RIYA’

Mungkin sudah ada  orang yang tidak mengetahui makna dan maksud riya’ tersebut, karena meskipun berasal dari bahasa Arab, namun  karena sudah sering dipergunakan dan bahkan mungkin sudah menjadi bahasa kita, maka masyarakat sudah akrab dengan kata tersebut.  Padanan kata tersebut ialah pamer, dan biasanya dan tandanya ialah kalau ada orang melakukan perbuatan baik  dengan tujuan untuk dipuji atau untuk disebut sebut namanya untuk orang banyak.

Sementara itu  lawan katanya biasanya ialah tulus atau ikhlas, sebab kata tulus tersebut mengacu kepada semua perbuatan yang hanya semata mata ditujukan  kepada Tuhan dan bukan kepada yang lainnya.  Dapat dibayangkan perbedaannya yang sangat mudah untuk diketahui, yakni yang satu  ada keinginan untuk dimunculkan dan mendapatkan pujian, sementara yang lainnya  justru sebaliknya tidak ingin  diketahui oleh banyak orang dan hanya  Tuhan sajalah yang dituju.

Namun demikian bukan berarti arti tersebut menjadi santat kaku, karena ada kalanya  tulus atau ikhlas tersebut juga dapat pula  sekaligus diketahui oleh banyak orang, hanya saja memang tidak berniat agar dipuji.  Artinya jika orang sudah kuat hatinya dan  tidak mempedulikan apakah perbuatan baiknya akan diketahui oleh banyak orang atau tidak, tentu tidak  akan beda antara diloihat dan diketahui oleh orang banyak maupun tidak diketahui.

Cuma untuk menuju kepada sebuah kondisi yang demikian tulus tersebut tidaklah mudah, karena harus melewati banyak tahapan dan sudah  memulainya dengan sikap tidak ingin diketahui oleh banyak orang sebagaimana  disebutkan di atas.  Pada  awalnya memang tidak aka mungkin seseoranag mampu menampilkan ketulusannya begitu saja, tanpa melalui ujian dan tahapan yang sangat kuat untuk mencapai derajat tulus tersebut.

Biasanya orang akan mudah terjerumus kepada  hal hal yang  bersifat lahiriyah, seprti ingin dipuji, ingin diketahui banyak orang, ingin tenar, dan lainnya.  Padahal semua itu  justru akan menjauhkan diri dari ketulusan tersebut.  Karena itulah nabi  Muhammad saw pernah  wanti wanti kepada kita  agar kita  benar benar tulus dengan menggambarkan bahwa jika kita memberi sesuatu kepada pihak lain, sebaiknya tangan kanan kita yang memberi, tetapi tangan kiri kita tidak mengetahuinya.

Kenapa  para ulama terdahulu sangat kuat dalam memberikan  wejangan agar kita tidak riya’, karena  kita tahu bahwa riya’ itu akan dapat menghapus  amalan baik.  Siudah barang tentu kita akan sangat rugi jika sewluruh amalan baik kita akan musnah begitu saja hanya gara gara kita riya’ dalam melakukan amalan tersebut.  Bahkan penggabarannya ialah seperti  api yang menghabiskan kayu bakar, sehngga sangat mudah menghapusnya.

Mungkin kita  sama sekali tidak mengira bahwa  tindakan yang kita lakukan sesungguhnya mengarah kepada sifat riya’  tersebut, semisal selalu saja memberitakan kepada kawan kawan tentang  prstasi yang telah kita raih.  Walaupun demikian  tidak otomatis  memberitakan  kebaikan itu dapat  dikatakan sebagai sifat riya’ karena jika  kita mampu untuk menenmpatkan diri kita sebagai orang yang sudah tidak  ingin dipuji, maka tindakan yang kita lakukan tersebut semata mata  berbagai nikmat kepada yang lain.

Bukankah Allah swt juga  memerintahkan kepada kita agar kita  menceritakan nikmat kepada yang lain, dengan tujuan agar mereka juga  dapat merasa  senang serta  mau meneladani  apa yang sudah kita jalankan dan ternyata bagus dan menghasilkan manfaat yang banyak.  Hanya saja memang  bedanya sangat tipis, sehingga sangat dikhawatirkan jika kita belum mampu menghilangkan sifat riya’ atau pamer dalam diri kita, jadinya justru keinginan kita untuk dipuji dan diberikian ucapa selamat dan sejenisnya.

Pada saat ini kita dapat menyaksikan betapa banyaknya  berita tentang capaian prestasi tertentu, meskipun bukan prestasinya sendiri, lalu disampaikan kepada  kawan kawan atau melalui group  WA misalnya, lalu kawan kawan lainnya memberikan ucapan selamat atau pujian, dan kemudian  dia menjadi puas dengan pujian tersebut, maka itu sudah terseret kepada sifat riya’ yang  tidak disadarinya, dan tentu itu merupakan sesuatu yang sangat berbahaya.

Atas dasar itulah mungkin ada kawan yang  memprotes  saya kenapa tidak pernah memberikan  apresiasi atas berita prestasi yang disampaikan oleh kawan.   Itu disebabkan saya tidak mau menambah rasa riya’ dalam diri kawan kawan  dan bukannya  saya menjadi sirik, sama sekali9 bukan itu, melainkan  justru saya “ngeman” kenapa harus menjerumuskan kawan sendiri kepada sesuatu yang sangat merugikan.

Kalaupun saya harus mengucapkan selamat, biasanya  akan saya lakukan dengan eprtimbangan banyak, dan  biasnaya juga saya sampaikan  lewat jalur pribadi sehingga tidak akan menimbulkan kesan tertentu yang justru akan semakin  mengipasi untuk menjadi riya’.  Berita gembira memang sangat perlu untuk disampaikan kepada kawan sebagai ungkapan yang wajar, seperti jika kita sedanag  mendapatkan karunia  seorang anak atau cucu, maka pemberitaan tersbeut justru sangat bagus dan  tidak akan mengarah kepada sifat riya’

Namun jika  pretasi tertentu yang kita suguhkan dan biasanya kemudian diharapkan orang lain akan memberikan pujiannya, maka itulah yang  dapat mengarah kepada sifat riya’ tersebut.  Sebagai  contohnya  ialah jika  ada prestasi yang sifatnya pribadi atau atas andilnya lalu disampaikan dengan maksud mendapatkan pujian, maka itulah yang dimaksud  riya’ tersebut.  Sungguh memang amat sulit untuk melepaskan diri dari sifat buruk tersebut, terkecuali sudah terlatih dengan sangat baik, sehingga sifat riya’ tersebut sudah menghilang darinya.

Kita juga sering menyaksikan betapa orang sangat suka sekali jika menyumbang keopada pihak tertentu, lalu  disiarkan dan diumumkan kepada khalayak.  Kesukaan tersebut tentu dengan harapan agar  masyarakat menganggapnya sebagai seorang  yang dermawan, dan pada saatnya nangti masyarakat juga akan tetap mengingatgnya jika  pada saatnya  dia membutuhkan bangtuannya.  Bahkan tidak hanya  pada saat membantu, melainkan pada saat dia membayar zakat pun  ingin  dilihat banyak orang.

Sekali lagi, mungkin  ada orang yang sudaha kebal dengan segala pujian tersebut, sehingga dia tidak peduli lagi apakah  kegiatannya tersebut dilihat dan diberitahukan kepada khalayak ataupun tidak.  Mungkin bahkan justru kemudian timbul niat lainnya yang tidak  beralih dari ketulusan, yakni agar  orang lain juga menirunya  dalam berbuat kebajikan.  Namun jika  dirinya belum  kuat dalam  menangkal sifat riya’ tersebut, sebaiknya memang harus  dilakukan  secara sembunyi,  karena itu pasti akan  lebih mudah untuk tulus.

Mungkin memang persoalan ini belum banyak disadari oleh  kita, karena memang  tidak ada pemngaruh  apapun saat kita masih berada di dunia ini, tetapi kita harus yakin bahwa padaq saatnya nanti, yakni di akhirat, pasti kita akan menyadarinya, karena bisa jadi amaliyah  kita yang kita anggap sudah banyak, ternyata semuanya sirna tanpa bekas.  Itu disebabkan telah terbakar oleh sifat riya’ yang melekat dalam diri kita. Nau dzubillahi min dzalik.

Sebelum segalanya menjadi terlambat, saya mengajak kepada kita semua  agar  sadar diri dan kemudian  berpikir lebih dalam lagi sereta menganalisa seluruh sepek terjang kita, apakah selama ini kita   melakukan riya’ yang  tidak kita sadari atau bahkan mungkin yang  sangat kita sadari?  Nah, jikia kita  kemudian berkesimpulan bahwa selama ini kita ternyata telah melakukan riya’ tersebut, mari kita segra akhiri dan  berganti haluan, yakni  mengupayakan untuk tyulus dan  menjalankan  segala yang yang dapat memproteksi sifat tulus tersebut.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.