TRADISI PIDATO PRESIDEN

Sebagaimana kita tahu bahwa pada setiap tanggal 16 Agustus selalu saja diperdengarkan pidato presiden dalam menghadapi perayaan kemerdekaan RI untuk memberikan pandangan presiden tentang pembangunan dan rencana yang akan dilaksanakan pada masa berkutnya.  Sudah barang tentu berbagai persoalan bangsa  juga disinggung dan bagaimana solusi yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah dan juga masyarakat. Namun biasanya hanya disebutkan sebagi nota pengantar keuangan semata.

Tulisan ini memang terlambat jika dikaitkan dengan pelaksanaan pidato tersebut, namun saya yakin bahwa meskipun  momentnya sudaha berlalu, kita perlu mengetahui dan  kemudian juga mengevaluasi tentang program pemerintah untuk kesejahteraan rakyat.  Karena itu mengenai tradisi pidato presiden tersebut masih tetap diperlukan untuk direnungkan dan sekaligus juga dicermati.  Memang tradisi ini sudah dijalankan sejak zaman awal  dan hingga saat ini masih tetap dipertahankan, karena mengandung aspek positif.

Hanya saja ada nuansa perbedaan anatara masa orde Baru dengan saat ini, karena biasanya setelah pidato kenegaraan presiden, akan diikuti oleh komentar para politisi yang saat itu selalu saja  menyanjung dan memuji keberhasilan pemerintah dalam berbagai bidang pembangunan.  Namun saat ini  tanggapa tersebut akan menjadi beragam sesuai dengan  pandangan masing masing orang.  Sebagiannya ada yang obyektif dalam menyikapi, namun sebagiannya justru sangat subyektif, baik dalam arti memuji ataupun mengkritik.

Sebagai rakyat kita tentu dapat melihat betapa negeri ini sesungguhnya belum dapat dikatakan  sudah dewasa penuh, saat menyaksikan betapa para politisi yang seharusnya  bahu membahu memikirkan kesejahteraan rakyat, melalui fungsi pengawasan dan juga budgetting serta  legislatif, namun yang terjadi selalu saja  terus membawa kepentingan pribadi dan partai politiknya.  Sesungguhnya dalam  hal hal tertentu mereka memang harus  berpihak kepadaa partai politiknya, namun dalam saat tertentu mereka harus berpihak kepada kepentingan rakyat.

Bahkan kalau misalnya ada benturan antara kepentingan partai dengan kepentingan rakyat, seharusnya didahulukan kepentingan rakyat. Dengan demikian kita akan dapat menyaksikan betapa indahnya  cara berbangsa dan bernegara dengan menitik beratkan kepada kepentingan negara dan rakyat diatas kepentingan  semua. Kita tidak tahu apa sesungguhnya yang didoktrinkan oleh petinggi partai politik kepada para kadernya, sehingga mereka tidak mau melihat sesuatu yang baik yang dilakukan oleh  pemerintah.

Apakah mereka takut kalau saatnya berkompetisi lima tahunan mereka akan terus kalah karena membela  kebijakan pemerintah itu mengasuimsikan mendukung pemerintah sehingga rakyat akan melihatnya sebagai sebuah hal yang harus terus dipertahankan.  Kalau kita melihat sesungguhnya kompetisi tersebut cukuplah dialokasikan beerapa bulan saja, dan saat itulah tawaran programyang  lebih bagus disampaikan  kepada masyarakat. Biarlah masyarakat kita diberikan alternatif untuk memilih mana program yang lebih bagus dan lebih menyejahterakan rakyat.

Sayangnya memang  kondisinya sudah kadung runyam, sehingga rakyat juga sudah dbuat frustasi dengan   para politisi yang selalu menuntut hak ketimbang melaksanakan tugasnya.  Kecenderungan untuk  hidup nyaman, bahkan glamour,  mempunyai rumah mewah, kendaraan yang supeh wah dan lainnya, pada akhirnya menyeret mereka kepada  kondisi yang tidak berpihak kepada rakyat yang katanya diwakilinya.  Itulah sebabnya masyarakt menjadi pasif dalam konteks kenegaraan dan upaya untuk mengatasi berbagai masalah.

Mungkin hanya sebagian kecil saja yang masih tetap setia untuk mengusahakan  agar negara kita menjadi damai melalui  usaha nyata dalam menciptakan lingkungan yang kondusif, tanpa harus melihat latar belakang partai, agama dan etnis serta aspek lainnya.  Namun hal tersebut tidak mudah untuk dicapai, karena faktor kanan kiri yang belum juga berubah ke arah yang lebih baik.

Saat ini kita merasakan betapa  akhlak mulia itu dibutuhkan mengingat kondisinya sudah demikian runyam.  Ini adalah buah dari didikan beberap tahun sebelumnya bahkan mungkin puluhan tahun yang lalu.  Untungnya pada saat ini masih ada pendidikan yang didesain untuk memperbaiki akhlak melalui berbagai cara dan pembiasaan yang baik, serta  keteladanan dari para pendidiknya.

Salah satu bentuk pendidikan yang  masih mempertahankan pentingnya akhlak dan dilakukan dengan serius ialah pendidikan peasantren dengan segala dinamikanya.  Meskipun secara  sarpras sangat jauh tertinggal, namun  dalam prakteknya mereka justru lebih dapat mandriri dan  dapat menjalani kehidupan yang lebih sederhana.  Akibatnya pada saat mereka sudah berada di tengah tengah masyarakat dapat menjadi teladan.

Namun sayangnya  masyarakat kita tidak berpihak kepada  mereka yang hidupnya sederhana, melainkan kebanyakan rakyat justru akan mudah tergiur oleh penampilan  lahir yang biasanya ditandai dengan kehidyupan yang berharta.  Pemujaan terhadap hartlah yang kemudiana mengemuka dan  mempengaruhi kehidupan rakyat secara umum.  Akibat lebih lanjutnya  semua orang menginginkan mendpaatkan harta  dengan cepat mudah dan  menjadikan dirinya sebagai pihak yang diatas.

Mungkin pada tahap demikian kita juga belum menyadari tentang bahaya yang mengintai, yakni  keroposnya iman yang  akhirnya  mendorong mereka berani melakukan hal hal yang sebelumnya dianggap tabu dan haram.  Praktek korupsi, suap dan sejenisnya  sudah sangat marak dilakukan oleh mereka yang  seharusnya menjadi contoh  bagaimana seharusnya  hidup dan mensejahteraka rakyat yang  masih miskin.

Justru yang mempraktekkan korupsi dan lainnya tersebut ialah mereka yang berpendidikan tinggi, karena mereka berada di pemerintahan dan juga di jajaan wakil rakyat serta di berbagai tempat yang  diisi oleh mereka yang dikatakan sebagai terpelajar.  Bahkan  regtulasi yang dibuatpun juga tidaka  ada tanda untuk meghilangkan praktek korupsi tersebut, karena ancaman hukumannya sangat ringan dibandingkan dengan akibat perbuatan mereka tersebut.  Bahkan  sebagiannya ada yang tidak rasional diterapkan.

Artinya ada sebagian orang yang  melakukan praktek korupsi ratusan milyar rupiah, lalu hanya dihukum dengan hukuman penjara  beberapa tahun saja dan harta yang didapatkannya dari korupsi tidak  diputus untuk dikembalikan.  Mereka tentu akan  dapat bersuka cita lagi setelah menjalani hukuman, karena  hartnya masih sangat banyak dan  pada prakteknya  mereka juga  diperbolehkan untuk berkompetisi lagi untuk menjadi gubernur, wakil rakyat dan lainnya.

Biasnaya  yang mengemuka ialah mereka takt dengan makhluk yang bernama HAM, padahal kalau  kita mampu menjelaskannya dengan baik, kita akan dapat memberikan hukuman berat dan bahkan hingga hukuman mati kepada para koruptor yang merugikan negara dan rakyat tersebut.  Kerugian yang diderita rakyat sungguh luar biasa  dan berakibat membunuh mereka secara tidak  nyata,.  Hukuman pemiskinan juga hanya baru wacana, padahal kalau itu diterapkan sangat mungkin sangat manjur untuk mencegah dan mengurangi praktek korupsi.

Demikian juga dengan  narkoba yang sudah nyata nyata  membunuh masa depan remaja kita dan menjadikan mereka kehilangan masa depannya, namun hingga saat ini bentuk hukumannya masih dianggap ringan sehingga mereka tidak ada jeranya.  Memang  beberapa kali sudah dilakuka eksekusi mati terhadap para bandar narkoba, namun karena ketegasan kita belum merata,. Sehingga  tetap saja masih sangat banyak para bandar, pengedar dan juga pemakai narkoba tersebut.

Tentu kita berharap bahwa tradisi pidato presiden  tersebut dapat memberikan  pencerahan kepada rakyat dan  ada dukungan nyata dari para politisi, bukan saja yang  dari kalangan partai pendukung, melainkan juga semua politisi yang ada.  Kita sangat yakin jika ide ide cemerlang pemerintah dalam hal ini presiden  lalu didukung dan dilaksanakan oleh semua pihak, tentu akan lain ceritanya bangsa ini.

Namun dmeikian presiden juga harus mampu meberikan solusi terbaiknya untuk mengatasi persoalan yang muncul, bukannya justru menambah masalah.  Bahkan para  pembantu presiden juga harus diingatkan agar tidak memperkeruh keadaan masyarakat yang sudah damai melalui kebijakannya yang bertentangan dengan kehendak dan keinginan masyarakat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.