LAKUM DINUKUM WALIADIN

Sampai saat ini kita masih manyaksikan betapa ada orang yang begitu sakleknya melarang dan mengharamkan sekedar untuk mengucapkan selamat bagi saudara kita non muslim yang sedang merayakan hari besarnya, mislanya  umat Hindu yang merayakan hari Nyepi, umat kristen yang merayakan  natal dan lainnya.  Ungkapan  selamat tersebut hanya sekedar menjaga hubungan baik secara duniawi saja dan tidak akan merasuki keyakinan kita.

Kita sangat paham bahwa secara keyakinan kita tidak diperbolehkan luntur dan mengikuti arus keyakinan lain, sebab hanya ada satu keyakinan dalam diri kita ialah mempercayai  keberadaan Allah swt sebagai Tuhan yang hak dan  Islam sebagai agama yang jharus kita peluk dan jalankan  ajarannya.  Dengan demikian kita memang tidak dibenarkan  kalau mengikuti upacara atau ibadah misa dalam nasrani misalnya.  Aad pembeda yang jelas, dan Tuhan pun juga sudah memberikan batas yang tegas, yakni bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Sementara itu untuk pergaulan  keseharian dan bersifat duniawi, kita tidak dilarang untuk bergaul dan berbincang dengan mereka, apalagi kalau kita berada di dalam negara yang memang dihuni oleh banyak suku, ras, agama dan lainnya, sudah barang tentu kita bahkan wajib untuk bergaul dengan siapapun, untuk tujuan yang besar dan bersama sama , yakni  kesejahteraan bersama.  Bahkan jika  misalnya kita  memerlukan kerjaama dalam bidang  ekonomi dengan mereka yang non muslim, maka itu sah sah saja  sepanjang usaha yang dilakukan adalah sah dan halal menurut keyakinan kita.

Namun demikian tentunya  pada saat saatbtertentu mungkin akan menghalami kesulitan, makanya akan jauh lebih bagus, bilamana akan berkongsi sebaiknya memilih yang seiman, meskip[un sekali lagi  berkongsi dengan mereka yang non muslim pun juga tidak  maslaah dengan syarat sebagaimana tersebut.  Dengan demikian ketika ada seornag muslim yang harus bekerja untuk orang non muslim, maka itu tidak emnjadi masalah, karena hubungan kerja tersebut tidak dilarang, apalagi kalau memang hal tersebut sanagt dibutuhkan.

Sebaliknya juga demikian jika kita memerlukan tenaga untuk melakukan pekerjaan  kita, lalu  yang ada ialah orang noj muslim maka tidak mengapa kita memperkerjakan mereka, tetapi jika kita melihat masih ada orang muslim yang mampu dan memerlukan pekerjaan tersebut, kiranya akan jauh lebih baik jika kita memilih yang sesama muslim.  Namun sekali lagi jika ketrampilan yang kita butuhkan untuk mengerjakan sesuatu tersebut hanya dimiliki oleh mereka yang non mulsim, tentunya kita  akan memilih mereka.

Untuk pekrjaan atau persoalan duniawi kita memang mempertimbangkan  secar duniawui, meskipun  kalau dapat kita juga mempertimbangkan unsurkayakinan juga.  Namun jiia kita  bersikukuh bahwa untuk pertimbangan dalam berbisnis kita juga harus yang seiman, mungkin saja kita akan mengalami kesulitan, terkecuali mungkin kalau berada di negeri yang peran umat islam dalam perekonomian sangat dominan.

Saat ini kita harus memahami bahwa peranan ekonomi  di sekitar kita dimiliki oleh mereka yang non muslim, meskipun bukan seluruhnya, dan kita juga membutuhkan  pekrjaan yang  akan mampu menuntaskan apa yang kita inginkan. Karena itu pertimbangan keimanan tersebut hanya jika  dipandang ada dan tidak menyulitkan kita sendiri, tetapi jika  hal tersebut tidak ditemukan, maka  berkejasama dengan mereka yang non muslim pun juga tentunya tidak dilarang.

Nabi Muhammad saw sendiri pada waktu itu juga bergaul dan berkomunikasi dengan umat non muslim, meskipun kemudian setelah posisi umat islam sudah sangat kuat dan  sendi sendi kehidupan umat muslim sudah demikian menguasai, maka kemudian segala sesuatunya  tentu akan diprioritaskan untuk umat muslim, walaupun  bukan berarti kemudian Nabi  berbuat sewenang wenang, melainkan masih tetap menghargai mereka yang berbeda  kayakinan asalkan mereka tidak berbuat ulah dan merugikan  Islam.

Pada posisi kita  sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk, tentu kita harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi, misalnya  ketika kita harus menjaga iman kita, maka kita harus kuat  dan tegas serta berani untuk menolak jika ada ajakan untuk mengikuti salah satu ritual mereka yang nom Islam, karena itu menjadi sangat prinsip, termasuk misalnya harus mengenakan simbol simbol yang menggambarkan dan identik dengan identitas mereka, karena itu merupakan wilayah prinsip yang harus kita jaga dan pertahankan.

Akan tetapi jika persoalannya ialah hanya sekedar seremonial yang tidak menyangkut aspek ubudiyah, tentu kita  dapat menyetujuinya.  Mungkin sebagian orang ada yang tidak mau juga untuk hal hal yang demikian,  kita tetap menghargai merea yang berprinsip bahwa untuk urusan duniawi pun mereka tetap saja tidak mau bersama sama dengan mereka yang non muslim.  Namun kita juga harus menghargai bagi mereka yang  mau melakukannya, apalgi kalau itu terjadi di daerah yang umat muslim hanya minoritas.

Hanya saja sekali lagi kalau sudah masuk wilayah prinsip akidah, tentu apapun yang terjadi kita harus mau menolaknya, dengan cara yang terbaik, sehingga  siapapun tidak akan tersinggung.  Marilah kita belajar tentang komunikasi  dan  sekaligus juga menjaga hubungan dengan siapapun agar tetap terjalin dengan baik dan tidak menimbulkan masalah dengan sesama anak bangsa.  Itu  sanat penting  karena kita  disamping mengemban tugas sebagai anak bangsa yang harus tetap menjaga keutuihan NKRI juga sekaligus  mengemban tugas untuk tetap mencintrakan bahwa agama kita, Islam itu agama yang santun dan baik di mata mereka.

Singkatnya ialah  kalau dalam persoalan yang tidak menyangkut ubudiyah dan ritual keagamaan kita tentu tidak salah jika  bertemu, berkomunikasi dan bergaul dengan mereka yang non muslim, namun jika sudah urusan dengan peroalan akidah, kita harus tetap memegang teguh akidah kita dfan kita harus berani untuk menyatakan bahwa  bagimu agamamu, dan persilahkan untuk melakukan ritual  yang kamu anut, dan bagiku agamaku dan  kami akan menjalankan ibadah sesuai dengan ajkaran yang kami anut dan yakni.

Dengan sikap tegas seprti itu kita pasti akan terhindar dari kemungkinan adanya  kondisi memaksa kita untuk turut dalam kegiatan yang dilarang.  Apalagi kita berada di negara kita yang meyoritas adalah muslim tentu tidak ada  pemeluk agama manapun yang berani untuk memperlakukan kita secara paksa untuk mengikuti ritual mereka.  Itu tentu merupakan sebuah keyakinan dan sekaligus juga pengalaman.  Karena itu sekali lagi mari kita tunjukkan bahwa kita ini umat muslim yang tidak memaksakan diri dan  tetap menjaga toleransi  sesuai dengan kaidah yang ada.

Kita sangat yakin jika smeua orang mampu memerankan dirinya sebagaimana  terebut, maka kondisi bangsa kita akan semakin membaik dan  program program kesejahteraan rakyat yang besar pun akan dapat kita wujudkan dengan kebersamaan  tersebut.  Kenapa saat ini kita sulit mewujudkan  program kesejahteraan tersebut, dikarenakan  masih banyak  warga bansga yang jalan sendiri sendiri, dan tidak mau bersama,  Mereka inginnya hanya  mau  dengan sesama  orang yang seiman, padahal itu sangat tidak mungkin dalam kondisi negara dan masyarakat kita yang majemuk seperti saat ini.

Semoga ke depan kita akan semakin dewasa dalam menyikapi hubungan diantara warga bangsa yang memang  heterogen ini.  Kita berharap bahwa dengan semakin terbukanya hubungan  antara selluruh komponen warga bangsa kita akn semakin mudah untuk melakukan kerja kerja bersama dan meraih kesejahteraan bersama. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.