SIKAP KESATRIA

Terkadang  kita menjadi sangat risih ketika menyaksikan betapa banyak orang yang seharusnya  selalu bersikap kesatria, yakni akan mengkritik jika ada kesalahan atau setidaknya sesuatu yang dianggap tidak tepat, walupun  hal tersebut datang dari atasannya, namun justru malah bersikap sebaliknya, yakni membeo atau  asal bapak senang.  Ketika atasannya berpendapat atau emngambil kebijakan tentang sesuatu meskipun tidak sejalan dengan nurani dan pendapatnya, tetap tetap saja memujinya sedemikian rupa.

Bahkalau yang melakukan hal demikian ialah orang yang tergolong awam, maka kita masih dapat memahami karena mereka membutuhkan eksistensi dan  tidak berseberangan dengan pimpinannya.  Namun jika yang melakukan hal tersbeut ternyata para intelektual yang seharusnya  menjadi contoh dalam melakukan kontrol sosial, tentu kita  dibuat tidka mengerti.  Dan hal semacam itu ternyata banyak kita jumpai dalam keseharian kita.

Tentu dalam kondisi kita tidak ingin berkonflik dengan atasan, kita dapat bersikap diam tanpa harus memberikan komentar memuji, dan menurut saya  sudah seharusnya kalau kaum intelek harus berani bersuara, aalkan sudah memegangi data yang akurat.  Justru kita juga sangat prihatin melihat gejala yang tidak sehat di kalangan para intelektul, karena mudah sekali terprovokasi dengan informasi yang tidak jelas sumbernya  atau  tidak didasarkan atats data yang akurat.

Kedua sikap seperti itu tentu tidak kondusif bai perkembangan intelektuial kita.  Kalau kita selalu memuji  setiap pernyataan atasan meskipun  mungkin tidak sejalan dengan pendapatnya, maka itu pertanda kematian intelektualnya dan sangat menyedihkan, karena  sikap kesatrianya sudah hilang entah kemana.  Demikian juga jika kaum intelektual ternyata tidak mampu untuk memfilter informasi yang hoax ataukah yang benar, juga sama berbahayanya  bagi keilmuan itu sendiri.

Bayangkan saja kalau seorang guru besar kemudian menelan setiap informasi lalu menyebarkannya atau bahkan  dengan keberaniannya lalu  melakukan kritik tanpa bertabayyun terlebi dahulu, dan ternyata  informasi yang diterimanya tersebut ternyata hoax, maka itu  jelas jelas akan menurunkan repuitasi sebagai  guru besar yang seharusnya menjadi contoh dalam hal kebijakan atau sikap kesatrianya.  Sayangnya memang masyarakat kita  tidak terlalu memperhatikan hal hal demikian sehingga mereka  sama sekali tidak memberikan sanksi apapun dan  mereka yang tidak berlaku kesatria tersebut masih tetap dalam kondisinya yang semula.

Akibat lebih lanjutnya  terkadang malahan mereka sama sekali tidak menyadari kesalahan fatalnya tersebut dan menganggapnya sebagai angin lalu.  Itulah yang petut kita sayangkan dan perihatinkan.  Kita santat khawatir jika kesalahan  yang fatal tersebut tidak disadari sebagai sebuah kesalahan, sehingga pada waktu  berikutnya juga akan masih melakukan kesalahan fatal tersebut kembali. Memang  untuk beberapa  masyarakat tertentu hal tersbeut tidak berpengaruh, namun jika dilihat oleh pihak yang menggunakan akal sehatnya tentu itu memalukan.

Sejak kecil sesungguhnya kita sudah diajari untuk bersikap kesatria, karena sikap itul;ah yang akan membawa  diri kita dipercaya oleh pihak lain.  Mengatakan apa adanya atau melakukan tindakan sesuai dengan aturan dan hati nurani itulah ukuran mudahnya  sikap kesatria.  Dengan dmeikian jika kita menyaksikan sebuah kenyataan yang tidak sesuai dengan aturan  perundangan yang ada, tentu kita harus berani untuk mengatakan bahwa hal tersebut salah, walaupun yang melakukan adalah atasannya.

Termasuk sikap kesatria ialah bersikap jujur terhadap apapun yang terjadi, meskip[unhal tersebut akan merugikan diri sendiri atau akan merugikan atasannya.  Kejujuran itu merupakan salah satu sifat Nabi yang memang  secara konsisten  dipraktekkan.

Jujur  juga merupakan sifat yang mendekatkan pemiliknya  ke surga, karena dengan kejujuran tersebut seseorang akan mampu melakukan  segala sesuatu  sesuai dengan aturan main yang ada dan sekaligus juga selalu akan cenderung kepada kabajikan.  Karena itu dalam dataran kenyataan hidup di negera kita, KPK pernah membuat gebrakan kepada kita agar kita berlalu jujur, dengan pernyataan yang sangat kita kenal, yakni berani jujur itu hebat.

Salah satu bentuk kejujuran adalah berani mengakui kebenaran orang lain, meskipun orang lain tersebut merupakan rival utamanya dalam kontestasi misalnya.  Malu untuk mengatakan sesuatu yang benar atas dasar memenangkan ego pribadi justru merupakan sikap tidak kesatria.  Jujur dalam  menjalani hidup, dengan mengtatakan apapun yang diketahuinya adalah sikap yang gentel dan  seharusnya dimiliki oleh smeua orang beriman, apalagi kalau dia merupakan seorang tokoh atau setidaknya merupakan panutan dalam berbagai hal.

Demikian juga jujur  untuk mengakui kesalahan sendiri dan mengakui kebenaran pihak lain serta meminta maaf atas kekeliruannya atau atas kritiknya yang tidak proporsional adalah  sikap yang juga harus dimiliki oleh setiap orang beriman.  Jika orang beriman sudah  berani untuk menyembu8nyikan sesuatu yang benar itu artinya bukan lagi kesatria dan gentel, melainkan justru dapat dikategorikan sebagai orang yang buruk perangai.

Justru akan sangat terpuji bagi politisi yang mampu beruat jujur, yakni kalaupun  banyak mengkritisi pihak lain, tetapi kritiknya didasarkan atas fakta dan daata yang akurat, namun dalam waktu yang sama dia juga berani melakukan pujian atas keputusan atau kebijakan yang dibuat oleh orang yang  biasa dikritiknya.  Artinya apa yang dilakukan memang atas dasar keinginan untuk membangun kebajikan dan kesejahteraan umat, bukan  sekedar keinginan untuk mengkritik yang cenderrung menjatuhkan.

Namun sayangnya politisi semacam itu hampir tidak ada, karena yang daopat kita saksikan setiap[ hari ialah politisi yang mulutnya  besar, tetapi tidak berlaku jujur dan gentel.  Akibatnya masyarakat menjadi muak dan  resah, karena  tidak ada ketenangan di dalam negeri, dan para investor pun juga mungkin akan berpikir berkali kali sebelum menanamkan modalnya di negera kita.  Mungkin untuk hal ini masyarakat awam tidak mengerti sehingga mereka  tetap diam saja dan hanya menggerutu kenapa kesejahteraan tidak kunjung datang.

Sikap kesatria sesungguhnya dapat dilakukan oleh siapapun, tidak peduli kedudukan dan pengkat yang melekat  dalam dirinya.  Seorang petani pun dapat besikap kesatria, semisal dalam urusan air, dia akan tetap berlaku  jujur dan tidak mau menangnya sendiri, dalam persoalan harga pasca panen pun dia juga dapat bersikap jujur dengan tetap mengupayakan harga yang seimbang dengan modal yang ditanamnya.  Tentu ada usaha  untuk  mendapatkan itu semua, karena pada dasarnya semua orang itu ada hak untuk mengupayakan sesuatu yang menjadi haknya, apalagi hak orang banyak.

Bahkan seorang  supir pun juga dapat ebrsikap kesatria, semisal jika ada penumpang yang ketinggalan barangnya,.  Semisal tas yang berisi barang berharga,  atau mungkin sekedar HP, lalu dia  tidak ada keinginan untuk memiliki atau menggelapkannya, melainkan justru mencari identitas penumpangnya tersebut dan  mengantarkannya, tanpa pamrih.  Kesediaannya tersebut semata mata didasari oleh rasa tanggung jawab sesama makhluk Tuhan, yang jika dia yang mengalami juga pasti akan merasa sedih.

Kesatria  memang  beraneka macam bentuknya, namun yang jelas semua perbuatannya selalu akan menyenangkan pihak lain dan sama sekali tidak akan menyusahkan pihak lain.  Kalupun atats perbuatannya tersebut ada salah atu pihak yang  tersinggung, maka itu menjadi urusannya sendiri, karena yang lainnya toh  justru sangat suka.  Kalau orang berlaku jujur dan selalu menjaga perasaan pihakm lain, tentu dia  mempunyai hati yang mulia dan kuat. Untuk itulah sikap ini harus dimiliki oleh orang yang baik.

Mudah mudahan para pemimpion  di negeri ini  mempunyai sikap kesatria ini sehingga rakyat akan menjadi senang dan makmur, meskipun  tidak dalam  waktu yang singkat. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.