah melarang menyimpan daging kurban  melewati tiga hari, namun kemudian hal tersebut dikoreksi leh beliau dan  akhirnya beliau memperbolehkannya.

Kenapa dahulu Nabi melarang untuk menyimpan daging kurban melebihi tiga hari? Sudah tentu kita harus melhat kondisi masyarakat pada saat itu dimana  banyak orang miskin yang membutuhkan daging kurban, maka  jikan  di sekitar kita masih banyak yang membutuhkan, tentunya kitanharus berbagi dengan mereka, bukan  menyimpannya untuk diri sendiri.  Hal tersebut disebabkan karena  kurban tersbeut sesungguhnya diperuntukkan bagi orang orang miskin tersebut.

Lantas  dimana  nurani mereka pada saat demikian justru   mereka malah menyimpannya  untuk diri sendiri? Itulah mengapa Nabi kemudian  melarang hal tersebut.  Namun seiring dengan perkembangan zaman  dan makin banyaknya orang yang berkurban, sehingga kalau kemudian larangan etrsebut masih tetap diberlakukan, maka akan banyak daging kurban yang sia sia  dan emmbusuk tanpa  dapat dimanfaatkan. Itulah kenapa kemudian Nabi memperbolehkan menyimpan daging hingga lebih dari tiga hari.

Nah, pada saat ini di negeri kita, kita dapat menyaksikan betapa banyak orang yang berkurban, bahkan hampir di setiap kampung atau RT dipastikan di sana ada yang berkurban, sehingga masyarakat akan mendapatklan bagian daging kurban tersebut.  Dengan melihat kondisi tersebut, maka  bagi yang masih adaa  kelebihan daging juga dapat disimpan untuk dimakan pada hari hari berikutnya, tanpa  harus merasa bersalah.  Namun jika  mereka mau mensedekahkan kepada pihak laiunnya yang juga sudah sama sama mendapatkan bagian  daging kurban, maka itu juga baik.

Beruntung kita, karena  Idul kurban kali ini  jatuh pada har Jumat sehingga sekaligus  ada liburan yang cukup panjang, yakni mulai Jumat hingga Minggu dengan demikian masih ada waktu bagi kita untuk berlbur, mungkin rekrasi ke tempat tempat tertentu atau bersilaturrahim kepada saudara di kampung atau ke teman dan lainnya.  Sekaligus  reuni dengan beberapa teman sekelas dahulu karena memang  hari libur itu sangat ebrharga bagi siapapun yang sudah lama merindukan untuk berjumpa.

Kita juga menyaksikan betapa banyak antrian di jalanan hampir seperti pada saat Idul Fitri, karena ternyata  liburan kali ini juga dimanfaatkan oleh sebagian umat untuk mudik dan memotong kurban di kampung.  Tentu mereka harus diberikan apresiasi karena mereka beranggapan bahwa daging kurban tersebut akan lebih bermakna jika diberikan kepada masyarakat di kampung ketimang  dipotong di kota dimana mereka tinggal.  Artinya mereka masih ingat kepada kampung halaman dan  keinginan berbagai dengan masyarakat kampungnya.

Bahkan jika kita sempat untuk pergi ke beberapa  tempat rekreasi,  kita pasti akan tercengang, sebab ternyata masyarakat kita tumplek blek di sana  beserta seluru keluarga mereka, hanya untuk menikmati suasana liburan Idul Adlha yang  jatuh pada masa libur panjang, yakni sabtu minggu.  Kita juga tidak tahu bahwa  masih ada yang  mengungkapkan bahwa  saat ini kita sedang memasuki masa sulit dan krisis.  Tentu mereka itu tidak sleuruhnya benar, karena dalam kenyataannya masih banyak masyarakat kita yang hidup sejahtera.

Bukti lainnya yang tidak terbantahkan ialah betapa banyaknya masyarakat kita yang pergi umrah. Lihatlah betapa  ribuan umat muslim setiap minggunya yang pergi ke Arab Saudi untuk berumah, belum lagi ketika memasuki musim haji,  ratusan ribu masyarakat kita yang menunaikan ibadah haji, itupun  masih belum terhitung mereka yang harus mengantri  bahkan hingga puluhan tahun.  Demikian juga  di jalan jalan, kendaraan baru  bermunculan dan pada saat  idul kurab kali ini juga banyak umat yang melakukannya.

Mesipun demikian khusus untuk berkurban tersebut, ternyata masih a ada diantara umat yang belum menyadari betapa pentingnya berkurban tersebut, hingga mereka seolah enggan dan  berpikir panjang untuk berkurban, padahal mereka secara lahir mampu dan berlimpah  harta.  Justru mereka yang  mungkin  belum kuart imannya secara lahir justru malah dengan suka rela  melakukan kurban, demi mendapatkan  keberkahan dan ketenangan dalam hidup mereka.

Meskipun  hakekat kurban tersebut ialah untuk  membiasakan diri dan asekaligus mewujudkan ketulusan kita   dalam beramal.  Jika kita mengingat nabi Irahim yang diperintah oleh Tuhan untuk mengurbankan putran beliau Ismail, tentu kita akan paham betapa nabi Ibrahim begitu tulus dalam melaksanakan perintah, meskipun  itu sangat merugikan dirinya sendiri.  Kekuatan iman dan kepatuhan serta kecintaannya kepada Tuhanlah yang akan mampu menerjang apapun yang menghalangi pelaksanaan perintah.

Jika nabi Ibrahimdahulu  masih mekmikirkan dirinya  dibandingkan Tuhan, maka beliau pasti akan menawar atau mungkin bahkan akan menghindar dari perintah tersebut.  Namun bukan nabi Ibrahim kalau kemudian bertindak demikian, beliau dengan kesunguhan hati  meskipun secara mansuiawi tentu beliau sangat sayang kepada anaknya Ismail, beliau tetap teguh untuk melaksanakan perintah.  Setan pun dibuat tidak berkutik dengan rayuannya, karena Ibrahim tetap tegar dalam menjalankan perintah tersebut.

Sebagaimana kita tahu pada akhirnya  dengan ketabahan dan kesetiaannya tersebut, beliau mendapatkan banyak karunia yang berlimpah.  Kita pun sesungguhnya dapat memperoleh limpahan rahmat dna karunia yang banyak, jikia kita mampu ikhlas dalam menjalankan  ibadah, dan berkurban dengan penuh keyakinan dan hanya karena Tuhan, bukan untuk yang lain.  Mudah mudahan kita akan mendapatkan alkautsar yang dijanjikan tersebut.

Bagi yang hingga hari ini belum berkurban, masih ada waktu sedikit untuk melakukannya.  Jangan sampai kita justru akan merugi hanya disebabkan mengabaikan perintah kurban yang secara langsung dititahkan sendiri oleh Allah swt.  Maqri masih ada waktu untuk berkurban demi kejayaan  Islam dan juga demi  memperoleh alkautsar dari Allah swt.  amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.