PEKIK KEMERDEKAAN

Terkadang untuk memberikan semangat, kita memerlukan pekikan tertentu dan  kemudian dengan penuh kesungguhan mengepalkan tangan atau anggota badan lainnya.  Biasanya ketika kita memberikan semangat kepada  banyak orang, akan  lebih bagus jika  pekikan tersebut ialah kata kata merdeka sambil mengepalkan tangan ke depan atau ke atas.  Pekikan meredka tersebut akan sanggup membangkitkan semangat yang menyala, apalagi jika diantara orang orang tersebuit masih ada yang mengalami langsung pada saat 17 Agustus 1945.

Bahkan kita yang hanya mendengar ceritanya saja akan mudah larut dalam semangat heroik tersebut, karena kata merdeka tersebut jika dipekikkan dengan  kencang, akan mampu menarik minat yang tadinya tersimpan dalam  hati.  Mungkin memang ada sebagian orang yang tidak bergeming ketika dipekikkan kata merdeka tersbeut, karena memang dia menganggap saat ini kita sudah 72 merdeka, sehingga tidak perlulah menyatakan merddekan kembali.

Namun menurut saya smeua orang boleh memilih keinginan masing masing, khususnya yang terkait dengan penyemangat terhadap sesuatu.  Kita juga tidak akan menyalahkan jika ada sebagaian orang yang lebih terbakar semnagatnya jika menyuarakan kata yes atau okey atau kata lainnya secara bersama sama, karena itu merupakan pilihan dan  akan mampu membangkitkan semangat.  Saat ini kita membutuhkan kebersamaan untuk melakukan sesuatu, apalagi kalau sesuatu itu merupakan kebutuhan banyak orang.

Membangun lingkungan misalnya, tentu harus dilakukan secara bersama sama  dengan sleuruhy masyarakat di lingkungan tersebut.  Tidak boleh ada seorang pun di lingkungan tersebut yang cukup menonton dan berpangku tangan, sebab  hal tersebut pastinya akan  menurunkan daya  juang dan semangat dari masyarakat yang sudah mulai keluar semangatnya.  Jadi kebersamaan untuk tujuan bersama itulah yang saat ini kita butuhkan.  Namun demikian kita juga masih dapat menrima enyataan bahwa  ada sebagian  masyarakat  di lingkungan tersebut yang mempunyai hajat tertentu, sehingga tidak dapat bersama melakukan kegiatan.

Namun jika orang terwsebut memang berniat dan berjiwa satu nafas dengan sleuruh masyarakat, tentu dia akan  meminta maaf dan bahkan akan memberikan sumbangan tertentu untuk mendukung kerja bersama etrsebut, semisal memberikan iuran yang lebih atau sengaja  memberikan makan atau minuman untuk sleuruh warga masyarakat yang bersama sama bekerja untuk lingkungan mereka.

Pada saat ini hampir tidak ada masyarakat yang melakukan kerja bakti untuk mempercantik  lingkungannya, karena  menghadapi peringatan kemerdekaan RI tersebut meskipun tidak dilombakan, namun masyarakat akan merasa terusik jika ada lingkungan yang kotor atau kusam karena tidaka tersentuh cat cukup lama dan lainnya.  Karena itu biasanya mereka guyup melakukan sesuatu yang dapat menambah kenyaman lingkungan.

Apalagi kalau di situ dilakukan perlombaan  kebersihan lingkungan atau lomba ketertiban jalanan atau parit atau lainnya, sudah pasti masyarakat tanpa dipaksa akan mau secara suka rela untuk meoerbaiki dan bahkan mau untuk iuran  dalam upaya mempercantik lingkungan tersebut.  Kita yang menyaksikan hal tersebut suda barang tentu menjadi  bangga,. Karena masyarakat kita guyup dan  mau memperbaiki lingkungan serta mempercantiknya.

Sebagaimana kita tahu  bahwa saat ini sudah banyak diantara anggota masyarakat yang tidak lagi memperdulikan lingkungan.  Mereka hanya mau tinggal dan sekaligus juga  menyaksikan baiknya saja, bahkan  sebagiannya justyru ada yang  malahan ingin memperkeruh kondisi atau  melakukan hal hal yang dapat memicu konflik diantara warga.  Nah, atas  dasar itulah kemudian kita berusaha untuk mempersatukan mereka melalui kegiatan kebersamaan, baik itu untuk melakukan sesuatu ataupun untuk sekedarmemberikan semangat kebersamaan.

Saat kita membaca sejarah perjuangan  masyarakat Indonesai, khususnya para ulama yang secara terus menerus tidak bosan melawan tentara Belanda yang menguasasi bumi nusantara, kita akan tersebawa emosi seolah kita sedang bersama dengan mereka dalam menghadapi tentara belanda yang dipersentai lengkap.  Masyarakat dan para santri yang hanya  bersentakan bambu runcing dengan semangat menyala dan terkadang disertai dengan yel yel untuk merdeka, pada akhirnya  mampu mengusir mereka.

Pada saat merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945  dahulu, dalam kenyataannya  memang  belum smeua masyarakat Indonesia  benar benar merdeka, karena masih ada sebagian  cengkeraman Belanda yang tetap kuat menghujam ke rakyat kita.  Untuk itulah  perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan kita tidak berhenti di situ, melainkan terus  dilakukan dengan  lebih giat lagi.  Secara politis memang negara Indonesia sudah merdekan, meskipun masyarakatnya belum merdeka seluruhnya, namun sudah lebih dari cukup untuk diketahui oleh dunia.

Bahkan mungkin hingga saat ini masih ada sebagian dari masyarakat kita yang belum benar benar merdeka, karena masih belum mampu menikmati  arti kemerdekaan tersebut.  Sebagian diantara mereka masih terkungkung oleh kondisi yang mengekang dan sulit untuk didobrak.  Adat kebiasaan terkadang  juga ikut andil dalam penciptaan  suasana  “belum” merdeka tersebut.  Karena itu menjadi tugas dan kewajiban kita untuk menjadikan adat yang tidak berpihak kepada kemerdekaan tersebut sebagai hal yang perlu disikapi.

Pendeknya kondisi kita pada saat ini, setelah 72 tahun merdeka tentu sudah lebih baik dibandingkan pada saat awal kemedekaan ataupun sebelum merdeka.  Hanya saja bila kita kembali kepada usia kita setelah merdeka, memang kita masih harus perihatin, karena keinginan kita yang ideal belum terwujud dan bahkan saat ini malahan banyak rintangan yang harus kita singkirkan bersama.  Jika kita tetap berdiam diri dan tidak melakukan usaha usaha yang  mendorong tersingkirnya permaslaahn permasahan tersbeut, dapat dipastikan bahwa keinginan kita tersbeut masih snagat jauh untuk digapai.

Nah, salah satu yang mungkin dapat  mendorong semangat kita untuk menyingkirkan halangan  dan menambah daya dobrak kita untuk membangun ialah  selalu  diungkapkan pekik kemerdekaan. Walaupun mungkin ada yang menertawakan kita,  jangan pernah ragu untuk tetap mengumandangkan pekik kemedekaan tersebut.  Hanya saja memang bentuknya harus disesuaikan dengan kondisi saat ini, sebab pada saat itu pekik kemerdekaan ada yang berbunyi ”merdeka atau mati” yang saat ini mungkin sudah tidak relevan.

Kalau ungkapan “merdeka” tentu akan selalu relevan dengan  smeua kondisi, karena itu untuk memberikan semangat dalam berbuat dan mengisi kemerdekaan.  Saat ini kita hanya terbiasa mengungkapkan pekik kemerdekaan tersebut pada saat memperingati proklamasi kemerdekaan saja, selebihnya kita  hampir tidak pernah melakukannya.   Untuk itu  pada moment moment tertentu kiranya sangat  bagus jika kita membiasakan diri untuk mengungkapkan kata tersebut.

Kalau para pejuang dan pehlawan kemerdekaan kita dahulu mampu mengeluarkan  spirit untuk berjuang dengan ketulusan penuh, maka  kalaupun kita tidak mampu untuk menymai mereka, setidaknya kita harus mau memompa diri kita untuk bersemangat membangun dan tentu mengembangkan ketulusan dalam setiap langkah kita untuk negara dan bangsa.  Jangan sampai kita justru terus menerus bergantung kepada negara  dan sama sekali tidak mau berbuat untuknya.

Kalau kita hitung hitungan tentu  sudah terlalu banyak apa yang telah diberikan oleh negara kepada kita, ketimbang apa yang sudah kita sumbangkan untuk negara.  Bahkan  jika kita berani  melakukan korupsi yang intinya merugikan negara, maka kita sudah keterlaluan merugikan dan  menggerogoti negera, dan itu dapat dipasikan tidka termasuk salah satu sikap kesatria yang seharusnya dimiliki oleh kita.  Mari kita  kumandangkan pekik kemerdekaan dan sekaligus juga  mari kita bulatkan niat untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk negara kita tercinta.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.