PUNCAK IBADAH HAJI

Saat ini, tepat pada tanggal 9 Dzul Hijjah seluruh umat yang sedang menjalankann ibadah haji berkumpul di padamng Arafah untuk melaksanakan wukuf di sana, termasuk mereka yang sedang sakit sekalipun.  Jika sakitnya parah sehingga tidak mampu lagi berjalan, maka akan dilakukan safari wukuf, yakni mereka akan dibaa  dengan mobil untuk  dating ke Arafah, meskipun hanya sejenak berhenti di sana, setelah  masuk waktu dhuhur.  Hal tersebut dikarenakan wukuf itu merupakan  inti dari haji dan rukun yang tidak boleh ditinggalkan.

Sebagaimana kita tahu bahwa pelaksanaan haji itu ada kalanya  rukun, adakalanya wajib da nada kalanya sunnah.  Nah, selain yang ruku itu boleh diotinggalkan, dengan dcatatan sebagiannya ada yang harus diganti dengan membayar dam atau denda berupa  memotong hewan yang mencukupi, seeprti kalau meninggalkan  wajib haji.  Sedangkan kalau hanya meninggalkan kesunnahannya saja, maka tidak dituntut untuk membayar dam tersebut.

Pada saat ini, utamanya setelah dhuhur nanti seluruh jamaah  calon haji akan melakukan wkuf, yakni berada di Arafah. Namun yang terbaik ialah dengan memperbanyak dzikir, istighfar dan mengagungkan asma Tuhan, serta membaca kitab suci al-Quran.   Saat wukuf itulah kita yakin bahwa Tuhan akan memberikan ampunan Nya dan akan menganugerahkan banyak karunia Nya kepada para hambanya.  Karena itu biasanya  berdfoa pada saat wukuif tersebut akan dikabulkan oleh Tuhan.

Hanya saja sebagai hamba memang tidak boleh  mengharuskan kepada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaannya, karena itu sesungguhnya merupakan wilayah prerogative Tuhan.  Tuhan memang akan memenuhi janji yang telah disampaikan, namun  sebagai seorang hamba memang sebaiknya hanya percaya saja dan tidak memastikan, apalagi kalau apa yang diminta itu merupakan sebuah  permintaan untuk membebaskan diri dari persoalan yang melilitnya, utamanya yang terkait dengan hak  anak Adam.

Kita cukuplah percaya  bahwa jika kita serius dalam meminta, insyaallah akan dipenuhi.  Namun kita perlu  ingat bahwa Tuhan itu tidak boleh dipermainkan, seeprti misalnya saat  melaksananakan haji lalu memohon diampunkan seluruh dosanya yang telah lalu, namun masih ada  keinginan setelah haji nanti akan melakukan dosa lagi, korupsi lagi dan melakukan berbagai kemaksiatan lainnya, toh hanya dengan berbekal ongkos  sekian juta rupiah akan dapat dikaulkan  dosanya, lebih lebih   bilamana  mau melakukan  umrah setiap saat.

Nah, pemikiran yang demikian itulah yang keliru, karena  Tuhan  itu Maha Tahu dan tentu hanya mereka yang tulus dalam bedoa dan  beertobat sajalah yang akan dipenuhi permohonannya.  Untuk  itu diperlukan keseriusan dan kesungguhan yang luar biasa agar setelah  selesai menjalankan ibadah haji dengan segala permohonannya tersebut,  lalu ada komitmen  diri untuk mengubah perilaku  menjadi lebih baik, ada keinginan untuk mencontoh kebaikan yang sudah disampaikan dan diteladankan oleh nabi Muhammad saw.

Barangkali itulah yang kemudian  biasa disebut dengan mabrur, yakni  ada perubahan  significant  setelah menjalankan ibadah haji.  Perubahan tersebut tentu  menuju kebaikan hidup, baik secara individu maupun secara social.  Memang ada sebagian umat yang ada perubahan dalam cara beriobadah, tetapi  bukan dalam substansinya, melainkan hany lahirnya saja, sehingga  ibadfah yang dilakukannya tersebut tidak mampu emngubah dirinya secar mental dan  akibatnya  aspek sosialnya masih tetap memperihatinkan.

Islam itu kaffah meliputi kesalehan individual maupun kolektif.  Artinya jika seseorang baik  secara lahir yakni selalu emnjalankan ibadah shalat, puasa dan dzikir misalnya, namun dia tetaplah menjadi  dirinya sendiri yang kikir dan sama sekali tidak peguli dengan pihak lain, tidak peduli dengan  anak yatim yang kelapaeran dan  teraniaya, dan juga emmbiarkan orang miskin tetap dalam penderitaannya.  Nah, Islam yang demikian tentu bukan  yang baik karena substansi Islam itu ialah jika dia dan orang orang disekitar atau lingkungannya merasa nyaman.

Kembali kepada persoalan puncak haji bahwa  seharian ini mereka akan berada di Arafah dan biasanya setelah shalat dhuhur berjamaah dan dijamak qashar, lalu  diberikan khuitbah wukuf.  Setelah itu sambil menunggu senja atau malam, mereka  dianjurkan untuk banyak banyak berdzikir dan emmbaca kalimat yang baik serta membaca alquran.  Hanya saja sayangnya  yang terjadi selama ini justru pada saat demimkian, ternyata  masih banyak umat yang membuat dosa dengan melakukan gosip dan sejenisnya.

Tidur saja sesungguhnya amat disayangkan karena waktu itu merupakan waktu yang sangat berharga dan harus dimanfaatkan secara maksimal.  Sudah jauh jauh  dari tanah air dengan ongkos yang cukup mahal, tetapi kalau kemudian pada saat puncak haji justru malah tidak melakukan yang terbaik, maka seolah amat rugi mereka itu.  Walaupun demikian secara syar’i memang hajinya tetap sah, karena haji itu yang terpenting ialah menjalankan secara fisik beberapa kegiatan yang sudah ditentukan.

Bahkan kalaupun diam saja atau tidur saja saat wukuf, kemudian saat  melempar jamarat juga hanya sekedar melempar saja, pada saat  menjalankan  thawaf juga yang terpenting telah mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali lalu sa’i tujuh kali dari Shafa ke Martwa dan begitu pula sebaliknya, lalu bertahallul, maka hajinya sudah sah, hanya saja apakah ekmudian nantinya akan membekas dalam dirinya sehingga mampu mengubahnya menjadi lebih baik, tidak ada yang tahu.

Kita yang tidak sedang menjlankan ibadah haji, disunnahkan untuk ikut peruhatin dan juga dapat berdoa di hari Arafah ini, sehingga  kemudian disunnahkan untuk berpuasa. Ada juga  support unutk berdoa  dan  kemungkinan besar doa kita juga akan dikabulkan oleh Tuhan, meskipun dilakukan tidak ditanah Arafah, asalkan  dilakukan secara serius dan bersungguh sungguh.  Untuk itu alangkah mujurnya jika kita mau menjalani puasa tersebut, meskipun kalau dinalar secara logika saja, mungkin sudah tidak relevan lagi.

Artinya  perintah atau anjuran untuik berpuasa Arafah tersebut  disebabkan pada saat yang saam para jamaah calon haji sedang  menjalani sebuah  ibadah yang sangat berat, yakni wukuf di padang Arafah yang sangat panas dan  sangat berat. Nah, karena saudara kita yang sedang menjalani wukuf tersebut sangat perihatin dan berat, maka sebagai bentuk solidaritas, umat lainnya juga diminta untuk ikut perihatin yakni dengan menjalani puasa.

Namun saat ini  untuk menjalankan wukuf tersebut rupanya tidak terlalu berat, karena mereka berada di tenda tenda yang ber AC atau setidaknya ada pendingin  sehingga mereka tidak merasakan gerahnya terik matahari.  Bahkan banyak diantara mereka yang justru dapat tidur dengan pulasnya melebihi  mereka yang tidak sedang wukuf, semisal  para petani yang berada di tengah sawah atau para nelayan yang berada di tengah laut dan lainnya.

Nah, kalau pertimbangannya hanya rasio saja sebagaimana tersebut, maka puasa di hari Arafah ini sudah tidak relevan  lagi.  Namun kita  tidsk tahu yang ada dibalaik semua itu, sebab sangat mungkin ada motivasi lainnya yang kita tidak tahu, karena setiap perintah yang kita terima sebaiknya emmang  cukup dijalankan saja tidak usah diakal akal, karena justru malah  akan mengurngi ketulusan saja.  Untuk itu bagi yang mau menjalaninya  dipersilahkan untuk meneruskannya hingga tuntas nanti maghrib.

Kita  ucapkan selamat kepada seluruh umat yang sedang menjalani wukuf, semoga  mereka semua menjadi mabrur hajinya dan  sekaligus juga akan  mempu memperbaiki kondisi bangsanya.  Kita yang  sedang berada di tanah air juga selalu diberikan kebaikan dan keselamatan hingga dapat menjalankan tugas dan ekwajiban dengan sangat bagus.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.